
"Le, nginep di rumah gue aja yuk. Laki lo lagi cuek ini, nggak bakal ngeh juga dia kalau lo nggak ada di rumah."
Nina meracuni pikiran Lea.
"Hmm, gimana ya jawabnya?"
"Nggak usah kayak sound di tiktok deh." seloroh Nina sambil tertawa, Lea pun jadi ikut-ikutan tertawa.
Nina memberi tawa tersendiri di sela kesedihan hatinya yang masih membengkak. Setidaknya Lea memiliki alasan untuk menahan tangisnya atas Daniel.
"Ya udah deh, gue nginep di rumah lo."
"Nah gitu dong." ujar Nina bahagia.
"Tapi di rumah lo beneran nggak ada siapa-siapa?" tanya Lea.
"Nggak ada, Le. Ada mbak pembantu doang, satu. Gue takut kalau cuma berdua."
"Takut kenapa?"
"Kan gue lagi hamil, di rumah segede itu cuma berdua. Takutnya gue kira mbak, tau-taunya kuntilanak lagi nyamar."
"Ih lu mah, nggak mau ah gue. Nggak jadi, serem."
"Ih Lea, lo mah gitu. Udah bilang iya juga tadi."
"Ya abis ya lo nyeremin, mana gue juga bunting lagi."
"Iya, iya. Gue bercanda koq."
Nina berkilah, padahal sejatinya ia memang takut. Ia berkhayal jika asisten rumah tangga di rumah suaminya berubah menjadi kuntilanak.
"Ya udah, gue mau nginep asal lo nggak ngomong sembarangan lagi. Kalau nggak, gue balik nih." ancam Lea.
"Iya, iya."
Maka Lea pun akhirnya menginap di kediaman Nina.
***
Daniel pulang di malam hari, ia tak melihat ada apapun di meja makan. Kemarin Lea masih menyiapkan, walau Daniel tak mau menyentuhnya sama sekali. Tapi hari ini tidak ada, Daniel menghela nafas dan cuek saja. Toh ia sudah makan di luar.
Ia kemudian naik ke atas dan melakukan segala aktivitas di ruangannya. Sementara di kediaman Nina, Iqbal mengirimkan makanan via ojek online.
Kedua sahabat yang tengah hamil itu pun makan sambil nonton drama Korea. Sesekali terdengar tawa mereka yang renyah. Meski tengah menghadapi situasi rumit, Lea berusaha untuk selalu tertawa. Agar stress dan tekanan yang ia rasakan sedikit berkurang.
Pagi harinya Daniel bangun, dan ia sama tak menemukan aktivitas apapun yang dilakukan Lea. Ia bahkan merasakan lantai yang sedikit berdebu. Seperti tidak dibersihkan sama sekali sejak kemarin.
Daniel mengambil robot penyapu dan menghidupkannya, lalu membiarkan kedua benda itu berkeliaran. Dulu dia membereskannya lantai itu sendirian. Tapi sejak ada Lea, lantai itu menjadi tanggung jawab Lea. Daniel sendiri membereskan bagian atas termasuk ruangannya.
Daniel kembali ke atas dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Ketika ia turun, ia kembali tak melihat Lea. Jujur dihatinya mulai muncul perasaan yang tidak enak, karena biasanya Lea sudah terlihat di depan mata pada jam-jam seperti itu.
Namun karena masih dikuasai ego yang tinggi, Daniel pun akhirnya memilih berangkat ke kantor.
"Pak, ini laporannya."
__ADS_1
Marsha masuk ke ruangan Daniel dan memberikan sebuah map berisi laporan. Ketika Daniel telah tiba di ruangannya selama beberapa saat. Tak lama Marsha pun berbalik, karena hendak kembali ke meja kerjanya di luar.
"Sha."
Daniel menghentikan langkah gadis itu, ketika ia hampir sampai di pintu.
"Iya, pak." jawab Marsha sambil kembali menoleh ke arah Daniel.
"Kamu udah baik-baik aja kan sekarang?" tanya Daniel.
Marsha mengangguk.
"Istri bapak sudah minta maaf sama saya."
Daniel terkejut mendengar semua itu.
"Lea minta maaf?" tanya nya lagi.
"Ya, dia menemui saya dan minta maaf sama saya."
Daniel diam, ia tak tahu ada kejadian seperti itu.
"Dia benar-benar menyesal, pak. Dan saya rasa bapak harus memaafkan dia juga. Dia cuma remaja yang mencoba jadi dewasa demi mengimbangi bapak."
Daniel menatap sekretarisnya itu, namun masih dalam diam.
