
"Lea, ayah mau tanya. Apa selama ini Daniel selalu kasar memperlakukan kamu?"
Richard mencoba berbicara pada putrinya yang baru selesai sarapan pagi.
"Nggak ayah, cuma kemarin itu doang. Dia orangnya baik banget, nggak pernah kasar sama aku." jawab Lea.
"Kamu bicara kayak gini, bukan karena kamu lagi hamil aja kan?. Bukan karena kamu takut bercerai, dan akhirnya mengurus anak sendirian."
"Nggak yah, mas Dan emang baik. Ayah kan udah bertahun-tahun berteman sama dia, masa ayah nggak paham sifatnya dia."
"Hhhh."
Richard menghela nafas, ia membuang tatapannya ke suatu sudut lalu kembali menatap Lea.
"Ayah takut, Lea. Takut ini semua terlalu dini untuk kamu. Andai ayah tau lebih awal kalau kamu adalah anak ayah, ayah nggak akan suruh kamu masuk ke agency itu. Kamu masih terlalu muda, agency itu sebenarnya bisa di pidana kan. Ayah akan tuntut mereka, karena telah mengeksploitasi anak di bawah umur."
Lea menunduk.
"Terserah ayah kalau mau menuntut mereka, tapi ayah juga ketemu sama kak Dian di agency itu kan?. Waktu itu kak Dian juga masih sekolah dan masih di bawah umur, tapi ayah nggak masalah. Ayah lupa kalau anak perempuan lain juga punya orang tua, yang mungkin kecewa anak mereka seperti itu."
Lea memberanikan diri menatap mata Richard.
"Ayah seenaknya mengambil dan memelihara anak perempuan orang. Tapi ketika itu terjadi sama anak ayah sendiri, ayah marah dan nggak terima. Bukankah setiap perbuatan ada ganjarannya?"
Richard tersentak dan menatap puterinya itu dalam-dalam.
"Ayah boleh melakukan hal seenaknya, tapi nggak mau menerima karma. Ayah nggak apa-apa anak perempuan orang diperlakukan seperti peliharaan, tetapi anak ayah sendiri nggak boleh. Kenapa harus menetapkan double standart?. Sama aja kayak orang yang nggak suka istri, pacar, atau anak perempuannya berpakaian terbuka. Selalu menyuruh mereka tampil tertutup, tapi dia sendiri menyukai kalau ada cewek sexy yang lewat di depan dia. Ngelike cewek berpakaian minim yang ada di beranda sosial medianya."
"Ayah nggak suka kamu mendikte ayah, Lea. Seburuk-buruknya seseorang, dia pasti menginginkan yang terbaik untuk pasangan maupun anak perempuannya."
__ADS_1
"Dan ayah lupa ketika kita buruk, kebaikan nggak akan pernah datang. Kecuali kita merubah diri dulu menjadi baik. Karena baik dan buruk itu adalah dua energi yang berbeda, dan setiap energi akan menarik energi yang sama. Keburukan akan menarik keburukan, kebaikan akan menarik kebaikan juga. Bagaimana mungkin ayah berharap yang terbaik untuk anak ayah, sedang ayah sendiri masih memperlakukan anak orang dengan buruk."
Richard menghela nafas, baru kali ini ia kalah bicara dengan seseorang. Dan parahnya lagi orang tersebut adalah anaknya sendiri, yang bahkan masih berusia di bawah dua puluh tahun.
"Aku mau pulang, yah. Aku mau ketemu mas Daniel."
Lagi-lagi Richard menghela nafas.
"Sebaiknya kamu berfikir ulang." Richard kembali menatap dalam ke mata puterinya itu.
"Apa kamu sudah merasa cukup dengan semua ini?. Apa pernikahan ini adalah tujuan terakhir dari hidup kamu?. Kamu masih sangat muda, Lea. Memiliki anak di usia yang bahkan belum 20 tahun, itu akan jadi hal terberat dalam hidup kamu."
Kali ini Lea yang terdiam.
"Kamu akan tumbuh, menjadi lebih dewasa dari hari ke hari. Kamu akan melihat betapa banyak perempuan di luar sana yang masih menikmati kebebasannya. Sedang kamu terjebak ke dalam pernikahan, dengan seorang laki-laki yang bahkan usianya dua kali lipat usia kamu."
