
"Bener kan apa yang aku bilang."
Sharon berujar pada Rangga, ketika melihat Lea keluar dari dalam mobil Daniel. Rangga yang terbakar hatinya itu hanya diam saja sambil menahan emosi.
"Lea itu simpanan, kamu aja yang masih suka sama dia."
Hati Rangga benar-benar seperti di sayat sembilu tajam. Ia ingat persis ketika waktu itu, dirinya dan Lea nyaris ditabrak oleh Daniel. Betapa marahnya Lea karena membela Rangga. Tak ada kepalsuan di mata Lea kala itu, ia terlihat benar-benar geram pada sosok Daniel.
Namun sebuah kenyataan pahit kini melanda, Sharon sudah menceritakan semuanya sejak beberapa hari belakangan. Bahwasannya Lea bergabung dengan sebuah agency yang merekrut para sugar baby. Dan disana, Lea dipilih oleh Daniel.
Pikiran Rangga kini sudah kemana-mana, ia berfikir pastilah keperawanan Lea telah direnggut pria itu. Ia menjadi jijik pada Lea, padahal sejatinya Daniel belum melakukan hal sampai sejauh itu.
Ia masih memikirkan kondisi Lea yang baru berusia 17 tahun, masih sekolah dan masih punya banyak mimpi. Daniel memang sudah mengakui jika ia mencintai Lea, tetapi cinta itu sejatinya tidaklah egois. Yang hanya memikirkan kepuasan dan kesenangan pribadi semata.
"Gimana, kamu masih cinta juga sama Lea?. Udah jelas-jelas ada aku yang lebih baik. Aku pernah jahat sama Lea, karena aku mencintai kamu. Aku nggak pernah jual diri sama siapapun."
Rangga terlihat makin gusar. Ia pergi meninggalkan Sharon begitu saja, sementara kini Sharon terlihat kesal.
***
"Kak, kangen." Lea berujar ketika Dian menelponnya. Gadis itu kini sudah melanjutkan pendidikannya keluar negri, sesuai dengan apa yang ia cita-citakan selama ini.
"Sama gue juga kangen, Le. Lo apa kabar?" tanya Dian.
"Gue baik, kak. Lo sendiri gimana?"
"Gue juga baik, eh gimana-gimana sugar daddy lo?" tanya Dian antusias.
Ia sebenarnya sudah diceritakan oleh Lea via WhatsApp mengenai hubungannya dengan Daniel yang sudah membaik. Namun karena masih penasaran, Dian meminta penjelasan lebih lanjut.pada gadis itu.
"Iya kak, jadi dia tuh sekarang udah nggak terlalu nyebelin lagi. Dia udah bilang kalau dia sayang sama gue."
"Serius lo?" tanya Dian dengan nada yang begitu bersemangat sekaligus gembira.
"Iya, serius gue." jawab Lea tak kalah semangatnya.
"Wah selamat ya, gue seneng dengernya." ujar Dian.
Mereka pun lanjut berbincang banyak hal, hingga jam istirahat sekolah selesai.
***
Pulang sekolah, Daniel benar-benar menepati janjinya. Mobil pria itu sudah terparkir didepan gerbang. Siswa dan siswi lain yang belum mengetahui jika Lea adalah seorang sugar baby, mereka hanya menoleh saja dan menatap ke arah mobil tersebut.
Mereka pun kini mulai percaya jika Lea memanglah berasal dari keluarga kaya. Meski hal tersebut tak berlaku bagi Sharon, Maya, dan juga Tasya, yang sudah mengetahui rahasia Lea. Mereka pun telah mengatakan hal ini pada Rangga.
"Lo nggak ada niatan buat menyebar gosip tentang dia disekolah ini, Shar?" tanya Maya diikuti tatapan mata Tasya. Sementara Sharon masih terus menatap ke arah mobil Daniel yang kini mulai bergerak.
"Well gue masih ngulur waktu." ujar Sharon seraya tersenyum, ia kini menyilangkan tangan di dada.
__ADS_1
"Gue hanya butuh momen yang pas." lanjutnya kemudian.
***
"Kirain om nggak jadi." ujar Lea pada Daniel yang fokus mengemudikan mobil.
"Aku orangnya nepatin janji koq." tukas pria itu kemudian.
"Koq lewat jalan ini, biasanya yang tadi."
Lea heran ketika Daniel mengajaknya melalui sebuah jalan, yang tak biasa mereka lalui.
"Kita makan dulu ya, belum makan kan?" tanya Daniel pada gadis itu.
"Mm, udah sih. Tapi ayo kalau mau makan lagi."
Daniel tertawa kali ini. Lea berkata dengan wajah lugu dan teramat jujur, tak ada jaimnya sama sekali. Daniel yang masih mengenakan jas mahal tersebut, mengajak gadis berseragam SMA itu ke sebuah kawasan yang penuh dengan berbagai restoran. Bahkan nama-namanya saja ada yang sulit Lea ucapkan, saking ia belum pernah pergi kesana.
