
Daniel dan Ellio tiba di rumah sakit. Pada saat yang bersamaan, dokter serta perawat terlihat berlarian menuju ke sebuah ruangan.
Mereka kaget, sama halnya dengan Richard yang kini tengah berjalan bersama keponakannya.
"Ada apa ini om?" tanya Arsenio cemas. Ia langsung bergegas diikuti oleh Richard.
"Sus, itu kenapa?"
Arsen bertanya pada seorang perawat yang sedang terburu-buru. Perawat tersebut mengatakan jika Reynald mengalami kondisi yang sangat kritis. Arsen yang terkejut pun langsung berlari mendekat.
"Papaaa." teriaknya kemudian.
Richard langsung menangkap dan menahan laju keponakannya itu. Bertepatan dengan datangnya Daniel beserta Ellio.
"Lepas, om!. Arsen mau kesana, dia nggak boleh mati gitu aja."
"Arsen."
"Dia nggak boleh matiiii."
Pemuda itu berteriak histeris. Richard yang juga kalut serta cemas dan sedih, berusaha untuk terus menghalau sang keponakan.
"Sabar, tenang dulu." Daniel juga turut berusaha menenangkan anak itu.
Arsen menangis dalam kondisi yang begitu depresi. Ia beberapa kali coba memberontak namun tetap di tahan oleh Richard. Bahkan Ellio menghalangi jalannya agar tak berlari lagi ke arah ruangan, tempat dimana kini Reynald berada.
Beberapa saat berlalu, dokter akhirnya keluar dan mengabarkan jika kondisi Reynald sudah stabil. Semua orang merasa begitu lega, dan seolah mendapatkan kembali nafas mereka yang sempat terasa sesak.
Menit demi menit berlalu, jam demi jam pun terlampaui begitu saja. Reynald membuka matanya, dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah Arsenio yang begitu sembab. Bahkan masih menangis hingga detik ini.
"Jangan nangis!" ujarnya seraya menyentuh rambut dan kepala anak itu. Arsen mengusap air matanya dengan tangan.
"Maafin Arsen, pa." ujarnya kemudian.
Reynald mengangguk, lalu turut menghapus air mata anak itu dengan tangannya. Meski luka bekas tusukan masih terasa begitu menyakitkan dan membatasi gerak pria itu. Ia kini beralih ke sisi kanan, tempat dimana Richard, Daniel, dan juga Ellio berada.
"Lo udah baik-baik aja kan?" tanya Richard dengan suara pelan, namun jelas sekali ia begitu mengkhawatirkan Reynald. Maka Reynald pun mengangguk.
"Mereka menyerang anak gue." ujar Reynald lagi.
Richard menganggukkan kepalanya, tanda mengerti apa yang harus ia lakukan. Dan sejak Arsenio tadi bercerita, ia memang telah memiliki sebuah rencana.
"Ikut gue Dan, El. Kita harus bicara." ujar Richard seraya beranjak.
__ADS_1
Daniel dan Ellio mengikuti langkah Richard. Sementara Arsenio tetap berada di tempat itu.
***
"Kita harus hubungi Marcell, karena ini udah nggak bisa di biarkan." ujar Daniel ketika telah mendengarkan penjelasan Richard. Perihal apa yang menjadi kemungkinan penyebab Arsenio di serang.
Richard mengatakan jika belakangan ini juga ada beberapa sugar baby ex SB Agency yang meminta perlindungan, pada lembaga dimana Arsen menjadi relawan.
"Ini masalah SB Agency jadi melebar kemana-mana." ujar Ellio.
"Kita juga harus lapor polisi, biar para tersangka bisa bekuk. Dan orang-orang yang bernaung atau menjadi relawan seperti Arsen bisa dilindungi." lanjutnya kemudian.
"Iya, karena ini udah menyangkut soal nyawa." timpal Daniel.
Mereka akhirnya sepakat. Richard lalu menghubungi Marcell, teman mereka yang bekerja sebagai detektif. Kebetulan Marcell tengah memegang banyak kasus.
Maka kasus yang menimpa Reynald serta Arsen dilimpahkan kepada salah seorang rekannya. Kebetulan rekannya ini juga tengah menyoroti hal yang sama. Yakni seputar kasus di dunia sugar baby dan juga sugar daddy.
