Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Ngidam Malam


__ADS_3

Malam itu Lea tak bisa memejamkan mata. Meski telah beberapa kali ia membolak-balikan tubuh ke kanan dan ke kiri. Ia sepertinya resah, dan hal tersebut membuat Daniel yang tidur di sebelahnya jadi terbangun.


"Kamu belum tidur, Le?" tanya pria itu pada sang istri.


"Belum mas, nggak tau nggak bisa tidur aku." ujarnya.


"Mikirin apa sih?" tanya Daniel lagi.


"Soal kamu mas." Lea mencoba untuk jujur.


Daniel menghela nafas, lalu pria itu meninggikan bantal dan bersandar.


"Sini!"


Ia meminta Lea untuk mendekat, maka perempuan itu pun kini merebahkan kepala di dada sang suami. Daniel lalu memeluk dan menyelimuti tubuh Lea.


"Ngapain dipikirin coba?. Kan buang-buang energi, Le." ujar Daniel kemudian.


"Aku tuh takut, mas." jawab Lea.


"Takut ada orang yang bikin kamu jadi berurusan sama pihak yang berwajib, gara-gara masalah ini." lanjutnya lagi.


Daniel tertawa kecil, wajar jika Lea merasa ketakutan. Sebab wanita itu masih muda dan pikirannya masih kemana-mana. Daniel saja agak terganggu dan terpikir dengan adanya masalah ini, meski ia berusaha keras untuk menutupi demi menjaga ketenangan rumah tangganya.


"Pokoknya kamu nggak usah khawatir, aku belum terlalu tua untuk menghadapi apapun. Aku masih kuat dan aku punya banyak orang-orang yang mendukung. Terutama Richard dan juga Ellio. Jadi kamu nggak perlu sampai kayak gini, nanti kalau kamu sakit karena terlalu kepikiran gimana?"


Daniel menatap Lea dan Lea membalas tatapan tersebut. Namun kemudian perempuan itu kembali menjatuhkan pandangan ke bawah.


"Kan kasihan Darriel, Le. Kalau kamu sakit. Dia masih butuh kamu, butuh ASI, perhatian dan lain sebagainya." lanjut Daniel lagi.


"Aku cuma takut pernikahan kita di gugat dan kamu masuk sel tahanan, mas."


Lea mengungkapkan ketakutan terbesar yang menyesaki pikirannya.


"Siapa yang mau menuntut?" tanya Daniel kemudian.


"Ayah dan ibu kamu?. Atau keluarga besar kamu?. Nggak kan?"


Lea makin tertunduk.


"Yang berhak menuntut pernikahan kita itu ya mereka. Mereka aja ada di pihak kita, mau menuntut apa coba?"


"Ya kali aja mas, ada orang rese yang nggak suka sama kamu. Terus dia cari gara-gara dengan adanya masalah ini. Aku cuma mau kita hidup adem-ayem, nggak ada yang mengusik."


Daniel menarik nafas, lalu membelai rambut Lea dengan lembut.


"Aku janji semua akan baik-baik aja." Daniel berusaha meyakinkan.


"Aku punya power, Le. Aku di kelilingi orang-orang yang juga punya power. Jadi kamu harusnya tenang, dan jalani aja hidup seperti biasa. Kamu hanya perlu mendoakan aku dan keluarga kita supaya semuanya berjalan dengan baik." ucap pria itu lagi.


Lea kini bisa tersenyum meski tipis.


"Jangan kepikiran lagi ya, nanti kamu jadi stress. Kalau kamu stress nanti sulit untuk hamil lagi." tukas Daniel.

__ADS_1


Lea mengerutkan kening.


"Siapa juga yang mau hamil lagi?" tanya nya kemudian.


"Ya, aku yang mau menghamili kamu lagi." ucap Daniel sambil tertawa.


"Kamu mah mesum mulu, mas. Nggak dalam situasi apapun." ucap Lea.


"Yakin nggak mau di perlakukan mesum sama aku?"


Daniel bertanya dengan jari jemari yang mendadak mendarat di antara kedua paha Lea. Lea pun terdiam, tak lama matanya mulai sayu ketika Daniel perlahan mengusap-usapkan jarinya di tempat itu.


Lea mulai membuka lebar kedua kakinya dan membiarkan Daniel dengan leluasa bermain disana. Bahkan kini dua jari pria itu sudah melesak masuk ke dalam.


"Hmmh, mas."


Lea mulai meraba bagian vital milik sang suami dan mengeluarkannya. Kebetulan saat itu Darriel sudah tidur di kamarnya dan tak ada yang mengganggu. Maka yang terjadi adalah adegan super panas yang membawa kenikmatan.


