Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mencurigakan


__ADS_3

Reynald akhirnya mengajak Arsen untuk bertemu dengan Darriel. Kebetulan Daniel, Lea, dan juga anak bayi mereka itu masih berada di kediaman Richard.


Jarak antara rumah Reynald ke rumah Richard tak begitu jauh. Sehingga tak perlu di tempuh dengan jarak yang cukup lama, seperti halnya jika mereka pergi ke penthouse Daniel.


Saat ini Reynald belum bisa duduk terlalu lama, bahkan itu di dalam mobil sekalipun. Bekas luka yang ia terima masih terasa nyeri kadang kala.


Ketika sampai, Richard memeluk kakaknya itu. Sebab sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Richard memang sangat dekat dengan Reynald.


"Hai Arsen."


Richard juga memeluk sang keponakan. Arsen sudah cukup terbiasa dengan kehangatan keluarga ayahnya, dalam beberapa waktu belakangan ini.


"Arsen, kadonya tadi mana?" tanya Reynald.


"Oh iya."


Arsen kembali ke mobil guna mengambil kado yang telah di siapkan untuk Darriel. Kebetulan mobil Reynald di parkir paling ujung dekat pintu pagar. Sebab ada mobil Richard dan mobil Daniel yang juga memakai lahan parkir di area depan rumah tersebut.


Arsen berjalan dan membuka mobil ayahnya, lalu mengeluarkan kado untuk Darriel dari dalam kendaraan tersebut.


"Pletak."


Terdengar suara dari balik pintu pagar, diikuti suara seperti berlari terburu-buru. Security langsung bergegas mengecek ke arah sana dan mengamati dari pintu kecil yang terdapat di pagar.


"Ada apa pak?" tanya Arsen kemudian.


"Nggak ada apa-apa mas." jawab security tersebut.


"Mungkin tadi anak-anak yang lagi main." lanjutnya kemudian.


"Oh ok." jawab Arsen lalu kembali masuk ke dalam rumah.


Ia dan Reynald kemudian bertemu dengan Lea dan juga Daniel. Daniel membawa Darriel keluar dan langsung ia berikan pada Reynald. Reynald menggendong bayi itu sambil duduk di sofa. Arsen menyerahkan apa yang ia bawa pada Lea.


"Wah, tuh Darriel dapat kado lagi dari opa Rey sama om Arsen." ujar Lea.


Darriel menatap sekitar, meski belum mengerti.


"Bilang apa coba?" tanya Lea pada anaknya itu.


"Makasih ya opa, om Arsen." Daniel menimpali ucapan istrinya. Sementara Darriel kini menatap Reynald dan Reynald pun tertawa.


"Ikut siapa kamu?" tanya nya kemudian.


Darriel hanya mengedipkan mata dan terus memandangi Reynald.


"Dia kalau lagi nggak tidur ngeliatin mulu ya mas." Lea berujar pada Daniel.


"Aku aja di liatin mulu." jawab pria itu.


Mereka semua pun tertawa dan lanjut berbincang. Setelah beberapa saat Ellio datang dan mereka menyambung topik dengan meledek Ellio soal lamaran. Sebelum akhirnya mereka semua berakhir di meja makan.

__ADS_1


***


"Rey, nginep ya."


Richard meminta kepada Reynald untuk menginap dirumahnya. Karena seperti diketahui Richard memang senang jika rumahnya diramaikan oleh-oleh orang-orang terdekat.


"Gue sih apa kata big bos aja sekarang."


Reynald menjawab seraya melirik Arsen yang saat ini masih berada di meja makan bersama Lea. Entah apa yang tengah mereka lihat di YouTube.


"Reynald udah ada pawangnya." celetuk Ellio.


"Bukan lagi." jawab Reynald.


"Gue kerja lambat pulang aja di telponin tadi." lanjutnya kemudian.


Mereka semua menatap Arsen sambil tersenyum, sementara Arsen terus melihat ke arah layar handphone bersama Lea.


"Kan elo yang ngarep supaya dia sayang sama lo." celetuk Richard.


"Pas di sayangin beneran, gue repot sendiri. Galak banget anjir, anak itu." ujar Reynald lagi.


"Ya persis kayak elo." timpal Daniel.


