
"Lele."
Daniel memanggil sang istri sambil menahan tawa.
"Hah, apa mas?"
Lea menjawab namun masih memperhatikan piring serta menyuap dengan mulut super besar. Ia mengambil rendang, mencubit telur dadar, lalu mencampurnya dengan nasi, perkedel, sayuran dan lain-lain.
Kemudian hap, ia pun kembali menyuap. Daniel tertawa kali ini. Membuat Lea mendadak menatap pria itu.
"Mas kenapa sih?" tanya nya kemudian.
"Kamu mangap gede banget, ntar laler ikut masuk loh." seloroh Daniel.
"Biarin aja, vitamin."
Lea lanjut makan, dan Daniel masih setia memperhatikan. Sambil ia juga makan secara perlahan.
"Mas pasti meledek aku megalodon kan dalam hati?" ujar Lea sok tau. Daniel nyaris tersedak, akibat menahan tawa.
"Nggak, orang dalam pikiran aku kamu tanki aer." Daniel berujar sambil tertawa.
"Tuh kan?"
Lea tetap saja makan.
"Padahal nih, badan aku bengkak gara-gara kamu. Udalah perut aku dibikin buncit, diisi mulu tiap tiga atau empat hari sekali."
Daniel menghela nafas dan masih tersenyum.
"Tapi kan itu karena aku sayang. Kalau nggak sayang, kamu nggak mungkin buncit dan bengkak kayak gini."
Lea menghela nafas, ia paling tak bisa mendengar alasan Daniel yang satu ini. Meski klasik dan cenderung basi bagi orang lain, namun hati Lea benar-benar meleleh.
Ia selalu teringat ketika Daniel menyemburkan cairannya ke dalam rahim. Pria itu memang terlihat begitu menyayangi dan mencintai Lea.
Biasanya ia akan berkata di telinga istrinya itu berulang kali, soal rasa cinta dan sayangnya yang begitu dalam. Sembari ia menekan miliknya dalam-dalam.
"Mas, nambah dong."
Lea memperlihatkan piringnya yang telah kosong.
"Ya udah, nih."
Daniel menukar piring Lea dengan piring lain yang berisi nasi utuh. Itu memang sengaja di siapkan supaya si paus biru bisa menambah makanannya. Sebab Daniel tau istrinya itu tak cukup bila hanya satu porsi saja.
"Mas nggak nambah?" tanya Lea seraya mengambil kembali rendang, telur, dan lain-lain.
"Aku lagi ngurangin nasi, Le." jawab Daniel kemudian.
"Kamu mah sama aja kayak ayah."
"Aku nggak separah Richard ya. Richard kalau diet, melebihi diet artis Korea."
"Mau debut dia mas, di SM entertainment." seloroh Lea sambil makan.
Daniel tertawa.
"Iya idol bapak-bapak." sambungnya.
"Mending bapak-bapak, kakek-kakek." ujar Lea.
"Oh iya, bentar lagi jadi kakek-kakek dia. Hahaha."
__ADS_1
"Masa ayah bilang, dia nggak mau dipanggil kakek." ujar Lea lagi.
"Terus apa dong?. Opa gitu, atau grandpa?"
Daniel mencuci tangan pada wastafel yang ada di belakang tempat duduk mereka, sebab ia sudah selesai. Kemudian ia kembali duduk di dekat Lea yang masih makan.
"Nggak, katanya mau dipanggil papa Rich."
"Papa Rich." ujar Daniel agak bernada panjang.
"Papa tajir ya." tukasnya lagi.
"Iya, kata ayah kalau dipanggil opa ntar dikira oppa-oppa Korea."
"Hmmh, emang sok ganteng itu itu orang. Mau apapun keadaannya tetap sombong." ujar Daniel setengah sewot, Lea menceritakannya sambil tertawa.
"Oh ya aku mau ngopi dulu, Uda..." Daniel memanggil salah satu orang yang bekerja di rumah makan Padang itu.
"Iya pak."
"Saya mau kopi dong."
"Kopi apa?. Kopi susu, kopi item?"
"Kopi item aja, gula nya satu sendok teh."
"Ok, ditunggu ya pak."
"Baik terima kasih." jawab Daniel.
Ia lalu melanjutkan obrolannya dengan Lea.
"Oh ya, aku udah siapin semuanya ya Le. Jadi nanti kalau kamu mendadak kontraksi, kita tinggal berangkat aja ke rumah sakit." ujar Daniel.
