Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mual


__ADS_3

"Le, aku udah di depan."


"Oh, ok mas. Aku keluar sekarang."


"Ok."


Daniel menutup telpon. Lea buru-buru keluar dari kelas, membuat Iqbal dan yang lainnya terheran-heran.


"Lea buru-buru amat, kayak telat test CPNS." ujar Ariana pada Iqbal.


"Ditungguin bapaknya kali." celetuk Rama.


Iqbal diam, padahal ia baru hendak mengajak Lea makan bersama. Namun Lea sudah keburu ngacir, karena telah ditunggu oleh sang suami.


Ketika tengah terburu-buru menuruni tangga, ia sempat berpapasan dengan Arsenio.


"Lea."


"Eh Arsen, bye."


"Buru-buru amat." ujar Arsen.


"Iya, udah ditungguin." ujar Lea sambil terus menjauh. Arsen sendiri mengira mungkin Lea ditunggu oleh temannya.


Keluar dari gedung, ia berpapasan dengan petugas kebersihan yang tengah mengumpulkan sampah dari kotak sampah.


"Hueeek."


Mendadak Lea merasa mual dan ingin muntah, akibat mencium bau dari sampah tersebut. Seketika petugas kebersihan itu dan juga beberapa mahasiswa serta mahasiswi refleks menoleh ke arahnya.


Lea langsung meminta maaf, sebab khawatir banyak yang tersinggung. Ia takut di katakan sok cantik karena ingin muntah di depan petugas kebersihan, yang notabene nya setiap hari menghadapi bau.


Biasanya Lea tidak begini, hari-hari sebelumnya ia biasa saja menghadapi sampah. Tapi entah mengapa di hari ini, dirinya menjadi begitu lebay.


Ia masih menahan muntah dengan wajah yang memerah, ketika tiba dan masuk ke dalam mobil Daniel.


"Hueeek."


"Kamu kenapa?" tanya Daniel heran, sekaligus khawatir.


"Itu mas, sampah bau banget." ujar Lea.


Daniel pun memberikan minyak angin roll on pada Lea, supaya istrinya itu bisa menetralisir bau yang tak sedap. Lea mencium minyak angin tersebut, kemudian Daniel memberinya air mineral.


"Minum dulu." ujar Daniel kemudian.


Lea pun menuruti, lama kelamaan rasa mualnya berkurang bahkan menghilang sama sekali.


"Masih mau muntah nggak?" tanya Daniel lagi, Lea menggeleng.


"Ya udah, kita jalan sekarang ya."


"Iya mas."


Daniel menghidupkan mesin mobil dan mereka pun meninggalkan tempat itu.


***

__ADS_1


Lea mengajak Daniel makan corndog di sebuah tempat yang menjual jajanan ala Jepang dan Korea. Kebetulan tempat tersebut dekat dengan sebuah taman yang baru di bangun. Dimana terdapat danau, hutan buatan serta banyak wahana permainan untuk anak-anak. Ada juga beberapa lapangan untuk bermain bola serta bulu tangkis dan basket.


Banyak juga food truck ataupun stand jualan ditempat itu. Lea dan Daniel kini berbincang sambil makan di sebuah tempat duduk.


"Dan."


Sekelompok pria tampan yang tengah bermain basket di sebuah lapangan, memanggil Daniel.


"Hei, bro."


Daniel mengangkat tangan, salah satu dari mereka mendekat dan mereka berjabat tangan layaknya sahabat. Lea sendiri memperhatikan, karena ia tidak mengenal orang-orang itu.


"Lea, ini temen aku. Yang di sana juga." ujar Daniel seraya melirik sejenak ke arah lapangan. Teman Daniel itu mengulurkan tangan.


"Jesse." ujar temannya itu memperkenalkan diri.


"Lea."


"Dan, maen."


Teriak salah satu temannya, yang masih berada di lapangan. Daniel tertawa kecil, lalu menatap Lea.


"Boleh ya, Lea." pinta Jesse kemudian.


"Boleh, nggak apa-apa. Aku yang penting ada makanan disini." ujar Lea sambil tersenyum.


Maka Daniel pun melepaskan jas dan kemejanya. Kebetulan ia hari ini, memakai kaos polos berwarna hitam sebagai dalaman. Tentu saja hal tersebut menaikkan tingkat ketampanannya hingga 1000%. Ditambah ia memang memiliki body yang sixpack dan sexy.


Daniel bermain basket bersama teman-temannya, sementara Lea dengan setia menonton. Sambil terus makan dan minum tentunya.


