
Daniel memeluk dan mencium Darriel berkali-kali. Ia terus memandangi wajah anaknya itu sejak tadi. Rapat tetap dilanjutkan dengan dipimpin oleh salah satu petinggi di kantornya.
Richard dan Ellio kini menatap Daniel. Ellio hampir tak kuasa menahan tawa, mengingat kecerobohan sahabatnya itu. Namun Richard menahan Ellio untuk tidak tertawa. Meski dirinya pun sangat sulit dan terlihat berusaha mengatupkan bibir.
"Tadi gue ngebut banget di jalan. Gue nggak sadar kalau ada dia di belakang."
Daniel berbicara pada Richard dan juga Ellio, dengan nada penuh penyesalan. Kali ini kedua orang itu sudah tak ingin tertawa lagi. Mereka malah miris mengetahui fakta tersebut. Mereka juga khawatir pada keselamatan Darriel yang masih bayi.
"Pokoknya semalem itu bener-bener harus jadi the last time-nya kita minum sampe mabok." Ellio berujar diikuti anggukan Richard.
"Kita bisa mencelakakan siapapun kalau masih terus-terusan kayak gitu." lanjutnya kemudian.
Daniel menarik nafas dan kembali menatap Darriel. Sekali lagi ia mencium bayi itu dengan penuh rasa bersalah.
***
Beberapa saat berlalu.
Lea tiba di kantor Daniel dan langsung memeluk anaknya degan erat. Perempuan itu kembali menangis, sebab ia masih merasa sedih serta kehilangan.
Tadi dirumah ia sudah berpikir macam-macam. Bahkan segala kemungkinan buruk pun, ikut melintas dalam benak ibu dari Darriel tersebut.
"Aku pikir dia di celakain orang, mas." ucap Lea sambil mengusap air matanya dengan tissue.
"Maafin aku ya. Tadi itu bener-bener riweh suasananya." ucap Daniel sambil merangkul bahu sang istri.
Lea mengangguk, Daniel mencium kening istrinya itu lalu mencium kening Darriel. Tak lama Lea pun tersenyum.
"Di culik papa kamu ya." ujar perempuan itu pada bayinya.
Daniel kemudian ikut tersenyum, bahkan tertawa kecil. Tak lama Lea pamit untuk membawa Darriel menimbang berat badan hari itu. Ia pergi dengan ditemani supir, bodyguard, dan juga Arsen.
***
"Sumpah tadi itu aku takut banget, pak."
__ADS_1
Marsha berujar pada Ellio ketika jam pulang kantor telah tiba. Saat ini kedua orang itu telah berada di mobil Ellio dan menyusuri jalan pulang.
Marsha masih memanggil Ellio dengan sebutan, "Pak." Namun bedanya kali ini ia sudah tak menyebutkan dirinya dengan kaya "Saya" lagi, melainkan "Aku."
"Lagian Daniel, sumpah parah banget. Anak bisa kebawa nggak sadar kayak gitu. Bagus dalam keranjang terus ditarok di mobil. Kalau dia tarok si Darriel ke dalam koper terus masuk bagasi gimana?. Bisa fatal itu. Bisa gila selamanya loh dia, kalau sampai menghilangkan nyawa anak sendiri."
"Makanya, lagian kenapa bisa kayak gitu sih?. Padahal pak Daniel tuh paling detail dan perfeksionis loh orangnya. Dia akan mengecek ulang apa-apa itu dua sampai tiga kali.
Ellio teringat jika mereka semalam dari minum. Alkohol memang selalu bisa membuat Daniel menjadi pribadi yang cuek, dan linglung untuk beberapa saat.
Ia tidak akan lagi menjadi seorang yang perfeksionis dibawah pengaruh minuman tersebut. Termasuk ketika basian atau sisa mabuknya perlahan menghilang, namun masih sedikit terasa.
"Daniel kayaknya kecapean banget, karena ngurusin ini itu."
Ellio menutupi tabiat mereka yang kemarin dan semalam. Sebab takut Marsha yang tengah hamil akan mencak-mencak, bila mengetahui perkara tersebut. Karena biasanya ibu hamil sangat sensitif terhadap hal apapun.
