
"Sha, kejadiannya nggak seperti yang kamu bayangkan."
Ellio berusaha membela diri, ketika mobil yang ia kemudikan mulai berjalan. Sementara Marsha masih bungkam. Terlihat jelas jika ia begitu kecewa pada Ellio.
"Sha, aku nggak punya sugar baby." jelasnya lagi.
Marsha masih setia dalam diam. Pandangan mata wanita itu terlempar ke depan, namun tak ada kehangatan sama sekali disana. Sangat berbeda dari saat mereka pergi tadi. Saat itu semuanya terasa indah dan penuh canda tawa.
"Percaya sama aku, Sha. Aku nggak seperti itu. Pada malam itu jutsru yang dapat sugar baby malah si Daniel."
"Tapi itu artinya bapak pergi ke sana kan?"
Ellio terdiam dan mencoba menarik nafas panjang. Ia masih berusaha mengemudi dengan baik.
"Iya, tapi aku beneran nggak punya sugar baby."
"Kenapa bapak harus bohong sama mereka tadi?. Kenapa nggak jujur aja. Bapak mau berusaha menyangkal kalau bapak datang?"
"Bukan masalah itu, Sha. Agency itu saat ini tengah bermasalah. Sugar baby yang mereka sediakan, mengalami berbagai bentuk kekerasan oleh sugar daddy yang memelihara mereka. Akibatnya mereka melapor dan kasus ini masih di usut, termasuklah orang-orang yang datang jadi terlibat."
Ellio berusaha menjelaskan panjang lebar, namun wajah Marsha tetap saja dingin.
"Sha, please."
Marsha berpaling ke sisi jalan, Ellio merasa tak ada gunanya banyak bicara di saat seperti ini. Sudah pasti Marsha tak bisa berpikir jernih. Yang ada didalam hati wanita itu hanyalah pikiran negatif dan sulit bagi Ellio untuk menghapusnya.
Ellio kemudian mengantar Marsha hingga ke kediamannya. Perempuan itu tetap tak berkata apa-apa ketika keluar dari dalam mobil Ellio, bahkan pamit pun tidak. Ellio membiarkan saja hal tersebut terjadi, karena ia sendiri bingung harus bagaimana.
***
"Lo kenapa?"
Richard bertanya pada Ellio, ketika sahabatnya itu datang. Ia dan Daniel sengaja membuat janji bertemu di kediaman Richard.
"Tau kayak kalah judi lo." seloroh Daniel.
Ellio tetap saja terlihat kusut. Biasanya saat di bercandai seperti itu, ia akan tertawa. Namun kali ini tidak demikian. Seolah memang ada beban berat yang menghimpitnya.
"Kenapa sih lo?" tanya Richard lagi.
"Marsha marah sama gue." jawabnya kemudian.
"Marah kenapa?" tanya Daniel penasaran.
"Gara-gara wartawan sama admin akun lambe-lambean nih. Gue sama Marsha lagi jalan, tiba-tiba di samper. Terus mereka nanyain soal gue pernah apa nggak gunain jasa SB Agency buat cari sugar baby. Si Marsha marah sama gue, dia ngira gue sekarang punya sugar baby."
"Tapi lo udah jelasin?" tanya Richard.
__ADS_1
"Udah, tapi tetap aja dia nggak mau denger. Percuma, udah negatif aja pandangan dia ke gue."
"Ntar gue yang bilang deh." ujar Daniel kemudian.
Ellio menghela nafas, lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
***
Esok hari di kampus.
"Si Ariana mana?"
Lea bertanya pada Adisty yang baru keluar kelas.
"Tau tadi buru-buru pulang, emang lo nggak liat dia lewat sini?" Adisty balik bertanya.
"Kagak." jawab Lea.
"Sibuk mulu tuh anak sama fotografi dan gebetan barunya."
"Emangnya dia ngegebet siapa sih?" tanya Lea.
"Nggak tau, Le. Ariana tuh nggak pernah main rahasia-rahasiaan kayak gini sebelumnya. Tapi sekarang dia kayak menyembunyikan sesuatu gitu dari gue."
"Belum siap aja kali dia ngenalin." ujar Lea.
Adisty berujar sambil tertawa, dan akhirnya Lea pun ikut-ikutan.
