Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Flashback


__ADS_3

"Hai Hans."


Seorang gadis berusia kira-kira 17 tahun, datang menghampiri Hans yang baru saja pulang sekolah. Hans yang tak mengenal gadis itu pun, mengerutkan dahi. Ini terjadi jauh sebelum Hans memutuskan untuk meninggalkan Lea, namun ia telah memiliki kecurigaan terhadap pacarnya itu.


"Siapa ya?" tanya nya kemudian.


Gadis itu tersenyum, namun menyimpan banyak maksud.


"Gue Sharon, dan gue satu sekolah dengan Lea."


Hans tersentak mendengar hal tersebut, entah ada angin apa tiba-tiba gadis itu menghampiri dirinya.


"Iya, ada perlu apa ya?" tanya Hans lagi.


"Gue mau menjelaskan sesuatu tentang pacar lo itu."


"Menjelaskan soal apa?" Hans semakin bingung.


Sharon menoleh ke kanan dan ke kiri, ada banyak siswa-siswi sekolah Hans yang lalu lalang ditempat tersebut.


"Gue butuh bicara sama lo di suatu tempat." ujar Sharon kemudian.


"Kenapa nggak disini aja?" tanya Hans dengan nada heran.


"Ya nggak apa-apa sih, kalau lo mau cewek lo malu. Sebab yang bakal gue katakan ini adalah sesuatu yang mengejutkan."


Hans kembali mengerutkan dahi, ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sharon. Namun karena rasa penasaran yang tinggi, Hans pun akhirnya mau mengajak Sharon untuk berbincang di suatu tempat.


Tepatnya di sebuah kafe, yang kebetulan siang itu belum terlalu ramai. Hans mengajak Sharon duduk di pojokan.


"So, apa yang mau lo katakan soal Lea?"


Hans langsung to the point, ia ingin segera mengetahui perkara tersebut. Sharon menghela nafas dan menatap Hans.


"Lo percaya kalau Lea itu cuma setia sama lo doang?"


Sharon melontarkan pertanyaan yang membuat Hans sedikit tersentak.


"Ya, gue percaya aja. Sejauh ini juga Lea nggak ngapa-ngapain, belum pernah gue mergokin dia selingkuh." jawab Hans dengan penuh keyakinan.


Sharon menarik salah satu sudut bibirnya, lalu meraih handphone dan menunjukkan foto seseorang.

__ADS_1


"Ini Rangga, dia pacar gue. Dia ini mantannya Lea."


Hans menatap foto tersebut.


"Lea nggak pernah cerita kan?"


Hans menggeleng, bahkan ia tak tertarik untuk membicarakan perihal masa lalu pasangannya tersebut. Baginya masa lalu adalah masa lalu, yang tak perlu untuk di ungkit kembali.


"Mereka bubar, karena Lea ketahuan jadi simpanan om-om."


Hans kembali tersentak demi mendengar pernyataan tersebut, mendadak darahnya naik ke ubun-ubun.


"Lo jangan sembarangan ya, kalau ngomong."


Ia berujar dengan nada marah kepada Sharon. Sementara kini Sharon menyilangkan tangan di dada, sambil menarik salah satu sudut bibirnya.


"Terserah kalau lo mau percaya atau nggak, yang jelas gue bukan asal ngomong. Banyak bukti yang mengarah kesana."


"Apa buktinya?" Hans mulai gusar.


"Daniel Edsel Roberts."


Sharon mengucapkan sebuah nama yang membuat Hans seketika syok.


"Hmm, gue liat Lea selalu diantar sama dia setiap pagi. Ya walaupun pihak sekolah mengatakan kalau Lea itu keturunan orang kaya, dan punya dua om lainnya yang juga ikut membiayai sekolahnya dia."


Sharon mengatakan soal Richard dan Ellio, yang dikira seisi sekolah adalah kerabat Lea.


"Tapi gue nggak percaya." lanjut Sharon lagi.


Sementara Hans masih positif thinking, mungkin memang Lea dibantu oleh Ellio dan kedua teman akrab pamannya tersebut. Agar Lea memiliki power di sekolah, pikirnya. Mengenai mengapa Lea diantar Daniel setiap pagi, mungkin saja Ellio yang meminta.


"Tapi, kenapa harus Daniel?" pikirnya lagi.


