Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Cie-Cie


__ADS_3

Lea melayani suaminya di meja makan, setelah tadi memberikan servis padanya untuk sebuah kesenangan. Daniel makan dengan baik, sebab tadi ia telah kehilangan banyak tenaga.


Meski tak begitu mendominasi permainan, namun setelah ******* tubuhnya benar-benar terasa lemas. Ia begitu puas dengan pelayanan yang diberikan sang istri.


"Le, Richard minta kita nginep seminggu di rumahnya dia. Katanya pengen main sama Darriel."


"Kapan ayah bilang?" tanya Lea.


"Tadi di kantor."


"Emang ayah bakalan kuat sama tangisan Darriel yang kadang kenceng banget gitu. Kayak orang di aniaya."


"Ya nggak apa-apa, dia yang minta ini. Biar dia tanggung jawab kalau Darriel ngamuk-ngamuk. Kan lumayan ada yang ngurus, kita bisa tidur nyenyak sampe pagi." ucap Daniel.


Lea tertawa.


"Iya juga sih, sekalian melatih ayah punya bayi. Siapa tau dia langsung tergerak hati buat nikah dan punya anak lagi." ujarnya kemudian.


"Kalau nggak jutsru kebalikannya." ucap Daniel.


"Dia malah jadi trauma dan lama lagi nikahnya."


Ia dan Lea pun kini tertawa-tawa.


"Tapi gimana sekarang, kamu udah ngerasa berat belum?. Butuh asisten atau nggak?" tanya Daniel kemudian.


"Saat ini belum mas, biar aku yang ngurus sendiri dulu. Biar bondingnya kuat antara aku sama Darriel. Sedih nanti aku kalau dia dekat sama orang lain. Yang hamil aku, eh nempelnya ke orang lain."


Daniel tersenyum lalu menyentuh dan menggenggam tangan istrinya itu sejenak. Kemudian ia lanjut makan.


"Makasih ya udah mau jadi ibu dari anakku, dan makasih juga udah mau ngurus dia." ujar Daniel.


"Iya mas sama-sama. Makasih juga udah bikin aku hamil dan jadi repot. Semua gara-gara kelakuan kamu, aku jadi melendung, bengkak, beranak." Lea berkata dengan nada sewot namun bercanda.


Daniel makin tertawa-tawa.


"Enak kan tapi proses bikinnya?" ledeknya kemudian.


"Enak sih, tapi jadinya begitu. Nangis mulu pas keluar. Tau gitu aku biarin aja di dalam sampe bertahun-tahun."


Daniel kian tertawa.


"Ya dia membatu dong Le, nggak bakal lahir lagi." ujar pria itu.


Usai makan mereka duduk sejenak di tempat yang sama. Kemudian Daniel mencuci piring, dan Lea membereskan meja. Daniel pamit ke bawah sejenak untuk merokok. Tak lama ia naik ke atas, lalu menggosok gigi. Kemudian menyusul Lea yang tampak tengah berbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Udah gosok gigi, Le?" tanya Daniel kemudian.


"Udah tadi." jawab Lea.


"Nonton apa sih kamu?" tanya Daniel lagi seraya melirik ke handphone sang istri.


"Apalagi mas, kalau bukan tayangan cara menghandle bayi."


Daniel terkekeh.


"Jadi tontonannya sekarang udah beda ya." ujarnya kemudian.


"Ember." jawab Lea.


Daniel pun jadi ikut menonton.


***


Esok harinya sekalian jalan ke kantor, Daniel mengantar Lea dan Darriel terlebih dahulu ke kediaman Richard. Disana ada beberapa maid yang bisa membantu Lea dalam menghandle anaknya.


Setidaknya perempuan muda yang masih labil itu bisa sedikit lebih bersantai. Dan lagi halaman rumah Richard sangat luas. Lea bisa sejenak melepaskan penat agar tak terlalu merasa sumpek.


"Le, aku berangkat ya." ujar Daniel usai mengantar istri dan anaknya ke dalam. Saat itu Richard juga tengah bersiap pergi ke kantor.


"Iya mas hati-hati." jawab Lea seraya masih menggendong Darriel.


