Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sesi Foto


__ADS_3

Lea dan Daniel terdiam, menatap Hans yang kini berdiri di hadapan mereka. Ingin rasanya Lea berkata pada sang suami. Apakah matanya buta dan tak melihat fotografer siapa yang ia telah hubungi dan pesan.


"Saya perwakilan dari Atmo Photography." ujar Hans kemudian


"Kenapa bukan pak Atmo nya sendiri yang hadir?" tanya Daniel.


"Apa itu masalah?" Hans balik bertanya.


"Aa, nggak. Om cuma nanya aja, kenapa bukan pak Atmo sendiri yang datang. Soalnya om ada menghubungi dia untuk sesi pemotretan ini."


"Om udah cek, ordernya di harga berapa?" tanya Hans.


"Emang ngaruh ya?" Daniel balik bertanya.


"Harga yang paling tinggi, itu harganya pak Atmo. Tapi yang dibawah-bawah dikerjakan oleh fotografer yang tergabung di studio beliau, termasuk saya."


Daniel baru memahami semua itu.


"Tapi hasilnya tetap bagus kan?" tanya nya kemudian.


"Untuk hasil nggak perlu ragu, semua bisa dipercayakan sama saya."


"Ok, tapi..."


Daniel menoleh ke arah Lea, dan menatap lagi ke arah Hans.


"Are you ok with her?"


Hans mengangguk-anggukan kepalanya.


"It's not a big deal. Saya sudah berdamai koq, dan saya profesional." ujar Hans sedikit tersenyum.


Daniel pun ikut tersenyum.


"So, Lea?" Daniel bertanya pada istrinya.


Lea menatap Hans dan begitupun sebaliknya. Tak lama mereka terlihat duduk bersama di sebuah ruangan sambil berbicara. Daniel memberikan ruang untuk mereka berdua.


"Maafin aku." ujar Lea pada pemuda itu.


Hans mengangguk, meski ia kini sedikit menunduk. Rasa diantara mereka tak mudah begitu saja dihilangkan. Tapi yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara menyikapinya.


"Ariana nggak diajak?" tanya Lea.


"Dia lagi ada urusan katanya."


Kali ini Hans berkata seraya menoleh pada Lea dan tersenyum. Membuat ketegangan diantara mereka akhirnya mencair.


"Oh iya, MUA nya lagi di jalan. Bentar lagi dia sampe." ujar Hans lagi.


"Ya udah, kamu mau minum apa?" tanya Lea.


"Apa aja." jawab Hans kemudian.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, makeup artis yang dimaksud pun tiba. Terdiri dari dua orang perempuan yang di kepalai oleh seorang perempuan jadi-jadian. Untuk urusan makeup di manapun, hasil kerja perempuan amfibi memang selalu diminati.


Sebab mereka sangat-sangat menggunakan hati dan perasaan dalam hal bekerja. Di samping kadang suasana menjadi ramai, karena gaya bicara mereka yang unik serta selalu update pada gosip terbaru.


Lea kemudian didandani sedemikian rupa, hingga baik Daniel maupun Hans terpesona oleh kecantikan perempuan muda itu.


"Sorry Hans, I stole her from you."


Daniel melirik Hans dan bersikap seolah dirinya adalah pemenang. Tetapi ia hanya menggoda remaja itu dan berniat bercanda. Sebab sebelum perkara dengan Lea terjadi, mereka memang cukup dekat.


"It's ok. Setidaknya dulu kami jadian karena rasa suka sama suka yang terjadi secara on the spot. Bukan karena terjebak dan dipaksa orang tua Lea untuk menikah."


Hans menjawab sambil tersenyum tipis, namun hatinya jumawa. Ia menang saat wajah Daniel mendadak sewot.


"Tapi setidaknya dia sekarang pregnant my baby." Daniel tak mau kalah.


"Saya juga bisa melakukan itu pak Dan, kalau saat itu orang tuanya memaksa saya menikahi dia. Sayangnya bukan saya yang dipaksa, tapi anda."


Keduanya sama-sama diam, namun tetap saling memandang. Tak lama mereka pun sama-sama tertawa.


Selama beberapa waktu ke depan pemotretan berjalan lancar. Hans benar-benar seorang profesional, yang mengerjakan segala sesuatu tanpa menyangkut pautkan soal perasan.


Setelah itu Ariana datang. Lea sengaja memaksanya untuk hadir diantara mereka. Padahal ia memang tengah ada urusan penting. Hans sediri terkejut dengan kehadiran pacarnya itu.


