Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Fitting


__ADS_3

"Bayinya sehat."


Dokter yang memeriksa kandungan Marsha mengatakan hal tersebut. Membuat wanita itu dan Ellio sama-sama menitikkan air mata.


Ini pertama kalinya mereka melihat calon anak mereka di layar komputer pemeriksaan. Meski hanya berupa gambar yang menurut mereka tidak jelas. Ellio tersenyum sambil menggenggam tangan Marsha dan begitu pula sebaliknya.


"Sehat-sehat ya, sampai lahir."


Ellio mengusap dan mencium perut sang kekasih, ketika ia dan wanita itu sudah masuk kedalam mobil. Pemeriksaan telah usai dilakukan beberapa menit yang lalu, dan kini saatnya mereka menyelesaikan urusan kedua.


"Makasih ya pak, udah nemenin saya dan sabar nungguin."


"Iya, sama-sama bu Marsha."


Ellio melontarkan nada candaan. Sebab sampai sudah akan menikah seperti ini pun, Marsha tetap memanggil pak kepadanya.


"Tapi lucu juga ya pak, kalau saya di panggil ibu?"


"Iya nggak apa-apa, lagian panggilan ibu udah langka sekarang di negara kita. Pada ngikutin panggilan dari negara lain semua." lanjut Ellio lagi.


Marsha tersenyum.


"Ya udah, saya mau dipanggil ibu." ujarnya kemudian.


"Fix, ibu sama bapak ya." ujar Ellio.


"Ok." jawab Marsha lagi.


Ellio tertawa dan terlihat sangat bahagia, begitupula dengan Marsha. Meski saat ini keluarganya masih bersikukuh untuk tak mau hadir di pernikahannya nanti. Tetapi Ellio selalu bisa membesarkan hatinya.


"Kita jalan sekarang ya." ujar pria itu kemudian.


"Yuk, udah ga sabar juga pengen liat baju pengantinnya." tukas Marsha.


Maka Ellio pun menghidupkan mesin mobil, lalu menekan pedal gas secara perlahan. Tak lama mobil tersebut terlihat sudah meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.


***


"Dert."


"Dert."


"Dert."


Sebuah panggilan tertera di handphone Daniel. Namun itu berasal dari nomor yang tidak dikenal.


"Dert."


"Dert."


"Dert."


"Siapa mas?"


Lea yang menyaksikan hal tersebut kemudian bertanya. Sebab Daniel tampak menatap layar handphone namun tak menjawab.


"Nggak tau, nomor nggak dikenal." jawab Daniel.

__ADS_1


"Angkat aja, siapa tau penting."


Daniel kemudian mengangkat panggilan tersebut, meski terlihat sangat terpaksa.


"Hallo, selamat siang." sapa Daniel pada orang yang ada di seberang sana.


"Hallo pak Daniel, ini saya Fandi. Kuasa hukum pak Edmund." Orang tersebut memperkenalkan diri.


"Oh, iya pak ada apa?" tanya Daniel kemudian.


Ia agak merasa lesu mendengar nama sang ayah di sebutkan.


"Begini pak Daniel."


Fandi mulai menyampaikan maksud dan tujuannya. Tentang mengapa ia menelpon dan apa saja yang ia minta untuk Daniel lakukan. Daniel sendiri hanya diam mendengarkan. Sampai kemudian,


"Nanti saya pikirkan dulu, pak." tukasnya pada sang kuasa hukum tersebut.


"Baik, terima kasih atas waktunya pak Daniel."


"Sama-sama pak."


Pengacara Edmund itu lalu menutup telpon. Tinggallah kini Daniel terdiam dan seolah berpikir ditempatnya.


"Siapa tadi mas?" tanya Lea penasaran.


"Kuasa hukum papa." jawab Daniel dengan nada agak malas.


"Kenapa emangnya dia?" Lagi-lagi perempuan itu bertanya.


"Hhhhhhh." Daniel menghela nafas cukup panjang.


Lea ikut diam dan mereka pun tak berbicara untuk beberapa saat.


"Kesana aja, mas." Lea tiba-tiba memberi saran.


Daniel masih diam dan menjatuhkan pandanganya ke suatu sudut.


"Mungkin papa mas udah merenungi kesalahannya saat ini." lanjut Lea.


Daniel menatap istrinya tersebut.


"Dia bisa minta tolong pengacaranya untuk meminta aku datang, dan bawa foto Darriel. Apa dia pernah melakukan itu untuk Danisha?"


