Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Vonis


__ADS_3

"Kanker darah, dok?"


Sharon berucap dengan nada setengah berteriak. Air mata kini merebak di mata gadis itu. Maya yang saat ini menemani ke dalam ruang dokter pun tak kalah kagetnya.


Ini sudah beberapa hari berlalu, sejak ibunya di larikan ke rumah sakit. Dokter telah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Dan didapatlah sebuah vonis, jika ibu Sharon menderita kanker darah atau lazimnya disebut Leukimia.


Sharon menangis, karena tidak tau harus berbicara apa-apa lagi. Hatinya begitu hancur, ibu satu-satunya yang ia miliki dan bisa ia percaya dalam hal apapun. Kini harus menderita penyakit yang mematikan. Sharon pun hanya melangkah gontai, dengan wajah lesu saat ia keluar dari ruangan dokter.


"Ibu kamu harus menjalani pengobatan dan kemoterapi."


Kata-kata dokter itu, kini seperti tayangan slide yang berulang-ulang. Terus terngiang-ngiang di benak dan telinga Sharon. Membuat hatinya yang sakit, menjadi hancur berkeping-keping.


"Nyokap lo kenapa, Shar?"


Tasya yang menunggu di luar kini bertanya. Sharon hanya diam, bibirnya tak mampu berkata apa-apa lagi. Semua terasa kelu dan kaku.


"May?"


Tasya bertanya pada Maya, dan Maya pun menjawab dengan suara berat serta nada yang terbata-bata.


"Ka, kanker darah?" tanya Tasya tak percaya. Maya kemudian mengangguk, Tasya menutup mulut saking kagetnya.


Sharon menunduk, ia kini tampak terduduk lesu di kursi ruang tunggu. Sementara Maya dan Tasya bingung, harus menghiburnya dengan cara apa.


***


Sabtu pagi.


Lea dan Daniel menghabiskan waktu mereka di rumah Daniel yang satu lagi. Setelah sehari sebelumnya Daniel menyewa tukang bersih-bersih, untuk membersihkan rumah tersebut.


Daniel tak pernah gagal, mengawali kebersamaan mereka dengan mengunjungi bayinya yang ada di dalam. Mereka bercinta di sebuah kamar yang besar dan luas.


Kebetulan rumah itu juga memiliki halaman yang luas, serta di kelilingi pagar tinggi. Hingga mereka bisa bercinta sambil mendesah-desah dengan suara yang keras, sampai benar-benar merasa puas.


Setelah sesi bercinta tersebut usai, mereka berenang di kolam. Beberapa hari lalu Daniel juga sudah menyuruh orang untuk membersihkan dan mengganti airnya. Karena sudah cukup lama kolam itu tidak dibersihkan.


Mereka berenang kesana-kemari, sesekali berhenti untuk berpelukan sambil berciuman. Lalu mereka berjemur di bawah matahari pagi.


"Mas, Leo nanyain aku dimana."


Lea berujar ketika ia baru saja selesai memeriksa handphone.


"Bilang aja disini, kalau dia mau kesini ya suruh kesini. Ntar kita ajak dia jalan-jalan." ujar Daniel.


"Oke deh." jawab Lea.


Ia pun lalu membalas pesan dari adiknya tersebut, dan mengatakan dimana dirinya kini berada. Lalu tak lama kemudian, ia lanjut berenang.


***


"Kamu nggak bisa melakukan ini ke aku."


Grace berteriak pada suaminya Edmund. Ketika pria tua itu menyeret dan mengusir paksa dirinya dari rumah.

__ADS_1


"Ini rumah saya, saya yang berhak melakukan apa saja. Termasuk menyingkirkan kamu dari sini."


Edmund mendorong Grace hingga ke muka pintu, sementara Grace masih terus melawan.


"Kamu nggak bisa melakukan ini ke aku, aku masih istri sah di rumah ini. Ada hak aku dan anakku disini?"


"Oh ya, percaya diri sekali perempuan ****** seperti kamu."


"Simpanan kamu itu yang ******."


Grace berteriak seraya menunjuk pacar Edmund, yang berdiri di dekat pintu sambil mentertawakan dirinya.


"Dia yang ******, perempuan nggak tau diri. Kamu lebih memilih perempuan itu daripada istri dan anak kamu sendiri."


"Anak perempuan itu nggak berguna, dan kamu sudah mau berumur 40 tahun. Sedangkan Echa masih 25 tahun, masih bisa hamil tiap tahun. Kalau belum dapat anak laki-laki, dia masih bisa hamil lagi. Sedangkan kamu apa?. Cuma bisa ngasih anak yang nggak berguna."


