Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Waktu Berkualitas


__ADS_3

"Le, buruan...!"


Adisty dan Ariana menarik Lea ke arah berbeda, dengan tempat dimana para bodyguard tengah menunggu. Mereka kini cekikikan sambil terus berlari kecil, hingga kemudian mereka berhasil keluar lewat pintu lobi bagian barat.


Ada sebuah mobil di sana, Ellio diminta oleh Daniel untuk menjemput Lea.


"Om Ellio." Lea berujar ketika dirinya telah masuk ke dalam mobil.


"Hei Lea, apa kabar kamu?" tanya Ellio.


"Baik, om. Mas Dan mana, katanya tadi dia yang mau jemput."


"Daniel masih ada urusan sedikit. Kita jalan aja sekarang dan langsung ketemu dia di rumah satunya."


"Rumah satunya?"


"Iya, rumah Daniel." Ellio mulai menghidupkan mesin mobil.


"Emang mas Dan punya rumah lain?" tanya Lea.


Ellio tertawa.


"Ada." ujarnya kemudian. Tak lama mobil pun berjalan.


"Le, balik tepat waktu ya."


Adisty mengirim pesan singkat pada Lea melalu WhatsApp, ketika mobil yang ia tumpangi telah jauh.


"Iya, tenang aja." jawab Lea kemudian.


Hari ini Lea mengaku pada Richard dan pengawalnya, jika ia ada kuliah sampai sore. Padahal hanya 1 mata kuliah saja. Adisty dan Ariana diberi uang jajan oleh Lea, kedua gadis itu mau menunggunya sampai sore. Hanya demi membohongi para bodyguard.


Ellio membawa Lea ke sebuah rumah yang sangat besar, yang katanya adalah properti milik Daniel. Sesampainya di sana, sudah ada mobil Daniel. Pria itu baru sampai lima menit yang lalu.


"Sana masuk, itu Dan udah sampe." ujar Ellio.


"Makasih ya om." ujar Lea lalu membuka pintu. Ellio pun akhirnya berlalu.


"Mas."


Lea mengetuk pintu, dan saat pintu itu dibuka Daniel secara serta merta memeluk Lea.


"Mas, aku kangen." ujar Lea sambil balas memeluk erat suaminya itu.


"Iya, aku juga."


Daniel mencium kening dan bibir Lea. Lalu mengelus dan mencium perut wanita itu.


"Aku kangen kalian." ujar Daniel.


"Sama mas."


Keduanya kembali berpelukan, bahkan dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis. Daniel mengajak Lea ke dalam, dan menyuruhnya beristirahat di sebuah kamar.

__ADS_1


"Tunggu disini, aku ambil makanan sama minuman dulu." ujar Daniel.


"Jangan lama-lama mas, pengen peluk soalnya."


Daniel tertawa, tampak wajahnya begitu haru mendengar perkataan tersebut.


"Iya." ujarnya kemudian.


Daniel bergegas keluar, mengambil makanan, minuman, dan beberapa barang yang ia beli untuk Lea.


"Nih, kamu makan ya." ujarnya kemudian.


"Mas nya sini dulu." rengek Lea manja.


Daniel pun lalu duduk di samping istrinya itu. Lea kemudian memeluk Daniel dan begitupula sebaliknya.


"Mau pelukan kayak gini aja sampe besok, lusa dan seterusnya." ujar Lea lagi.


Daniel mencium kening istrinya itu, kemudian mengelus bayi mereka yang ada didalam.


"Aku seneng kamu disini." ujar Daniel.


"Aku juga mas." jawab Lea.


Perempuan itu kini menengadahkan kepalanya, Daniel menyambut bibir sang istri dengan ciuman.


"Kangen." ujar Lea semakin manja.


Daniel kian mencium istrinya itu, lalu tangan mereka bergerilya kemana-mana. Sampai ketika gairah itu memuncak, Daniel menghentikan semuanya.


"Le, masih tiga bulan loh usianya. Ntar kalau dia kenapa-kenapa gimana?" tanya Daniel.


"Tiga hari lagi, dia udah empat bulan koq mas."


"Darimana kamu tau?"


"Dokter."


"Kapan dokter bilang, aku nggak denger tempo hari."


"Mas aja yang bengong, karena terlalu happy ketemu aku."