"Maaf bukan bermaksud ikut campur terlalu dalam, saya cuma memberi saran. Mau diikutin terserah, nggak juga nggak apa-apa. Sebab sejak kejadian itu bapak jadi banyak ngeblank soal pekerjaan, saya tau bapak masih bermasalah di rumah."
Kali ini Daniel menghela nafas. Ia tidak tahu jika efek egonya terhadap Lea berdampak pada pekerjaan.
Daniel kembali menghela nafas dan mengalihkan tatapan matanya ke arah lain.
"Saya permisi pak."
Marsha membuka pintu, lalu kembali ke meja kerjanya. Daniel kini jadi kepikiran pada Lea, ia lalu membuka pesan WhatsApp. Namun tak ada satu pun pesan yang berisi permintaan maaf dari Lea. Padahal kemarin-kemarin, Lea dengan tingkah bocahnya selalu mengirim bom WhatsApp yang berisi permintaan maaf. Sampai Daniel gerah dan menonaktifkan pemberitahuan pesan dari istrinya itu.
Namun hari ini Lea tak lagi melakukannya, agaknya ia sudah menyerah dengan dinginnya sikap Daniel.
"Dan."
Tiba-tiba Ellio masuk ke ruangan Daniel, Daniel menghela nafas dan menatap sahabatnya itu.
"Lo udah baikan sama Richard?"
Daniel mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Dan, dia bener soal kemarahan lo yang nggak wajar terhadap Lea."
Daniel diam, namun masih terlihat jelas arogansi di wajahnya.
"Dan, lo sama Lea itu sama-sama baru mengenal dan kalian baru berumah tangga. Wajar kalau misalkan ada sifat dia yang bikin lo kaget dan begitupun dengan Lea. Dia belum begitu paham sifat lo kayak apa, kalau lo dibuat marah."
Daniel masih teguh pada pendiriannya untuk tidak berkata sepatah pun.
"Lo nggak bisa menyamakan dia dengan Grace, setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
__ADS_1
"Lo mungkin punya sisi psikis yang menuntut sekitar supaya memahami lo. Tapi Lea juga punya sisi psikis yang menuntut supaya dipahami juga sama lingkungannya. Termasuk elo, suaminya sendiri. Dia masih muda, masih labil, emosinya masih meledak-ledak."
Daniel meraih sebatang rokok dan menyalakannya, ia masih setia dalam kebisuan.
"Lo pikirin omongan gue. Lo udah dewasa, Dan. Bersikaplah selayaknya laki-laki dewasa."
Ellio meninggalkan tempat itu, Daniel menghembuskan asap rokok lalu mematikannya begitu saja.
***
"Gue nggak mau."
"Dor, dor, dor."
Richard berujar sambil menembakkan pistolnya, tepat pada sasaran yang ada di depan. Ia dan Ellio kini hanya berdua di halaman belakang rumahnya yang luas. Mereka menembaki target pada tempat yang ia jadikan arena shooting.
"Bro, lo tau Daniel kan?. Bukan sehari dua hari kita temenan, udah berkarat. Masa iya gara-gara masalah ini doang kita pecah."
"Dor, dor, dor."
Richard kembali menembakkan senjatanya, kali ini ia menambah amunisi dan...
"Dor, dor, dor."
"Gue sayang sama Lea." ucapnya membuat Ellio sangat terkejut.
"Maksud lo?"
"Gue sayang sama Lea and I don't know why."
"Richard, Lea itu istri sahabat lo sendiri."
"Yes I know, but I love her."
"Sejak kapan?" Ellio menatap dalam ke mata Richard.
"Sejak Daniel mengatakan itu ke gue dan gue baru menyadari. Kalau selama ini gue selalu senang saat diminta Daniel buat menjaga atau menemani Lea. Gue nggak rela dia diperlakukan seperti itu oleh Daniel."
"Buuuk."
Ellio menonjok wajah Richard, seketika Richard menodongkan senjatanya pada Ellio dengan nafas yang memburu. Namun Ellio tak bergeming sedikitpun, ia malah makin menatap lantang sahabatnya itu.
"Tembak gue sekarang, kalau itu bisa bikin lo sadar. Bahwa perasaan lo adalah salah besar."
Richard menurunkan senjatanya dengan nafas yang masih penuh emosi. Ia lalu berbalik dan meletakkan senjata tersebut di atas sebuah meja.
"Gue nggak tau kenapa, gue sayang sama dia." ujarnya kemudian.
"Lo punya pacar."
"Gue tau, tapi ini salah Daniel sendiri. Dia yang menyadarkan gue soal itu, dan tiba-tiba gue nggak terima Lea diperlakukan kasar oleh dia."
Kali ini Ellio menghela nafas.
"Sebaiknya lo berfikir ulang." ujarnya kemudian, Ellio lalu berlalu meninggalkan kediaman Richard.
__ADS_1