
Ada sebuah urusan bisnis yang membuat Daniel dan Hanif akhirnya bertemu. Tentu saja guna membahas hal tersebut. Tetapi kemudian Hanif bercerita mengenai urusan perceraiannya dengan Nadya.
Daniel tentu kaget mendengar semua itu. apalagi Hanif bilang jika pihak Nadya menolak untuk di mediasi.
"Bukannya istri lo itu pendiam banget ya. Koq bisa dia bersikeras mau pisah?"
Daniel tak terpikir jika seseorang yang sudah tersakiti sejak lama, bisa saja memberontak. Terlepas dari seberapa lemah atau kuatnya orang tersebut.
"Kayaknya gue pernah bilang deh ke lo. Kalau bini gue itu sekarang lagi dekat sama laki-laki yang gue nggak tau siapa." ujar Hanif.
Daniel diam, ia lupa soal kapan Hanif pernah memberitahukan hal tersebut. Sebab terlalu banyak hal yang ia pikirkan.
"Waduh, gue lupa bro." ujar pria itu.
"Ya pokoknya gitu lah. Bini gue emang lagi dekat sama seseorang itu, makanya dia ngebet mau pisah dari gue." tukasnya lagi.
Daniel diam namun masih mendengarkan.
"Awas aja sampe gue tau, gue akan bikin perhitungan." ujar Hanif.
"Tempo hari gue udah ribut sama Irwan. Ternyata istri kedua gue si Yayah minta cerai, karena dia." imbuhnya.
"Istri kedua lo juga minta cerai?" tanya Daniel seraya mengerutkan dahi.
"Lah, iya. Kan gue pernah cerita juga ke lo." ujar Hanif.
Daniel menarik nafas agak dalam.
"Aduh, lupa juga gue bro. Karena banyak yang gue pikirkan dan faktor usia juga kayaknya." ucap Daniel.
"Udah gue kabulkan dan gue ceraikan." ujar Hanif.
"Oh, udah cerai?" tanya Daniel lagi.
"Udah, dan kalau si Nadya gue masih nggak mau menceraikan. Keenakan laki-laki yang menghasut dia itu nantinya." jawab Hanif.
Benak Daniel memperkirakan Hanif bukan tak ingin menceraikan Nadya karena hal tersebut. Melainkan karena Nadya itu sangat cantik.
Ia tak mau kecantikan Nadya dimiliki pria lain. Sedangkan Yayah hanya sexy dan pandai bermake-up, tetapi tidak secantik Nadya.
"Gue cuma bisa mendoakan yang terbaik aja, bro." ujar Daniel.
"Thanks, bro. Kalau misalkan lo ada informasi atau tau siapa yang dekat sama bini gue. Lo boleh kasih tau ke gue." tukas Hanif.
"Masalahnya bini gue itu cuma pernah ketemu sama para pengusaha yang gue kenal. Pasti salah satu diantara mereka yang udah menikung gue." tambahnya lagi.
"Yang jelas bukan gue ya."
Daniel mewanti-wanti.
"Gue nggak ada ketertarikan buat punya bini banyak. Bini satu, anak satu aja gue pusing." ucap pria itu lagi.
__ADS_1
"Iya, gue percaya sama lo." tukas Hanif.
Maka obrolan itu pun disudahi dan mereka mengganti topik lain.
***
Sore itu Daniel menjenguk Richard bersama dengan Ellio dan juga Lea. Ia menceritakan soal Hanif yang mengadu kepadanya.
"Jadi istrinya Hanif udah mantap banget buat cerai?"
Ellio berpura-pura kaget dan seolah tidak tau. Ia juga bermaksud menyindir Richard. Meski sejatinya ia memang mendukung kebahagiaan sahabatnya tersebut.
Tetapi ia agak kurang suka bila Richard mencintai istri orang, apalagi sampai merusak rumah tangga mereka.
Meski pria semacam Hanif memang sangat perlu ditinggalkan oleh wanita sebaik dan secantik Nadya. Tetap saja Ellio menilai posisi Richard itu salah, kecuali kalau Nadya memang sudah janda.
"Iya, katanya sih gitu." jawab Daniel.
"Yang ngedeketin bininya ya, orang-orang di antara kita juga. Yang pernah dipertemukan Hanif ke istrinya." lanjut pria itu kemudian.
