
"Delil, kan barusan mandi. Tadi udah eek, masa eek lagi?"
Lea benar-benar lelah pada Darriel yang tadi sebelum mandi sudah buang kotoran, dan kini malah melakukan hal serupa.
"Sakit perut kali dia."
Daniel nyeletuk dan menghampiri, sementara Darriel terlihat tertawa-tawa.
"Fesesnya gimana?" tanya Daniel.
"Bagus mas, kayak biasa aja. Dan dia nggak kembung juga." ujar Lea.
Daniel kini tertawa diikuti Darriel.
"He, he, hehe."
Bayi itu terlihat menggemaskan.
"Kebanyakan makan ini malah. Ya dek ya?" tanya Daniel pada sang anak.
"Hehe." Darriel tertawa, sementara Lea sengit menggantikan popok anak itu.
"Minum susu terus kamu, iya?"
"Hehe."
"Jadi bau tau dek nih, bau asem kamu." ujar Lea.
"Udah wangi juga." lanjutnya lagi.
Perempuan itu lalu pergi usai mengganti popok sang anak. kini Darriel membuat gerakan seakan meminta di gendong oleh Daniel.
"Apa kamu?. Emang papa mau gendong Darriel."
Daniel menggoda sang anak. Awalnya Darriel tertawa-tawa, namun akhirnya ia hendak menangis.
"Hekheee."
"Oh iya sayang, nggak koq. Sini sama papa!"
Daniel menggendong sang anak dan anak itu lalu diam. Tak lama setelah beberapa saat menggendong Darriel, Richard melakukan video call.
"Kenapa bro?" tanya Daniel pada ayah mertuanya itu.
"Cucu gue mana?" tanya Richard.
"Oh, jadi cuma mau nanyain dia doang?" gerutu Daniel.
"Ya iyalah, bosen gue dari jaman batu ngeliatin lo mulu." ujar Richard.
"Sat." seloroh Daniel.
Ia ingin mengatakan kata "bangsat", namun ada Darriel di gendongannya.
"Nih cucu lo nih, yang pup terus."
Daniel menunjukkan wajah Darriel. Lalu Darriel tampak mengerutkan dahi melihat layar handphone.
"Darriel, kamu apa kabar sayang?" tanya Richard.
Darriel masih mengerutkan dahi, sebab ia masih mencoba mengenali siapa yang tengah berbicara padanya.
"Itu papa Rich." ujar Daniel.
"Darriel nggak ngenalin papa?" tanya Richard.
__ADS_1
Darriel masih diam, namun tak lama kemudian ia pun tertawa.
"Hehe." ujarnya.
"Lama ya loadingnya." tukas Richard.
Dan lagi-lagi bayi itu tertawa.
"He, hehe."
Mereka lalu mengobrol sampai waktu yang cukup lama. Lea juga ikut nimbrung sesekali. Sampai kemudian Richard pun berpamitan, sebab Nadya datang dan ia tak ingin ketahuan.
***
"Nggak boleh kan ma?"
Marsha meminta pembelaan dari sang ibu mertua, terkait Ellio yang hendak pergi memancing bersama anak buah di kantornya.
"Kalau pergi ikut nonton aja nggak apa-apa, tapi kalau mancing ikannya jangan!" ucap sang ibu.
Saat ini ia dan Marsha tengah rencana menginap di rumah orang tua Ellio, tetapi setelah sampai Ellio ditagih janji memancing oleh para karyawannya. Ia telah berjanji lebih dari tiga hari yang lalu pada mereka.
"Kenapa emangnya?" tanya Ellio heran.
"Pak, nanti kailnya nyangkut di bibir ikan. Terus bibir ikannya jadi dower." ujar Marsha.
"Ya terus kenapa kalau bibir ikannya jadi dower?" tanya Ellio lagi.
"Aku lagi hamil." ucap Marsha.
"Apa hubungannya, Sha?"
"Kamu mau bibir anak kamu sumbing?"
Kali ini ibu Ellio yang nyeletuk.
"Terus kalau El menjaring ikan itu pake jaring, ntar anaknya lahir ada jaring ikannya juga gitu?" lanjutnya lagi.
"Ini memang mitos, tapi lebih baik jaga-jaga. Kadang mitos kayak gitu emang suka kejadian." ujar sang ibu.