"Kerjaan emang lagi banyak banget sih pak, akhir-akhir ini. Aku aja sampe kadang tuh capek dan hilang konsentrasi." ujar Marsha kemudian.
"Makanya, mungkin Daniel juga kayak gitu. Dan kamu jangan lupa banyak istirahat. Kita masih mau mengadakan acara pernikahan loh. Kalau kamu kecapean nanti pengaruh buat anak kita." tukas Ellio.
"Aku sayang kalian." ucap pria itu.
"Kami juga sayang bapak El. Ya nak ya?"
Marsha seakan meminta persetujuan anaknya yang ada di dalam. Ellio lalu tertawa.
"Oh ya, mama sama papa mau ketemu kamu." ujar Ellio kemudian.
Marsha agak sedikit terkejut sekaligus takut. Beberapa waktu belakangan ia memang belum sempat menemui keluarga Ellio. Jujur ia takut karma akan perbuatan orang tuanya yang pernah kasar pada pria tersebut.
Ia takut dirinya juga akan mengalami hal serupa. Apalagi saat ini dirinya tengah hamil. Ia takut jadi bahan cemoohan keluarga Ellio.
"Emang harus banget sekarang ya pak?" tanya nya memastikan.
"Ya nggak harus sekarang sih, bisa besok atau lusa kita kesana." ujar Ellio.
__ADS_1
Wajah Marsha mendadak pucat, seperti tiba-tiba menjadi banyak pikiran. Ellio yang seakan mengerti dengan perasaan Marsha itu pun, kini menggenggam tangannya dengan erat.
"Kamu tenang aja. Orang tua dan keluargaku udah tau semuanya dan mereka nggak ada yang menghakimi. Mereka justru senang akan mendapatkan anggota keluarga baru."
Ellio berusaha meyakinkan Marsha.
"Aku cuma takut karma aja pak. Takut apa yang pernah menimpa bapak di keluarga ku. Terjadi juga sama aku saat aku menemui keluarga bapak nanti."
Ellio tersenyum sambil masih terus fokus mengemudi.
"Aku yang menjamin keselamatan kamu. Kalau terjadi apa-apa, aku siap jadi tameng dan melawan setiap kekerasan yang mereka lontarkan terhadap kamu. Tapi yakinlah semua itu nggak akan terjadi. Keluarga besar ku jarang ada yang suka menghakimi orang lain" ujar pria itu kemudian.
Marsha diam sejenak, namun sepertinya ia mau untuk memenuhi permintaan Ellio tersebut.
***
Richard akhirnya membeli CCTV baru dan memasangnya di area bagian tengah rumah. Supaya jika ada kejadian seperti tadi pagi, semua bisa di lihat dari hasil rekaman.
Daniel sudah membuat gempar seisi rumah dan kantor akibat kelalaiannya dalam membawa Darriel. Untung saja Lea merupakan tipikal perempuan yang gampang memaafkan, dan tak hilang kepercayaan terhadap suaminya itu.
Mereka baru memiliki anak, wajar saja jika salah satu dari mereka lupa atau bahkan sedikit teledor. Meskipun hal tersebut kalau bisa jangan sampai terulang kembali. Sebab sangat bahaya bagi Darriel, jika sampai Daniel mengemudi dalam kecepatan tinggi dan berakibat sesuatu misalnya. Bisa-bisa Darriel juga akan turut menjadi korban.
"Lagian kamu tuh harusnya nangis, Darriel. Biar papa kamu tau kalau kamu ada di mobil."
Ellio berkata sambil menggendong Darriel. Sedang bayi itu tidak tidur dan menatap Ellio.
"Ini kamu malah nyenyak tidur. Untung nggak kenapa-kenapa kamu."
Tiba-tiba Darriel tertawa.
"Lah ketawa."
Ellio memperlihatkan Darriel yang tertawa pada semuanya. Seketika mereka semua pun jadi tersenyum dan meleleh. Lea memeluk Daniel di sofa dan Daniel mencium kening istrinya itu. Mereka kemudian kembali melihat ke arah sang anak.
"Cepet gede, biar gampang keliatan." tukas Richard. Dan lagi-lagi bayi itu tertawa pada mereka semua.
__ADS_1