Daniel menyinggung soal adik perempuannya yang dilahirkan oleh Grace. Yang sampai saat ini sepertinya belum diakui oleh Edmund.


"Setidaknya dia sekali aja ada nanyain anak itu. Itu anak kandungnya, Le. Masa iya dia setega itu."


Lea yang diam kali ini. Dalam hati ia membenarkan perkataan sang suami. Bahwa Edmund merupakan seorang ayah yang tega terhadap puteri kandungnya sendiri.


"Tapi mas, mungkin aja dia udah melakukan itu. Kan mas nggak nanya sama pengacaranya tadi, udah pernah atau belum dia nyari Danisha. Mas juga nggak ada nanya sama Grace kan akhir-akhir ini?"


Daniel menggeleng. Ia memang agak jarang berkomunikasi dengan mantan kekasihnya itu. Lantaran Daniel juga sangat sibuk saat ini, serta lebih berfokus pada Darriel.


"Ya udah, untuk lebih jelasnya mas kan bisa temui dulu. Kalaupun nanti dia jawab belum menemui Danisha, mas bisa nasehati dia. Mumpung dia udah sadar sekarang mas. Inilah saatnya kalau mau kasih nasehat."


Lagi-lagi Daniel menghela nafas panjang dan menatap Lea.

__ADS_1


"Pikirin dulu deh, barangkali ini semua ada baiknya nanti."


Daniel mengangguk-anggukan kepalanya. Meski saat ini dirinya belum akan memutuskan.


***


Di sebuah butik bridal.


Ellio tertegun menatap Marsha yang baru keluar dari fitting room. Ini adalah baju pengantin pertama yang ia pakai. Dan itu membuat Ellio yang terkenal cukup playboy selama ini seakan gemetar.


"Kamu cantik banget." pujinya kemudian.


Marsha tersipu malu dan tersenyum. Ellio mengambil handphone dan mengambil rekaman. Membuat perempuan itu kian bertambah merah wajahnya.


"Yang ini bagus nggak pak?" tanya Marsha pada Ellio.


"Ini bagus, tapi cobain aja yang lain juga. Siapa tau kamu menemukan yang lebih cocok lagi." ujar Ellio.


Maka Marsha pun lalu berganti gaun demi gaun. Dan setiap kali berganti, setiap itu pula ia kembali tertegun dan terpesona pada kekasihnya itu.


Sejatinya Marsha tak jauh lebih cantik dari pada perempuan-perempuan yang pernah dikencani oleh Ellio.


Tetapi wanita ini tengah mengandung anaknya. Dan lagipula ia begitu lembut serta bisa mengimbangi sifat Ellio yang kadang berubah-ubah. Ellio cinta kepadanya, sehingga pria itu merasa jika kecantikan sang kekasih bertambah di segala sisi.


"Yang ini gimana?"


Marsha mencoba gaun terakhir yang diperkirakan akan cocok dengan bentuk tubuhnya. Ellio yang tengah memandang ke suatu arah pun kini menoleh.


Ia kembali terdiam, dan lebih tertegun dari sebelum-sebelumnya. Sebab Marsha terlihat lebih cocok dengan gaun yang terakhir ini. Ellio tersenyum lalu mendekat dan mencium kening wanita itu dengan lembut.


"Aku suka yang ini." ujarnya kemudian.


"Aku pikir juga gitu, pak." jawab Marsha.


"What?" Ellio seperti meminta kepastian akan sesuatu.


"What, apa pak?" tanya Marsha tak mengerti.


"Tadi kamu bilang apa, aku?. Bukan saya lagi?"


Marsha tersenyum, sejatinya ia tadi keceplosan.


"Mulai sekarang dibiasakan ya." pinta Ellio.


Dengan wajah memerah Marsha pun mengangguk.


Pilihan akhirnya jatuh kepada gaun yang terakhir, karena dinilai paling cocok dan baik Marsha maupun Ellio sangat menyukainya.


Sang desainer pemilik butik tersebut lalu menemui mereka. Marsha mengukur badan dan juga memilih bahan.


Hari itu hanya Marsha yang memesan baju. Sebab Ellio memiliki koleksi suit mahal sebanyak satu ruangan kamar. Ia ingin memakai salah satu diantaranya saja saat menikah nanti.


Kualitas koleksinya tak perlu di ragukan lagi. Sebab hampir seluruhnya adalah keluaran dari brand ternama atau karya desainer yang mendunia.


***


Follow my Instagram @p_devyara.

__ADS_1


YouTube channel @Devyara (Link di bio Instagram). Thank you 💞


__ADS_2