
Daniel dan Marsha berdiri di hadapan seluruh karyawan di lantai tersebut. Mata karyawan itu seakan menanti sebuah penjelasan, terkait apa yang mereka dengar tadi di toilet.
Marsha sendiri takut, cemas dan juga malu. Sementara Daniel merasa dirinya kini benar-benar bingung dan kalut. Kenapa juga ia harus mengatakan hal tersebut pada Marsha di lingkungan kantor.
Tetapi tadi Daniel benar-benar mengira jika hanya ada mereka berdua di sana dan tak ada orang lain.
"Pak, jelaskan pada kami apa mbak Marsha emang hamil?" tanya salah seorang karyawan disana.
"Iya pak, maaf sebelumnya. Kami memang nggak berhak ikut campur. Tapi kalau bapak punya skandal dan skandal ini sampai tersebar. Ini akan berpengaruh untuk perusahaan kita nantinya pak." timpal yang lainnya lagi.
"Kami kecewa pak, karena kami pikir bapak setia sama istri. Bapak itu contoh buat kami." karyawan lain menambahi.
Daniel menghela nafas dan bingung harus mulai dari mana.
"Saya memang hamil."
Tiba-tiba Marsha nyeletuk dan membuat semua orang termasuk Daniel amat sangat terkejut.
"Sha."
Daniel mengingatkan perempuan itu.
"Tapi ini bukan anak pak Daniel." lanjut perempuan itu lagi.
Para karyawan diam.
"Pak Ellio?"
Mereka langsung terpikir ke arah sana, karena mengingat Marsha belakangan ini memang dekat dengan Ellio. Bahkan terlihat seperti orang yang berpacaran.
"Iya." jawab Marsha seraya menunduk.
Para karyawan akhirnya bernafas lega dan bergerak kembali ke meja kerja masing-masing.
"Loh kalian nggak masalah?" tanya Marsha pada mereka semua.
"Yang penting mbak Marsha bukan selingkuhan pak Daniel. Sisanya bukan urusan kami." ujar salah satu dari para karyawan itu.
"Iya, walaupun itu bertentangan dengan norma dan agama tertentu. Tapi kami nggak berhak menghakimi. Itu urusan pribadi mbak Marsha sama pak Ellio." timpal yang lainnya lagi.
"Iya mbak, hal yang paling nggak kami sukai itu adalah ketika ada perempuan yang sengaja merusak rumah tangga orang lain. Kalau mbak Marsha hamil sama laki-laki single mah, itu urusan mbak Marsha. Dosanya pun urusan mbak Marsha dan pak Ellio sama Tuhan."
Salah satu karyawan perempuan ikutan nyeletuk. Setelah tadi yang berujar adalah karyawan laki-laki.
"Ada apa ini?"
Tiba-tiba Richard muncul. Daniel menarik sahabat sekaligus mertuanya itu dan menjelaskan semuanya di dalam ruangan. Sedang Marsha kini kembali ke meja sekretaris.
"Jadi mereka semua udah tau perbuatan Ellio ke Marsha?"
Richard bertanya pada Daniel dengan nada penuh keterkejutan. Hal tersebut terjadi usai Daniel menjelaskan semuanya.
"Iya." jawab Daniel kemudian.
"Tadi juga gue kaget, waktu Marsha dengan berani mengakui semua itu di depan mereka." lanjutnya lagi.
Richard menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.
__ADS_1
"Ellio harus buru-buru nikahin Marsha nih. Kalau nggak kasihan Marsha nanti jadi bahan pergunjingan."
"Lo kan tau karyawan gue nggak ada yang suka gosip." Daniel berujar lagi pada Richard.
"Kalaupun ada yang berani membully Marsha, gue pastikan mereka akan di mutasi ke cabang yang ada di daerah. Kalau terlalu parah ya, gue akan berhentikan."
Lagi-lagi Richard menghela nafas panjang.
"Iya, gue percaya karyawan lo semuanya open minded." ujarnya.
"Tapi kan Ellio memang harus bertanggung jawab. Dia berani menghamili anak orang, ya harus berani juga menikahi secepatnya."
"Iya, kita tunggu dia sembuh dulu. Ini juga lagi gue cariin wedding organizer buat mereka. Supaya nggak ribet lagi nanti. Begitu keluarganya Marsha setuju, kita langsung nikahkan mereka."
Richard menganggukkan kepala.
"Hmmph."
