Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kepang Rambut


__ADS_3

Daniel mengoleskan baby oil ke perut istrinya yang sudah lumayan terlihat. Saat itu posisi Lea tengah duduk di pangkuan sang suami.


"Emang ini tuh ngefek ya mas, buat supaya nggak stretchmark gitu?"


"Nggak tau sih, tapi katanya iya." ujar Daniel seraya menambahkan baby oil ke tangannya. Lalu pria itu kembali mengusap ke bagian perut Lea yang berisi bayi.


"Nggak ada salahnya kan di coba." ujar Daniel.


"Hmmh."


Lea mengeluarkan desah nafas yang berbeda dari yang tadi. Agaknya sentuhan tangan sang suami membuat gairahnya seketika meningkat. Daniel yang paham akan hal tersebut pun menatap Lea, yang kini menoleh ke arahnya.


"Mas." Lea mendekatkan bibirnya ke bibir Daniel.


Tak lama mereka terlihat sudah berciuman, dengan aktivitas tangan Daniel yang semakin agresif. Nafas pria itu memburu, karena gairahnya telah bangkit secara tiba-tiba.


Maka selanjutnya itulah yang terjadi. Mereka berada di dalam penyatuan yang penuh desah.


***


Beberapa saat berlalu..


Suara hairdryer terdengar di dalam kamar mandi, tepatnya di depan sebuah kaca wastafel. Saat itu Lea tengah mengeringkan rambutnya pasca mandi sehabis bercinta dengan Daniel.


"Le, sini aku bantu." ujar Daniel yang hanya mengenakan handuk saja di bagian bawah tubuhnya.


"Emang mas Daniel bisa?" tanya Lea seraya menyerahkan hairdryer tersebut pada Daniel.


"Tenang aja say." ujar Daniel dengan gaya melambai, membuat Lea refleks memukul lengan suaminya itu sambil tertawa.


"Cucok ya." ujar Lea lalu menghadap ke kaca.


"Ember." jawab Daniel.


"Amit-amit mas." ujar Lea lagi.


Daniel pun tertawa dan mulai mengeringkan rambut istrinya tersebut.


"Mas hairdryer nya jangan terlalu dekat ke kulit kepala." ujar Lea.


"Emangnya kenapa?" tanya Daniel.


"Panas, Bambang."


"Emang iya?"


"Nih cobain."


Lea meraih hairdryer tersebut dan menggunakannya dengan jarak yang sangat dekat ke kulit kepala Daniel.


"Eh iya loh, panas banget." Daniel menghindarkan kepalanya sambil tertawa.


"Panas kan?" tanya Lea.


"Iya, iya. Ya udah deh, sini aku pelan-pelan." ujar Daniel lagi.


Ia pun mengambil kembali hairdryer tersebut dan kembali mengeringkan rambut Lea. Kali ini lebih gentle care.


"Nih udah." ujar Daniel seraya mematikan hairdryer, ketika rambut Lea telah kering semua.


"Ya udah aku mau nyatok." ujar Lea kemudian.


"Aku juga mau ganti baju." Daniel beranjak dan menuju ke kamar atas.


Beberapa menit setelahnya Daniel kembali turun, ia bermaksud mengajak Lea untuk cari makan di luar. Karena hari itu Lea tengah tidak masak apa-apa. Namun ia melihat Lea masih bersusah payah mencatok rambut.


"Belum kelar, Le?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Belum mas, kamu udah laper ya?" Lea balik bertanya.


"Mmm, belum terlalu sih." jawab Daniel kemudian.


"Tunggu bentar mas, dikit lagi."


"Coba sini aku aja."


Daniel meminta catokan rambut tersebut pada Lea.


"Emang mas bisa?"


Lea melontarkan pertanyaan yang sama dengan saat ketika Daniel hendak mengeringkan rambutnya tadi.


"Bisa."


"Jangan bisa-bisa, ntar hangus rambut aku mas."


"Hahaha." Daniel tertawa.


"Nggak tenang aja." ujar Daniel kemudian.


Maka Lea pun hanya bisa pasrah, meski resiko rambutnya menjadi rusak di tangan sang suami.


Daniel mengambil sisir, dan dengan kaku serta penuh kehati-hatian ia mencatok rambut istrinya tersebut.


"Kayak gini kan, bener kan?" tanya Daniel.


"Iya, awas aja kalau rambut aku kenapa-kenapa." ancam Lea.