Belakangan memang Daniel cukup sibuk dan riweh dalam mempersiapkan kelahiran anak mereka. Lea sih santai saja, ia beralasan itu adalah tugas suaminya sebagai calon ayah.
Lea sendiri sudah ribet dengan perut besarnya yang semakin membatasi gerak. Tak lama kopi yang Daniel pesan pun datang.
"Ini pak kopinya."
"Oh iya, makasih ya." ujar Daniel.
"Sama-sama." Orang tersebut menjauh.
"Kamu udah sering sakit nggak sih perutnya?. Maksudnya lebih intens nggak dari sebelum-sebelumnya?"
Daniel bertanya seraya mengelus perut Lea.
"Udah mulai mas, lumayan parah deh kadang. Cuma masih ilang-ilangan. Kadang seharian penuh nggak ngerasa sakit apa-apa." jawab Lea.
"Kamu yang sabar ya, bentar lagi juga dia keluar koq. Tahun ini kita udah bertiga." ujar Daniel sambil tersenyum dan tertawa kecil.
"Aamiin, kita berdoa aja semoga lancar." ujar Lea.
"Aamiin." jawab Daniel lalu menyeruput kopinya perlahan.
***
"Papa dari mana sih?"
Nic bertanya pada Daniel, pada keesokan harinya. Ketika ia janjian dengan anak angkatnya itu untuk membahas sesuatu.
Mereka kini berada di sebuah kafe, dan tampak tengah merokok sambil menunggu minuman datang.
__ADS_1
"Papa dari ketemu temen, lagi nyari orang hilang." ujar Daniel.
"Orang hilang?" Nic mengerutkan kening.
"Iya, temen istrinya papa hilang. Udah lumayan lama, dan belum ada titik terang."
"Cewek apa cowok?" tanya Nic.
"Cewek, seumur istri papa." jawab Daniel.
"Hilang ini maksudnya dia pergi dari rumah atau apa?" Nic kembali bertanya.
"Kabar terakhir di culik."
"Di culik, pa?"
"Iya." jawab Daniel seraya menghisap batang rokok yang terselip di antara kedua jarinya.
"Wah nggak bener ini." ujar Nic lalu sedikit membuang pandangan ke bawah, kemudian ia kembali menatap Daniel.
"Beneran?" tegasnya sekali lagi.
"Beneran, Nic. Orang ada di CCTV jalan koq."
"Kronologi nya?"
"Itu cewek baru keluar dari rumah, lagi jalan di sekitaran rumahnya itu. Tiba-tiba ada beberapa orang yang membekap dia dan memaksanya masuk ke sebuah mobil."
"Emang nggak ada orang ngeliat?"
"Di CCTV keliatan sepi, tempat kejadian itu." jawab Daniel.
Nic menghela nafas.
"Udah coba lapor polisi?"
"Udah, temen papa itu juga detektif. Tapi papa pikir, koq dia kerja nggak kayak biasanya. Biasanya cepet banget dia mengungkap kasus. Ini kayak lama, dia bilang ada sesuatu yang janggal dan tidak terdeteksi."
"Mungkin penculiknya profesional kali, pa. Atau bisa jadi bukan orang sembarangan. Orang yang bener-bener ngerti gimana caranya mengaburkan barang bukti dan membuat alibi."
Nic berujar panjang lebar.
"Iya juga sih " gumam Daniel.
"Bisa jadi, masuk akal." lanjutnya kemudian.
"Tapi siapa ya kira-kira?" ujarnya lagi.
"Bisa jadi, ini kalau menurut pendapat Nic ya pa."
"Ok." jawab Daniel.
"Bisa jadi ada orang yang dendam. Entah sama ini cewek atau sama keluarganya. Tapi si orang ini menyewa jasa profesional. Bisa jadi begitu, atau ada orang yang bener-bener profesional dalam kejahatan. Tetapi dia bermasalah sama si cewek ini, atau keluarganya si cewek ini." ujar Nic.
Daniel diam, namun otaknya mencoba mencerna.
"Iya sih, ini juga masuk akal. Masalahnya papa tuh nggak kenal-kenal banget ke orangnya. Makanya papa juga sulit menduga siapa-siapanya." tukas pria itu.
"Sebar aja pa, fotonya. Biar penculiknya juga ketar-ketir."
Daniel menatap Nic.
"Coba ntar papa bilang ke temen papa dulu ya." ujarnya kemudian.
__ADS_1