Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Perubahan Lea


__ADS_3

"Awas lo kalau bunuh diri lagi."


Daniel mengancam Ellio, ketika ia dan Richard mengantar sahabatnya itu pulang ke rumah. Ellio memang seharusnya telah kembali dari rumah sakit sejak dua hari lalu.


Namun baik Daniel maupun Richard tetap menahannya di rumah sakit. Mereka ingin memastikan pada dokter, apakah kondisi mental Ellio memang sudah siap untuk pulang atau belum.


Mereka tidak ingin terkecoh, sebab Ellio memang sangat pandai berakting, dalam menyembunyikan kesedihannya. Untuk hal lain dia tidak piawai, tapi untuk urusan menyembunyikan perasaan rapuh dialah jagonya.


"Iye, kagak. Kalau gue bohong, lo berdua gue beliin Tesla yang baru." ujar Ellio.


"Kalau lo nya bunuh diri lagi dan mampus, siapa yang bakal beliin gue sama Daniel Tesla?" Richard berseloroh sewot, diikuti tawa Ellio yang pecah.


"Iya juga ya." ujarnya kemudian.


"Udah, pokoknya lo istirahat. Kalau lo macem-macem, gue nggak akan maafin lo." ujar Daniel.


"Iya, Dan. Kalau dia bunuh diri, biarin aja nggak usah kita kubur mayatnya. Biar dia gentayangan dan tersiksa." timpal Richard.


"Kejam amat lu, Bambang." Ellio sewot.


"Lo aja kejam sama diri lo sendiri." ujar Richard lagi.


"Iye, percaya sama gue. Gue bilang kagak ya kagak."


Daniel dan Richard saling bersitatap dan seolah memberi kode satu sama lain.


"Ya udah, gue sama Daniel mau ngantor lagi." ujar Richard.


"Iya, tunggu gue dua hari lagi." ujar Ellio.


Daniel dan Richard pun berpamitan. Ketika pintu telah ditutup, Ellio terduduk lesu dan termenung di kursi. Betapapun kuatnya ia menyembunyikan di depan kedua sahabatnya itu. Tetap ada yang tak bisa ia bohongi, ya perasaannya sendiri. Luka dikhianati itu masih membekas di hatinya.


"Ngapain lo duduk termenung gitu?"


Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang entah berasal dari mana, dan itu adalah suara Daniel.


"Tau lo, mending tidur kek, makan kek, atau ngerjain kerjaan di laptop." Richard menimpali.


"Lo berdua pasang cctv di rumah gue dan nyambung ke perangkat lo ya, bangsat?" tanya Ellio sewot. Antara kesal dan ingin tertawa, karena telah di sadap oleh kedua sahabatnya sendiri.


"Iya, makanya lo jangan macem-macem." ujar Daniel sambil menahan tawa. Ia dan Richard kini masih berada di dalam mobil dan memantau dari layar monitor.


"Brengsek lo berdua emang. Ya udah gue tidur di kamar mandi, biar lo berdua nggak ganggu privasi gue."


"Di kamar mandi lo juga kita pasang koq." ujar Richard sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Brengsek." Ellio beralih ke kamar mandi dan melihat kesana kemari.


"Eh lo pasang dimana, bangsat?" gerutunya pada Daniel dan juga Richard.


Kedua sahabat itu masih kompak menahan tawa, karena sejatinya memang tidak ada di kamar mandi. Namun mereka hanya menakuti Ellio saja, supaya pria itu tak berbuat hal bodoh lagi di manapun.


"Pokoknya di seluruh penjuru rumah lo udah ada." ujar Daniel.


"Kalau dalam seminggu ini lo bener-bener bisa meyakinkan gue dan Richard, kalau lo udah nggak bego. Gue sama Richard akan copot pemasangannya."


"Tapi lo melanggar privasi gue, Dan. Anak laknat emang lo berdua."


Daniel dan Richard benar-benar tak kuasa menahan tawanya kali ini.


"Pokoknya lo sekarang sedang dalam tahap pengujian." ujar Richard kemudian.


"Richard, please. Lo nggak bisa ngelakuin hal ini ke gue."


Daniel mematikan tombol layar monitor dan sound, sehingga mereka tak bisa lagi mendengar suara Ellio. Mereka kemudian menghidupkan mesin mobil dan berlalu meninggalkan tempat itu. Sementara Ellio masih berteriak memanggil keduanya.


"Richard."


"Daaan."


"Brengsek." ujarnya kesal, namun kemudian ia tertawa.


"Mas."


Lea memeluk Daniel dengan erat ketika pria itu menjemputnya di kampus. Tak biasanya Lea bersikap sedemikian manja, terlebih di depan umum. Daniel membalas pelukan Lea, meski banyak mahasiswa dan mahasiswi yang sedikit melirik.