Lea kemudian naik ke lantai dua dan masuk ke kamar yang sering ia gunakan. Ia menidurkan Darriel pada sebuah box bayi yang dibelikan oleh Richard kemarin.


Setelah itu Lea pergi ke kamar mandi dan berendam disana. Rasanya tenang sekali bisa melepaskan penatnya sejenak. Usai mandi, Lea membuka laptop dan mengikuti perkuliahan online.


***


"Serius mau Minggu depan?"


Daniel bertanya pada Ellio, ketika jam makan siang telah tiba. Ia bersama Richard dan Ellio makan di kantin kantor.


"Serius, gue mau nemuin keluarganya Marsha. Gue mau serius melamar anak mereka, sebelum bunting. Ntar kalau si Marsha melendung, gue takut di keroyok keluarganya."


Richard menahan tawa, sementara Daniel sudah terkekeh.


"Ya udah, lo persiapkan diri dulu. Apa-apa yang mau lo omongin nanti. Jangan ntar pas sampe sana, kayak ayam sayur lo. Gue lagi sama Richard ntar yang terpaksa menengahi."


"Ya lo berdua tetap harus menengahi gue. Kalau nggak, buat apa lo berdua jadi temen gue. Sahabat itu harus ada fungsinya, salah satunya membackup kalau sahabat lo ada masalah."


"Itu mah lo bukan sahabat." celetuk Richard.

__ADS_1


"Nyusahin." ujarnya lagi.


"Yaelah, terus gue harus minta tolong sama siapa kalau bukan sama kalian."


"Iya, Bambang." jawab Richard kesal.


Mereka lanjut berbicara mengenai rencana ke rumah Marsha. Sementara kini Marsha curhat pada Lea dan juga Dian di grup WhatsApp.


"Kenapa harus takut kak?" tanya Lea pada Marsha.


"Iya, harusnya lo seneng Sha. Pak Ellio akhirnya mau serius sama satu cewek. Selama ini cewek-cewek yang ngarep ke dia, di cuekin doang sama dia."


Dian menimpali chat yang dikirim Lea sebelumnya.


"Kalian nggak tau bokap gue sih, galak parah anjir. Beneran nggak bohong gue. Gue kerja pulang agak malem aja di tanyain, walaupun gue nggak serumah."


"Ya di coba aja dulu. Kan nggak mungkin ada orang bertamu, datang baik-baik. Terus bokap lo langsung mencak-mencak. 😁"


Lea kembali membalas chat tersebut.


"Ember, apalagi bokap lo kan berpendidikan tinggi. Segalak-galaknya bokap nggak mungkin bakal mengusir tamu secara serta-merta, kalau tamu nya datang baik-baik." Lagi-lagi Dian menimpali.


"Iya sih, tapi tetap aja gue khawatir." jawab Marsha.


"Intinya lo banyakin berdoa aja. Minta supaya hati bokap lo di luluhkan, kak." ujar Lea.


"😌😌😌😁😁😁😁. Iya deh gue coba." jawab Marsha lagi.


"Cie yang mau di lamar 😛😜." Dian meledek Marsha.


"Cie yang mau pake wedding dress dan nikah ala-ala artis Korea. 🎊😁." Lea menimpali.


Marsha senyum-senyum sendiri membacanya.


"Abis pesta bajunya langsung di lucuti." Dian makin menjadi-jadi.


"Sebulan kemudian melendung." timpal Lea.


"Apaan sih? 💩💩." Marsha menjawab.


"Aku nggak tau, aku masih TK." lanjutnya kemudian.


"Cie-cie."


Lea dan Dian terus meledek perempuan itu.

__ADS_1


"Cie yang mau dilamar." Tiba-tiba terdengar suara dari sisi kanan dan kiri telinganya. Marsha terkejut, ternyata itu Daniel dan juga Richard yang baru saja kembali dari kantin.


Maka wajah Marsha pun bersemu merah. Apalagi tak lama kemudian, Ellio pun menyusul tiba dan melihat ke arahnya. Entah mengapa keduanya mendadak jadi salah tingkah. Sedang kini Daniel serta Richard saling bersitatap sambil tersenyum.


__ADS_2