Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mawar Misterius


__ADS_3

"Lega kan lo sekarang?" tanya Lea pada Nina. Usai sahabatnya itu menandatangani surat warisan, yang di tulis oleh ayah kandungnya.


"Iya Le, lega banget gue. Kayak berasa punya pegangan yang kuat." jawab Nina.


Lea pun tersenyum, mereka kini melanjutkan langkah ke suatu arah.


"Le, bisa nggak sih kita liat tahanan kasus korupsi di penjara?"


Nina melontarkan pertanyaan yang membuat Lea sedikit terdiam. Diam karena ia sendiri tidak mengerti dengan hal tersebut.


"Mmm, kurang tau juga Nin. Coba tadi lo tanya sama notaris itu. Walaupun dia notaris, kan dia anak hukum. Mungkin dia tau boleh apa nggak."


"Oh iya ya." ujar Nina.


"Gue tanya sekarang kali ya." lanjutnya kemudian


"Ya udah, lo telpon kek, WA kek." tukas Lea.


"Ok deh." Nina lalu menghubungi notaris tersebut via chat WhatsApp.


***


"Mbak Bianca."


"Mbak Bianca."


"Mbak."


Puluhan wartawan mencegat dan menghalangi langkah mami Bianca, yang baru keluar dari sebuah tempat. Mami Bianca sendiri tidak mengetahui, jika para wartawan tersebut ada di dekat tempat dimana ia tinggal.


Tadinya ia hanya turun untuk membeli sesuatu pada sebuah minimarket. Ia pikir tak ada seorang pun yang mengetahui, jika ia tinggal di area sana..


"Tolong ya, jangan ganggu saya." ujar mami Bianca lalu berusaha menghindar.


"Mbak tolong jelaskan pada kami, sudah berapa lama SB Agency ini beroperasi?"


"Dari mana mbak Bianca bisa mengumpulkan para peserta, apakah mereka terpaksa atau atas dasar sukarela?"


"Mbak, siapa aja sugar daddy yang datang kesana. Dan berapa biaya untuk mendapatkan sugar baby di SB Agency sendiri?"


Bianca tak menjawab apapun, ia hanya terus bersusah payah mencapai ke halaman apartemennya. Kebetulan disana ada petugas keamanan.


"Pak, pak. Tolong saya, pak." ujar mami Bianca setengah berlari, lalu meminta perlindungan.


Para petugas keamanan pun langsung bergerak menghalau para wartawan tersebut. Mami Bianca akhirnya berhasil lolos dan kembali ke atas.


"Tolong buzzernya suruh bergerak sekarang...!"


Mami Bianca menelpon seseorang, ketika dirinya telah berada di unit apartemen miliknya.


"Saya nggak mau tau, kalian kan sudah dibayar. Tolong bekerja cepat dan profesional."


"Hhhhh."

__ADS_1


Ia menutup telpon tersebut dengan kesal. Kini pikiran dan pandangannya seolah berkabut.


***


"Le, kamu udah pulang dari kantor notaris itu?"


Daniel menelpon Lea, karena Lea agak lambat merespon chat yang dikirimkan Daniel melalui WhatsApp.


"Udah mas, tapi aku sama Nina lagi mau makan sekarang."


"Oh ya udah, tetap hati-hati ya di jalan. Bilang sama supir jangan terlalu ngebut kalau bawa mobil."


"Iya mas, nggak koq. Supirnya juga jalan santai aja."


"Ya udah, tadi semua udah beres kan?"


"Udah beres mas. Oh ya mas, tahanan kasus korupsi itu bisa di jenguk nggak ya?" tanya Lea kemudian.


"Kenapa emangnya?" Daniel balik bertanya.


"Nina, dia itu mau jenguk ayah kandungnya. Kalau boleh dan kalau bisa sih. Dia tadi udah chat notaris itu, nanya di WhatsApp tapi belum di bales."


"Setahu aku sih bisa, tapi ada jadwal dan syarat-syarat tertentu. Nantilah aku tanyain sama teman aku yang kerja di lembaga yang bersangkutan."


"Ok deh mas, nanti kabarin ya mas."


"Iya, makan yang banyak kamu."


"Iya mas."


"Bye mas Dan."


Daniel menutup telpon.


"Pak."


Tiba-tiba Marsha masuk ke ruangan Daniel dan membawa sebuah buket bunga mawar merah.


