Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Babak Baru Perjalanan


__ADS_3

"Lo kenapa lagi Cla?"


Kinar teman Clarissa bertanya pada perempuan itu. Ketika Clarissa terlihat gusar dan kesal sekembalinya dari suatu tempat.


"Iya, tumben. Biasanya selalu ceria." Nia menggoda Clarissa.


Namun gadis itu tetap saja memasang wajah yang asam. Seperti tak ada lagi yang bisa menawar kekesalannya.


"Ki Joko Mangku Langit itu ternyata dukun palsu." ujarnya kemudian.


Kinar dan Nia saling bersitatap dan sama-sama menghela nafas sambil melebarkan bibir.


"Udah berapa kali kita bilang, Cla. Berbusa mulut gue dan Nia. Lo masih aja percaya." Kinar berujar pada gadis itu.


"Hari gini lo masih yakin sama yang begituan." Nia menimpali.


"Kalau jaman dulu, banyak orang sakti. Lah jaman sekarang, banyak yang palsu." lanjut gadis itu.


Clarissa yang masih kesal kini menuang wine ke dalam sebuah gelas. Saat ini dirinya tengah berada di apartemen Nia. Setelah menjadi sugar baby pria kaya, hidup Nia memang menyenangkan. Di kediamannya penuh dengan minuman-minuman mahal.


Clarissa meminum wine tersebut hingga habis. Lalu menjatuhkan pandangan ke suatu sudut. Nafasnya masih naik turun seperti tadi dan belum juga reda.


"Gue akan jalankan rencana B." ujarnya kemudian.


"Rencana B?"


Kinar dan Nia mengerutkan kening.


"Ya, kalau gue nggak bisa memisahkan Lea dan Daniel dengan jalan perdukunan. Gue akan pisahkan dengan cara lain."


Clarissa kembali menuang wine ke dalam gelas kemudian menghabiskannya.


"Cara lain?"


Kinar bertanya. Kali ini Clarissa menoleh pada temannya itu.


"Gue akan hancurkan dengan cara hukum. Sebab Daniel menikahi anak di bawah umur."


Clarissa tersenyum penuh kemenangan, sementara Kinar dan Nia saling bersitatap.


***


Di sebuah perusahaan. Seorang presiden direktur tengah duduk sambil menghadap ke kaca belakang. Melepaskan pandangannya ke gedung-gedung sekitar yang menjulang.


"Marvin."


Seorang pria berjas mahal dan parlente tampak menyebut nama presiden direktur tersebut. Ia baru saja masuk beberapa detik lalu.


"Ya."


Marvin memutar kursinya. Pria itu tak kalah parlente dengan pria yang baru saja datang.

__ADS_1


"Kenapa Ren?" tanya nya kemudian.


"Poyek kita gagal lagi, sepertinya pemerintah wilayah setempat memang cuma mempercayai perusahaan milik Daniel." ujarnya kemudian.


"Dia menolak kerjasama lagi?" tanya Marvin pada Rendy.


"Ya, dia bilang visi dan misi kita berbeda dengan apa yang jadi tujuan dari perusahannya. Dia juga bilang kalau kita serakah dan tidak memikirkan nasib orang banyak yang terkena dampak, apabila proyek ini masih dilanjutkan."


Marvin menarik nafas penuh dendam, lalu menjatuhkan pandangannya ke suatu sudut.


"Kita harus cari cara untuk menghancurkan Daniel. Apapun caranya, dia dan perusahaannya harus hancur."


Marvin meraih kunci mobil dan beranjak.


"Lo mau kemana?" tanya Rendy.


Marvin menatap sahabat sekaligus wakilnya tersebut.


"Gue mau mencari cara itu." lanjutnya kemudian.


Rendy diam, Marvin kemudian berlalu.


***


"Gue mau pulang."


Clarissa berujar pada kedua temannya ketika telah hampir satu jam ia berada di tempat itu.


"Lo naik apa?" tanya Nia kemudian.


"Mobil lo belum bener juga?" tanya Kinar.


"Belum, katanya sih lusa."


"Taksinya udah pesen?" Nia kembali bertanya.


"Ntar aja di bawah, sinyal bapuk banget disini." jawab Clarissa.


"Gue balik ya." lanjutnya lagi.


"Oke, hati-hati di jalan." ujar Nia.


