Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kesalahan (Bonus Part)


__ADS_3

Flashback.


Pada saat Lea mengerjai Shela. Dengan mengatakan jika Daniel tengah berada di suatu tempat. Lea tak sadar jika ia telah melakukan sebuah kesalahan.


Kala itu ia sangat percaya diri jika sang suami Daniel, tengah berada di kantor. Tanpa ia ketahui jika di saat yang sama, Daniel ada janji dengan seorang rekan kerjanya. Mereka membuat janji bertemu di tempat yang di maksud oleh Lea.


"Gue mau berangkat beb." ucap Shela kala itu kepada Susi melalui pesan singkat di WhatsApp.


"Semangat beb, hempaskan istri sah." ujar Susi kepada Shela.


"Wkwkwk, pasti. Tenang aja beb." ujar Shela kemudian.


"Gue berangkat dulu ya." tukasnya lagi.


"Capcus beb." balas Susi.


Tak lama Shela pun berangkat. Sementara di rumah, Lea berbicara pada Vita dan juga Nina. Ia menceritakan jika ia baru saja mengerjai Shela.


"Wkwkwk, bagus Le. Gue yakin ntar sampai ke lokasi, si gatel bakalan planga-plongo. Karena mas Daniel-nya nggak ada."


Vita mengetik dan mengirim tulisan tersebut di grup WhatsApp.


"Wkwkwkwk, udah pede banget lagi dia." Nina menimpali.


"Kegatelan banget anjir sama laki orang." Lea menulis hal tersebut kemudian mengirim.


"Kayak nggak bisa nyari laki-laki lain." lanjutnya kemudian.


"Biasa, nggak bisa liat yang tajir dikit." tukas Nina.


"Cakep juga nggak, anjay." Vita menimpali.


"Aslinya burik." ujar Lea.


Mereka terus tertawa cekikikan. Sementara Shela mendatangi tempat yang di maksud dengan harapan akan bertemu dengan Daniel.


Setibanya di sana ia seperti mendapat durian runtuh. Sebab ketika turun dari kendaraan umum, matanya langsung mendapati Daniel yang tengah sibuk berbicara dengan klien.


Karena suasananya seperti formal, Shela memilih duduk di meja berbeda dan memesan minuman disana. Ia menunggu dulu hingga urusan Daniel selesai.


Ia pikir semua itu hanya sebentar saja, namun ternyata memakan waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya penantian itu tidak sia-sia. Klien Daniel pulang dan hanya menyisakan Daniel sendiri saja di meja.


"Pak Daniel."


Shela memberanikan diri untuk menyapa pria itu. Daniel yang kaget itu pun seketika menoleh. Ia agak mengerutkan dahi. Namun kemudian ia ingat jika perempuan yang menyapa dirinya tersebut, adalah salah satu Bridesmaids yang ada di pernikahan ketiga Hanif.


Ia juga ingat ketika perempuan itu nyaris terjatuh dan ia menolongnya hingga kembali berdiri.


"Saya Shela, pak." ujar Shela kemudian.

__ADS_1


"Ah iya." ucap Daniel.


"Boleh saya gabung?"


Secara agresif Shela pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Karena merasa hal tersebut biasa saja, Daniel lalu mengizinkan.


"Silahkan!" ujar pria itu kemudian.


Shela bergerak cepat dan langsung memindahkan minumannya, ke meja tempat dimana Daniel berada. Tak lama ia terlihat turut pindah ke tempat tersebut.


"Kamu kesini sendiri?" tanya Daniel.


"Iya pak, sendirian." Shela menjawab sambil tersenyum.


"Kirain sama pasangan." ucap Daniel lagi.


Shela tersipu malu, sebab ia mengira hal tersebut merupakan semacam kode. Yang mana Daniel ingin mengetahui apakah perempuan itu masih single atau tidak.


Padahal Daniel murni mengira jika Shela datang bersama pasangannya. Dan pertanyaan tersebut tidak mengandung maksud apa-apa.


"Saya kan belum punya pasangan, pak." ucap Shela.


"Mau nunggu bapak." celetuknya kemudian.


Seketika Daniel terdiam. Namun ia menganggap semua itu sebagai candaan belaka.


"Kan saya udah punya istri." jawab Daniel.