Lea ikut berteriak kegirangan, ketika sang suami pada akhirnya berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring. Ternyata Daniel jago juga memainkan permainan tersebut.


Sepanjang menikah, Lea belum banyak mengetahui perihal suaminya itu lebih dalam. Kecuali tentang Daniel adalah pria yang baik. Belum begitu banyak cerita yang saling mereka bagikan, karena kadang terbentur waktu. Daniel harus bekerja dan Lea mesti kuliah.


"Yeay."


Lagi-lagi Lea bersorak kegirangan, karena Daniel kembali memasukkan bola tersebut ke ring lawan. Bahkan hingga beberapa kali.


"Hmm."


Lea meminum air mineralnya, lalu kembali melanjutkan makan. Namun tiba-tiba ia merasa aneh, entah mengapa rasa dari corndog itu tiba-tiba membuatnya mual. Seperti ada bau khas yang tidak menyenangkan.


"Hueeek."


Perasaan itu kian menggebu, hingga Lea pun berbalik dan mencari tempat. Kebetulan ada banyak pohon di sisi dan belakang tempat duduknya. Lea muntah di dekat salah satu pohon itu. Daniel yang tengah asik bermain tanpa sengaja melihat ke arah istrinya tersebut, buru-buru ia pun mendekat.


"Lea, kamu kenapa?" tanya Daniel penuh kekhawatiran.


"Nggak tau mas, corndog nya aneh pas di ujung. Baunya kayak basi, udah aku buang tuh."


"Bisa jadi juga perut kamu mungkin bermasalah. Kamu kan kalau makan pedes, suka nggak kira-kira. Kalau diingetin kamu iya-iya doang. Yang lain kamu nurut, tapi kalau soal makan pedes susah banget dibilangin."


"Iya mas, maaf." ujar Lea kemudian.


Lalu....


"Hueeek."

__ADS_1


Lea kembali berbalik ke arah pohon itu. Perasaan cemas Daniel mendadak meningkat.


"Hueeek."


"Hueeek."


Ia muntah cukup banyak, dengan sabar Daniel mengusap punggung istrinya itu.


"Kita ke rumah sakit ya." ujar Daniel.


"Nggak usah, mas. Ntar juga ilang, kayak tadi."


"Aku khawatir, Lea."


"Nggak apa-apa, mas."


Lea berusaha meyakinkan Daniel, ia kini diberi air putih oleh suaminya itu.


"Kita pulang aja ya." ujar Daniel lagi.


"Mas udah mainnya?" tanya Lea.


"Udah."


"Ya udah, kita pulang."


"Aku pamit dulu ke mereka." ujar Daniel. Lea menganggukkan kepala, sementara Daniel kini menghampiri teman-temannya untuk berpamitan.


Tak lama setelah itu, ia pun kembali pada Lea. Ia mengenakan jas nya, namun tidak dengan kemeja. Ia membawa kemeja tersebut ditangan kiri, sedang tangan kanannya menggandeng tangan Lea.


Setibanya di penthouse, Daniel langsung menyuruh Lea untuk beristirahat di kamar. Ia membuatkan minuman hangat untuk istrinya itu.


"Lea ini kamu minum, aku mandi dulu. Nanti aku kesini." ujar Daniel.


"Makasih ya mas."


"Iya, sama-sama."


Daniel naik ke atas, sementara Lea mulai meminum minuman hangat yang telah dibuat oleh sang suami.


Usai mandi, Daniel kembali ke bawah dan menanyakan perihal keadaan istrinya tersebut. Lea bilang jika ia sudah tidak apa-apa.


"Serius?" tanya Daniel masih belum percaya.


"Iya mas." jawab Lea.


Daniel lalu duduk disisi Lea, ia mengusap-usap perut istrinya itu. Dan entah mengapa Lea kaget, pasalnya kini ia mendadak menjadi begitu sensitif.


Sentuhan tangan Daniel di perutnya sangat terasa nikmat. Hampir saja ia mendesah, namun hal tersebut ia tahan. Lantaran ia pun juga masih lemas, akibat muntah yang cukup banyak tadi.


"Makan lagi ya, tadi kan kamu udah muntah banyak." ujar Daniel.


"Iya, tapi ntar ya mas. Pengen dipeluk dulu yang lama sama mas."


"Ya udah, sini aku peluk."


Daniel tersenyum lalu memeluk istrinya itu. Ada damai yang tiba-tiba menyeruak dalam batin Lea.

__ADS_1


__ADS_2