Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pulang Sejenak


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan pulang menuju rumah pasca pesta Ellio usai. Darriel terus membuka mata dan menatap Lea dengan tatapan super julid.


"Dia kenapa sih, Le?" tanya Daniel pada sang istri.


Tadi sekembali dari rumah sakit, Daniel menjemput Lea di lokasi. Sebelum itu Lea mendrop Marsha dari rumah sakit ke lokasi pernikahan. Untuk menemui terlebih dahulu orang tua dan keluarganya.


Setelah bertemu barulah diputuskan, jika Marsha pulang ke rumah orang tuanya terlebih dahulu untuk beristirahat.


Praktis saat itu Lea tetap berada di lokasi dan menemani tamu undangan. Beserta dengan para karyawan yang dekat dengan Ellio dan juga teman-teman kampus Lea sendiri.


Sepanjang menunggu kedatangan Daniel, Darriel tampak sewot setengah mati. Sepertinya ia benci keramaian, sebab tidur bayi itu menjadi terganggu. Kini setelah di mobil ia kembali menatap dengan penuh dendam.


"Kayaknya dia nggak suka keramaian deh mas, tidurnya jadi terganggu." jawab Lea.


"Padahal udah pake penutup telinga ya." tukas Daniel.


"Masih kedengaran kali, ini kan busa doang nih sama bulu-bulu."


Lea memegang penutup telinga Darriel yang mirip dengan penutup telinga, ketika cuaca tengah bersalju.


"Sampe segitu judesnya loh dia." ucap Daniel seraya tertawa.


Ia memperhatikan Darriel yang ada dalam keranjang, sambil berkonsentrasi mengemudi. Mereka berjalan lambat kali itu.


"Tau nih, kayak ngerti aja." tukas Lea.


"Tua kamu ya nak?. Baru juga umur sebulan lebih." ucap perempuan itu lagi.


Maka Daniel pun tertawa mendengar hal tersebut.


"Kayaknya benih aku ketuaan, kelamaan nggak dijadiin bayi. Makanya pas lahir, sifat Darriel langsung tua." seloroh daniel.


Sepasang suami istri itupun tertawa. Lea agak menutup bagian atas keranjang bayi, bermaksud tak melihat ekspresi Darriel. Namun kemudian ia iseng mengintip dan Darriel kembali memberinya lirikan yang sama.


"Dih, kenapa kamu?. Masih dendam aja heran." ujar Lea kemudian.


Daniel kembali tertawa.


"Mama nyanyiin anak ikan lele ya?"


"Ya jangan dong." Daniel menghentikan niat buruk Lea sambil masih tertawa.


"Abisnya judes banget, mas. Ntar aku nyanyiin nangis." ujar Lea.


Mobil mereka terus melaju, hingga sampailah mereka ke penthouse.


"Nah kita udah sampai." Daniel berkata pada Darriel.


Lea tersenyum.


"Kita disini dulu ya." ucap pria itu.


"Papa mau memulai project anggota keluarga baru." selorohnya lagi.


Lea memukul lengan suaminya itu sambil tertawa. Sesaat kemudian mereka keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


***


Esok pagi, ketika matahari mulai naik ke permukaan. Ellio membuka mata dan mendapati Marsha sudah ada di sisinya.


"Kapan kamu kesini?" tanya Ellio sambil tersenyum.


"Udah dari tadi." jawab Marsha.


"Maafin aku ya, gara-gara aku acara pernikahan kita jadi kacau."


Marsha menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Ini bukan salah bapak, lagian juga acaranya udah selesai koq. Nggak usah dipikirin lagi."


"Kamu masih juga manggil aku kayak gitu?" lagi-lagi Ellio bertanya.


Marsha sedikit menunduk dan tersenyum.


"Saya belum terbiasa, pak." ucapnya kemudian.


Ellio kembali tersenyum.


"Aku mau ke kamar mandi dulu, mau cuci muka sama gosok gigi." ujarnya


Maka Marsha pun membantu suaminya itu untuk menuju ke kamar mandi. Usai membersihkan diri, ia kembali ke tempat tidur. Kali ini ia sudah lebih percaya diri untuk memeluk dan mencium Marsha.


***


Malam kembali hadir, setelah orang-orang melewati hari-hari mereka dengan sibuk bekerja. Lea dan Daniel hanya berkutat mengurus penthouse dan juga Darriel seharian ini.


"Lea."


Daniel mendekat ke arah Lea yang berdiri di dekat sebuah meja sudut. Lea tengah melihat lampu-lampu dari gedung di area luar penthouse.