Shela makin berani, sementara Daniel hanya tertawa. Karena mengira hal tersebut hanya main-main.


***


Kembali ke saat ini.


Usai pengaruh terhadap Susi berhasil. Kini saatnya Putri mempengaruhi Yayah, istri kedua Hanif. Ia datang dengan pola serupa, seperti saat ia menemui Susi tempo hari. Yakni dengan berpura-pura di dzalimi oleh Nadya.


Bermodal akting yang belajar secara otodidak dari sinetron ku menangis dan drama Korea, Putri pun di terima kehadirannya oleh Yayah. Saat itu lah Putri mulai memasukkan pengaruh ke otak istri kedua dari majikannya tersebut.


"Pokoknya jangan sampai mereka balikan, teh Yayah. Ntar yang ada itu ibu-ibu mak lampir itu hamil lagi. Makin banyak anak, makin lengket sama pak Hanif." ujarnya kemudian.


Yayah terdiam dan menjatuhkan pandangan mata ke lain sudut. Nafas perempuan itu kini terdengar memburu dan naik turun.


"Teteh harus meminta waktu lebih sama pak Hanif." lanjut Putri lagi.


"Jangan mau kalah walau posisi teteh adalah istri kedua." tambahnya kemudian.


Sementara Yayah belum menjawab, Putri terus menjadi kompor. Hingga tak lama setelah itu Yayah mengambil handphone dan menelpon Hanif. Keduanya lalu tampak bertengkar.


Putri berhasil memasukkan pengaruh. Sebab pada akhirnya Hanif kualahan menghadapi istri-istrinya tersebut.

__ADS_1


"Mampus lu." Putri berujar dalam hati.


"Emang enak punya bini banyak. Makan tuh bini." lanjutnya kemudian.


Putri lalu senyum-senyum sendiri, kemudian tertawa tanpa suara.


***


Sementara di rumah sakit.


"Ma, Arka makin lama makin suka deh sama om Richard. Dia orangnya baik banget."


Perkataan tersebut membuat Nadya jadi terkejut. Namun wanita itu tak menampik bila ia menyukai hal tersebut.


Sebab ia pun telah mengetahui perasaan Richard yang sesungguhnya. Meski saat ini mereka belum memiliki hubungan apa-apa.


"Kenapa Arka suka sama om Richard?" tanya Nadya sambil tersenyum.


"Ya karena itu tadi, kayak yang Arka bilang. Om Richard itu baik banget. Dia mau dengerin Arka, walau kadang Arka cerita panjang lebar ke dia."


"Emangnya Arka kalau sama om Richard, suka cerita apa aja?" tanya Nadya


"Mmm, banyak ma."


"Salah satunya?" tanya Nadya lagi.


"Ya soal game online." jawab Arkana.


Nadya tertawa, lalu membelai kepala anaknya itu dengan lembut.


"Ma."


"Hmm?"


"Arka mau kalau om Richard jadi apa Arka."


Nadya terdiam. Ia kini bingung harus menjawab dengan cara apa. Sebab ia merupakan seorang perempuan yang bersuami.


Ia tak mungkin menunjukkan sikap jika dirinya adalah seorang pengkhianat. Meski benar hatinya kini telah melakukan hal tersebut. Ia juga jatuh cinta pada Richard dan hatinya telah berselingkuh dari pernikahan yang ia jalin bersama Hanif.


"Mama mau kan, ma?. Kalau om Richard jadi papa Arka?"


Arkana bertanya sekali lagi, namun lagi-lagi bibir Nadya terasa kelu. Ia tak mampu menjawab sepatah pun, meski tatapan mata sang anak seolah mendesak dirinya.


"Mmm, mama..."


Ia berpikir keras, perihal kata-kata yang mesti ia gunakan agar sang anak tak kecewa. Tiba-tiba dokter dan perawat masuk, Nadya sedikit bernafas lega.


Sebab akhirnya mereka melakukan pemeriksaan terhadap Arkana. Dan Arkana sendiri mulai melupakan apa yang tadi ia pertanyakan terhadap sang ibu.

__ADS_1


"Keadaan Arka sudah membaik, dia sudah boleh pulang besok." ucap dokter itu.


Nadya senang, namun tidak dengan Arkana. Karena ketika sehat dan pulang ke rumah, itu artinya Richard tak akan lagi menjenguk.


__ADS_2