"Bukan gue loh ya."
Ellio melakukan pembelaan diri.
"Gue nggak minat sama bini orang." tambahnya kemudian sambil tertawa.
Lea yang mengetahui hal tersebut hanya diam, begitupula dengan Richard sendiri. Ia hampir saja mengakui hal itu di depan mereka semua.
Lantaran ia bukanlah orang yang bisa disinggung mengenai sesuatu. Ia selalu siap bertanggung jawab atas pilihan yang sudah ia ambil.
Andai ini terjadi di luar, ia tidak akan peduli pada apapun. Toh sedari kecil mereka berteman, mereka bertiga bukan tidak pernah bertengkar sama sekali.
Mereka sering berbeda pandangan serta pendapat mengenai sesuatu dan itu tak masalah. Seandainya bertengkar hari ini pun, besok atau lusa mereka akan berbaikan kembali.
"Ya semoga aja si Hanif diberikan jalan keluar yang terbaik." tukas Ellio.
"Iya sih, lagipula mungkin dia kayak gitu karena karma. Nggak mungkin istri tuanya nggak sakit hati sama kelakuan dia."
Daniel mengeluarkan pendapat yang terdengar cukup netral. Sesaat kemudian topik obrolan pun berganti.
***
Di kediaman Richard.
Ira salah satu pembantu Richard yang baru saja keluar dan hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba dihampiri oleh seseorang. Kebetulan pintu pagar memang telah dibuka, sebab mobil akan segera keluar.
"Ira."
Orang tersebut menyapa Ira.
"Loh, mbak Dian toh?"
__ADS_1
Ira kaget dengan kehadiran mantan kekasih dari bosnya tersebut.
"Iya mbak, apa kabar?" tanya Dian.
"Harusnya saya yang nanya, mbak Dian apa kabar?. Sebab udah lama saya nggak melihat mbak." jawab wanita itu.
"Terakhir kalau nggak salah si Lita katanya pernah melihat mbak beberapa hari lalu." lanjutnya kemudian.
"Iya mbak, pak Richard ada?" tanya Dian.
Ira memperhatikan perempuan itu dan melihat perutnya yang membuncit karena hamil.
Entah mengapa tiba-tiba pikirannya menjadi curiga jika Dian hendak meminta tanggung jawab dari Richard. Mungkin saja saat ini Dian tengah mengandung anak dari majikannya tersebut, pikir Ira.
"Pak Richard sekarang di rumah sakit, mbak." jawab Ira.
"Rumah sakit?"
Dian benar-benar kaget mendengar semua itu.
"Pak Richard sakit apa?" tanya nya dengan wajah yang begitu khawatir.
"Serangan jantung, mbak." jawab Ira.
"Hah?"
Dian kian bertambah kaget lagi, dan jantung perempuan itu kini berdegup kencang. Sementara tubuhnya sangat gemetaran.
"Dirumah sakit mana dia sekarang, gimana keadaannya?"
Dian benar-benar khawatir. Lalu Ira pun memberitahu dimana sang majikan dirawat. Dian berterima kasih kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.
***
Di perjalanan pulang usai menjenguk Richard, Lea terpikir akan pembahasan yang ia dengar sebelumnya di tempat tersebut.
Ia kini menatap ke arah Daniel yang fokus menyetir mobil. Rasa-rasanya ia ingin segera memberitahukan bahwa Richard lah pria yang saat ini sedang mendekati Nadya.
Lea ingin memberi pengertian pada suaminya sekaligus meminta agar pria itu menerima, jika sang mertua saat ini memiliki hubungan dengan istri dari Hanif tersebut.
"Mas."
Ia hendak memulai percakapan.
"Iya, kenapa Le?" tanya Daniel seraya menoleh sekilas, lalu kembali menatap jalan raya.
Entah mengapa Lea mendadak ragu atas niatnya sendiri.
"Hmm, kita mau jemput Darriel dulu." ujarnya.
"Jemput Darriel dulu, apa bikin adiknya Darriel dulu?" goda Daniel.
__ADS_1
"Ih kamu mah."
Lea tertawa kecil, namun tujuannya kini gagal. Ia tak punya keberanian untuk mengungkapkan semua tentang Richard.