"Kamu baru akan melihat dunia, ketika Daniel mungkin sudah menua. Kamu mungkin bisa saja jatuh cinta lagi, kepada seseorang yang seumuran dengan kamu. Karena hati kita selalu berubah-ubah. Kamu belum mengalami fase itu sekarang. Fase dimana kamu akan bosan dengan pernikahan, yang kamu pikir akan indah selamanya. Ayah mohon kamu pikirkan baik-baik, sebelum bayi di perut kamu itu makin membesar dan memiliki nyawa. Masa depan kamu masih panjang, Lea. Kamu berhak mendapatkan laki-laki, yang nggak banyak berhubungan dengan perempuan."
Lea tertunduk dalam, Richard mencium kening puterinya itu lalu berlalu meninggalkan tempat tersebut. Tinggallah kini Lea membisu dalam diam.
***
"Ellio, gue lagi nggak mau membicarakan apapun soal Daniel dan juga Lea."
Richard berujar pada keesokan harinya, ketika ia tiba di kantor dan melihat Ellio sudah berada di dalam ruangannya.
"Gue nggak akan pergi sebelum kita bicara." ujar Ellio bersikeras.
"Gue yang akan pergi."
__ADS_1
Richard bergerak ke arah pintu, namun ternyata pintu itu telah terkunci dari luar. Richard kesal, namun Ellio tertawa kecil. Ia sudah bekerjasama dengan sekretaris Richard, agar mengunci pintu ketika Richard telah masuk ke dalam.
"Mau lo apa sih?. Cepetan ngomong sama gue." ujar Richard kesal.
Ellio menghela nafas dan menurunkan kakinya dari meja kerja Richard. Ia telah duduk di kursi temannya itu sambil menaikkan kaki ke atas meja sejak tadi.
"Sampai kapan lo mau mengurung Lea dan melarang Daniel menemui istrinya sendiri?"
"It's none of your business."
"Ow tentu bukan urusan gue, tapi gue peduli. Lo nggak bisa nyakitin dua orang, hanya karena keegoisan yang lo miliki."
"Lea akan baik-baik aja tanpa Daniel." ujar Richard masih bersikukuh.
"Itu kan menurut elo, lo nggak tau hati Lea yang sebenarnya."
"Dia cuma terjebak keadaan, belum tentu dia benar-benar mencintai Daniel. Karena dia pertama kali ditiduri oleh Daniel, sekarang dia sedang hamil. Perasaan yang dia miliki bisa jadi karena terbawa suasana, bukan karena dia benar-benar menginginkan."
"Richard, sekarang gue tanya. Kalau seandainya Lea bukan anak kandung lo, apa lo masih akan berfikir demikian. Atau lo memilih nggak peduli?"
Kali ini Richard terdiam.
"Bukankah selama ini lo cuma peduli sama Daniel, gimana caranya Daniel bisa lepas dari bayang-bayang Grace. Lo nggak pernah peduli sama Lea yang masih begitu muda, yang mungkin masa depannya masih panjang. Gue sama lo, yang paling kita pikirkan adalah Daniel. Kita berdua jahat, Richard. Dan sekarang setelah lo tau Lea anak lo, lo baru mau peduli, lo baru membicarakan kondisi mentalnya dia. Lo jahat Richard, lo tetap jahat sampai sekarang."
Ellio berkata dengan nada penuh penekanan.
"Setidaknya biarkan anak lo bahagia dengan pilihannya. Daniel lebih dulu memberikan perlindungan dan kasih sayang terhadap Lea. Jauh sebelum lo tau kalau dia adalah anak lo. Daniel mungkin punya banyak perjalanan dengan para perempuan. Kita mungkin sama-sama bejat, tapi jangan pernah lo menutup mata. Daniel selama ini udah jauh berubah dan dia benar-benar sayang sama Lea. Lo harus meredam ego lo, ok lah lo mikirin mentalnya Lea. Tapi dengan memisahkan dia dari Daniel, belum tentu juga mentalnya akan membaik. Bisa jadi akan lebih buruk."
Richard tak lagi menjawab, ia terpaku di tempatnya. Ellio berdiri lalu menepuk bahu sahabatnya itu, sesaat kemudian ia kembali pada pekerjaannya.
__ADS_1