Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mulai Reda


__ADS_3

"Dia bilang sih nggak ada nyuruh mencelakai. Dia cuma mau Nina dipaksa pulang ke dia. Orang-orang suruhannya juga nggak cerita kalau Nina itu jatuh, pas tarik-tarikan sama mereka."


Daniel bercerita pada Ellio, ketika ia dan Richard telah selesai mengurus suami Nina. Ia kembali ke rumah sakit untuk menemui Lea. Lea kini tengah berada di ruangan Nina, dan mencoba menguatkan temannya itu.


Sedang Vita ada di sudut lain, mencoba menenangkan Thalia yang merasa sangat bersalah.


"Ini salah gue, Vit. Kenapa gue nggak bisa mencegah hal itu terjadi. Bodoh banget sih gue."


"Thalia, ini bukan salah lo. Ini murni salah suaminya Nina. Lo nggak tau apa-apa, dalam posisi lo kaget juga. Mana tadi sekuriti masih pada di dalam kan. Lo juga bingung harus gimana."


"Tapi harusnya gue bisa berbuat lebih. Harusnya Nina jangan sampai jatuh begitu, pasti anaknya nggak akan kenapa-kenapa."


"Udah, emang takdirnya Nina harus begini. Gara-gara suami gobloknya itu. Nina juga nggak menyalahkan elo. Liat kan tadi kalau dia kuat. Dia lebih tegar dari yang kita kira."


Thalia menghapus air matanya, Vita mencoba memeluk gadis itu. Agar ia berhenti menyalahkan diri sendiri.


***


"Sumpah itu laki-laki goblok, super tolol, gegabah, maunya apa-apa berdasarkan maunya dia aja."


Ellio benar-benar geram kali ini.


"Makanya tadi gue suruh lo tunggu disini, karena dia itu udah nggak bisa di diamkan. Harus dihajar dan di jebloskan ke penjara. Ini udah tindak kriminal, Ellio." Daniel berujar panjang lebar.


"Iya, kan gue cuma takut lo berdua Richard itu mati. Soalnya laki si Nina itu agak bahaya juga orangnya. Emang dia keliatan kayak pengecut. Tapi siapa tau dia punya senjata api, terus lo berdua di dor. Kan gue jadinya nanti sendirian, kalau lo berdua mokat. Gue harus jagain bini lo, yang notabenenya anak si Richard. Terus nasib ceweknya Richard yang di luar negri gimana?. Masa gue poligami sama si Marsha, biar Lea punya ibu tiri dua."


Daniel menghela nafas, di saat seperti ini Ellio memang paling bisa membuat orang hendak tertawa. Meski ia tak berniat bercanda sama sekali.


"Si Nina gimana?" tanya Daniel kemudian.


"Ya gitu lah, yang pasti dia hancur. Tapi dia kayaknya kuat. Dia udah bisa menghandle emosi dan kesedihan yang dia miliki. Itu Marsha sama Lea masih didalam."


Tak lama Richard muncul dengan membawa banyak makanan serta minuman.


"Makan dulu gih, pada. Udah jam berapa ini." ujar Richard kemudian.


"Lea dan yang lainnya mana?" ujar Richard lagi.


"Lea masih di dalam sama Marsha." jawab Daniel.


"Vita sama temannya itu?"


"Kayaknya di sebelah sana deh tadi." jawab Ellio.

__ADS_1


"Panggil gih, atau bawain ini makanan buat mereka." ujar Richard lagi.


Ellio pun beranjak dan membawa makanan serta air mineral untuk Vita serta Thalia. Sedang Richard kini pergi ke dalam, ia menghampiri Lea dan juga Marsha yang tampak masih menenangkan Nina.


"Lea, Marsha. Makan dulu sana di luar, ayah udah beliin."


"Tapi yah."


"Makan dulu, Le. Nanti anak lo kenapa-kenapa." ujar Nina dengan nada lemah.


"Tapi lo gimana, masa gue tinggal."


"Biar ayah yang jaga." ujar Richard.