"Iya juga sih." Reynald agaknya mulai sadar pada diri sendiri. Mereka pun lalu tertawa-tawa.


"Arsen, kita nginep ya."


Reynald berujar pada sang anak.


"Tuh kan, lo denger sendiri." ujar Reynald.


Richard, Daniel, dan Ellio kembali tertawa.


"Om pesen obatnya lewat aplikasi." ujar Richard kemudian.


Arsen kembali melihat ke arah mereka semua.


"Ya terserah, yang pasti papa harus ada obatnya. Kalau nggak nanti Arsen deh yang pulang ngambil ke rumah."


"Nggak usah, om pesen aja. Nginep ya kalian?" pinta Richard.


Reynald dan yang lainnya kompak menunggu jawaban Arsen.


"Ya udah." jawab nya kemudian.


"Ya udahnya tapi ragu." celetuk Ellio.


"Emang gitu modelnya." ujar Reynald.


Mereka semua kembali tertawa-tawa, lalu mendadak diam karena Darriel menangis. Tak lama Lea pun menyambangi kamar dan mengurus anak itu.

__ADS_1


***


Malam hari, perut Lea terasa lapar. Ia mendengar ada seperti tukang jualan keliling yang melintas di depan rumah ayahnya.


"Laper nggak lo, Sen?" tanya Lea pada Arsen. Saat ini mereka tengah berdua di balkon lantai atas.


"Laper, tapi di meja makan cuma ada perkebunan. Bapak-bapak itu kan lagi pada sok diet." jawab Arsen.


"Mbak-mbak nggak ada masak yang lain ya?" tanya Lea.


"Mungkin tadi masak buat mereka aja. Mereka pikir kita juga penganut sekte palawija sama kayak yang lain." jawab Arsen lagi.


Lea tertawa.


"Mau delivery aja?" tanya Arsen kemudian.


"Kita cek di depan dulu deh. Itu kayaknya ada kang nasgor keliling." ujar Lea.


"Ya udah, ayok!" ajak Arsen.


Lea beranjak, ia dan Arsen kini turun ke lantai bawah.


"Mau pada kemana?" tanya Richard pada keduanya.


"Laper yah." jawab Lea.


"Mau beli nasi goreng di depan." lanjutnya lagi.


"Lah itu kan di meja makan, makanan semua." ujar Ellio.


"Itu mah makanan kalian para Saun The Sheep. Aku mah males, pengen makan micin." jawab Lea.


"Anaknya dikasih micin." celetuk Daniel.


"Masih untung aku mau kasih ASI ya mas, jadi nggak usah protes aku makan apa." Lea sewot, semua orang jadi menahan tawa.


Lea dan Arsen pergi keluar. Sementara para laki-laki itu lanjut berbincang sambil merokok.


"Mau kemana mbak, mas?" tanya security pada Lea dan juga Arsen.


"Mau beli makan pak." ujar Lea.


Security pun lalu membukakan pintu pagar. Ternyata benar tebakan Lea, yang mangkal di dekat rumah Richard tersebut memanglah pedagang nasi goreng. Maka mereka pun langsung memesan, Lea dan Arsen juga mengajak dua security untuk ikut memesan.


Ketika jadi, Lea dan Arsen tetap makan di tempat. Lea bilang lebih enak karena bisa menambah sambal dan juga acar.


Mereka makan sambil terus berbincang. Hingga tak lama setelahnya, ada beberapa orang yang tampak lalu-lalang di hadapan mereka.


Awalnya mereka biasa saja. Namun lama kelamaan gerak-gerik orang tersebut sangat mencurigakan. Pasalnya salah satu dari mereka datang dan seperti hendak memesan, namun mereka memesan menu yang jelas-jelas tak ada di daftar.


Orang itu kemudian berlalu, tak lama kembali lagi untuk meminjam korek api. Ia menghidupkan sebatang rokok, namun terlihat jelas bahwa ia bukanlah perokok.

__ADS_1


"Kita makan di dalam aja." Arsen mengajak Lea beranjak.


Lea yang juga ikut curiga pada sekitar pun menuruti keinginan Arsen. Mereka masuk ke dalam dan melanjutkan makan di pos security.


__ADS_2