
Daniel, Richard, dan Ellio menjalani medical checkup secara menyeluruh di sebuah rumah sakit.
Richard sendiri tak masalah sebab dirinya merasa jika ia saat ini sedang tidak sakit apa-apa. Sementara Daniel dan Ellio bersiap.
Mereka akan menodong Richard mengenai hasil dari medical check up itu nanti. Mereka ingin segera tau hasilnya dan dijamin Richard tak akan mampu lagi menghindar.
"Kita kantin dulu yuk, sambil menunggu hasil."
Ellio memberi ide.
"Oke." ujar Richard dan Daniel di waktu yang nyaris bersamaan.
Mereka lalu pergi ke kantin. Sesampainya disana mereka menesan kopi dan mengobrol. Tak lama handphone Richard pun berbunyi. Ternyata itu dari salah satu kliennya.
Ia beranjak dari duduk dan menerima telpon tersebut agak jauh dari Daniel dan juga Richard. Bukan karena ingin merahasiakan sesuatu, tapi kantin itu memang ramai suara orang berbincang dan tertawa.
Meski di rumah sakit, suara-suara dari orang lain kadang memang tidak bisa di rem. Richard terus berbicara sambil membuat gerakan langkah-langkah kecil. Sampai kemudian matanya tertuju ke suatu arah.
"Nadya?" gumamnya.
Ia melihat Nadya yang melintas ke suatu arah. Tak lama kliennya menyudahi telpon tersebut dan berpamitan. Richard tak lantas kembali pada Daniel melainkan mengikuti langkah dari istri Hanif tersebut.
Ia terus berjalan, dan masih sedikit sembunyi-sembunyi. Ia ingin melihat situasi terlebih dahulu. Apakah Nadya pergi ke rumah sakit ini bersama Hanif atau tidak. Sebab mungkin saja Hanif pulang mendadak dari bulan madunya.
Di samping itu Richard juga ingin mengetahui mengapa Nadya ada ditempat ini. Siapa yang sakit. Apakah orang tuanya, mertuanya, atau siapapun itu.
***
Di penthouse Lea mematut diri di depan kaca. Memperhatikan tubuhnya yang masih berisi pasca hamil dan melahirkan Darriel.
"Delil, menurut kamu mama harus diet nggak?. Biar kayak member idol grup." ujarnya kemudian.
"Heheee."
Darriel menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan antusias.
"Mama tuh cantik tau." ujarnya lagi.
"Heheee, hiyaaa."
Lagi-lagi bayi itu tertawa diikuti celoteh.
"Kalau mama nggak cantik, nggak mungkin kamu ganteng Delil. Kamu harusnya berterima kasih karena mama cantik. Makanya kamu ganteng."
"Heheee."
Lea kemudian mencium Darriel dengan gemas. Ia telah memutuskan bahwa ia akan mulai menjaga pola makan. Bukan mengurangi makan, tapi mengganti makanannya menjadi makanan yang lebih sehat.
Selain sehat untuk dirinya, dipastikan juga sehat untuk Darriel. Karena makanan sehat menambah kualitas ASI.
"Mama mulai besok, eh mulai hari ini mau olahraga. Delil temani mama ya, biar nggak ada yang godain papa."
"Hokhoaaa."
"Iya, banyak yang mau numpang hidup sama papanya Delil. Makanya ini mama mau mempercantik diri. Biar kita hempaskan itu orang-orang yang mau nebeng sama papa."
__ADS_1
"Heheee."
"Sekarang aja apa ya?"
"Hokhoaaa."
"Ya udah yuk!"
Lea lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga. Kemudian ia mengambil dua matras. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk meletakkan Darriel.
"Sekarang kamu temani mama."
"Hokhoaaa."
"Ntar dulu, mama buka YouTube dulu."
Lea mengambil laptop lalu membuka laman YouTube dan mencari video olahraga dirumah.
Kemudian ia menyetel video tersebut di dekatnya. Ia mulai melakukan gerakan-gerakan kecil yang ringan. Sementara Darriel tampak memainkan kaki dan tangannya dengan penuh antusias.
"Heheee."
Darriel tertawa-tawa. Sementara ibunya terus melanjutkan gerakan demi gerakan.
***
"Bu Nadya."
Seorang dokter mendekati Nadya, sedang wanita itu kini menghentikan langkah tepat di depan sebuah ruangan.
