
"Le, saran gue sebaiknya lo jujur sama Hans."
Vita berujar pada Lea yang baru saja selesai bercerita, soal hubungannya dengan Hans yang akhir-akhir ini terasa hambar.
"Lo itu jatuh cinta sama om Daniel. Cuma selama ini lo nggak berani mengakui semua itu." lanjut Vita lagi.
"Gue setuju sama Vita, Le." Nina menimpali.
Mereka bertiga tengah berada di salah satu ruangan apartemen, tempat dimana Vita tinggal. Mereka tengah merebahkan diri sambil mengenakan sheet mask di wajah.
"Terus kalau misalkan gue ngomong sama Hans dan dia sakit hati gimana?"
"Ya paling dia marah untuk beberapa waktu, daripada lo bohong sama dia berlarut-larut." ujar Vita.
"Iya, Le. Kasian tau anak orang, lo sih terlalu cepat jadian. Aturan lo kenalin dulu perasaan apa yang ada didalam hati lo itu. Beneran cinta, suka, atau cuma obsesi dan penasaran doang."
timpal Nina.
"Dia itu baik loh, Nin, Vit. Kenapa ya gue nggak bisa dapat feel gitu pas sama dia. Saat kita berbicara, berinteraksi, saat dia cium gue, selalu yang teringat di benak gue malah om Daniel. Inget saat dia cium gue waktu itu."
"Ya itulah tadi yang gue bilang, lo tuh jatuh cinta sama om Daniel. Cuma mungkin lo berusaha mengingkari aja selama ini. Karena kan kata lo kan, om Daniel itu cuek. Abis cium lo aja dia sampe minta maaf, saking dia itu nggak mau ada hubungan sama lo."
"Iya itu makanya, Vit. Salah satu yang bikin gue jadian sama Hans, ya itu. Om Daniel itu sugar daddy paling nggak jelas di dunia. Dia beli gue, tapi nggak ngapa-ngapain gue. Ya gue juga bingung dong, dia maunya apa. Dalam hidup gue juga butuh punya pasangan, maka dari itu gue jadian sama Hans. Kebetulan Hans nembak, Hans suka sama gue."
"Mungkin om Daniel punya pertimbangan kali." celetuk Nina.
"Iya, pertimbangan berat di mantannya itu. Waktu itu aja mantannya lahiran, dia antusiasnya udah kayak anaknya sendiri yang lahir. Om Dan itu plin-plan. Kadang dia menyatakan benci sama mantannya, kadang juga dia luluh dan mau melakukan apa saja demi tuh cewek. Gue tuh bingung sama dia, kadang kayak nggak suka sama Grace, kadang masih pengen ketemu. Nggak konsisten orangnya."
"Masih suka menyerah sama situasi gitu ya." ujar Nina.
"Iya, sebel gue makanya."
"Tunggu-tunggu." ujar Vita.
"Gue sekarang bisa menarik kesimpulan." lanjut perempuan itu lagi.
"Apa?" tanya Lea dan Nina di waktu yang nyaris bersamaan.
"Lo jadian sama Hans, karena terbawa suasana. Bukan karena lo beneran cinta."
"Maksud lo?" tanya Lea.
__ADS_1
"Karena om Dan itu plin-plan, nggak jelas apakah dia suka sama lo atau nggak. Sementara lo butuh perhatian, dan Hans punya perhatian itu. Makanya lo cenderung menerima Hans, karena dia datang membawa apa yang lo butuhkan. Sementara om Daniel, mungkin dia ada rasa sama lo. Tapi dia juga bingung, karena lo masih bocil. Makanya dia masih sering tenggelam ke dalam perasaannya terhadap Grace."
"Apa hubungannya dengan masih bocil, kalian berdua beda setahun dari gue. Kalian diterima sama sugar daddy kalian, nggak kayak gue yang nasibnya terombang-ambing."
"Itu karena sugar daddy gue sama Nina, itu penyuka bocil."
"Kecenderungan?" tanya Lea.
"Maybe, sementara om Daniel kan nggak."