Lea dan Marsha pun akhirnya keluar. Sementara Richard masih di dalam ruangan tersebut.


"Kamu gimana, Nin?" tanya Richard pada Nina. Ia kini duduk di sisi perempuan itu.


"Aku udah baik-baik aja om, cuma masih nggak nyangka kalau aku nggak bisa gendong anak aku. Aku pikir kami akan ketemu, dan hidup bersama sampai dia dewasa. Tapi tenyata, denger suara tangisnya pun nggak."


Air mata Nina kembali jatuh, Richard memegang tangan perempuan muda itu dengan erat.


"Kamu percaya kan, apa-apa yang ada pada diri kita itu hanya sekedar titipan. Kapanpun penciptanya mau mengambil, kita nggak bisa apa-apa. Kita cuma bisa berencana, berkhayal, tapi keputusan tetap dia yang pegang."


"Kamu nggak makan?" tanya Richard kemudian.


Nina menggeleng sambil terus menghapus air matanya.


"Aku belum bisa makan apapun, om. Masih kepikiran. Aku sempat liat muka dia, dan..."


Nina menghela nafas, lalu kembali menyeka air matanya yang masih saja mengalir.


"Nggak boleh begitu, anak kamu udah senang disana. Dia juga nggak mau melihat ibunya sedih terus-menerus. Kamu makan ya, biar cepat sehat dan bangkit lagi dari semua ini."


Nina diam, namun kemudian ia mengangguk. Richard lalu menyuapi teman dari anaknya tersebut.


Sementara di luar Lea masih mendiamkan makanannya. Hal tersebut membuat Daniel merasa sedih sekaligus cemas.


"Makan Le, jangan begitu. Kasian anak kita." ujarnya kemudian.


"Nggak selera makan aku, mas. Masih kepikiran sama kejadian ini." ujar Lea memberi jawaban.


Mereka hanya berdua disana, Marsha telah pergi makan bersama Ellio entah kemana.

__ADS_1


"Iya, aku tau. Nggak mudah untuk keluar dari masalah ini. Terlebih ini masalah yang sangat menyakitkan bagi kita semua. Dalam beberapa hari ke depan juga sakitnya belum tentu akan hilang. Tapi kita butuh energi, untuk sedih pun kita butuh energi. Sedih boleh, silahkan. Tapi kita harus tetap makan."


Lea menarik nafas dalam-dalam.


"Aku, Richard, dan Ellio. Akan siapkan biaya perawatan, psikiater, dan juga rumah sementara untuk Nina. Akan ada perawat dan asisten rumah tangga juga disana. Kamu, Ariana, Adisty, Vita dan siapapun boleh menginap untuk menghibur Nina. Kita akan buat Nina sembuh secara bertahap dari musibah ini."


Lea menatap Daniel.


"Mas janji?"


"Iya." jawab Daniel dengan penuh keyakinan.


"Sekarang kamu makan, atau mau aku suapi?" tanya nya lagi.


Tak lama Adisty dan Ariana muncul dari suatu arah. Entah dari mana mereka tadi.


"Kalian makan dulu."


Daniel berujar pada keduanya sambil memberikan dua buah kotak makan serta air mineral.


"Kita baru mau ngajak Lea makan, mas." ujar Adisty.


"Ini Lea nya juga lagi aku bujuk buat makan."


"Kenapa, Le." tanya Adisty seraya menatap Lea.


"Janganlah gitu." lanjutnya lagi.


"Kita makan di depan sana aja yuk." ajak Ariana pada Lea. Perempuan itu pun mengangguk.


"Aku kesana sama mereka ya mas." ujarnya kemudian.


"Ok, tapi janji kamu harus makan."


"Iya mas."


"Mas Daniel nggak ikut?" tanya Adisty.


"Mas disini aja, nungguin Richard."


"Ok." jawab Adisty.


Lalu ia, Lea, dan Ariana pun berjalan menuju tempat yang mereka inginkan. Kemudian mereka makan disana. Sementara Daniel masih berada di tempat semula, sambil menunggu Richard.

__ADS_1


__ADS_2