
"Mas Dan?"
Lea berujar tanpa sadar, lantaran sang suami menghujaninya dengan tatapan yang menusuk hingga ke jiwa.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Daniel segera mendekat dan mencekal lengan istrinya itu. Mau tidak mau Lea menuruti keinginan sang suami, sebelum di kutuk menjadi manekin.
"Mas, bukannya tadi mas kerja ya?. Koq bisa ada disini sih, mana cepet lagi."
Lea bertanya seraya mengikuti langkah Daniel yang entah hendak kemana.
"Kamu nggak sadar kalau kantor aku cuma beberapa menit doang dari sini."
Daniel menghentikan langkah seraya menatap istrinya itu.
"Tapi kan tadi mas kerja."
"Suruh siapa matiin telpon nggak pake pamit dulu?"
Daniel kembali melangkah sambil terus menarik lengan istrinya. Mau tidak mau Lea ikut melangkah.
"Jadi mas marah soal itu."
"Itu nggak sopan Lea, aku jadi kepikiran sama kamu. Harusnya kamu nggak boleh gitu, kayak gini kan kerjaan aku terbengkalai."
Kali ini Lea menghentikan langkahnya, Daniel lalu menoleh dan mendapati Lea tengah tersenyum-senyum.
"Mas takut aku marah ya, iya kan?." tanya nya sambil masih tersenyum. Sementara Daniel jadi agak sedikit gusar.
"Aku cuma nggak mau pikiran aku ditambah." ujar Daniel. Wajahnya masih terlihat cukup dingin.
"Alah iya juga nggak apa-apa. Iya kan, takut aku marah kan?"
"Lea."
Daniel berkata dengan nada tegas, namun Lea kini melebarkan bibirnya sambil terus menatap sang suami.
"Cie, cie, cie." lanjut Lea kemudian.
Daniel akhirnya tak kuasa menahan senyuman.
"Nah gitu dong, kan ganteng." ujar Lea Lagi.
Dalam sekejap, mereka terlihat sudah duduk di dalam sebuah restoran dan makan bersama.
"Sluuurp."
"Sluuurp."
Lea menghirup kuah sup hangat langsung dari mangkuk kecil yang tersedia. Ia dan suaminya hari ini makan menu masakan Jepang.
"Jangan menghirup kayak gitu, pamali. Kamu itu lagi hamil."
Lea dan Daniel mendadak menoleh ke suatu arah. Ternyata seorang ibu-ibu tengah menegur anak atau menantunya yang menghirup sup langsung dari mangkuk. Anak atau menantunya tersebut tengah hamil.
"Nanti air ketuban kamu berlebihan, anak kamu keminum bisa-bisa."
Ibu-ibu itu melanjutkan perkataan, sedang Lea dan Daniel kini saling bertatapan.
"Nggak boleh, Le."
Daniel berujar sambil menahan tawa. Ia adalah orang yang paling tak percaya dengan yang namanya takhayul.
"Biasa mas orang jaman dulu, itu kalau di bantah bakalan mencak-mencak tuh." ujar Lea.
Suara mereka berdua terdengar saling berbisik.
"Iya pantangan ini, pantangan itu. Takut anaknya begini, takut anaknya begitu. Pas anaknya udah lahir, nggak di urus dengan baik, nggak di nafkahi dengan baik. Nggak dikasih pendidikan yang baik, dibanding-bandingkan sama anak tetangga, pas gede gangguan mental anaknya."
"Hus, mas. Kamu julid banget sih."
Lea membungkam mulut suaminya sambil menahan tawa. Daniel sendiri kemudian terkekeh.
__ADS_1
"Abisnya di negara kita kebanyakan pantangan, kadang mereka suka mengungkapkan alasan yang nggak masuk akal."
"Iya kayak ibu dulu, waktu habis melahirkan Ryan sama Ryana." ujar Lea.
"Kenapa emangnya?" tanya Daniel.
"Sama ibu mertuanya nggak boleh jemur popok malam-malam. Katanya nanti ASI nya kering."
"Hmmph."
Daniel tersedak makanan, ia buru-buru minum karena tak kuasa menahan tawa.
"Serius ada yang kayak gitu juga?" tanya nya kemudian.
"Iya ada." jawab Lea.
Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya, ia benar-benar tak habis pikir.
"Coba aja ngomong gitu ke dokter kandungan atau dokter anak. Paling di ketawain sama dokternya."
"Orang jaman dulu itu susah di edukasi mas, pada ngotot semua padahal jelas salah dan nggak ada hubungannya."
Daniel kembali tertawa.
"Tapi mas nggak gitu kan mas?"
"Kamu pikir aku setua apa?" ujar Daniel sewot.
"Ya kali aja mas mengikuti paham orang orang terdahulu."
"Aku mah apa yang masuk akal aja, udah. Yang nggak masuk di akal ya skip, jangan ngeribetin hidup sendiri." ujar Daniel.