Tak lama setelah pemotretan selesai, MUA pamit. Sebab mereka memiliki jam terbang yang sangat padat. Lalu tinggallah Daniel, Lea, Hans, dan Ariana. Yang saat ini tampak mengobrol di meja makan.


***


Seseorang menelpon, ternyata itu Marcell. Teman yang tempo hari berniat membantu Daniel mencari Sharon.


"Iya Cell, gimana perkembangannya?" tanya Daniel.


"Sejauh ini kita sudah mendapat rekaman CCTV saat terakhir kali Sharon terlihat. Ini penculikan, Dan. Dia dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil minivan di dekat rumah dia. Saat dia lagi jalan di sekitaran tempat itu."


Daniel terdiam. Jika benar, ini merupakan sesuatu yang sangat berbahaya.


"Menurut lo, siapa yang melakukan hal tersebut?" tanya Daniel lagi.


"Nah ini yang sedang kita selidiki sekarang. Bapaknya si Sharon itu pejabat kan tadinya, sebelum tertangkap kasus korupsi."


"Iya bener." jawab Daniel.


"Ya yang namanya pejabat itu pasti terhubung dengan banyak orang. Mungkin aja ada yang dendam sama bapaknya, kemudian membalas ke si anak ini."


Marcell memberikan kesimpulan. Lagi-lagi Daniel menghela nafas.


"Pokoknya berapapun, gue akan bayar bro. Tolong bener-bener selidiki. Gue nggak mau istri gue hidup dalam kekhawatiran terus. Tiap dia ingat sama Sharon, dia pasti khawatir dan nanya terus perkembangannya. Kita semua juga selalu bergerak mencari setiap hari. Termasuk teman-teman istri gue dan teman-teman Sharon sendiri. Tapi sampai hari ini kita juga belom menemukan apa-apa."


"Ok, lo bisa percaya sama gue koq." ujar Marcell.


Mereka pun lanjut berbicara hingga beberapa saat kemudian. Setelah itu, Marcell pamit karena masih harus melanjutkan penyidikan.


***

__ADS_1


"Richiiiiieee."


Ibu Richard berteriak di telpon. Saat Richard baru saja selesai memimpin rapat.


"Apaan sih mi?" tanya Richard heran.


"Kamu itu, orang tua nelpon sampe berkali-kali dulu baru diangkat." Ibunya menggerutu.


"Richard tadi rapat, mi. Ini aja baru selesai. Masa lagi rapat ngangkat telpon. Lagian mami ada apa sih?. Kayak penting banget gitu loh, ngehubungin terus.


"Mami itu mau tanya, kamu memilih siapa diantara Maryam dan pacar kamu itu?"


"Richard pilih Dian, mi." jawab Richard.


"Apa kamu bilang?. Kamu mau malu-maluin mami di depan keluarga Maryam?. Mami itu sudah bicara soal pertemuan selanjutnya dan hari pertunangan kalian dengan keluarganya."


"Mami gimana sih, katanya Richard di suruh memilih. Tapi giliran menentukan pilihan, di omelin. Dipaksa memilih yang mami pilih. Itu bukan pilihan mi, namanya. Pemaksaan tau nggak."


"Kamu itu berani ya membantah omongan orang tua."


"Lah bener dong, mami kan suruh Richard memilih. Yang namanya memilih, berarti Richard bebas menentukan pilihan."


"Nggak bisa, kamu harus menikah dengan Maryam."


"Lah, kocak. Bilang aja dari tadi mami maksa Richard buat memilih dia, iya kan?"


"Iya." Sang ibu akhirnya jujur.


"Mami lebih suka sama Maryam."


"Richard nggak mau dipaksa."


"Kamu dipilihkan perempuan baik nggak mau."


"Baik menurut Richard atau menurut mami?"


"Masih membantah kamu ya. Pokoknya mami cuma setuju sama Maryam, titik."


"Ya udah kalau masih maksa. Richard nikah aja sama Ellio, biar nggak ribet."


"Maksud kamu?"


Ibu Richard benar-benar syok mendengar hal tersebut. Karena mengira telah terjadi penyimpangan dalam diri anaknya. Padahal Richard hanya kesal pada sikap ibunya tersebut.


"Richard sama Ellio aja, mi. Bye."


Richard menyudahi telpon tersebut secara serta-merta, hingga membuat sang ibu memanggil namanya.


"Richie."


"Hallo."


Tetapi telpon telah terputus.

__ADS_1


__ADS_2