Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Terjebak (Ekstra Part)


__ADS_3

"Nah, udah terpasang dan terpampang." ujar Ellio ketika telah berhasil mengupload foto Richard di salah satu akun aplikasi biro jodoh.


"Mencari wanita yang mau serius dinikahi. Syarat suka anak kecil. Di utamakan yang sabar, berakhlak baik, mampu mengatur keuangan, bisa jadi pendamping yang menyenangkan."


"Bro, nggak usah tulis persyaratannya apa." ucap Daniel pada Ellio.


"Loh kenapa?. Biar gampang kan, supaya lebih spesifik aja." tukas Ellio.


"Kalau gitu bakalan muncul orang-orang yang fake." ujar Daniel.


Ellio diam dan tampak berpikir.


"Iya kan?" kali ini Daniel bertanya.


"Bakal ada yang pura-pura baik, pura-pura suka anak kecil. Pura-pura ini dan itu " lanjutnya lagi.


"Tapi kan ketahuan bro, kalau mereka pura-pura atau nggak."


"Iya, itu kan menurut kita. Kita nggak tau seberapa pintar itu orang berakting. Bisa aja kan kita ketipu." jawab Daniel.


"Jadi kita tulis syaratnya apa dong?" tanya Ellio.


"Tulis aja, syarat mau menikah. Usia dari sekian ke sekian. Udah gitu aja."


"Oh, oke deh."


Ellio kembali mengetik di laman biro jodoh tersebut.


"Syarat, mau menikah."


"Rentang usia dari sekian ke sekian."


"Udah nih, gini aja?" tanya Ellio.


"Ya udah gini aja. Jadi begitu mereka berhadapan dengan kita, mereka akan bingung tuh mau pura-pura ngapain. Paling bakalan pura-pura sopan santun, kalau itu udah lumrah lah." ujar Daniel.


"Semua orang juga bakal sopan santun kalau dalam acara perjodohan. Karena ada tujuan." lanjut pria itu.


"Yang jelas mereka nggak tau nih syarat terpenting kita apa dan mereka nggak bisa berpura-pura untuk itu. Mereka nggak ada persiapan akting dari rumah." tambahnya.


Ellio mengangguk-anggukan kepala.


"Bro."


Tiba-tiba Richard masuk ke ruangan Ellio. Saat itu memang posisinya Daniel yang diminta menyambangi Ellio. Untuk menghindari sendal melayang Marsha yang sama bahayanya dengan kecoa mode terbang.


"Apaan, bro?"


Daniel menjawab, Ellio buru-buru keluar dari menu biro jodoh dan menampilkan pekerjaannya di laptop.


"Lo tau nggak sih, ada perusahaan baru yang menjual produk dan jasa sama persis sama perusahaan gue." ujar Richard.


"Yang mana?"


Daniel dan Ellio kompak mengerutkan dahi. Sebab mereka memang belum mendengar akan hal tersebut.


"Nih, dia nih."


Richard menunjukkan profil perusahaan tersebut melalui iPad miliknya. Berikut produk dan jasa yang tengah mereka tawarkan saat ini.


"Yang pasti santuy dulu, bro. Jangan panik." ucap Daniel.


"Bener, pedagang sayur di pasar tradisional aja berjejer koq lapaknya. Tetap aja rejeki masing-masing." timpal Ellio.


"Tapi gue sebel aja, konsumen gue berkurang cukup signifikan. Banyak yang beralih kesana."


"Itu penjualan perdana kan?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Yup." jawab Richard.


"Bisa jadi karena pembelinya penasaran. Apalagi untuk produk baru launching, pasti ada pengurangan harga. Dimana ada diskonan, disitu orang berbondong-bondong. Masalah kualitas belum tentu." ujar Daniel.


"Benar, bro. Lo cuma perlu mempertahankan atau meningkatkan kualitas." Lagi-lagi Ellio menimpali.


"Kalau ternyata kualitas mereka lebih oke gimana?"


"Ya lo harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan kualitas produk lo." ujar Daniel.


"Kita kayak anak SMA lagi nguliahin Richard yang masih SD." tukas Ellio.


"Tau lo, kayak baru aja di dunia bisnis." Daniel menimpali.


"Tapi kan kompetitor gue paling satu dua selama ini. Udah pada bangkrut juga." ucap Richard.


"Oh iya, yang terbiasa menghadapi hujan badai dan halilintar mah kita ya bro." tukas Ellio pada Daniel.


"Yoi, sampe kadang mau jungkir balik mikirin cara bertahan." Daniel menimpali.


"Tok, tok, tok."


Sekretaris Ellio mengetuk pintu."


"Iya, Din." ucap Ellio dari dalam.