Clarissa pun beranjak meninggalkan apartemen tersebut. Sesampainya di bawah, tiba-tiba paket data perempuan itu habis. Minimarket adanya hanya di seberang apartemen.


Maka gadis itu pun berencana membeli paket data di sana. Ia berjalan keluar dari gerbang, kemudian hendak menyeberang. Clarissa yang meleng tak sadar, jika sebuah mobil sport mewah tengah melintas dengan kecepatan tinggi.


Ia baru menyadari ketika tubuhnya nyaris tersambar dan ia pun terjatuh. Si pemilik mobil itu berhenti mendadak dan keluar dari dalam mobil. Meskipun jalanan itu sepi dan ia bisa saja kabur.


"Kamu nggak apa-apa?"


Sebuah suara terdengar penuh kecemasan, dari orang yang tiba-tiba menghampiri. Clarissa menatap orang tersebut, dan seketika waktu pun terhenti. Seorang pria tampan yang mengenakan setelan jas mahal kini berjongkok dan mempertanyakan keadaannya.

__ADS_1


"Saya."


Clarissa menoleh pada mobil yang tadi dikemudikan pria itu.


"Saya..."


"Kita ke rumah sakit aja ya." ujar pria itu kemudian


"Lutut kamu luka dan darahnya banyak." lanjutnya lagi.


Clarissa pun baru menyadari jika semua itu terjadi padanya. Ia tak mampu berkata apa-apa, ketika pria itu secara serta merta menggendong tubuhnya dan membawa ia masuk ke mobil.


Dalam hitungan menit mereka sudah tiba di sebuah instalasi gawat darurat. Clarissa kembali di gendong oleh pria yang bahkan belum ia ketahui namanya tersebut.


Ia ditangani oleh petugas medis yang begitu siaga. Dalam beberapa saat ia kembali di temui oleh pria itu.


"Kamu mau di rawat?" tanya nya kemudian.


"Nggak pak, saya pulang aja. Lagipula dokter bilang, saya nggak parah koq." jawab Clarissa.


"Kamu yakin?" tanya pria itu lagi.


"Yakin, pak."


"Ya sudah, saya antar ya." ujar pria itu.


Clarissa mengangguk. Lalu dengan menggunakan kursi roda ia dibawa menuju ke mobil. Kebetulan tadi semua biaya pengobatan telah ditanggung pria itu.


Si pria kembali menggendong Clarissa untuk yang kesekian kali dan memasukkannya ke dalam mobil. Tak lama mereka sudah terlihat tancap gas meninggalkan rumah sakit.


"Kamu tinggal dimana?" tanya pria itu ketika mobil mereka telah keluar dari gerbang.


Clarissa pun mengatakan dimana alamat apartemen miliknya. Ia baru membeli apartemen itu beberapa bulan lalu.


Ia sengaja pulang kesana dan tak pulang ke rumah sugar daddy yang saat ini masih membiayai hidupnya. Sebab kini perempuan itu memiliki sasaran baru.


Ketika telah sampai, pria itu lagi-lagi menggendong Clarissa dan membawanya ke lift. Sebab Clarissa sendiri agak pincang jika berjalan.


Clarissa membiarkan saja hal tersebut terjadi. Toh tak ada ruginya ini, malah senang di gendong oleh pria tampan.


"Yang mana unitnya?" tanya pria itu ketika telah sampai di lantai 25.


"Itu, yang 2506." jawab Clarissa.


Maka ia menurunkan Clarissa di muka pintu. Clarissa mengambil kunci dan membukanya. Kemudian pria itu memapahnya ke dalam.


Mereka berjalan ke arah sofa, namun kemudian Clarissa membuat gerakan jatuh dengan sengaja. Dan si pria yang memeganginya pun nyaris ikut terjatuh, dengan posisi wajah yang kini begitu dekat dengan wajah Clarissa.


"Are you single?" tanya Clarissa dengan berani.


"Ya." jawab pria itu seraya terus menatap Clarissa. Tak lama keduanya pun berciuman.

__ADS_1


"Bapak sudah tau nama saya, tapi saya belum tau nama bapak." ujar Clarissa pada pria itu, ketika mereka sudah puas berciuman dan saling bersentuhan.


"Marvin." jawab pria itu kemudian.


__ADS_2