Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Lea Kembali Menghilang


__ADS_3

"Makan yang banyak, Le. Muka lo udah pucat gitu."


Vita berujar sambil meletakkan satu kotak susu hamil siap minum ke hadapan Lea yang tengah makan.


"Iya Vit, ini juga abis ini pasti nambah gue. Laper banget soalnya."


"Lagian tadi gue bilang makan dulu, lo nya masih disitu aja." ujar Iqbal menimpali.


"Abisnya gue nggak enak, Bal. Nyokapnya Rangga masih nangis kejer gitu, masa gue tinggalin."


"Kan tadi ada gue, Iqbal sama Hans, Le."


Vita melirik pada dua orang pemuda di hadapannya. Lea sempat melihat ke arah Hans dan Hans terlihat diam saja. Ia dan Iqbal saat ini juga tengah makan, sama seperti Lea dan Vita.


"Iya pokoknya gue nggak enak aja, kayak gimana gitu kesannya." ujar Lea.


"Ya udah, ini makan yang banyak pokoknya. Kasian anak lo." ujar Vita lagi.


Sementara itu di sudut lain, Daniel begitu sibuk mengurus pekerjaan. Tak lama ia mendapat telpon dari Grace. Mantan kekasihnya tersebut meminta saran ini dan itu. Tentu saja Daniel menanggapi dengan baik.


Lain waktu ia menemani Grace mengecek perkembangan Danisha. Ia hanya bertemu Lea sesekali, di meja makan. Itu pun di batasi oleh waktu, karena Lea harus ke kampus dan ia harus bekerja.


Lea sendiri tak ambil pusing, karena saat ini ia juga sibuk mengurus tugas kuliahnya yang menyusahkan. Pun ia masih terus memikirkan dan memantau perkembangan Rangga.


Tiba-tiba muncul notifikasi di handphone Daniel, jika Lea harus menjalani pemeriksaan rutin hari ini. Daniel yang tadinya sibuk mengurus ini dan itu, kini menjadi terpikir akan Lea.


Ia juga menyadari betapa abainya ia selama beberapa hari belakangan terhadap perempuan itu. Daniel segera menelpon nomor Lea.


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."


Lea tampaknya tengah sibuk, Daniel mencoba sekali lagi dan jawaban yang ia terima tetap sama.


"Sha, Marsha." Daniel memanggil sekretarisnya Marsha.


"Iya pak." jawab Marsha.


"Kamu tolong urus ini dulu dong." Daniel menyerahkan sebuah file.


"Saya mau ke rumah sakit sebentar, mau nemenin Lea."


"Baik pak."


Marsha menerima file tersebut dan kembali ke meja kerjanya. Sementara Daniel meraih kunci mobil dan keluar dari kantor. Ia berniat menyambangi rumah sakit, tempat dimana Lea biasa memeriksakan kandungannya.


Ia pikir saat ini mungkin Lea telah berada di sana. Daripada sibuk mengubungi via telpon, lebih baik ia segera menyusul.


Sesampainya di tempat tersebut, Daniel tak menemukan Lea sama sekali. Bahkan bagian ruang tunggu dokter yang bersangkutan tampak sepi. Seorang perawat keluar dari sana, dan Daniel pun mendekatinya.


"Siang sus."


"Eh pak Daniel."

__ADS_1


Perawat tersebut mengenali Daniel, karena ia sering menemani Lea periksa kandungan.


"Ada liat istri saya nggak kesini?" tanya Daniel.


"Ibu Lea, ada tadi. Sekitar setengah jam yang lalu."


"Setengah jam yang lalu?"


"Iya, ada perubahan jadwal dan agak dipercepat. Memangnya ibu Lea nggak ngasih tau pak Daniel?"


"Mmm, nggak." ujar Daniel.


"Karena saya tadi juga di kantor dan Lea kuliah pagi-pagi." lanjutnya kemudian.


"Oh gitu, semuanya udah selesai pak. Dan mungkin ibu Lea juga sudah pulang."


"Ya udah deh kalau gitu, makasih ya sus."


"Sama-sama Pak."


Suster tersebut berlalu, Daniel kemudian berjalan keluar dan menuju lapangan parkir.


"Nomor yang anda tuju, tidak menjawab."


Daniel kembali menelpon Lea dan lagi-lagi jawaban yang ia terima, sama saja.