"Nggak, tenang aja."


Daniel terus mencatok.


"Eh Le, kenapa nggak di kepang aja." tanya nya lagi.


"Kepang satu gitu dari atas."


"Siapa yang mau ngepangin, mas?"


"Ya aku dong."


"Emangnya mas bisa?"


"Liat di YouTube aja, aku pengen liat rambut kamu di kepang. Bagus nggak?"


"Ih kamu mah ada-ada mas."


"Cobain ya." Daniel membujuk Lea.


"Ya udah deh, terserah."


Tak lama Daniel pun membuka laman YouTube, mencari tayangan bagaimana mengepang rambut.


Beberapa saat berlalu.


"Bisa nggak sih mas, dari tadi salah terus deh perasaan."


"Ntar dulu, ini salahnya dimana ya. Koq salah sih?" tanya Daniel seraya memperhatikan kepangan rambutnya di rambut Lea.


"Lagian kamu ada-ada sih, malah aneh tau nggak mas."


Daniel tertawa, begitupula dengan Lea. Namun Lea lebih sedikit gusar kali ini.


"Tuh kan jelek mas, mana udah kusut lagi. Capek-capek loh aku nyatok."


"Ya maaf, kan namanya juga mencoba." ujar Daniel.

__ADS_1


"Dasar nggak bertanggungjawab kamu."


Lea melepaskan kepangan tersebut.


"Tuh kan mas, balik kayak singa lagi rambut aku." ia merengek di hadapan sang suami.


"Hahaha." lagi-lagi Daniel tertawa. Sementara Lea sewot setengah mati.


"Udah ah, Cepol ajalah. Udah laper juga aku." ujar Lea kemudian.


"Ya udah, cari makan yuk di luar." ujar Daniel.


"Ganti baju dulu mas." ujar Lea.


"Ya udah sana...!"


Lea pun mengganti baju, tak lama kemudian ia dan Daniel sudah terlihat menaiki mobil dan mobil tersebut menyusuri jalan demi jalan. Daniel mengajak Lea untuk makan soto ayam, sesuai request dari Lea.


Usai makan dan duduk keduanya terlibat percakapan seru. Sampai kemudian,


"Mas ke toko kue ibu yuk." ajak Lea.


"Kamu mau makan yang manis ya?"


"Iya mas, hehe."


"Ya udah, kita kesana sekarang." ujar Daniel.


Mobil mereka pun terus melaju, menyusuri jalan demi jalan. Hingga kemudian sampailah mereka ke toko kue ibu Lea. Namun sebuah peristiwa mengejutkan pun terjadi.


"Praaang"


Terdengar suara benda seperti kaca pecah di dalam.


"Baaak."


"Buuuk."


"Praaang."


Daniel dan Lea melihat Richard didalam, ia tengah memukuli seseorang. Sementara pengunjung toko tampak histeris dan berlarian keluar.


"Richard?"


"Ayah?"


Keduanya buru-buru masuk ke dalam.


"Ibu."


Lea terkejut melihat ibunya babak belur, sedang Richard kini tengah memukul ayah tiri Lea.


"Bajingan." teriak Richard sambil terus memukul.


Ayah tiri Lea sudah kualahan. Sementara kini karyawan laki-laki dan juga Daniel berusaha melerai dan memisahkan keduanya.


"Richard udah, Richard."


Daniel menarik dan menahan sahabatnya itu. Tak lama Richard pun beralih pada ibu Lea yang terbaring tak sadarkan diri. Richard segera mengangkat tubuh itu dan membawanya ke luar.


"Lea tolong buka mobil ayah, kuncinya di kantong ayah."


Lea meraih kunci mobil yang ada di saku jas Richard. Tak lama ia pun membuka lock mobil milik ayahnya tersebut. Ibu Lea di letakkan di dalam, tak lama Richard membawa wanita itu menuju rumah sakit. Lea menyusul bersama Daniel.


Setibanya di UGD Richard langsung mengeluarkan tubuh ibu dari anaknya itu, dengan dibantu oleh tenaga kesehatan yang ada. Ibu Lea segera di tangani, sementara kini Daniel dan Lea meminta Richard untuk mendapat perawatan juga.


Pasalnya pria itu mengalami banyak memar dan luka akibat pecahan kaca. Entah apa yang sebenarnya terjadi, yang jelas ini cukup mengejutkan bagi Lea dan juga Daniel.

__ADS_1


__ADS_2