Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Hukum


__ADS_3

"Kenapa saya dan teman-teman saya, jadi dihukum kayak gini?"


Sharon berteriak pada salah seorang staf kesiswaan, yang memberikan hukuman padanya dan juga pada kedua temannya. Berupa di kurung di dalam gudang dan disuruh membersihkan ruangan tersebut.


"Ini karena kalian berbuat kesalahan, siapa suruh kalian melempar handphone sesama siswa." ujar staf kesiswaan tersebut.


"Sejak kapan melempar handphone milik siswa yang masuk jalur beasiswa dilarang?. Tempo hari kami nggak disalahkan atas ini semua, karena memang siswa beasiswa itu yang mulai duluan.


"Beasiswa untuk Lea sudah di stop, karena ternyata dia itu kata raya." ujar staf itu lagi.


"Hah?"


Sharon dan kedua temannya saling bersitatap. Mereka tak mengerti dengan apa yang barusan mereka dengar.


"Kaya dari mana?. Dari pesugihan?" ujar Sharon dengan nada setengah marah.


"Sekarang kalian kerjakan saja hukuman yang diberikan. Kalau belum beres, kalian tidak boleh keluar."


Staf kesiswaan tersebut keluar dan mengunci pintu. Sharon, Maya dan Tasya buru-buru berlari ke arah pintu dan menggedor pintu tersebut dengan keras.


"Bu, keluarin kita dari sini...!" teriaknya kemudian.


"Woi.."


"Dor, dor, dor, dor, dor." Ia terus menggedor pintu tersebut, namun tetap tak ada respon.


"Bangsat, apa sih yang udah terjadi." ujarnya kemudian.


Maya meraih handphone dan mencoba bertanya pada anak lain, mengenai Lea. Ia bertanya melalui pesan singkat di WhatsApp.


Tak menunggu waktu lama, Maya pun mendapat balasan dari salah satu teman sekelasnya. Dan betapa terkejutnya ia pada gosip yang kini beredar.


"Lo kenapa?" tanya Sharon heran, diikuti tatapan mata Tasya yang tak kalah herannya.


"Nggak mungkin." gumam Maya.


"May." Sharon meminta kepastian Maya.


Maya lalu menunjukkan isi pesan balasan tersebut pada Sharon. Kini ia dan Tasya sama-sama terkejut.


"Si Lea anak orang kaya?" tanya Tasya pada kedua temannya. Sharon dan Maya hanya bisa diam dengan tubuh yang gemetaran.


"Dia bisa menyumbang lebih banyak dari orang tua gue?" ujar Sharon masih tak percaya.


Ia menatap balasan pesan WhatsApp tersebut. Disana dikatakan, bahwa wali dari Lea telah memberikan sumbangan yang sangat besar nilainya kepada pihak sekolah.


"Nggak, nggak mungkin. Ini pasti gosip, gue tau dia miskin. Masa anak orang kaya, masuk ke sini pake beasiswa." ujarnya kemudian.

__ADS_1


***


Hari itu ibu Lea tengah membereskan kamar Lea, yang kini hanya ditempati oleh Ryan dan juga Ryana. Mulanya biasa saja, ia membenarkan seprai, menyapu, dan menyusun buku serta mainan kedua anak itu.


Sampai kemudian, ia membuka laci dan bermaksud membersihkan debu yang ada disana. Ibu Lea terkejut, karena ia menemukan sejumlah uang. Uang tersebut merupakan uang pemberian dari Lea, untuk kedua adiknya itu.


"Ini uang dari mana?" tanya Ibu Lea pada Ryan dan juga Ryana. Tepat ketika dua anak itu telah pulang dari sekolah.


"Itu."


Ryan dan Ryana saling bersitatap satu sama lain. Karena mereka telah berencana untuk membeli mainan yang mereka suka, dengan menggunakan uang tersebut.


"Kalian mencuri dari mana?" kali ini ibu mereka membentak dan marah.


"Itu dari Lea, bu." jawab Ryan kemudian.


"Lea?"


"Iya bu, dari Lea. Kami nggak mencuri." timpal Ryana.


"Kapan kalian ketemu Lea?" tanya ibunya lagi.


"Beberapa hari yang lalu, bu." jawab Ryan.


"Kalian ketemu Lea dimana?" Lagi-lagi ibunya bertanya.


Ibu Lea tersentak, ia tak menyangka ternyata Lea berada sangat dekat dengan rumah. Namun anak itu malah tidak menyambanginya sama sekali. Ia lalu menghitung jumlah uang tersebut, dan memberikan Ryan serta Ryana uang masing-masing 50 ribu rupiah. Sedang sisa uang pemberian Lea tersebut ia ambil.