"Dimana Le?" tanya Daniel melalui pesan singkat di WhatsApp.


Namun pesan tersebut tak dibaca, hanya centang dua saja. Daniel kini khawatir, apakah Lea marah padanya. Perihal akhir-akhir ini ia selalu mengurusi Grace. Daniel mulai resah, pria itu kemudian menghubungi Adisty.


"Iya mas Daniel, kenapa mas?"


"Lagi sama Lea nggak?" tanya Daniel.


"Nggak mas, tadi kayaknya dia sama Vita, sama Iqbal deh." jawab Adisty.


"Oh gitu?"


"Iya, aku liat beberapa hari ini mereka selalu bareng."


"Oh ya udah kalau gitu, makasih ya Dis."


"Iya mas, sama-sama."


Daniel pun teringat jika Lea kemana-mana selalu diantar supir, maka ia pun menghubungi supir tersebut. Untuk mengetahui dimana kini Lea berada.


"Hallo pak."


"Iya pak Daniel, ada apa pak."


"Ibu Lea dimana, pak?" tanya Daniel pada supir tersebut.

__ADS_1


"Ibu Lea sudah dua hari ini nggak diantar sama saya. Terakhir ke rumah sakit pak, katanya ada temannya yang kecelakaan."


"Terus ibu Lea sama siapa?. Dan yang kecelakaan itu siapa?. Dimana rumah sakitnya."


"Ibu Lea pergi sama mas Iqbal dan mbak Vita. Yang kecelakaan itu katanya kalau nggak salah ya, namanya mas Rangga."


"Rangga?"


Daniel bertanya seraya mengingat, jika Rangga adalah mantan Lea.


"Dimana rumah sakitnya pak?" tanya Daniel lagi.


Supir itu pun lalu mengabarkan pada Daniel, dimana Rangga kini tengah dirawat.


"Baik pak, makasih ya pak. Lain kali kalau ibu nggak mau di temenin kemana-mana, atau dia bilang mau bareng temannya. Bapak tolong kabari saya ya, karena saya nggak tau loh soal ini." ujar Daniel lagi.


"Oh iya, siap pak. Saya pikir bu Lea udah kasih tau bapak."


"Nggak ada pak."


"Baik pak kalau begitu, lain kali saya kabari."


"Baik, terima kasih pak." ujar Daniel.


"Sama-sama pak Daniel."


Daniel pun lalu menyudahi panggilan telpon tersebut. Pria itu kini bergegas, menyambangi rumah sakit yang di maksud.


Sesampainya di sana Daniel bertanya-tanya di mana tempat Rangga di rawat. Namun ia dan petugas bagian informasi agak kebingungan. Pasalnya ada dua Rangga yang menjadi pasien dirumah sakit tersebut.


"Rangga yang korban kecelakaan, sus." ujar Daniel pada perawat di bagian informasi tersebut.


Tak lama Daniel pun di beritahu, jika Rangga saat ini masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Usai berterima kasih atas informasi yang diterima, Daniel pun bergegas menuju ruang ICU.


Dan disana, Lea terlihat tengah duduk disisi Rangga. Lea tak melihat kehadiran Daniel, pria itu hanya melihat dari kaca.


"Mas."


Tiba-tiba Vita menghampiri.


"Gimana keadaan Rangga?" tanya Daniel pada Vita.


Awalnya Vita sudah menduga jika Daniel akan marah, melihat istrinya ada bersama mantan.


"Rangga koma, mas. Kata dokter nggak tau kapan bisa balik lagi."


Daniel terkejut mendengar semua itu, namun ia mencoba bersikap biasa saja.


"Apa Lea ada bilang sesuatu soal kami?" tanya Daniel.


"Mmm, nggak ada mas. Emangnya kenapa?. Kalian bertengkar?" Vita balik bertanya.

__ADS_1


Daniel menggelengkan kepala. Ia berfikir, kalau-kalau Lea mengadukan sikap Daniel yamg terlalu memperhatikan Grace akhir-akhir ini. Namun ternyata tidak demikian.


Tetapi meskipun begitu, Daniel sangat yakin jika Lea tengah memendam kekecewaan terhadap dirinya. Daniel pun menyesali, mengapa belakangan ini ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk Grace. Dan ia terlambat menyadari hal tersebut. Hingga kini Lea pun lebih fokus kepada laki-laki dari masa lalunya ketimbang Daniel sendiri.


__ADS_2