Sejenak Lea lupa pada permasalahan yang menyesaki benaknya. Sebab Daniel memberikan sebuah terapi yang begitu menyenangkan.


***


Selang beberapa saat berlalu, Lea terlelap dengan tubuh dan liang yang masih basah oleh cairan sang suami. Daniel sendiri menyelimuti istrinya itu kemudian beranjak. Ia pergi mandi dan memakai kembali pakaiannya, lalu turun dan membuat kopi dibawah.


Jujur sesi bercinta yang mereka jalani tadi membuat ia sedikit lebih tenang. Ia juga kepikiran pada masalah yang dipikirkan oleh Lea.


Bisa saja saat ini ada orang yang tengah ingin menjatuhkan dirinya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan menyerang kesalahan Daniel di masa dua tahun yang lalu.


Daniel tak takut menghadapi semua itu, yang ia takutkan justru orang-orang yang dekat dengannya. Daniel khawatir mereka semua akan terkena dampak.


Ellio mengirim pesan di grup WhatsApp, yang isinya hanya terdiri dari dirinya, Richard dan juga Daniel.


"Puncak gunung?" tanya Daniel.


"Puncak kenikmatan?" Richard menimpali.


Kedua-duanya sama-sama berpikiran kotor, sebab saat ini Ellio telah menikah.


"Puncak Bogor, Bambang. Tiba-tiba bini gue ngidam pengen makan sate Maranggi, tapi maunya cuma yang di jual disini."


"Hah?"


Daniel dan Richard mengetik kata-kata yang sama di grup tersebut lalu mengirimkannya. Tak lama Ellio mengirim foto istrinya yang tengah makan sate Maranggi.


"Wkwkwk."


"Wkwkwk."


Daniel dan Richard kompak menertawai sahabat mereka itu.


"Udeh, lo nikmatin tuh hasil perbuatan lo. Lo kan yang bikin Marsha jadi buncit." ucap Daniel kemudian.


"You get karma, bro. Wkwkwkwk." Richard menimpali.

__ADS_1


"Makanya perkakas tuh dijaga, jangan suka keluar masuk. Elu sendiri yang repot kan ujungnya." lanjut Richard lagi.


"Wkwkwk."


"Wkwkwk." Daniel dan sang mertua kembali tertawa.


"Gue sih nggak masalah ya, Bogor doang. Amerika juga gue jabanin kalau dia ngidam kesana mah. Cuma masalahnya, gimana kalau dia ngidamnya yang lebih ekstrim. Pengen soto yang di jual di planet mars gitu. Atau oseng mercon di Saturnus. Mau naik apa gue kesana?. Naga Angling Darma?." jawab Ellio lagi.


Daniel dan Richard pun kian terpingkal-pingkal.


"Lebih parah kalau dia mau makan sate kikil jualan kanjeng Ratu Kidul. Mampus lu nyelem." ujar Daniel lagi.


"Belum sampe bawah, udah di caplok hiu lu." Richard menimpali.


"Seneng ya lu pada." Ellio sewot. Ia kemudian mengirimkan emoticon seperti emosi.


"Wkwkwk."


"Wkwkwk."


Lagi-lagi Daniel dan Richard menertawainya.


"Besok atau lusa bakalan ada lagi, bro." ucap Richard.


"Lo siap-siap aja." lanjutnya lagi.


"Dih jangan dulu deh, Minggu depan aja kalau bisa." tukas Ellio.


"Ngidam mana bisa lo pending, Bambang." Daniel kembali menimpali.


"Kalau nggak diturutin gimana, bro?. Dampaknya apa?" tanya Ellio.


"Dampak yang paling parah sih, lo nggak bakal dikasih jatah sama Marsha." jawab Daniel.


"Wkwkwk, bener banget." balas Richard.


Ellio kini mengirim emoticon sewot.


"Ntar anak lo kurang gizi." ujar Daniel lagi.


"Ngidam terhadap suatu makanan itu, adalah tanda bini lo membutuhkan nutrisi dari jenis tersebut." lanjutnya lagi.


"Oh berarti saat ini bini gue lagi butuh protein gitu?" Lagi-lagi Ellio bertanya.


"Nah iya." jawab Daniel.


"Kenapa mesti jauh banget, kenapa nggak makan tahu gejrot aja depan rumah. Sama-sama protein, lebih sehat lagi."


Ellio mengirim emoticon menangis.


"Nah kalau masalah itu soal kepuasan biasanya. Lo tanya aja sama dokter kandungan." Richard menimpali.


"Gitu ya?" tanya Ellio.

__ADS_1


"Iya." jawab Daniel dan Richard serentak.


Mereka pun lanjut berbincang dan masih tertawa-tawa.


__ADS_2