Lea pun tersenyum. Ia mengambil ebi furai dengan sumpit, lalu menyuapkannya pada Daniel. Daniel kemudian mengambil beef Yakiniku dan menyuapkan banyak-banyak ke mulut sang istri.
"Mas, banyak banget ah." Lea sewot, namun tetap mangap.
Daniel tertawa, sedang Lea kini mengunyah dengan mulut penuh.
Beberapa saat berlalu.
Daniel menemani Lea jalan-jalan. Karena istrinya itu mengatakan jika ia belum mau pulang ke rumah. Maka Daniel pun menuruti, meski ia agak sedikit lelah.
Mereka kini menyusuri jalan demi jalan, sementara bodyguard dan supir yang tadi mengantar Lea, telah disuruh pulang oleh pria itu.
"Kita mau kemana?" tanya Daniel pada Lea.
"Seperti biasa mas, nggak ada tujuan. Pokoknya kalau ketemu tempat dan pengen mampir. Kita mampir aja." ujar Lea.
"Ok deh." jawab Daniel sambil terus mengemudi.
Memasuki sebuah kawasan, tiba-tiba saja mereka terjebak kemacetan.
"Ya elah." ujar mereka berdua di waktu yang nyaris bersamaan. Namun kemudian mereka sama-sama tertawa.
"Kayaknya kita emang jodoh ya mas. Sampe ngomong aja bisa barengan, padahal nggak janjian."
"Orang kamu yang ngikutin aku." ujar Daniel.
"Ye, mas yang ngikutin aku."
Daniel tertawa, lalu mengelus perut istrinya.
"Ah." Lea meringis.
"Sakit?" tanya Daniel panik.
"Geli mas, nyut-nyutan sampe bawah."
Daniel menatap Lea dan memasang wajah super sewot.
"Gatel kamu." ujarnya kemudian.
__ADS_1
Jalanan masih macet, sementara keduanya kini tertawa kecil.
"Nih, ini akibat nih." ujar Daniel seraya terus mengelus perut Lea.
"Akibat suka godain om-om."
"Orang om-omnya yang maksa masukin."
"Gimana nggak di masukin, orang tiap hari di goda mulu."
Lea tertawa dan hendak membantah.
"Apa?" ujar Daniel sebelum sempat Lea menginterupsi.
"Mau bilang kalau masih polos, nggak pernah godain orang duluan?" lanjutnya kemudian.
Lea kini tersenyum.
"Yang nyosor duluan waktu aku kecebur di kolam renang waktu itu siapa?" tanya Daniel.
"Aku." jawab Le sambil masih tersenyum.
"Yang nyosor pas aku di rumah sakit?"
"Mas."
"Tapi kan kamu yang jatuh duluan." Daniel tak mau kalah.
Lea yang tadinya tersenyum, kini kembali tertawa.
"Iya anggap aja aku." ujarnya kemudian.
"Kadang yang minta begituan duluan siapa?" tanya Daniel lagi.
"Aku."
Lea benar-benar tak bisa menahan tawanya, Daniel sendiri sejatinya hanya iseng meledek istrinya itu. Ia senang dengan semua yang telah terjadi di antara mereka.
Tiba-tiba ada ada motor yang menyelip diantara mobil mereka dan mobil lain. Orang yang ada di motor tersebut berjumlah 3 orang dan semuanya remaja perempuan.
"Woi buruan, tod...!"
Salah satu perempuan yang ada di motor tersebut, berteriak kepada pengemudi yang ada di depan.
"He cabe, udah tau macet." ujar Daniel seraya memperhatikan.
"Mas, julid banget sih kamu. Kayak admin lambe turah, tau nggak."
"Ya kamu nilai aja kelakuan mereka, ini tuh macet parah loh. Kamu mau teriak sampai roh kamu keluar pun, yang di depan kamu belum akan jalan. Kalau yang di ujung paling depan masih stuck."
"Iya sih, buang-buang energi." ujar Lea.
"Makanya, udalah teriakan cempreng. Menggangu pengguna lain."
Lea makin tertawa dengan kesewotan suaminya itu.
"Woi buruan woi...!"
Si pengguna motor kembali berteriak, sampai Lea pun kaget dibuatnya.
"Teriak aja terus sampe radang tenggorokan." Lagi-lagi Daniel berujar, sementara Lea kian terbahak.
"Mana rambut di cepol, pake hotpants, pake liptint, pake wedges." lanjut Daniel lagi.
"Mas, kamu ya. Aku lagi hamil."
Lea mencoba menghentikan sang suami. Meski mereka masih dalam mode tertawa-tawa.
"Lah orang aku bener koq, liat aja style cabe-cabean itu dimana-mana sama."
"Ih, kamu lambe turah banget ih."
__ADS_1
Daniel tertawa, kali ini ia mendekatkan wajahnya ke wajah Lea. Lalu mereka berciuman beberapa kali.