"Bunga dari siapa, Sha?" tanya Daniel kemudian.


"Nggak tau pak, kata bagian penitipan barang ini buat bapak. Tadi dikirim oleh ojek online."


Marsha meletakkan buket bunga mawar itu ke atas meja kerja Daniel.


"Aneh, saya nggak ada pesan bunga apa-apa." ujar Daniel lagi.


"Ya saya juga nggak tau, pak." tukas Marsha.


"Ya sudah, makasih ya." ujar Daniel.


Marsha kembali ke meja kerjanya.


Daniel mengamati bunga tersebut, tak ada yang aneh sama sekali. Mungkin Ellio atau Richard yang memesan, pikirnya. Hanya saja di titipkan atas nama dirinya. Karena kedua temannya itu sangat sering memesan barang atas nama Daniel.

__ADS_1


Alasan mereka beragam, mulai dari praktis. Karena pintu lobi utama kantor Daniel langsung terhubung ke jalan protokol. Sedangkan meski connecting dan berada di gedung yang sama, pintu lobi kantor Ellio dan Richard terpisah pagar tembok dan harus mengambil jalan memutar untuk bisa mencapai kesana.


Alasan yang lainnya lagi, karena mereka ingin menyembunyikan barang tersebut dari seseorang. Misalnya dari karyawan. Richard dan Ellio enggan terkesan sebagai bos yang sering boros berbelanja.


Biasanya mereka membeli barang mahal, namun kali ini entah mengapa yang datang adalah bunga. Apakah Richard dan Ellio hendak berkencan dengan seorang wanita?. Entahlah.


***


Di suatu tempat.


"Gue yakin banget saat ini Daniel pasti bingung. Soal siapa yang mengirim bunga itu."


Clarissa berujar di depan teman-temannya, yakni Kinar dan juga Nia.


"Apa lo yakin itu bunga kagak bakal dibuang?" tanya Kinar.


"Gue yakin banget, dia bakal kasih bunga itu ke Lea. Kalaupun dia nggak kasih, gue yakin kesaktian dukun itu bakal menempel di tubuhnya Daniel. Daniel lah yang akan membawa kesialan ke dalam rumah tangganya. Gue yakin banget bentar lagi orok yang ada di perut Lea itu bakalan mampus. Dan pihak berwajib nggak bisa menjerat gue, karena gaib."


Clarissa tersenyum pada Kinar dan juga Nia, sementara kedua temannya itu terpaksa membalas senyumannya.


"Si Clarissa kayaknya harus dibawa ke psikiater deh." ujar Nia pada Kinar, ketika mereka telah berada di jalan pulang.


"Iya sih, udah sakit tuh anak." timpal Kinar.


"Tapi gimana caranya ya, ngomong ke dia supaya dia mau ke psikiater atau psikolog." lanjut Kinar lagi.


"Takut tersinggung ya Ki." ujar Nia.


"Ember." jawab Kinar.


"Dia tuh yakin banget loh sama itu dukun. Padahal ya elah, keliatan kali dukun sakti sama dukun ngadi-ngadi." Nia kembali bersuara.


"Jaman sekarang kebanyakan dukun yang ngadi-ngadi ketimbang yang sakti." timpal Kinar.


"Udah jarang, udah nggak ada mungkin kalau di kota besar kayak gini." lanjutnya lagi.


"Mana bayar mahal lagi tadi tuh si Rissa tadi." ujar Nia.


"Empat juta, lumayan loh itu." Kinar kembali menimpali.


"Beliin seblak dapat sekarung tuh." tukas Nia.


"Tau gitu mending kita aja yang jadi dukun nya. Kan lumayan dapat empat juta." lanjutnya lagi.


Tiba-tiba kedua teman itu saling menatap dan tersenyum penuh racun.


"Lo ngerti kan apa yang gue pikirin?" tanya Nia.


"Yoi."


"Hahaha."


"Hahaha."

__ADS_1


Keduanya terbahak-bahak. Mereka sama-sama berfikir, bagaimana kalau mereka memanfaatkan situasi.


Clarissa yang percaya dengan segala dunia perdukunan, sedangkan mereka berdua menggaet seseorang untuk berpura-pura menjadi dukun. Hasilnya, tentu saja bisa di bagi tiga.


__ADS_2