
Hari demi hari berlalu, tak banyak interaksi yang terjadi diantara mereka berdua. Mereka sepakat melupakan kejadian di rumah sakit, meski tak berhasil banyak.
Daniel terus mengingat peristiwa tersebut, begitupula dengan Lea. Ia terus terngiang-ngiang pada ciuman dan remasan tangan Daniel di dadanya.
Anehnya, ia tak mengingat hal tersebut sebagai sesuatu yang menjijikkan ataupun membuatnya trauma. Ia mengingat hal itu seperti sebuah peristiwa yang tak terlupakan dan masih terasa. Padahal saat kejadian berlangsung, Lea benar-benar ketakutan dan merasa aneh. Ia juga marah dan dendam pada Daniel saat itu.
Namun seiring berjalannya waktu, marah dan dendam itu seolah terkubur. Oleh ingatan akan kenikmatan yang ditimbulkan.
"Buruan...!"
Seorang siswa berteriak pada siswa lainnya, Lea kini tersadar harus masuk ke kelas, karena ia tengah menghadapi ujian kenaikan.
Waktu kembali berlalu, ia dan Daniel menjalani hari seperti biasa. Daniel sibuk dengan urusannya, begitupula dengan Lea. Tak jarang Daniel mengadakan perjalanan bisnis keluar negri, bahkan sampai satu-dua bulan lamanya.
Ia sudah membuatkan rekening tabungan untuk Lea. Apabila tengah pergi untuk waktu yang cukup lama, ia akan meninggalkan sejumlah uang untuk gadis itu.
Ellio dan Richard selalu siap membantu, apabila gadis itu membutuhkan pertolongan. Kini, Lea sudah berada di penghujung tahun kelas tiga. Beruntung ia tak sekelas dengan Sharon ataupun kedua temannya. Hingga masa-masa di kelas terakhir ini tak begitu runyam, meski Sharon masih kerap kali mengganggunya.
Terakhir mereka bertengkar hebat lantaran Sharon masih tak terima, jika Lea naik kelas dengan nilai tertinggi dan mendapat predikat juara umum pertama.
Sharon merasa ia telah dicurangi pihak sekolah, yang belakangan membela Lea. Karena Lea memberikan banyak sumbangan.
Sharon terus memaksa Lea untuk mengakui kecurangannya. Ia menduga gadis itu telah menyogok para guru, seperti apa yang sering ia lakukan selama ini.
Padahal Lea memang belajar giat beberapa waktu belakangan. Ia tak ingin mengecewakan Daniel yang telah mengeluarkan uang banyak demi menyekolahkannya.
***
"Seorang pejabat diamankan komisi pemberantasan korupsi karena diduga telah menggelapkan dana negara sebesar 136 Milyar rupiah."
Lea menonton berita tersebut di pagi hari, dan betapa terkejutnya ia ketika kamera menyoroti terduga tersangka kasus tersebut.
"I, itu kan?"
Lea ingat, beberapa kali pria itu mengantar Sharon ke sekolah. Ia juga mendengar anak-anak yang berbicara, jika ia adalah ayah dari pacar Rangga tersebut.
Ketika tiba disekolah, Lea melihat sebuah kehebohan. Pasalnya berita tentang ayah Sharon yang korupsi, telah sampai ke telinga para siswa. Ada beberapa yang baru mengetahui, dan kini mereka tengah menonton di tayangan YouTube.
Sharon tiba di sekolah, semua mata kini tertuju pada gadis itu. Lea berdiri menunggu dengan sebuah amunisi yang siap menghancurkan Sharon. Sharon berjalan tegak, ditengah suara-suara yang menghujat dirinya.
"Huuuu, bapaknya koruptor."
"Koruptor."
"Makan tuh uang negara, nggak tau malu."
__ADS_1
Ia mulai dilempari bola kertas, bahkan yang sengaja diisi dengan batu. Maya dan Tasya hanya bisa melihat dari jarak dekat, karena takut dilempari pula. Sejatinya mereka kasihan pada Sharon, namun tak bisa menolong banyak.
"Ow, yang bapaknya memakan hak rakyat."
Lea melontarkan ucapan, yang membuat Sharon menghentikan langkah. Gadis itu kini menatap Lea dengan mata yang memerah.
"Kenapa kalau bapak gue korupsi?"
Sharon berkata dengan nada berteriak. Sehingga seluruh siswa, baik yang dilantai atas maupun bawah dapat mendengar suaranya.
"Kalian semua, yang merasa anak pejabat. Kalian percaya diri kalau bapak kalian nggak korupsi?"
Seisi sekolah diam, karena hampir 70% dari mereka adalah anak pejabat. Baik pejabat di kota maupun di daerah masingmasing.
"Bokap gue bisa aja bersuara dan bokap kalian bisa kena. Karena korupsi itu memiliki jaringan, uangnya biasa digunakan untuk suap-menyuap antar anggota. Baik di kota maupun di daerah."
