Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Check Up


__ADS_3

"Mas, bentar lagi aku jalan. Mau ke rumah sakit, cek kandungan. Hp aku tinggal, soalnya takut ketahuan kalau di bawa."


Lea mengirim pesan singkat pada suaminya, Daniel. Ketika dirinya memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit, guna memeriksakan kandungannya.


"Kamu pergi ke rumah sakit mana?" tanya Daniel.


Kebetulan handphone tengah berada di dalam genggaman tangannya, saat Lea mengirim pesan. Sehingga Daniel dapat langsung membalas pesan tersebut. Lea menyebutkan nama rumah sakit yang hendak dia datangi.


"Ok, hati-hati di jalan. Nanti kabarin aku, kalau kamu udah balik lagi ke rumah."


"Ok mas."


"Lea."


Tiba-tiba Richard memanggil sambil membuka pintu, Lea buru-buru mematikan handphone dan menyembunyikannya.


"Iya, ayah." ujarnya sambil berusaha menyembunyikan ketakutan. Ia sudah sangat cemas sekali, takut kalau Richard akan melihat handphone yang ia miliki.


"Kamu udah siap?" tanya pria itu kemudian.


"Mmm, udah yah."


"Ayo...!" ujar Richard mengajaknya bergegeas.


Lea pun mengikuti langkah ayahnya itu menuju ke halaman parkir, yang ada di bawah. Sesaat kemudian supir membukakan pintu mobil, Lea masuk terlebih dahulu. Kemudian diikuti oleh Richard.


Disepanjang perjalanan, Lea lebih banyak melamun. Ia berharap Daniel lah yang menemaninya. Meski ia mulai sayang pada Richard, dan meski Richard adalah ayah yang sangat ia nantikan selama ini. Namun hormon kehamilan membuatnya sedikit melow. Harusnya Daniel ada dan mendampingi pertumbuhan janin, yang tengah ia kandung.


"Kamu kenapa diem aja?" tanya Richard heran, agaknya ia bisa menangkap kesedihan di mata Lea.


"Ngantuk yah." ujar Lea berkilah, sambil tersenyum tipis. Ia tengah memanipulasi keadaan, supaya Richard tidak curiga.


"Ya udah, tidur aja kalau ngantuk. Nanti pas sampai, ayah bangunkan kamu."


"Nanti malah keterusan ngantuknya, yah. Abis dari rumah sakit ini, aku harus mencatat pelajaran kuliah aku yang tertinggal. Kan ayah nggak mengizinkan aku memegang perangkat apapun, jadi mau nggak mau aku harus mencatat. Aku nggak mau sampai di D.O dari kampus, aku harus selesaikan kuliah aku."


Lea menyerang psikis ayahnya, mendadak Richard merasa telah begitu egois dan tega pada anaknya sendiri. Padahal Lea sejatinya memiliki MacBook dan handphone yang ia sembunyikan di kamar.

__ADS_1


Sesuai apa yang telah di katakan oleh Daniel. Richard baru akan melunak, setelah ia sadar jika perbuatannya itu salah. Maka dari itu Lea menggunakan efek sindiran, untuk menyerang mental ayahnya itu.


Mobil terus berjalan, gantian Richard yang terpaku dalam diam. Lea sejatinnya ingin tertawa, namun ia pun saat ini tengah berada dalam keadaan yang tak begitu baik. Ia harus berhasil membuat Richard merasa bersalah padanya. Karena itu satu-satunya cara, agar Richard bisa membiarkan anak dan sahabatnya bahagia.


***


Setibanya di rumah sakit, Lea agak sedikit menunggu. Meski sudah membuat janji dengan dokter, namun agaknya ia datang sedikit lebih awal. Pasalnya masih ada beberapa yang mengantri sebelum dirinya.


Satu persatu antrian masuk, dan hanya tersisa satu orang lagi di dalam. Habis ini giliran Lea, namun tiba-tiba Richard menerima telpon. Ia menjauh sejenak dari sang anak, dan berbicara dengan orang yang menghubunginya.


Baru saja selesai, ia menerima lagi telpon yang lainnya lagi. Hingga ketika nama Lea dipanggil, Richard masih saja sibuk berbicara panjang lebar, melalu perangkat yang ada di tangannya tersebut.