"Dari mana lo menyimpulkan?" tanya nya lagi.
"Kan lo sendiri yang cerita, abis cium lo waktu itu. Dia langsung minta maaf, minta maaf banget. Sampe nyuruh lo pegang senjata tajam buat melindungi diri lo dari dia."
"Iya sih."
"Itu artinya dia adalah cowok, yang masih memikirkan kondisi mental lo Lea. Karena lo masih dibawah umur."
"Bisa jadi sebenarnya dia ada suka sama Lea?" Kali ini Nina bertanya.
"Bisa jadi, cuma berusaha dia tepis aja. Karena nggak enak, dia mikirnya melebar kemana-mana. Bukan ke satu titik." ujar Vita.
"Satu titik, titik itu, harus fokus." Nina mulai bernyanyi, sementara otak mereka bertiga kini travelling.
"Terus gue harus gimana, Vit?" Lea kembali bertanya.
"Lo harus kejar apa yang menjadi mau lo. Lo pengennya om Daniel, ya kejar. Buat dia supaya mau mengakui perasaannya."
"Kalau ternyata dia nggak punya perasaan terhadap gue, gimana?"
"Ya lo tanam dan pupuk."
"Kenapa nggak pupuk sama Hans aja?" Lea mengeluarkan pertanyaan bodohnya.
"Kan udah, dan lo nya nggak bahagia."
"Kalau sama om Dan juga nggak bahagia, gimana?"
"Ya cari lagi, Jamilah."
Mereka bertiga kembali tertawa. Lea agaknya benar-benar menyadari, jika rasa yang ada dihatinya selama ini adalah untuk Daniel. Bukan untuk Hans.
__ADS_1
"Terus gue ngomong apa ke Hans?. Mana orang tuanya baik banget lagi." ujar Lea kemudian.
"Ya mau gimana, kalau lo nya aja nggak punya feeling lebih. Hans juga berhak bahagia loh, Le. Jangan egois." ujar Vita.
Lea melempar pandangan ke langit-langit kamar.
"Gue harus kasih tau Hans dulu, atau om Daniel dulu. Mengenai perasaan gue ke mereka."
"Kemana aja dulu lah, besok lo ikut acara ulang tahunnya om Richard nggak?" tanya Vita.
"Ya ikut lah pasti, lo juga kan?"
"Iya, kan sugar daddy gue kenal sama om Richard."
"Ya udah, lo manfaatkan aja momentum besok. Buat menyatakan cinta sama om Daniel." Nina memberikan ide cemerlang.
"Kalau ada bapaknya Hans gimana?"
"Dia nggak bakal dateng kayaknya."
"Koq lo tau?"
"Gue ngeliat insta story cowok lo itu, bapaknya lagi di Swedia. Masa lo cowok sendiri nggak liat insta story nya."
"Mager gue."
"Karena kepikiran om Dan." celetuk Nina.
"Emang." timpal Vita.
Lea kini senyum-senyum sendiri, jujur setiap hari ia memang hanya memikirkan Daniel. Meski sampai beberapa saat yang lalu, ia belum menyadari. Jika ia sejatinya jatuh cinta pada pria itu, sampai akhirnya Vita menyadarkan.
Ketika pulang ke rumah, Lea jadi terus memperhatikan Daniel. Ia ingin membuktikan sekali lagi ucapan Vita. Apakah benar dirinya jatuh cinta pada sugar daddy nya itu.
Ia terus memperhatikan Daniel di setiap kesempatan. Saat pria itu makan, duduk, menelpon, dan lain sebagainya. Lea merasa Daniel begitu tampan, di luar sifatnya yang kadang menyebalkan. Kini Lea jadi senyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa?" Tiba-tiba Daniel sadar jika dirinya tengah diperhatikan oleh Lea.
Lea pun mendadak salah tingkah dibuatnya.
"Ehm, hehehe."
__ADS_1
Lea pergi dari hadapan Daniel menuju ke kamarnya, Daniel kini duduk di meja makan dan menyalakan laptop.
Perlahan Lea pun menongolkan kepalanya dan kembali mengintipnya Daniel.