Sebagian siswa yang orang tuanya pejabat pun menarik diri, mereka ketakutan juga jika ayah mereka akan terseret kasus yang sama. Terutama mereka yang ayahnya bekerja di satu instansi dengan ayah Sharon.
"Dan lo." Sharon menatap Lea.
"Lo pikir lo bisa memanfaatkan situasi ini untuk menyerang gue?"
Suara Sharon mulai merendah, bahkan hanya ia, Tuhan dan Lea saja yang bisa mendengar.
"Setidaknya bapak gue berusaha, walaupun caranya salah. Dia punya tanggung jawab terhadap keluarga. Nggak kayak keluarga lo, yang memanfaatkan anak untuk menopang ekonomi."
Lea tersentak mendengar ucapan Sharon tersebut.
"Lo pikir gue nggak tau, kalau lo jadi simpanan om-om kaya."
Emosi dalam diri Lea mulai memuncak.
"Gue udah selidiki semuanya, Lea. Om-om yang datang itu bukan keluarga lo, tapi mereka adalah om-om yang memelihara elo. Lo di biayain sekolah, tapi kelamin lo dipake bergiliran."
"Plaaak." Sebuah tamparan mendarat di pipi Sharon dan,
"Plaaak." Sharon pun membalas.
"Denger ya Lea. Sampai kapanpun, lo nggak akan pernah bisa menjatuhkan gue. Hidup yang lebih hina dan lebih menyedihkan itu adalah hidup lo. Bapak gue korupsi demi keluarga, supaya anak perempuannya nggak jual diri kayak lo. Sebaliknya keluarga lo, adalah keluarga yang nggak bertanggung jawab terhadap anak. Beranak cuma beranak doang, tapi nggak bisa kasih nafkah. Sampe membiarkan anak sendiri jual diri demi uang."
Sharon meninggalkan Lea sendirian ditempatnya berdiri.
"Shar tunggu...!"
Maya dan Tasya menyusul teman mereka itu. Rangga terdiam dan masih tak percaya pada apa yang ia dengar, sejak tadi ia melihat pertengkaran antara Sharon dan juga Lea dari suatu sudut.
__ADS_1
"Lea."
Rangga mendekat ke arah Lea, selama satu tahun belakangan ini hubungan mereka naik turun. Kadang mereka bertegur sapa, kadang seolah tak kenal sama sekali. Kadang Lea masih memperhatikannya, kadang juga tak peduli.
Rangga bisa berinteraksi dengan Lea, hanya apabila Sharon tak melihatnya. Itupun jika Lea menanggapi, sebab Lea juga ingat pada ucapan Dian. Bahwa sejatinya ia sudah harus melupakan Rangga, mengingat orang tua Rangga yang bersikap demikian. Lea juga sudah menjalin hubungan dengan Hans, selama ia naik ke kelas tiga ini.
"Apa benar yang dikatakan Sharon tadi?" Rangga menatap Lea, menanti jawaban.
Lea diam.
"Jawab Lea, apa benar kamu simpanan om-om?"
Lea masih diam.
"Jawab Lea, jawab...!"
"Itu bukan urusan kamu, Rangga. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."
Rangga gemetaran, keringat dingin kini mengalir di sekujur tubuhnya. Jawaban Lea barusan seakan menyiratkan, jika hal tersebut memanglah benar adanya.
Padahal sang ibu baru saja membuatnya bahagia. Dengan mengatakan mungkin Rangga akan direstui bersama Lea. Sebab ayah Sharon sudah terbukti korupsi dan itu bisa memalukan keluarga Rangga.
***
"Lea."
Hans mendekati Lea, ketika akhirnya mereka bertemu. Pemuda tampan itu duduk disisi Lea yang masih memikirkan omongan Sharon.
Lea sengaja tak bercerita apapun pada kekasihnya itu, karena jika ia bercerita. Hans akan tahu perihal ia yang merupakan sugar baby milik Daniel.
"I Miss you."
Hans mencium bibir Lea, namun sama seperti sebelum-sebelumnya. Lea tak bisa merasakan feel dalam ciuman tersebut. Entah mengapa yang selalu terngiang-ngiang di benaknya adalah, saat Daniel mencium dan memegang bagian dadanya.
Bahkan ini sudah nyaris setahun berlalu, namun bayangan itu masih melekat jelas di benak Lea. Setiap kali Hans menciumnya, setiap itu pula Lea otomatis teringat pada Daniel. Mungkin karena Hans masih muda, dan tak terlalu bisa digolongkan ke dalam kategori pemuda bejat.
Karena Hans sejauh ini hanya mencium bibir Lea. Tak pernah tangannya ikut memanfaatkan situasi, dengan memegang atau meraba-raba tubuh gadis itu.
Praktis yang diingat Lea hanyalah perlakuan Daniel. Sebab itu lebih atraktif dan menimbulkan sensasi kenikmatan aneh dalam dirinya.
"Apa mungkin ia jatuh cinta pada Daniel?"
"Ah."
Lea menepis pikiran tersebut. Lalu membalas ciuman Hans, meski terasa hambar di hati.
__ADS_1