Lea melangkah sendiri ke arah pintu ruang periksa, tak mungkin juga ia mendesak Richard untuk menemaninya. Karena siapa tau telpon itu sangat penting bagi sang ayah.


Lea terus berjalan, sampai kemudian muncul seseorang yang tiba-tiba saja langsung menggandeng tangannya. Lea terkejut, karena orang tersebut ternyata adalah Daniel. Lea menoleh ke arah Richard dan kebetulan ayahnya itu tak melihat ke arah mereka. Segera saja keduanya masuk dan menemui dokter.


"Mas, kalau ayah tau gimana?" ujar Lea pelan, ketika pintu ruang periksa telah tertutup.


"Ssstt." ujar Daniel seraya menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.


"Semua akan baik-baik aja. Temen-temen aku dan beberapa rekan bisnis Richard, udah aku suruh nelponin dia." lanjut Daniel.


Daniel tersenyum, sementara Lea masih bingung. Tak lama mereka pun menemui dokter.


Lea berbaring di sebuah tempat tidur, dokter memeriksa kandungannya dan Daniel berada tepat disisi Lea. Mereka mulai mempertanyakan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan.


Mengenai berbagai keluhan yang dialami Lea akhir-akhir ini, dan juga apa saja hal yang tak boleh ia lakukan selama menjalani masa sembilan bulan ke depan. Dokter menjawab setiap pertanyaan mereka dan banyak hal yang mereka pelajari hari itu.


"Kamu ikut aku pulang, ya." ujar Daniel ketika sesi telah selesai dan mereka bersiap keluar dari ruangan.


"Tapi mas, ayah?"


"Richard mungkin masih nelpon, kita lewat jalur kiri."


Lea mengangguk, kenapa harus menunggu lama jika bisa dilakukan hari ini. Daniel mengelus bayi yang ada di perut Lea, lalu kini mereka bergandengan tangan dan bersiap keluar.


Namun, saat pintu sedikit terbuka. Mereka melihat Richard telah berdiri di dekat kursi paling depan, dengan mata tertuju ke arah pintu ruangan.

__ADS_1


"Mas, kayaknya kita nggak bisa deh." ujar Lea ketakutan.


"Tapi, Lea. Ini satu-satunya kesempatan kita."


"Kita punya kesempatan lain, kita nggak boleh egois. Ini rumah sakit dan kita nggak bisa membuat keributan disini. Udah pasti kalian akan ribut gede."


Daniel terdiam, sepertinya waktu dan keadaan saat ini, sangat tidak memungkinkan bagi mereka untuk bertindak.


"Setelah pulang dari sini kita pikirin lagi caranya, mas." Lea kembali berujar.


Daniel menghela nafas, agak berat baginya untuk merelakan. Namun akhirnya ia memilih untuk mengalah.


"Ok." ujarnya kemudian.


Ia lalu mencium kening, bibir dan juga mengelus serta mencium perut Lea.


"I love you." ujarnya dengan nada yang terdengar penuh emosional.


"I love you too."


Lea segera keluar dan menghampiri Richard. Ia membuat ayahnya itu menoleh ke arah lain. Sehingga Daniel bisa keluar dan mengambil arah berlawanan.


"Kamu udah selesai?" tanya Richard.


"Udah yah." jawab Lea.


"Dokter bilang apa tadi?"


"Bayi aku sehat, cuma aku katanya stress dan tertekan."


Lagi-lagi Lea menyerang psikis Richard, membuat ayahnya itu kian merasa bersalah.


"Ayo yah, kita pulang." ujar Lea lagi.


Richard pun mengikuti langkah anaknya tersebut. Dari sebuah sudut, Daniel masih memperhatikan keduanya. Ia sedih, karena belum bisa membawa Lea pulang ke rumah. Namun ia juga bahagia atas hari ini. Ia bisa menyentuh dan mencium istri serta bayinya itu, walau hanya sejenak.


Di sepanjang perjalanan pulang, Lea memalingkan wajah ke sisi jalan. Richard lagi-lagi di hantui rasa bersalah, ia benar-benar yakin jika saat ini Lea tengah mengalami stress.

__ADS_1


Padahal Lea tengah senyum-senyum sendiri, sambil mengingat pertemuan singkatnya tadi dengan Daniel. Dan Richard tak mengetahui akan hal tersebut.


__ADS_2