Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mantan Sugar Baby VS Calon Sugar Baby (Extra Part)


__ADS_3

"Delil."


Lea mengambil video Darriel yang kebetulan belum tidur siang.


"Heheee." Darriel tertawa girang.


"Ini anak siapa?. Anak siapa ini?. Anak kesayangan papa?. Iya?"


Lea bertanya sendiri dan menjawab sendiri. Darriel pun kembali tertawa-tawa.


"Heheee."


"Kangen nggak sama papa?" tanya Lea.


"Hokhoaaa." Lagi-lagi Darriel bersuara.


"Mau di gendong sama papa?"


"Hokhoaaa."


Lea tertawa-tawa lalu sengaja mengirim video tersebut pada Daniel. Tentu saja dengan sebuah tujuan. Yakni mencemburui di calon sugar baby alias pelakor.


Sebab Daniel selalu memposting sang anak di sosial media miliknya, meski dengan wajah yang di blur atau diberi stiker.


"Darriel sayang papa." balas Daniel pada Lea.


"Papa juga kangen. Tunggu papa pulang ya, nak." ucap pria itu.


"Iya papa, Delil sayang papa." ujar Lea.


Tak lama kemudian Daniel benar-benar memposting Darriel di laman insta story miliknya dengan caption,


"Papa kerja dulu ya, sayang."


"Yes."


Lea berjingkrak kegirangan lalu berjoget-joget di depan Darriel. Hingga Darriel pun tampak mengerutkan dahi lalu tertawa-tawa.


"Heheee."


"Mampus lo pelakor." ujar Lea kemudian.


"Heheee."


Darriel kembali tertawa. Dan benar saja, apa yang dibidik Lea ternyata tepat sasaran. Pada saat yang bersamaan Shela melihat insta story Daniel.


"Hahaha."


Lea tertawa jahat.


"Kena mental nggak tuh. Liat laki gue lagi memposting anaknya." ujar perempuan itu kemudian.


"Makanya jangan kegatelan." lanjutnya lagi.


Ditempatnya Shela tentu saja merasa kesal. Ia benar-benar murka melihat Daniel yang memposting video tentang Darriel. Entah menyapa ia tak suka melihat bayi itu. Mungkin lantaran ia merupakan anak Lea.

__ADS_1


"Awas aja kalau gue udah berhasil dapetin nanti, bakal gue ganti sama anak baru. Tersingkir tuh ntar anak lo." ujar Shela.


Dengan penuh keberanian ia pun lalu mengirim direct message ke Instagram Daniel.


"Hai."


Begitulah kaya pertama yang ia sampaikan untuk Daniel.


***


Lita asisten rumah tangga Richard pamit pada bosnya itu. Hari ini ia dapat jadwal libur. Sedang yang lain telah terlebih dahulu menjalani masa liburan mereka.


Jika yang lain menghabiskannya untuk tidur seharian atau berbelanja. Lita justru pamit pada Richard untuk bertemu teman lamanya.


Richard pun mengizinkan, asal Lita benar-benar bertemu teman lama dan tak berbohong.


"Jangan nanti malah pergi sama cowok." ujar Richard di telpon.


"Iya pak, nggak koq." jawab Lita.


"Saya nggak masalah kamu atau yang lainnya mau pacaran. Asal saya tau siapa orangnya, tinggalnya dimana. Jadi kalau ada apa-apa sama kamu dan yang lainnya, saya bisa cari orang itu." tukas Richard lagi.


"Iya pak, nggak koq. Saya beneran mau ketemu teman lama, bukan mau pacaran."


"Oke saya percaya sama kamu, jaga diri baik-baik." ujar Richard.


"Iya pak."


Lita pun menyudahi telpon tersebut, lalu pergi. Ia janjian dengan teman lamanya di sebuah tempat makan di mall. Sesampainya disana, tak menunggu waktu lama temannya itu datang.


"Jadi majikan lo itu di madu sama suaminya?' tanya Lita pada temannya itu, disaat makanan yang mereka pesan telah sampai.


"Iya, padahal istri pertamanya itu cantik banget. Dimadu sampai dua kali lagi." ujarnya.


"Hah, serius lo?" tanya Lita.


"Serius." jawab temannya itu lagi.