"Ada bu Marsha."


Ketiga orang itu terkejut.


"Marsha, Marsha, Marsha. Ntar kayak kemaren lagi, sendal melayang kalau dia tau kita lagi ngobrol begini." ujar Ellio panik.


Maka Daniel dan Richard pun berusaha mencari persembunyian.


"Gubrak."


"Gubrak."


"Gubrak."


"Sayang."


Ellio bersikap seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Marsha mendekat, Ellio menarik istrinya itu ke dalam pangkuan. Daniel dan Richard masih menunggu di tempat masing-masing. Richard menahan batuk dan Daniel sendiri menahan bersin.


"Nah gini dong, kerja." ujar Marsha.


"Jangan ngomongin hal lain mulu." lanjutnya lagi.


"Iya sayang." jawab Ellio.


"Ini aku kerja demi kamu sama anak kita."


Ellio mengelus dan mencium perut Marsha.


"Ssshhh."


Marsha mendesis sambil menatap Ellio.


"Kenapa sayang?" tanya Ellio heran.


"Geli." ujar Marsha.


Ellio diam, ditatapnya mata wanita itu dalam-dalam. Lalu di usapnya kembali bagian tadi dan agak kebawah.


"Ssshhh." Lagi-lagi Marsha mendesis.


"Enak?" tanya nya kemudian.

__ADS_1


Marsha mengangguk. Secara serta merta Richard dan Daniel langsung mengaktifkan mode silent di handphone mereka dan mengirim pesan singkat ke pada Ellio.


"Heh bangsat, awas lu ya." ujar Richard.


"Jangan dekat gue, Junaedi. Bini gue nggak ada ditempat ini." Daniel menimpali.


Ello melihat pesan tersebut dan ia berusaha mengalihkan pandangan Marsha ke arah lain. Ellio lalu melihat cake slice yang ada di piring samping gelas kopinya dan terpikir akan sesuatu.


Ia menyendok cake slice tersebut dan menyuapkannya pada Marsha tanpa berkata apa-apa.


"Hmmh." Marsha kembali bersuara.


"Enak?" tanya Ellio.


"Enak." jawab Marsha.


Pikiran Richard dan Ellio sudah kemana-mana. Ingin rasanya mereka mengintip namun takut ketahuan.


"Lagi?" tanya Ellio.


"Lagi." ucap Marsha.


Ellio pun kembali menyendok cake tersebut sambil tersenyum. Ia sengaja melakukan hal ini untuk mengerjai kedua temannya.


"Mana bibirnya sayang, buka dong buat aku." tukas pria itu. Daniel dan Richard makin belingsatan. Padahal Ellio kembali menyuapi Marsha dengan cake.


"Mau yang lebih enak?" tanya Ellio.


"Emang ada?" Marsha kembali bertanya.


Kebetulan di samping cake dan kopi ada biskuit cream yang telah di buka.


"Ini di putar pake tangan." ujar Ellio seraya memutar biskuit tersebut.


Daniel dan Richard mengira Ellio sedang memutar dan mengusap bagian sensitif milik Marsha.


"Buka mulut kamu dong." ujar Ellio.


Kali ini Daniel dan Richard mengira Ellio minta di manjakan tongkatnya dengan mulut sang istri. Padahal Ellio memasukkan biskuit itu ke dalam sana.


"Ssshhh."


Ellio mendesis tiba-tiba, itu karena ia menahan sakit. Lantaran Marsha duduk di pangkuannya cukup lama dan mendadak bergerak.


"Sakit ya pak?" tanya Marsha kemudian.


"Nggak, enak koq." jawab pria itu sambil menahan senyum.


"Heh kutu monyet, suruh bini lo balik. Gue mau keluar dari sini." ucap Daniel.


"Pak mau ke toilet."


Tiba-tiba Marsha mengungkapkan pernyataan yang membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Ellio sendiri.


"Ke toilet?" tanya nya kemudian.


"Iya pak, udah di ujung nih." ujar Marsha.


"Aaa, aku antar ke toilet luar aja ayo."


"Ini kenapa toiletnya!" tanya Marsha, sementara Daniel sudah ketar-ketir di dalam sana.


Richard pun demikian. Karena jalan menuju ke toilet Ellio sudah pasti akan membuat Marsha melihat dirinya juga.


"Ini toiletnya mampet, belum ada tukang yang datang buat benerin. Padahal aku udah pesan." Ellio berkilah.


"Oh ya udah." ujar Marsha lalu beranjak.

__ADS_1


Ellio kemudian menemani istrinya itu ke toilet dan Daniel serta Richard pun berhasil keluar.


__ADS_2