Daniel kembali seperti ingin muntah. Sejak terakhir kali mengeluarkan isi perutnya, rasa mual di perut pria itu belum juga berhenti.
"Lo kenapa sih, muka lo juga pucat tuh."
Richard memperhatikan wajah sang menantu.
"Nggak tau, tadi tuh gue muntah. Ini masih mual banget." jawab Daniel.
Richard lagi-lagi menarik nafas.
"Pasti lo kurang tidur kan semalem. Karena jagain Lea sama Darriel. Mana setiap ke kantor kebiasaan lo ngopi sama ngerokok lagi."
Richard berujar seraya melirik ke meja kerja Daniel. Dimana terdapat gelas bekas kopi dan juga rokok disana.
Richard kemudian meraih handphone dan memesan obat pada aplikasi layanan chat dokter. Tak lama obat tersebut tiba dengan diantar seorang ojek online, dan dibawa oleh seorang office girl kepada Richard.
"Ini pak, pesanan bapak." ujar office girl tersebut.
"Makasih ya." jawab Richard.
"Sama-sama pak." Si office girl lalu pergi.
Tak lama Richard mengambil segelas air putih dan juga sendok dari pantry.
"Nih minum dulu."
Richard menuang obat berupa cairan suspensi itu ke dalam sendok, dan memberikannya pada Daniel. Daniel lalu meminum obat tersebut, lanjut di timpa dengan air putih yang cukup banyak.
Ia hampir muntah, namun tak jadi. Sebab obat tersebut kini sudah masuk ke dalam perutnya dan mulai memberikan reaksi.
"Lo nggak sibuk banget kan?" tanya Richard lagi.
"Nggak sih." jawab Daniel.
"Ya udah, lo tiduran aja dulu disini. Obat ini bikin ngantuk efeknya." tukas pria itu.
Daniel mencoba berbaring di sofa ruang kerjanya. Tak lama ia pun terlelap.
"Pak."
__ADS_1
Marsha masuk ke ruangan Daniel, dimana Richard masih ada disana.
"Kenapa Sha?" tanya Richard Kemudian.
"Yah pak Daniel tidur ya?"
"Iya, kenapa emangnya?"
"Saya mau izin pulang pak, kepala saya pusing banget. Kayak kunang-kunang gitu."
"Kamu perlu ke rumah sakit nggak?"
"Hmmm, kayaknya nggak deh pak. Tapi saya pengen Istirahat." jawab Marsha.
"Yakin nggak butuh ke dokter?" tanya Richard lagi.
Marsha agak ragu dan berpikir.
"Saya nggak tau pak, saya kan baru hamil kali ini. Saya bingung mesti ngapain. Mau bilang ke pak Ellio, dia aja masih sakit."
Richard menarik nafas dan melirik arloji.
"Tunggu sebentar." ujarnya kemudian.
Pria itu lalu menelpon sekretarisnya.
"Ta, kerjaan udah beres semua kan?" tanya Richard pada sekretarisnya itu.
"Iya pak, udah beres. Yang tadi bapak suruh kirim juga udah semua."
"Ok ya udah, saya mau keluar sebentar. Paling sekitar satu sampai satu setengah jam."
"Oh, baik pak." jawab sekretarisnya tersebut.
Richard lalu menyudahi telpon dan kembali bicara pada Marsha.
"Ayo saya anter ke rumah sakit. Takutnya ada apa-apa nanti."
"Yah, saya jadi ngerepotin dong pak?" ujar Marsha pada Richard.
"Udah nggak apa-apa, ayo. Ellio kan lagi sakit juga, nggak bisa nganterin kamu."
"Mmm, oke deh. Tapi nggak apa-apa pak?"
"Nggak apa-apa, ayo!"
Marsha kemudian mengambil tasnya di depan. Tak lama Richard pun keluar dari ruangan Daniel dan berpesan pada salah satu karyawan.
"Itu pak Daniel lagi sakit, dia tidur. Nanti kalau pulang, jangan lupa dibangunkan." ujar Richard.
"Sakit apa pak Daniel?" tanya karyawan itu pada Richard.
"Asam lambung naik, begadang semalem jagain anak sama istrinya yang sakit."
"Oh, iya pak siap."
"Yang lain juga ingetin, Daniel nya di bangunin. Ntar kalian pulang, dia ketinggalan lagi. Jadi fosil kantor."
__ADS_1
Para karyawan tertawa. Richard lalu melangkah ke arah lift bersama Marsha.