Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Rangga Dan Karma


__ADS_3

"Vit, Bal."


Lea tiba di rumah sakit, sekitar beberapa saat setelah Vita mengabari jika Rangga mengalami kecelakaan.


"Lea."


Vita mendekat diikuti Iqbal.


"Gimana Rangga?" tanya Lea cemas.


Ia sejatinya bisa saja tak peduli, saat mendapat kabar dari Vita. Namun biar bagaimanapun Rangga tetaplah teman, dan orang yang pernah dekat dengannya. Lea tak mungkin abai begitu saja. Lagipula Rangga adalah cinta pertama yang tak mungkin ia lupa seumur hidupnya.


"Rangga, Rangga koma Le." jawab Vita.


Petir seakan menggelegar, padahal langit pun tiada mendung. Kata-kata tersebut seolah menyambar seluruh persendian Lea.


"Ko, koma?" tanya nya dengan bibir yang gemetaran.


"Iya Le, Rangga koma. Karena keluarganya belum datang, jadi tadi dokter kasih tau ke kita." timpal Iqbal.


Dengan langkah yang begitu lemah, Lea mendekat ke arah kaca ruang ICU. Dimana kini Rangga terbaring dengan alat bantu pernafasan. Hati Lea pun terasa seperti di aduk-aduk. Perlahan air matanya merebak di pelupuk mata.


Rangga yang pertama kali mengisi hatinya, Lea masih menyimpan semua itu dalam-dalam. Meski banyak kebencian yang kemudian mewarnai hubungan mereka, namun Rangga tetaplah orang pertama yang mau berbicara dengannya di sekolah.


"Rangga, kamu kenapa Ngga?. Kenapa harus kamu yang mengalami hal ini?" Batin Lea.


"Siapa orangnya, kamu yang menabrak Rangga anak saya. Iya kan?"


Sebuah suara terdengar dari suatu arah. Lea sontak menoleh, begitupun dengan Vita dan juga Iqbal. Ternyata ibu Rangga yang tengah memarahi seseorang.


Lea mendekat, ia sangat terkejut melihat orang yang dimarahi ibu Rangga tersebut.


"Hans?" gumam Lea tak percaya.


"Saya akan bunuh kamu kalau sampai terjadi apa-apa sama anak saya."


"Tante, bukan dia yang nabrak anak tante." Iqbal bersuara membela Hans.

__ADS_1


"Justru dia yang ditabrak anak tante." lanjutnya kemudian.


"Iya tante, ada CCTV jalan koq. Dan saya sama teman saya ini saksi mata. Dia jalan biasa di samping mobil kami. Tiba-tiba dari arah berlawanan, mobil Rangga menabrak pembatas dan melayang lalu menabrak mobil dia." Vita menimpali.


Ibu Rangga terpukul mendengar semua itu.


"Dia ini nggak salah tante." ujar Iqbal lagi.


Wanita itu hendak melangkah ke arah ruang ICU, namun ia melihat Lea. Ibu Rangga terdiam menatap Lea dan begitupun sebaliknya.


Tak lama, ia segera mendekat ke arah kaca ruang ICU. Air mata wanita itu pun menetes, dan lama kelamaan menjadi sebuah isak tangis yang menyesakkan jiwa.


"Jangan tinggalkan mami, Rangga. Mami mohon jangan tinggalkan mami."


Wanita itu menangis tersedu-sedu.


***


Sementara itu di lain pihak, ayah Rangga tiba di sebuah rumah sakit. Sesaat setelah ia dikabarkan jika Bianca terjatuh di tangga darurat apartemen. Setelah ada seorang penyidik yang mendatangi apartemen tersebut.


Penyidik itu meminta izin pada pihak pengelola, untuk mendatangi unit Bianca. Pihak pengelola mengabarkan kepada Bianca via telpon, jika ada orang dari kepolisian ingin menemuinya. Karena panik, Bianca buru-buru menutup telpon dan turun melalui tangga darurat.


"Bagaimana keadaannya?"


Ayah Rangga bertanya pada asisten Bianca, yang kebetulan hadir disana lebih dulu. Asisten itu diam, ia hanya menatap ayah Rangga dalam-dalam. Seolah ingin berkata namun berat.


Tak lama kemudian seorang perawat pun menghampiri dan meminta ayah Rangga menuju ke ruang dokter.


Langit mendadak muram, mendung seolah telah menutupi seluruh bagian bumi. Hanya gelap yang kini terisa. Dengan gontai ayah Rangga melangkah, ia mendekat ke arah ruangan tempat dimana Bianca tengah terbaring.