Itu artinya Daniel harus pergi ke rumah Ellio dulu setiap pagi, demi menjemput Lea. Lalu kembali memutar arah."


Pikiran Hans mulai terusik, disaat itulah Sharon kembali memasukkan omongan.


"Gue melakukan investigasi sendiri, beberapa waktu belakangan ini. Informasi yang gue dapat adalah, Lea itu adalah peserta dari SB Agency."


"Apa itu SB Agency?" tanya Hans tak mengerti.

__ADS_1


Sharon pun lalu menjelaskan jika agency tersebut merekrut para perempuan muda, untuk kemudian dijadikan sugar baby. Bagi para bos-bos maupun orang kaya lainnya. Sharon juga mengatakan jika sejatinya Lea telah di beli oleh Daniel. Berdasarkan informasi dari salah seorang peserta SB Agency angkatan Lea, yang kebetulan dikenal oleh Sharon.


"Lo sebaiknya pergi dari sini, sebelum mulut lo gue tampar." Hans memberikan reaksi yang lebih murka kepada Sharon.


"Dari tadi lo selalu memojokkan cewek gue, mengatakan hal buruk tentang dia." lanjutnya berapi-api.


Di luar dugaan Sharon malah tertawa.


"Hans, Hans. Harusnya lo berterima kasih sama gue, gue ini mau menyelamatkan elo dari ular kayak Lea. Lo pikir buat apa gue cari tau soal elo, sekolah lo, dan buat apa gue capek-capek dateng kesini. Nggak ada untungnya juga buat gue, tapi gue peduli terhadap sesama. Gue udah menyelidiki secara pasti, kalau Lea itu memang sugar baby nya om Daniel."


"Sekali lagi lo bicara, gue cekik leher lo." ancam Hans. Lagi dan Lagi Sharon tertawa.


"Hans, lo aja nggak tau kan Lea itu tinggal dimana."


Kali ini Hans sedikit terdiam, pasalnya Lea mengatakan jika ia lebih banyak mendiami kediaman Ellio. Sedangkan setiap kali Hans meminta datang kerumahnya, Lea selalu menghindar.


"Gue tau koq, dia tinggal dirumahnya om Ellio." Hans tetap tegas membela Lea.


"Dan lo percaya?"


Tatapan mata Sharon membuat Hans lagi-lagi terdiam.


"Iya." jawab Hans kemudian.


"Sebaiknya lo selidiki aja sendiri, kalau misalkan omongan gue ini salah. Gue akan sujud di kaki lo dan kakinya Lea. Tapi kalau omongan gue ini bener, lo nggak berhutang budi apapun sama gue. Karena gue tulus mau membuka mata dan menyelamatkan elo. Lea itu nggak baik, dia berbahaya."


Hans memalingkan wajah ke arah lain, pikirannya benar-benar terusik kali ini.


"Ini alamat SB Agency, lo cari tau aja apa yang bisa lo cari tau di sana. Dengan cara Lo sendiri.


Sharon beranjak, Hans melirik pada secarik kertas berisikan alamat yang ditinggalkan oleh gadis itu di atas meja.


"Oh ya satu lagi."


Sharon menghentikan langkah dan kembali berujar.


"Lo tadi menyebut nama om Daniel, dengan nada yang seolah sudah sangat mengetahui dan akrab. Kalau iya, lo pasti tau dong kediamannya dimana. Gue yakin lo akan menemukan bukti, kalau lo mau meluangkan waktu sejenak. Untuk menyelidiki semua yang gue katakan."


"Sharon pergi meninggalkan tempat tersebut, tinggallah Hans yang terpaku dalam diam. Pikiran pemuda itu kini berkecamuk, membentuk sebuah simpul kusut yang carut-marut.


Ia masih berusaha menepis semua omongan Sharon tadi, dari pikirannya. Ia benar-benar berusaha memikirkan hal positif tentang Lea.

__ADS_1


"Nggak mungkin Lea begitu, nggak mungkin dia nyakitin gue. Lea itu cewek baik-baik, dia keponakan om Ellio. Mungkin aja si cewek tadi iri sama Lea." Hans berkata dalam hatinya.


"Ya, dia pasti iri. Karena Lea nggak mungkin seperti itu." lanjutnya lagi.


__ADS_2