"Yah terus masa acara mancingnya batal, kan nggak enak sama karyawan El. Udah janji mau ngajakin mereka dari tiga hari yang lalu."
"Ya nggak usah dibatalin, kalian pergi aja. Tapi jangan ikut mancing." tukas sang ibu.
"Iya pak, bapak mah nggak sayang anak."
Marsha merajuk.
"Bukan nggak sayang, Sha. Ini tuh nggak masuk aja di pikiran aku." Ellio membela diri.
"Pokoknya kalau bapak nekad mancing juga, dan semisal lahir nanti anak kita kenapa-kenapa. Itu semua salah bapak, titik."
Ellio menghela nafas dalam-dalam.
"Iya-iya." ujarnya kemudian.
Ia pun tak punya pilihan lain selain diam. Sebab melawan satu perempuan saja mulutnya ada dua, apalagi ditambah satu perempuan lagi
***
"Jangan di sembur-semburin kayak gitu, Darriel!"
Lea memperingatkan sang anak yang menyemburkan susu. Padahal tadi justru ia sendiri lah yang merengek seperti kelaparan.
"Nggak boleh kayak gitu. Kalau emang kenyang jangan minta-minta susu aturan. Sayang kan kebuang gini, di luar sana banyak anak-anak yang susah dapat susu." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Hehe."
Seperti biasa Darriel hanya tertawa.
"Jangan hehe-hehe kamu. Makanan harus tetap dihargai, walau ketersediaannya melimpah." ucap Lea.
"Hehe."
"Kenapa kamu Darriel?. Dimarahin mama?"
Daniel yang baru keluar dari kamar mandi bertanya pada sang anak.
"Tadi nangis mau minum susu, giliran udah dikasih malah dibuang-buang." ujar Lea.
"Kamu istirahat dulu aja, Le. Kayaknya kamu kurang tidur deh, makanya sewot begitu." tukas Daniel.
"Terus Darriel gimana?" tanya Lea.
"Biarin sama aku, ntar aku ajak nonton kartun." jawab Daniel.
"Emangnya nggak apa-apa mas?" tanya Lea.
"Nggak apa-apa, udah sana!"
"Makasih ya mas."
"Iya."
Lea lalu pergi ke kamar atas dan pergi tidur. Sementara Darriel dibawa oleh Daniel ke ruang tengah.
"Kita nonton kartun yuk!" ajak Daniel.
Bayi itu diam saja. Ia diletakkan ke dalam ayunan elektrik, lalu sang ayah menghidupkan tayangan kartun. Tak lama Ellio menelpon.
"Kenapa bro?" tanya Daniel pada temannya itu.
"Bete gue, kagak boleh mancing." ujarnya kemudian.
"Lagian mau mancing apaan lo?. Keributan?" tanya Daniel.
"Kagak, mau mancing ikan. Tapi nggak boleh." jawab Ellio.
"Nggak dibolehin sama siapa?" tanya Daniel lagi.
"Sama emak gue dan Marsha. Makanya dengerin dulu gue ngomong sampe tuntas, jangan di potong-potong. Kebiasaan dah lu"
Ellio menggerutu panjang lebar, sementara Daniel kini terbahak.
"Sewot amat anjay." ujarnya kemudian.
"Iya itu, katanya pamali kalau mancing. Ntar bibir anak gue sumbing." ucap Ellio.
"Ya lo turutin aja dulu, apa susahnya kagak mancing doang?" ujar Daniel.
"Ntar kalau anak lo udah lahir, mau mancing megalodon juga terserah elu." lanjut pria itu lagi.
"Ningen gue pancing nanti, liat aja." ujar Ellio.
Ningen adalah makhluk mitologi berkaki dua dari Jepang. Yang kerapkali di sebut-sebut sebagai proyek rahasia, hasil rekayasa genetika. Ningen sendiri hidup diperairan dan katanya pernah terlihat di kutub selatan.
"Kenapa sih mesti banyak pantangan?"
Ellio masih saja menggerutu.
"Namanya juga lo tinggal di Asia. Di Eropa aja ada banyak koq mitos dan larangan." jawab Daniel.
__ADS_1
Ellio lalu menghela nafas, kemudian topik obrolan mereka pun beralih. Sementara Darriel terus menonton dan lama kelamaan mata anak itu mulai meredup karena mengantuk.