***
"Mas, om Rey gimana?"
Lea menelpon Daniel dan menanyakan kabar Rey.
"Dia udah baik-baik aja, Le. Udah siuman juga." jawab Daniel.
"Besok aja aku kesana nya." lanjut perempuan itu.
"Iya, lagian ini juga udah malem sayang. Kamu kalau mau tidur duluan nggak apa-apa, nanti aku pasti pulang koq."
"Iya mas, ayah mana?"
"Ada lagi ngobrol sama Ellio. Ada hal penting yang harus dibahas." jawab Daniel.
"Oh ya udah, nanti kalau pulang hati-hati nyetirnya ya mas."
"Iya, tenang aja."jawab Daniel.
"Ya udah, aku mau makan dulu ya." ujar Lea lagi.
"Selamat makan Lele."
"Iya mas, kamu jangan lupa makan juga."
__ADS_1
"Iya."
"Bye mas."
"Bye Lele."
Telpon tersebut pun disudahi, Daniel kembali pada Richard dan Ellio. Sedang Lea membalas chat dari teman-temannya. Sebab perkara penusukan dan penyerangan yang terjadi pada Reynald serta Arsen telah masuk ke berita stasiun tv.
Lea pernah bercerita kepada Vita tentang siapa Arsen. Dan belakangan sudah banyak yang mengetahui jika Arsen serta Lea adalah saudara sepupu.
Praktis ketika musibah ini terjadi, orang-orang banyak bertanya pada Lea. Dan Lea menjawab seadanya saja. Berdasarkan apa yang ia ketahui.
***
"Sharon mana, apa dia udah nggak mau lagi ngeliat tante?. Kenapa nggak pulang-pulang?"
Ibu Sharon bertanya pada Maya dan juga Tasya yang kini hampir setiap hari menjaga wanita itu. Menggantikan tugas Sharon yang sampai hari ini belum juga ada kabarnya.
"Sharon kan lagi ada tugas di luar kota tante." untuk yang sekian kali Maya berbohong pada ibu dari temannya itu.
"Iya Tante, dia kan kerjanya baru. Jadi harus ngikutin apa maunya kantor." Tasya menimpali.
"Iya tapi tante kangen sama dia. Takut umur tante nggak lama lagi."
Maya dan Tasya merasa begitu tak enak hati mendengat hal tersebut. Namun sampai hari ini bahkan mereka belum mengetahui dimana kini Sharon berada. Dalam keadaan baik atau tidak.
"Mudah-mudahan Sharon segera pulang kesini ya tante." ujar Maya lagi.
"Semoga tugasnya cepat kelar." Lagi-lagi Tasya menimpali.
"Memangnya di daerah itu bener-bener nggak ada sinyal handphone?" tanya ibu Sharon lagi.
Maya dan Tasya saling menatap satu sama lain. Entah harus sampai kapan lagi kebohongan ini akan berlangsung. Sepandai-pandainya membohongi seorang ibu, pasti suatu saat akan ketahuan juga. Sebab ibu seperti punya insting dan radar dalam mencari keberadaan anaknya.
"I, iya tante. Pelosok banget, sampe sinyal aja sudah. Sharon nanyain ke saya sekali-kali. Itupun dia nggak bisa telpon, sebab sinyal disana paling satu atau dua garis aja. Bisanya ngirim chat doang." ujar Maya.
"Tapi Sharon setiap chat Maya atau saya, pasti yang duluan dia tanya itu ya tante."
Tasya berusaha keras menyenangkan hati ibu Sharon. Meski merasa janggal dan makin kehilangan kepercayaan terhadap apa-apa yang diungkapkan. Namun ibu Sharon berusaha untuk membuat Maya dan Tasya percaya, jika ia benar-benar percaya pada kedua gadis itu.
"Bilang sama Sharon, tante kangen sekali. Jaga kesehatan disana."
"Iya tante, pasti kita akan sampaikan." jawab Maya kemudian.
__ADS_1
"Sekarang tante istirahat ya." Tasya menimpali.
Ibu Sharon mulai mencoba memejamkan mata.