
Grace kembali ke rumah Edmund, sesuai apa yang pernah di sarankan Daniel padanya. Kali ini wanita itu tak akan mengalah, sebab ada hak anaknya di rumah tersebut.
Edmund harus bertanggung jawab penuh atas hidup Danisha. Grace akan memperjuangkan anaknya sampai ke titik darah penghabisan.
Tak banyak yang tau jika kelahiran Danisha sangat mengecewakan Edmund. Sebab beberapa kali USG, jenis kelamin anak yang di kandung Grace adalah laki-laki. Namun ketika keluar, anak itu malah berjenis kelamin perempuan.
Edmund kecewa, karena sejatinya ia menginginkan anak-anak laki-laki, sebagai pengganti Daniel. Hubungannya yang tak begitu baik dengan Daniel, menjadikan ia tak bisa berharap banyak pada anak laki-lakinya itu.
Terutama soal kepemimpinan perusahaan. Edmund masih menganut paham orang jaman dulu, dimana anak laki-laki lebih penting ketimbang anak perempuan. Tanpa ia ketahui jika jenis kelamin anak itu ditentukan oleh tipe kromosom, dari benih yang ia taburkan.
Namun ia masih saja beranggapan jika anak tak terlahir laki-laki, itu adalah salah pihak perempuan. Maka dari itu kini ia ingin mengencani wanita lain, untuk mendapatkan keturunan laki-laki.
"Honey, kenapa perempuan ini ada disini?"
Reni, wanita baru Edmund yang lokal namun sok kebarat-baratan baru saja bangun. Ia pergi ke meja makan dan mendapati Grace yang tengah menikmati sarapan pagi di sana.
Grace cuek saja pada Reni, bahkan ketika Edmund tiba ia masih saja bersikap acuh tak acuh. Seperti tidak menganggap jika Reni dan Edmund ada di tempat itu.
"Kenapa kamu kesini, bukannya kamu sudah pergi."
Edmund berkata dengan nada yang tak begitu mengenakkan telinga. Grace sejatinya ingin menangis karena sakit hati, namun ia telah berjanji pada diri sendiri dan anaknya. Bahwa ia akan menjadi perempuan yang tegar.
__ADS_1
"Saya adalah istri kamu yang sah, Edmund. Pernikahan kita tercatat dalam lembaga resmi di negara ini. Kalau kamu mau saya pergi total, ya silahkan ceraikan saya di pengadilan. Tetapi, saya juga akan menuntut apa-apa yang menjadi hak saya dan anak saya."
Grace lalu berdiri dan mengambil sarapannya. Ia tersenyum pada kedua orang tersebut dan berlalu. Reni kesalnya setengah mati pada Grace, sementara Edmund tak bisa berbuat apa-apa.
***
"Didiklah anak-anak perempuan kalian, untuk menjadi perempuan yang menghasilkan uang sendiri dengan bekerja. Bekerja di bidang yang memang pekerjaan, bukan menjual tubuh. Jangan didik anak kalian untuk mengejar pria kaya. Sebab tidak semua pria kaya itu baik, tidak semua pria kaya itu mau memberikan uangnya pada anak perempuan kalian. Apalagi ikut menopang ekonomi keluarga kalian."
Seorang ex sugar baby yang kini telah berhenti, memberikan motivasinya. Pada forum orang tua dan anak yang di prakarsai oleh yayasan yang ikut dikelola oleh Arsenio.
"Mungkin diantara kalian ada yang mengatakan : "Ah ini cewek kasih motivasi kayak gini, karena dia apes aja dapat sugar daddy yang jahat. Mungkin kalau dia dapat sugar daddy yang bisa di begoin, pasti lanjut."
Ex sugar baby itu kembali berujar, banyak peserta forum yang tertawa akibat tersindir.
Para peserta fokus mendengarkan.
"Dulu, dari saya kecil. Saya selalu mendengar orang-orang di sekitar saya, terutama ibu-ibu. Kalau menasehati anak gadis selalu, carilah laki-laki kaya, hidup butuh uang, realistis aja. Akibatnya saya tumbuh menjadi perempuan yang hanya fokus merawat diri, untuk mendapatkan pria-pria kaya. Kebetulan saya berasal dari keluarga ekonomi pas-pas an, yang berharap bisa saya ubah dengan menikahi orang kaya. Pernah denger kan orang-orang di sosial media pernah bilang gini : "Lebih baik nangis di dalam mercy, daripada di dalam angkot. Lebih baik disakiti pria kaya, daripada udalah miskin, disakiti pula. Pernah denger?"