"Om, disini orang kaya semua ya yang makan?" tanya Lea seraya menatap sang sugar daddy.
Daniel pun tersenyum.
"Nggak juga, dari mana kamu bisa menyimpulkan semua itu?" tanya nya kemudian.
"Tuh, ada yang bajunya merk Versace, Off White, ada yang sama persis kayak koleksi brand ternama yang aku liat di YouTube. Ada yang pake tas MCM, Fendi, sepatu air Jordan dan lain-lain."
"Iya, aku cari tau di internet. Biar nggak malu-maluin banget, kalau ada yang ngajakin aku ngobrol soal barang branded."
Daniel tak kuasa menahan tawanya kali ini, Lea berkata dengan ekspresi yang benar-benar polos. Namun itu jadi hiburan tersendiri untuk Daniel.
"Brand kayak gitu banyak loh yang KW." ujar Daniel.
"Maksudnya palsu om?"'
"Iya." jawab Daniel, Lea baru saja mengetahui hal tersebut.
"Ada grade-grade nya malah. KW, KW super, mirror 1:1 dan lain-lain." lanjutnya lagi.
"Ooooh." Lea manggut-manggut.
"Ya udah, mau makan apa. Kamu boleh pilih." ujar Daniel kemudian.
"Beneran om, aku boleh milih mau makan apa dan dimana aja?" Lea bersemangat, namun masih tak percaya.
"Iya, pilih aja." ujar Daniel mempersilahkan.
Lea pun makin sumringah, ia menatap tempat-tempat makan tersebut secara seksama.
"Kalau ini apa om?" tanya nya seraya menunjuk suatu tempat.
__ADS_1
"Ini Japanese, itu Chinese, itu India, itu Perancis, itu Spanyol, Arab, yang itu fast food, yang itu Korea, ada yang kombinasi juga menu nya."
"Mau Korea om, boleh?" tanya Lea.
"Ya udah ayok...!"
"Soalnya aku makan selama ini paling tteokbokki instan sama samyang, yang dibeli di minimarket. Pengen coba ayam goreng yang kata dibalut sama Mozarella, sama yang manggang daging sendiri itu loh."
Daniel tersenyum, meski ada beberapa pasang mata yang menoleh akibat mendengar ucapan. Lea. Mungkin mereka berfikir, alangkah noraknya manusia satu ini. Bagaimana mungkin makanan Korea seviral itu, belum pernah ia coba.
Namun Lea selama ini memang belum pernah mencobanya. Saat di agency, mereka makan sesuai menu yang diberikan agency. Dan ketika diberi waktu keluar, ia, Vita, dan Nina pun hanya sibuk berburu kuliner jajanan SD atau sekedar makan fast food. Karena di agency mereka dilarang memakan fast food. Kini Lea melangkah ke restoran Korea tersebut, dengan didampingi oleh Daniel.
"Harganya lumayan ya, om." ujar Lea ketika mereka telah mendapat tempat duduk dan melihat menu.
"Pesen aja, yang mana yang kamu mau."
"Beneran, om?"
"Iya, banyak juga nggak apa-apa." ujar Daniel.
"Asik."
Lea makin bersemangat, ia pun lalu memesan berbagai macam makanan yang ingin ia makan. Ketika makanan datang, Lea sempat memfoto makanan itu sebelum akhirnya di santap. Daniel hanya membiarkan saja, toh seumur Lea memang sedang suka-sukanya pamer segala sesuatu di media sosial.
Lea makan, begitupula dengan Daniel. Sejatinya makanan itu biasa saja rasanya, bagi Daniel. Hanya ayam goreng tepung yang kemudian dibalut lelehan keju mozzarella.
Karena viral dan berasal dari Korea, maka jadi sebegitu hebohnya di negri ini. Sama halnya dengan beberapa makanan yang belakangan juga viral di jagat maya, orang berbondong-bondong membeli hanya untuk keperluan insta story. Padahal kadang rasanya sangat-sangat biasa saja.
Tapi, meskipun rasa makanan itu tergolong biasa. Daniel rela demi untuk menyenangkan hati Lea, lagipula daging panggang dan tteokbokki serta makanan lainnya lumayan enak. Ia hanya tak menyukai ayam berbalut keju tersebut, dan mungkin hanya lidahnya saja yang merasa tak sesuai.
"Om, ini sisanya masih ada beberapa." ujar Lea ketika merasa sudah kenyang.
"Boleh bungkus nggak, om?" lanjutnya lagi.
Daniel terdiam sejenak.
"Kamu mau makan lagi nanti dirumah?" tanya Daniel, Lea menggeleng.
"Buat adek-adek aku, om. Mereka juga belum pernah makan makanan kayak gini, terutama Leo."
Daniel tersentak, ia memandang Lea cukup lama. Ia tak menyangka jika gadis itu masih memikirkan saudaranya, bahkan disaat sedang makan enak.
"Ya udah." jawab Daniel.
"Kamu pesen lagi aja yang baru." lanjutnya kemudian.
"Beneran, om?" tanya Lea memastikan.
Daniel pun mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1