Richard yang mengintip dari balik tembok akhirnya paham. Jika Nadya berada di rumah sakit ini lantaran anaknya sakit. Tapi ia belum melihat Hanif dari tadi.
"Anak ibu mengalami demam dan sepertinya sedang tertekan." ucap dokter tersebut.
Nadya kemudian teringat, pada masalah yang menimpa anaknya di sekolah. Semua akibat ulah Susi yang di setujui dan dilindungi oleh Hanif.
Kemarahan Nadya pun rasanya memuncak sampai ubun-ubun. Namun ia tak memiliki power untuk memecahkan itu semua kepada Hanif.
Sementara dokter terus berbicara, hati Nadya semakin terluka. Dokter tersebut berlalu, Nadya masuk ke sebuah kamar dan ia tak begitu rapat menutup pintu tersebut.
Hingga Richard pun akhirnya diam-diam mendekat dan menilik ke dalam. Ia melihat sesosok anak berusia kira-kira delapan tahunan tengah terbaring. Wajahnya manis dan tampak mirip ibunya. Ada sedikit bias Hanif meski hanya sekitar 10%.
Richard baru pertama kali itu melihat anak Nadya. Dua kali ia menghadiri pernikahan Hanif, namun tak pernah melihat wujud anak-anaknya. Karena sepertinya mereka memang tidak dilibatkan.
"Maaf, cari siapa ya pak?"
Richard dikejutkan dengan kehadiran asisten rumah tangga Nadya, yakni Putri.
"Eh, Mmm."
Nadya yang mendengar hal tersebut dari dalam, akhirnya keluar. Richard jadi makin terjebak.
"Pak Richard."
Nadya kaget dengan kehadiran pria itu dan Richard pun mau tidak mau harus menghadapi meski dirinya belum siap.
__ADS_1
"Sorry, tadi saya lihat kamu ke arah sini. Saya pikir Hanif yang sakit." Richard berdusta.
"Bukan pak, yang sakit Arkana anak saya."
"Oh." Richard pura-pura kaget, padahal ia tau sejak tadi.
"Hanif-nya ada?" tanya nya kemudian.
"Mas Hanif masih bulan madu." jawab Nadya.
"Kalau begitu, boleh saya jenguk anak kamu?" tanya Richard.
"Mmm, silahkan!"
Nadya membuka pintu, Richard masuk ke dalam. Sementara Putri mengira-ngira apakah ini bos dari Lita.
Ia kemudian mengambil gambar Richard diam-diam dan mengirimnya pada Lita melalui WhatsApp.
"Iya bener itu bos gue." jawab Lita.
"Itu dimana?" tanya nya lagi.
Putri kemudian menjelaskan dimana dirinya kini berada. Termasuk Richard dan juga Nadya.
"Ya ampun, parah banget itu si kutu laut. Anak sampe sakit gara-gara kelakuan istri mudanya. Tapi istri mudanya di bela." ujar Lita.
"Biasalah kelakuan bulu babi." balas Putri.
"Anaknya sakit gara-gara dia, malah nyalahin istri. Di bilang nggak becus ngurus anak."
"Bener-bener laki kayak gitu ya, semoga di caplok hiu." tukas Lita.
"Sama bini mudanya sekalian." Putri menimpali.
Sementara di dalam Richard memperhatikan Arkana.
"Dia sakit apa?" tanya nya kemudian.
Nadya diam memperhatikan sang anak. Karena bebannya sudah sangat menyesali dada, akhirnya ia bercerita pada Richard.
"Dia di bully di sekolahnya, pak." ujar wanita itu.
"Si bully?" Richard mengerutkan dahi.
"Iya, karena kelakuan mas Hanif dan istri barunya." ucap Nadya.
Richard memperhatikan wanita itu. Kemudian Nadya seperti tersadar.
"Maaf, nggak seharusnya saya menceritakan aib suami saya."
"Kalau udah menyangkut anak, persetan sama aib Nad. Aib suami itu harus di sembunyikan jika tidak berdampak bagi orang lain. Tapi ini dampaknya melukai anak yang tidak bersalah."
Richard mengambil kesempatan tersebut untuk menjatuhkan Hanif di mata istrinya sendiri. Sudah kepalang cinta, maka ia akan maju untuk merebut hati wanita itu.
"Apa yang sudah dilakukan Hanif dan juga Susi?" tanya nya kemudian.
__ADS_1
Maka Nadya pun menceritakan semuanya secara detail.