"Plaaak." Sebuah tamparan keras penuh kemarahan, mendarat di pipi Edmund.


"Plaaak." Di susul pukulan yang kedua.


"Bajingan kamu." teriak Grace.


"Plaaak."


"Plaaak."


Edmund balas memberi pukulan untuk Grace, hingga wanita itu jatuh terjerembab.


"Dengar ya, kamu kalau mau balikan dengan Daniel, silakan..!"


Grace tersentak mendengar semua itu, seluruh persendiannya mendadak kehilangan daya. Edmund melangkah mundur dan masuk ke dalam, sesaat kemudian ia pun menutup pintu.


"Braaak."


Pintu itu di banting dengan keras, hingga menyebabkan Grace menjadi begitu kaget. Tak lama Edmund menelpon sekuriti yang bertugas di depan. Ia menyuruh sekuriti itu mengusir Grace. Tentu saja sekuriti itu merasa tak enak hati dan serba salah. Namun ia tetap harus melaksanakan perintah dari bosnya.


"Jangan sentuh saya, biar saya pergi sendiri."


Grace berujar pada sekuriti, ketika sekuriti itu hendak melaksanakan tugasnya dalam mengusir Grace.


Sekuriti tersebut pun hanya bisa diam dan membiarkan Grace melangkah dengan sendirinya. Grace kemudian keluar dari pintu pagar, tanpa membawa apapun. Kecuali baju yang melekat di tubuhnya.


Hatinya hancur, betapa salahnya jalan yang telah ia ambil. Meninggalkan Daniel, dan menikahi pria yang ia anggap bisa membahagiakan dirinya.


Namun pria itu pula lah yang kini menyakiti dirinya. Ia tak memiliki apa-apa, sementara Danisha masih berada di rumah sakit. Ia masih butuh menjalani perawatan yang panjang, serta biaya yang tidak sedikit.


***


Kembali ke kediaman Daniel.


Leo akhirnya datang mengunjungi Lea. Ia disambut baik oleh sang kakak dan kakak iparnya, lalu diajak makan bersama. Leo datang sendirian hari itu. Di sana mereka banyak berbincang dan membahas berbagai topik yang menyenangkan.


"Jalan-jalan yuk...!"

__ADS_1


Ajak Lea setelah hampir 3 jam Leo ada di sana.


"Jalan kemana?" tanya Leo. Saat ini remaja itu rebahan di sofa sambil bermain game online.


"Nggak tau tuh, mas Dan mau ngajakin kemana." ujar Lea.


Tak lama Daniel muncul.


"Kita mau kemana sih mas?" tanya Lea pada sang suami.


"Bebas, yang deket-deket aja pastinya. Ngapain kek, nongkrong kek, ke tempat rekreasi atau apa gitu. Yang penting judulnya kita jalan."


"Mmm, ok deh." ujar Lea.


"Mau kan?" tanya nya pada Leo. Remaja itu pun mengangguk.


"Ok." jawabnya kemudian.


"Ya udah pada siap-siap gih...!" ujar Daniel.


"Sekarang mas?" tanya Lea.


"Nggak, ntar aja nunggu kita tua."


Lea kemudian tertawa. Akhirnya ia pun bersiap, begitupula dengan Leo. Tak lama kemudian mereka pun sudah terlihat berada di dalam mobil, dan menyusuri jalan demi jalan.


"Kita mau kemana nih tujuan awalnya?" tanya Daniel pada Lea dan juga Leo.


"Lah orang mas yang ngajak, masa nanya ke kita." seloroh Lea.


"Ya kali aja ada saran, ikan Lele. Kemana kek, yang enak." ujar Daniel.


"Emang mas nggak ada rencana?"


"Aku sih pengen ke mangrove."


"Yang di utara kan?" tanya Lea.


"Iya kan enak tuh disitu, ada vila nya juga."


"Mmm boleh sih, lo mau nggak?" Lea bertanya pada Leo.


"Terserah, ngikut aja." ujar Leo.


"Ya udah kita kesana mas."


"Nah sebelum kesana, ada mau jalan nggak ketempat lain?"


"Mmm, ke kafe aja mas. Cari yang aesthetic dan ada yang non smoking areanya."


"Ok." ujar Daniel.


Pria itu pun menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam. Hingga mobil mereka yang semula lambat, kini melaju dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


***


__ADS_2