Wanita itu kini menangis bahkan berteriak. Saat mengetahui jika bayinya telah tiada, dan parahnya lagi rahim wanita itu rusak berat hingga harus dilakukan pengangkatan.


Dari kaca ruang rawat itu, Bianca bertemu muka dengan ayah Rangga yang melihat ke arahnya. Namun ayah Rangga kemudian berlalu begitu saja. Tangis Bianca pun kian pecah.


Ayah Rangga terus melangkah gontai ke arah parkiran, kemudian masuk ke dalam mobil. Tak lama ia menerima pesan dari supir yang bekerja di rumahnya, bahwa Rangga mengalami kecelakaan dan saat ini dalam keadaan koma.


Nyaris saja jantung pria itu berhenti berdetak, nafasnya kini sesak. Udara yang begitu melimpah, seakan menipis secara mendadak.

__ADS_1


Baru saja asisten Bianca menyusul dirinya, ayah Rangga sudah keburu menghidupkan mesin mobil dan tancap gas meninggalkan tempat itu.


***


"Rangga."


"Rangga."


Ayah Rangga muncul secara tiba-tiba, mengagetkan sang istri, Lea, Vita, Iqbal dan Hans yang masih ada disana.


"Pergi kamu...!"


Ibu Rangga mengusir sang suami secara serta-merta.


"Aku mau tau keadaan anakku." ujar Ayah Rangga dengan suara yang begitu lesu.


"Anakmu?" Ibu Rangga berujar dengan penuh kemarahan.


"Masih berani kamu bilang dia anakmu. Setelah kamu sakiti hatinya, kamu pukul dia di depan aku. Kamu pikir aku nggak melihat semuanya?. Hah?. Kamu pikir aku nggak melihat bagaimana dia membela ibunya, sedang kamu membela perempuan ****** itu."


Ayah Rangga terdiam, ia tau ini semua salahnya. Ialah penyebab petaka ini. Ia masih berusaha untuk menggapai Rangga, meski sang istri terus mendorong dan memukuli dirinya.


Lea, Vita, Iqbal dan Hans mencoba memisahkan dan meredam kedua belah pihak. Tampak perawat pun hadir untuk membantu mendamaikan mereka.


Waktu berlalu, kini ibu dan ayah rangga duduk berseberangan. Begitupula dengan Lea, Vita, Iqbal dan Hans.


Lea dan Vita masing-masing berada di sisi ibu Rangga, menjaga kalau-kalau wanita itu kembali mengamuk. Sedang Iqbal dan Hans ada di bangku yang tak jauh dari ayah Rangga.


Mereka semua terdiam, tak ada yang mampu berbicara sepatah pun. Tak lama Vita mendapat broadcast dari grup SB Agency, yang menyatakan jika mami Bianca mengalami kecelakaan dan keguguran. Informasi jika rahim wanita itu kini diangkat pun, sampai kepada Vita.


Entah dari mana informasi tersebut di dapat oleh anggota di grupnya. Mereka semua juga rata-rata sudah tau, jika mami Bianca mengandung anak dari seorang laki-laki.


Belakangan foto ayah Rangga turut beredar di grup tersebut, dan kini Vita menemukanya sebagai ayah Rangga. Setelah sebelumnya ia tidak tahu. Hanya tau jika ia adalah om-om yang memelihara mami Bianca.


Vita menunjukkan pesan di grup tersebut pada Lea. Sejenak Lea pun terdiam dan menatap ayah Rangga yang masih menunduk. Ia juga sempat melirik pada ibu Rangga yang juga masih membisu.


Kini ia semakin memahami, betapa Karma itu nyata adanya. Ibu Rangga yang sombong dan pernah menghinanya. Kini menangis didekatnya, sambil meratapi sang anak yang tengah berada dalam kondisi antara hidup dan mati.

__ADS_1


Ayah Rangga yang khianat terhadap istri dan anak, mendapat double karma. Anaknya terbaring koma, simpanannya kehilangan anak dan rahim.


Sedang untuk mami Bianca sendiri. Inilah ganjaran atas segala perbuatannya, yang tanpa perasaan memperdagangkan anak orang lain. Meraih keuntungan dengan memanfaatkan keadaan. Menyakiti teman sendiri seperti mami Sonia dan staf lain, yang ia kambing hitamkan atas perbuatannya. Inilah karma, karma yang sangat nyata.


__ADS_2