"Iya mas?"


Daniel mengecup bibir istrinya itu secara serta merta. Lea agak kaget, namun kemudian ia membalas sambil melingkarkan tangan di leher sang suami. Sementara tangan Daniel kini berada di pinggang sang istri.


Daniel menaikkan dress Lea ke atas di saat ciuman mulai panas. Di dorongnya tubuh Lea ke meja sudut, kemudian Daniel menyuruhnya duduk di sana.


Daniel mengusap dan memperhatikan perut Lea yang masih besar dan belum rata akibat melahirkan. Lea sejatinya agak tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya tersebut. Ia takut gairah Daniel sebagai suami mendadak hilang.


"Mas, aku jelek ya?" tanya Lea dengan nada yang terkesan insecure.


Daniel tersenyum pada istrinya itu.


"Malahan mau aku isi lagi, biar gede terus. Cantik soalnya."


Lea tersenyum, Daniel kembali mencium bibir istrinya itu. Lalu mereka pun kembali melakukan hubungan suami-istri.


Daniel benar-benar memanfaatkan momen demi menuntaskan dahaganya, pasca Lea melahirkan Darriel. Ia benar-benar membuat Lea meracau keenakan.


Bahkan perempuan itu kini menjadi semakin nakal di ranjang, akibat ulah suaminya sendiri. Dulu ia tak seperti itu dan masih malu-malu. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Daniel makin menyukai sikap Lea yang terlihat seperti wanita penggoda.


"Hhhh."

__ADS_1


Keduanya terhempas, ketika Daniel telah mengeluarkan cairan cintanya didalam rahim Lea. Tampak keduanya begitu puas, dan tak bisa berkata-kata. Hanya senyuman saja yang terkembang di bibir masing-masing.


"Mas, mas tuh mau punya anak banyak?" tanya Lea pada Daniel.


"Kalau dikasih ya, mau. Tapi kalau nggak, Darriel juga udah cukup koq. Semoga dia nggak bikin bapaknya ngerasa punya anak sepuluh saking repotnya ngurus dia."


Lea tertawa.


"Makanya jangan terlalu di manjain." ujarnya kemudian.


"Nanti nih biangnya kamu, ayah, om Ellio yang bakal manjain dia. Ngelunjak dia ntar." lanjut perempuan itu.


Daniel tertawa.


"Ya nggak bakal di manjain terus koq. Tapi sekali-kali boleh lah." tukasnya


"Atur aja mas, jangan sampai Darriel menjadi anak yang songong nantinya."


"Iya, tenang aja. Serahkan sama bapaknya." ujar Daniel lagi.


Keduanya kembali berciuman. Daniel memeluk Lea dalam keadaan tubuh mereka hanya tertutup selimut.


"Nggak mandi mas?" tanya Lea.


"Ntar aja, siapa tau pengen lagi."


"Ih kamu mah, otaknya nggak bener." ujar Lea sambil tertawa.


"Ini salah kamu, bukan salah aku." Daniel membela diri.


"Koq salah aku?" tanya Lea heran.


"Soalnya kamu centil sekarang, gatel."


Lea tertawa, begitupula dengan Daniel.


"Ntar Darriel bangun loh mas, kita masih belum mandi. Kan harus bersih kalau pegang dia."


"Iya bentar lagi kita mandi koq, pelukan dulu. Kangen tau aku, dirumah Richard nggak enak mau begini. Takut dia iri."


"Hahaha." Keduanya kembali tertawa-tawa.


"Lagian ayah bukannya nikah, masih aja betah sendiri."


"Namanya juga Richard. Dia sama Dian tuh sama aja hatinya, masih suka mencla-mencle. Jadi ya terserah mereka aja.


"Iya sih, udah pada dewasa ini." ucap Lea lalu mencium pipi Daniel.


"Kita nggak boleh ikut campur urusan pribadi orang terlalu dalam. Jangan kayak netijen." ujar Daniel.


"Orang nikah di urusin, nggak nikah di urusin. Punya anak cepat di curigain, belum punya anak dikatain." lanjutnya kemudian.


"Sama satu lagi mas, masalah agama orang jangan lupa. Itu juga paling sering diurus netijen. Padahal agama mereka aja belum tentu dijalankan dengan baik. Palingan cuma KTP doang."


"Hahaha."

__ADS_1


Keduanya kembali tertawa-tawa, dan melanjutkan obrolan serta candaan sampai jauh.


__ADS_2