Kedua anak itu hanya diam dan menerima, karena menangis pun percuma. Ibu mereka pasti akan lebih marah dari itu dan bisa saja memukul.


***


"Lea, uang buat ibu mana?. Kenapa cuma Ryan dan Ryana yang kamu kasih. Kan ibu yang banyak biaya, ngurus kamu dari kecil."


Lea menerima sebuah pesan singkat dari ibunya, sesaat setelah ia pulang sekolah. Karena Lea memang tidak pernah mengganti nomor WhatsApp nya dari dulu. Hingga ketika ia broadcast mengenai akun baru di handphone teranyar nya, sang ibu pun kebagian informasi tersebut.


Lea diam, mendadak hatinya begitu sakit. Sebab ibunya tak pernah mencarinya selama ini. Sekarang tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, ibunya malah menanyakan soal uang.


Apakah ibunya tidak ingin bertanya, Lea dapat uang dari mana. Apa yang telah dilakukan sang anak gadis, pekerjaan apa yang tengah di lakoninya. Tidakkah ia khawatir pada apa yang dilakukan Lea selama ini, bagaimana dengan keselamatannya. Terlebih ia adalah seorang anak perempuan. Sungguh potret orang tua yang hanya memikirkan diri sendiri.


"Ibu butuh uang banyak." Lagi-lagi ibunya mengirim pesan.


Lea tak membalas pesan tersebut. Ia mungkin akan memberikan sejumlah uang pada ibunya itu, tapi tidak hari ini. Ibunya sudah terlanjur membuat suasana hatinya sedikit terganggu.


Lea meletakkan handphonenya ke dalam saku, lalu masuk ke dalam sebuah kendaraan umum. Siang itu Lea menghabiskan waktunya dengan memasak, dan bermain sosial media.


***

__ADS_1


"Udeh kelar, bro. Masalah sekolahnya Lea udah beres." ujar Ellio pada Daniel. Pria itu kini duduk dihadapan Daniel, sementara Richard terlihat membuka minuman yang disediakan oleh office girl di sofa.


"Anak yang ngebully itu, udah dikasih hukuman?" tanya Daniel kemudian.


"Beres." ujar Richard.


"Gue mau liat tampang mereka." ujar Daniel lagi.


"Cantik sih, ya tipikal anak pejabat pada umumnya." ujar Richard.


"Angkuh, sombong, sok. Padahal bapaknya di gaji sama negara." Richard kembali mereguk minumannya.


"Thanks, bro." ujar Daniel pada kedua sahabatnya itu.


"Lo berdua udah mau repot-repot ngurus masalah ini.


"Apa sih yang nggak, buat orang yang Lo sayang."


Ellio mencoba menggoda Daniel, namun wajah Daniel berubah seketika. Terlihat jelas ia menahan kesal di sela-sela sikap Ellio dan Richard yang cengengesan.


"Gue bantu dia, murni karena gue nggak suka mendengar pembullyan. Bukan karena gue punya perasaan sama dia."


Ellio menatap Daniel dan tersenyum lebar hingga kuping. Ia tak percaya pada apa yang dikatakan oleh Daniel.


"Ellio."


"Iya, iya gue percaya. Lo mah cinta nya sama Grace doang, udah." ujar Ellio seraya tertawa.


Tak lama kemudian office girl kembali dengan membawakan makanan pesanan Daniel. Ia membelikan juga untuk Richard serta Ellio.


"Lo berdua temenin gue makan." ujar Daniel.


"Wah, ini mah gue nggak nolak." ujar Richard lalu mendekat.


Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah terlihat makan bersama.


Sementara dirumahnya, Rangga tengah diam di atas balkon. Hingga mengundang perhatian ibunya yang kebetulan ada di lantai tersebut.


"Rangga, kamu lagi ngapain sayang?" tanya ibunya kemudian.


Rangga tak menjawab. Ia terlihat gusar, dan berlalu begitu saja. Tak lama setelah itu, ibunya menerima pesan dari Sharon.


"*Mi, apa mungkin Rangga sewa orang. Buat menyelamatkan Lea di sekolah ini. Soalnya Lea sekarang bisa menyumbang dana besar untuk sekolah."


"Gosip yang beredar, katanya Lea itu ternyata anak orang kaya. Tapi Sharon nggak yakin, mi. Coba cek pengeluaran rekening Rangga, mungkin Rangga yang melakukan semua ini*."


Ibu Rangga membaca pesan tersebut, dengan tubuh yang mulai gemetaran.

__ADS_1


__ADS_2