"Istrinya cantik banget tapi tuh kolot, takut jadi janda."


Teman Lita membuka galeri di handphonenya dan memperlihatkan foto sang majikan.


"Nih orangnya." ujar teman Lita tersebut. Seketika Lita pun terperangah.


"Ini kan mbak Nadya, Put." ujarnya.


"Iya." jawab Putri.


"Koq lo tau?" lanjutnya lagi.


"Ini temen bos gue, pak Richard."


"Ah masa sih?. Bukannya bu Nadya nggak punya teman cowok ya?. Sama orang tuanya dari dulu dilarang bergaul sama cowok."


"Tapi kenal loh sama bos gue." tukas Lita.

__ADS_1


"Bos lo teman suaminya kali, pak Hanif."


"Nah iya, Hanif yang kayak cumi-cumi itu. Eh, sorry." Lita kelepasan.


Putri tertawa ngakak.


"Nggak apa-apa koq, Lit. Emang pak Hanif itu modelnya kayak seafood. Tapi yang ngantri banyak banget, karena berduit."


"Iya, coba kalau gembel. Yakin ceweknya pada mau?" tanya Lita.


Mereka lalu berjulid ria. Sampai akhirnya Lita nyeletuk.


"Kita jodohkan aja mbak Nadya sama pak Richard. Pak Richard suka soalnya sama mbak Nadya."


"Oh ya?" Putri tak percaya, namun dari raut wajahnya ia terlihat begitu gembira.


"Serius, Lit?" tanya-nya kemudian.


"Serius gue, pak Richard sendiri yang bilang ke gue." ucap Lita.


"Ya bagus dong kalau gitu. Gue dari dulu pengen banget mbak Nadya minta cerai sama pak Hanif, terus dia dapat yang lebih gitu dari dia. Kesel banget gue ngeliat pak Hanif yang sok kegantengan itu." ujar Putri.


"Dia kalau ngeliat gue tatapannya ganjen banget, sampe gue risih tau nggak. Kayak berasa dia tuh Lee Minho gitu loh. Padahal mah Le min Jem." lanjutnya lagi.


Lita tertawa-tawa.


"Gue ya, biar kata babu begini. Ogah gue sama orang yang modelnya kayak dia. Amit-amit jabang bayi walaupun kaya. Mending gue sama cowok gaji UMR, tapi laki gue sendiri, kagak berbagai." tambah Putri lagi.


"Gue juga sama. Ogah banget gue sama laki-laki tukang kawin." ujar Lita kemudian.


"Eh tapi bener bos lo suka sama bu Nadya?" Putri memastikan.


"Serius gue, dia sendiri yang curhat ke gue dan asisten rumah tangga yang lain." jawab Lita.


Putri diam dan tersenyum.


"Wah, kayaknya bakalan seru nih." ujarnya kemudian.


"Makanya gue bilang, kita comblangin aja keduanya. Bos gue baik orangnya, gue jamin mbak Nadya bakalan bahagia." ujar Lita.


"Tapi kan bu Nadya udah punya anak. Emang bos lo mau menerima anaknya?" tanya Putri.


"Tenang aja, bos gue itu baik banget dan sayang anak-anak." jawab Lita.


"Eh tapi, Lit. Kalau emang bos lo itu baik, kenapa nggak lo embat aja?" tanya Putri penasaran.


"Tipe gue mah cowok muda yang masih unyu-unyu. Bukan cowok mateng kayak pak Richard." ujar Lita.


"Ya meskipun nggak bisa gue pungkiri sih, dia emang ganteng dan baik banget. Tapi balik lagi semua punya selera masing-masing." lanjut kemudian.


"Iya sih, tapi bos lo itu nggak ganjen kan?" tanya Putri.


"Nggak, dia mah biasa aja. Sama dia tuh kayak sama bapak aja." jawab Lita.


"Kalau pak Hanif mah, beh ganjen parah. Kadang gue nggak suka dia kayak cari-cari kesempatan gitu. Pegang tangan-lah, nggak sengaja kesenggol. Pokoknya ganjen banget deh." tukas Putri.

__ADS_1


Mereka pun lanjut berbincang. Isinya tak jauh dari membahas Nadya, Hanif dan juga Richard.


__ADS_2