"Le, beneran. Aku bukannya nggak pengen, pengen banget malah. Tapi aku takut, takut nyakitin dia."


Lea membungkam bibir suaminya dengan ciuman, dan juga rabaan di sana-sini.


"Lea, hmmh."


Daniel masih berusaha menolak, namun terlanjur jatuh dalam rayuan maut istrinya yang dikuasi hormon kehamilan.


"Lea."


Lea mulai membuka baju kemeja sang suami, sambil mereka terus berciuman. Akhirnya Daniel pun menyerah pada gairah panas yang telah terbangun.

__ADS_1


Beberapa menit terlewati. Erangan dan ******* akhirnya membuat mereka sama-sama terhempas, dalam rasa yang begitu memuaskan.


Daniel dan Lea sama-sama tersenyum, lalu berciuman kembali untuk beberapa saat. Tak lama kemudian mereka sudah terlihat berendam di bathub, sambil bercerita dan tertawa-tawa. Usai mandi keduanya makan dan lanjut berbincang.


"Mas koq nggak bilang, ada rumah lain selain penthouse." ujar Lea.


"Aku aja kadang lupa, kalau punya rumah lain." Daniel menjawab seraya tertawa dan melahap makanannya. Lea pun jadi ikut-ikutan tertawa.


"Tapi ini rumah bersih, kayak nggak ditinggal."


"Semalem aku bersihin sama Ellio."


"Emangnya nggak ada pembantu, kayak di rumah ayah?"


"Ngapain, Le. Orang nggak di tempati juga, kan pembantu harus di gaji. Ngapain buang-buang uang cuma buat rumah yang nggak ditempatin."


"Berarti mas pelit dong, nggak mau gaji orang."


Daniel tersedak, karena tak kuasa menahan tawa. Rasa pedas dari sambal yang ia makan, kini naik ke langit-langit mulutnya. Memberikan sensasi panas dan juga nyeri di telinga. Ia kemudian mereguk air putih hingga setengah.


"Le, pelit sama efisien itu beda. Walaupun keliatannya sama. Kadang kala kita harus mengeluarkan uang, menikmati hidup dan sebagainya. Ada kalanya juga kita harus mempersiapkan uang untuk hal lain. Nggak punya uang itu nggak enak loh."


"Emangnya mas, pernah ngerasain nggak punya uang?" tanya Lea tak percaya.


"Pernah dong, kan aku dari SMA udah nggak minya uang sama papa lagi. Aku kerja di salah satu bengkel bapaknya Ellio, jualan sparepart dan lain-lain. Pernah aku terpaksa berhenti dulu, karena mau ujian. Mana sparepart nggak ada yang laku, sama sekali aku nggak megang uang. Pas ada, aku seenaknya aja ngabisin. Giliran nggak punya uang, bingung kayak orang linglung."


Lea terkekeh kali ini.


"Iya mas, siapa bilang nggak punya duit itu enak. Kadang heran aja sama orang yang bilang, uang itu nggak penting, nggak di bawa mati. Ngomong kayak gitu di sosial media, padahal dia beli hp dan kuota juga pake duit."


"Iya, kalau nggak ada duit mana bisa dia koar-koar sok bijak di sosial media. Ngomong uang nggak penting, giliran liat orang beli ini-itu langsung panas." jawab Daniel.


"Ih mas julid deh." Lea meledek suaminya.


"Emang." jawab Daniel.


Mereka lalu tertawa-tawa dan Daniel pun menyuapkan makanan untuk Lea.


"Makan yang banyak, biar sehat." ujarnya kemudian.


"Ini juga aku nggak ada kenyangnya, mas. Makan mulu."


Lagi dan lagi Daniel tertawa.


"Nggak apa-apa, ada orang hamil yang nggak bisa makan. Tiap makan, muntah. Bersyukur anak kita nggak nyusahin, kamu nya masih bisa makan." ujar Daniel lagi.


Lea tersenyum, lalu mengelus perutnya sendiri.


"Akhirnya ketemu lagi ya dek, sama papa."


Keduanya sama-sama tersenyum, dan seketika berada dalam suasana yang penuh emosional.


"Nih makan lagi." ujar Daniel.

__ADS_1


Lea pun menerima suapan demi suapan, dari tangan suaminya itu. Rasanya ingin ia menghentikan waktu, agar bisa terus berdua seperti ini.


__ADS_2