"Iya kali, bisa jadi." jawabnya kemudian.
Siang itu Lea hanya berdua saja dengan Adisty. Iqbal dan yang lainnya juga sedang tak tau kemana. Usai kelas, mereka semua langsung menghilang bak memiliki pintu Doraemon.
"Eh Le, temenin gue beli lipstik, foundation dan lain-lain yuk...!"
Adisty meminta kepada Lea ketika hari mulai sore dan tak ada lagi kelas yang mesti diikuti.
"Makeup lo pada abis?"
"Iya, capek nggak lo tapi?" Adisty balik bertanya.
"Nggak koq, kan gue dianterin supir. Ya udah ayok, mau kemana?. Mall atau apa?"
"Mmm, mall kayaknya seru deh." ujar Adisty lalu tersenyum.
"Ya udah ayok...!" ajak Lea.
Tak lama keduanya pun sudah terlihat meninggalkan kampus, dengan diantar oleh supir Lea. Kedua perempuan itu mengunjungi sebuah mall yang di dalamnya terdapat sebuah counter besar. Counter tersebut menjual skincare dan makeup lokal serta import, dengan berbagai merk terkenal.
__ADS_1
Tentu saja Lea tak akan merasa capek, walau dirinya tengah hamil. Karena apa yang disuguhkan oleh counter tersebut adalah hal-hal yang menarik perhatiannya.
"Coba ada Ariana ya, pasti seneng tuh dia ketempat beginian." ujar Adisty.
"Ntar deh kapan-kapan kita ajak dia." tukas Lea.
Kedua perempuan itu terus memilah-milah.
"Rasa pengen gue beli semua, Le." ujar Adisty.
"Sama, gue juga." jawab Lea.
"Kalau gue punya laki yang kaya-raya nih kayak elo. Gue pindahin ini tempat ke rumah gue."
"Hahaha." Lea tertawa.
"Sama mbak-mbak nya juga dipindahin ya say." ujar Lea.
"Ember." jawab Adisty.
Usai mendapatkan semuanya, mereka pun membayar. Lea membayar belanjaan Adisty, meski Adisty sejatinya menolak.
"Ih lu mah, nggak enak gue jadinya. Gue ngajakin elo bukan buat minta bayarin, Le. Buat nemenin gue doang, biar nggak bete."
"Udah ribut aja lo. Gue mau bayarin itu karena ya udah sekalian aja sama gue, nggak masalah. Gua nggak mikir macem-macem koq tentang lo."
"Tapi lain kali gue yang traktir ya, Le. Biar gue nggak ngerasa nggak enakan sama lo."
"Iya gampang." jawab Lea.
Tak lama mereka pun keluar dari dalam counter tersebut. Keduanya kini tampak berjalan di area food court, karena Lea yang tengah hamil dilanda kelaparan. Jangankan Lea, Adisty yang tidak hamil saja merasa perutnya sudah mulai keroncongan.
"Makan apa Le?" tanya Adisty pada Lea.
"Pengen ayam bakar deh gue." jawab Lea kemudian.
"Ya udah di ujung sana ada tuh." ujar Adisty.
Maka kedua perempuan itu pun berjalan ke arah yang hendak dituju. Tiba-tiba mata Lea dan juga Adisty menangkap sesuatu yang sama.
"Le, itu kan Ariana." ujar Adisty dengan nada kaget.
"Itu mantan lo kan, si Hans-Hans itu." ujarnya lagi.
Lea diam, diperhatikannya dua orang itu lekat-lekat. Ariana dan Hans tampak bergandengan tangan dengan mesra. Mereka kini menuruni eskalator. Lea dan Adisty mengikuti dari belakang, dan entah mengapa Ariana tiba-tiba saja menoleh. Lalu ia bertemu muka dengan Lea dan juga Adisty yang masih berada di lantai food court.
Ariana terkejut, namun ia terlanjur tiba di bawah. Lea dan Adisty pun kembali ke tujuan mereka semula, yakni menyambangi penjual yang menjajakan ayam bakar.
__ADS_1
Ariana sendiri kini melangkah bersama Hans, dengan jantung yang berdegup kencang. Ia belum tau bagaimana tanggapan Lea dan Adisty nanti, perihal dirinya yang terlihat bersama mantan kekasih Lea.