"Pernah." jawab hadirin serentak.
"Yang namanya disakiti itu nggak ada yang enak. Mau yang nyakitin kita itu laki-laki kaya atau miskin, dua-duanya nggak enak. Harta nggak akan ada harganya lagi, kalau batin sudah hancur, fisik sakit, secara seksual kita teraniaya, mental kita dipertaruhkan."
__ADS_1
Seisi ruangan diam.
"Selama ini saya hanya menuruti omongan orang di sekitar saya. Carilah pria kaya, realistis aja, hidup butuh duit. Saya nggak pernah tau kalau pria-pria kaya itu juga banyak yang otaknya bermasalah. Yang suka kekerasan fisik, verbal maupun seksual. Dan akhirnya saya menerima perlakuan yang sangat-sangat membuat saya trauma."
Ex sugar baby itu diam sejenak, sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Di luar sana banyak perempuan yang bertahan meski di sakiti, baik secara fisik, verbal, seksual. Karena apa? nggak bisa menghasilkan uang sendiri. Tidak dididik untuk menjadi wanita yang mandiri. Mereka bingung kalau berpisah, gimana mau hidup, gimana mau hidupin anak. Dari kecil mereka dididik menjadi wanita, yang menunggu pangeran berkuda kaya-raya. Dididik untuk selalu menengadahkan tangan, mengharap belas kasihan laki-laki. Ketemu laki-laki yang nggak baik, yang suka meremehkan perempuan. Abis dah tuh, selesai hidupnya. Menderita terus, kayak sinetron ikan terbang. Nggak bisa nyari duit sendiri, karena tidak dibiasakan. Tau ikan terbang?"
"Tau."
Seisi ruangan tertawa, ex-sugar baby itu terus memberikan penyuluhan. Agar kelak siapapun yang memiliki anak perempuan. Supaya mereka mendidik anak perempuan mereka menjadi jiwa-jiwa yang mandiri. Bukan untuk merasa lebih tinggi dari laki-laki. Tapi untuk menyelamatkan mereka, jika suatu saat terjebak atau tidak sengaja bertemu dengan laki-laki toxic. Mereka tidak harus bertahan, hanya karena takut tak ada yang menafkahi.
Arsenio dengan setia menunggu sambil mendengarkan. Ia dan para pengurus lain sangat menyukai acara-acara yang mereka sajikan. Mereka berharap bisa merubah sedikit demi sedikit pandangan masyarakat, tentang perempuan.
Selama ini perempuan lebih banyak di didik untuk bisa menarik hati pria. Dengan maksud agar pria mau memilih mereka, menjadikan mereka pasangan dan mensejahterakan hidup mereka. Kalau bisa keluarga juga kena percikan ekonominya.
Padahal anak perempuan itu perlu dididik mandiri dan menghasilkan uangnya sendiri. Karena tak banyak laki-laki di luar sana yang benar-benar bisa menyayangi dan menghargai perempuan. Seperti apa yang diharap oleh kedua orang tua si perempuan.
Sementara di lain tempat, mami Sonia sudah mulai di panggil pihak kepolisian untuk dimintai keterangan. Beberapa staf pun tak luput dari pemanggilan tersebut. Hanya mami Bianca saja yang masih bersembunyi, dalam perlindungan ayah Rangga yang punya banyak bekingan.
Wanita itu masih aman saat ini, tapi tidak tau untuk besok atau lusa. Sebab telah banyak lembaga dan netizen yang mendesak pihak berwajib, untuk segera memanggil wanita itu.
__ADS_1
Ia dinilai paling bertanggung jawab dalam hal ini. Sebab ia juga telah membohongi publik, dengan membuat sebuah wadah yang berkedok sekolah kepribadian atau agency model. Mencoreng citra sekolah kepribadian dan Agency model, yang memang benar-benar bergerak di bidangnya.