"Ya udah, masuk mobil ya." ujar Daniel.


Lea mengangguk. Saat keduanya sudah duduk di dalam mobil dan memasang seat belt, Lea secara serta merta mencium bibir sang suami.


Daniel benar-benar terkejut dengan sikap spontan istrinya tersebut. Namun akhirnya ia membalas ciuman itu dengan sangat.


Di sepanjang perjalanan, Lea terus-terusan meraih tangan Daniel dan menciuminya. Seakan ia lama tak bertemu dengan suaminya itu.


"Aku kangen sama mas." ujarnya kemudian.


Daniel diam, namun pada sebuah titik ia menghentikan mobil di bahu jalan. Ia lalu memeluk Lea dan memberikan ciuman pada istrinya itu. Cukup lama mereka berada di sana, sampai kemudian mobil kembali berjalan.


"Mas, jangan mandi dulu."


Lea memeluk Daniel dari belakang, ketika Daniel melangkah ke arah lift dan hendak menuju ke atas. Lagi-lagi Daniel mengalah, mungkin hormon Lea tengah bergejolak pikirnya. Atau mungkin gadis ini habis menonton drakor atau drama romantis dari negara lainnya. Sehingga menyebabkan ia mengalami perubahan perilaku seperti itu.

__ADS_1


"Kamu mau aku peluk?" tanya Daniel seraya menatap istrinya itu dengan tenang.


"Iya." jawab Lea dengan matanya yang membesar. Daniel pun mendekat, lalu tubuh tingginya yang sexy itu memeluk tubuh sang istri dengan erat.


Lea tampak menikmati, di usapnya dada bidang sang suami dan di ciumnya pula bagian yang sama dengan lembut. Membuat nafas Daniel yang semula tenang, perlahan jadi memburu dan mulai tak teratur.


Daniel mengangkat dagu Lea dan mencium bibirnya dengan lembut. Lea membalas Daniel dengan sangat agresif, bahkan lebih liar dari biasanya. Sepertinya gairah perempuan itu tengah berada di puncak kepala.


Melihat tingkah sang istri yang demikian, Daniel segera mengangkat tubuh Lea dan menggendongnya. Mereka tetap berciuman, dengan tangan Lea kini melingkar di dada sang suami.


"Mas."


"Lea, hmmh."


Daniel menyandarkan tubuh sang istri ke dinding, namun tetap berada dalam gendongannya. Ia menurunkan bagian atas dress Lea dan mulai menciumi bagian padat kembar di dada Lea. Sementara Lea menjambak rambut sang suami sambil menyebutkan namanya.


"Mas Dan, hmmh."


"Sshh."


Daniel membuka resleting celananya dan mencuatlah sesuatu di sana. Ia terus memberikan pemanasan pada Lea, sampai Lea benar-benar memohon.


"Mas, pelase...!"


Lea meminta dengan sangat sambil menatap mata suaminya. Dengan nafas yang sudah sangat memburu, Daniel segera memegang kendali. Ia mulai memasukkan, sambil matanya tak henti menatap Lea.


Posisi mereka masih sama seperti tadi, Lea masih berada dalam gendongan Daniel dan disandarkan ke dinding.


"Aaaakh."


Dalam sekejap semuanya masuk, terbenam sempurna di relung kehangatan. Tangan Lea semakin erat melingkar di leher sang suami. Lalu mereka berciuman, seiring dengan gerakan naik turun yang diberikan Lea dan juga hentakan yang diberikan oleh Daniel.


Erangan, racauan dan ******* mulai terdengar di segala penjuru. Keduanya benar-benar menikmati hubungan itu. Keringat mengalir deras di sekujur tubuh, setelah beberapa menit penyatuan.


"Kamu memang ******, Lea."


Daniel mengeluarkan kata-kata kasarnya sambil terus memompa, Lea sendiri menatap Daniel sambil terus mendesah. Membuat Daniel kian bertekuk lutut serta tergila-gila.


"Ah maaaas."


"Aaaakh."


Keduanya berteriak dengan tubuh yang sama-sama menegang, lalu bergetar seperti tersengat aliran listrik. Benih cinta kembali mengalir dengan hangat di rahim perempuan itu. Lea terkulai lemas namun puas di pelukan sang suami, sementara Daniel kini berusaha mengatur nafas.


"Lea." bisik Daniel di telinga sang istri.

__ADS_1


"Iya mas." jawab Lea seakan masih betah memeluk Daniel. Daniel tak lagi menjawab, ia hanya tertawa sambil mengusap-usap punggung istrinya itu.


Lalu keduanya diam dan larut dalam perasaan yang begitu emosional.


__ADS_2