Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Gengsi


__ADS_3

"Le, kamu mau makan apa?"


Daniel bertanya di depan pintu kamar Lea yang tertutup.


"Nggak laper." jawab Lea masih dengan nada yang tak ramah.


Ia masih menabuh genderang perang terhadap suaminya itu. Sementara kondisi Daniel saat ini sudah lebih stabil, ia mulai terbiasa menghadapi tingkah menyebalkan dari sang istri.


"Beneran nggak laper?" tanya Daniel lagi.


"Dibilang nggak laper, masih aja nanya."


Lea semakin gusar, Daniel tertawa tanpa suara.


"Ya udah kalau gitu, aku masak sendiri berarti."


Daniel berlalu.


"Egois banget sih. Istri nggak mau makan bukannya dibujuk gimana caranya, malah mikirin diri sendiri. Udah keluar nih sifat aslinya. Emang dimana-mana laki-laki itu sama aja, nyebelin semuanya."


Lea menggerutu di dalam kamar, sementara Daniel kini berkutat di dapur. Ia sengaja memasak makanan yang aromanya menggugah selera.


Tiba-tiba perut Lea berbunyi. Karena meskipun pintu tertutup, ada celah di bawah yang membuat aroma masakan suaminya tersebut masuk.


"Duh, ngapain sih pake acara laper segala. Kamu kerjasama dong dek, sama mama. Masa kita nurunin gengsi, nanti papa kamu gede kepala tau nggak." ujarnya seakan menasehati bayi yang tengah ia kandung.


Lea mengkambinghitamkan anak tersebut, padahal sejatinya ialah yang tak kuasa menahan godaan.


"Kreeek."


Lea membuat pintu kamarnya secara perlahan, untuk mengintip sang suami. Aroma dari masakan pria itu kian menggangu pertahanan. Dari dalam kamar Lea bisa melihat steak daging yang asapnya masih mengebul di dalam piring. Daniel benar-benar hanya membuat satu dan kini siap menyantap steak tersebut.


Lea menelan ludah, perutnya kian berbunyi. Tak lama Daniel melihat ke arah handphone dan mengangkat sebuah panggilan di sana.


"Hallo, apa?"


"Ok, ok. Gue ke kantor sekarang."


"Iya, pokoknya lo tunggu aja. Gue segera ke sana."


Daniel meninggalkan makanan, ia menuju lift dan menghilang di tempat itu.


"Yes, dia ke kantor. Pasti lama tuh." ujar Lea secara tersenyum jahat. Ia lalu berjingkrak bahagia."


"Ntar malem kalau dia pulang, gue bilang aja makanannya basi dan gue buang."


Lea makin tersenyum mirip Venom. Lalu dengan langkah seribu, perempuan itu pergi ke meja makan. Ternyata makanan tersebut sama sekali belum tersentuh oleh Daniel. Lea buru-buru mengambil nasi dan memakan steak tersebut dengan nasi. Meski telah ada kentang dan sayuran di sebelahnya.


"Hmm, enak banget ya ampun."


Lea serasa melayang di udara. Melompat dari satu awan ke awan lain, yang melambungkan tubuhnya seperti trampolin.

__ADS_1


"Hmm, enaaak." ujarnya lagi.


Ia terus melahap makanan tersebut, dan ketika tinggal satu suapan lagi. Tiba-tiba pintu lift terbuka, Daniel keluar dari tempat itu dan langsung menatap ke arah Lea. Lea yang terkejut pun langsung berdiri, sementara Daniel kini melangkah sambil menahan tawa.


"Bukannya mas ke kantor tadi ya?" tanya Lea dengan wajah panik, ia tak menyangka jika Daniel akan kembali secepat itu.


"Aku berubah pikiran." jawab Daniel.


Lea sadar jika ia tengah di kerjai oleh suaminya itu. Sejatinya ia sangat malu sekali, namun tetap mengutamakan gengsi.


"Enak?" tanya Daniel kemudian.


"Biasa aja." jawab Lea sewot.


"Pinggirannya terlalu gosong, garamnya kurang meresap, bau rosemary nya mengganggu dan rasanya kacau." lanjut Lea lagi.


"Tapi abis." ledek Daniel sambil tersenyum.


"Nggak, itu masih sisa." Lea tetap tak mau kalah.


"Le, kalau sisa itu masih banyak. Ini satu suapan doang, bukan sisa namanya. Tapi doyan."


"Nggak juga. Orang ini anak kamu koq yang mau, bukan aku." Lea masih saja ngeles.


"Lagian siapa suruh bikin aku bunting, jadinya anak kamu di dalam banyak maunya." lanjutnya lagi.


Daniel benar-benar tak kuasa menahan tawa.


Lea menyilangkan tangan di dada dan menatap lain sudut dengan wajah yang cemberut.


"Kalau nggak enak, nggak mungkin kamu mohon-mohon supaya aku keluar di dalam terus." lanjut Daniel lagi.


"Ih, sebel deh. Mesum dasar."


Lea memukul lengan suaminya itu, lalu beranjak ke kamar. Daniel tertawa dan mengambil suapan terakhir yang tak jadi dimakan Lea.


Namun seperti mendapat firasat, Lea pun menoleh. Ia melihat sebuah gerakan slow motion, yang menampilkan suapan terakhir steaknya di dekat bibir sang suami.


"Jangaaan...!


Buru-buru Lea berlarian ke dekat Daniel dan,


"Hap." Ia merampas suapan terakhir itu dan memakannya.


"Anak kamu yang mau, bukan aku."


Lea kembali berlalu, kali ini Daniel tertawa geli meski tanpa mengeluarkan suara.


***


Esok paginya, saat Daniel hendak berangkat ke kantor dan Lea ingin ke kampus.

__ADS_1


"Kamu nggak mau bareng aja sama aku?" tanya Daniel seraya merapikan ujung jasnya.


"Aku pergi sendiri, udah pesen taxi online."


Lea belum juga bersikap ramah. Ia mengambil tas dan berjalan menuju lift, begitupula dengan Daniel.


Sesampainya di bawah, Daniel bergerak ke arah mobil. Sementara Lea mengambil langkah menuju gerbang depan. Namun tiba-tiba,


"Pak Daniel."


Lea menoleh, ia melihat Marsha yang entah muncul dari mana. Secara serta merta sekretaris tersebut mendekati Daniel.


"Hei, Sha. Dari mana kamu?" tanya Daniel dengan sikap yang ramah.


Lea tak jadi melanjutkan langkah, karena hatinya mendadak dongkol.


"Dari nginep di rumah temen pak, deket sini. Tadi abis beli sarapan di situ."


Marsha menunjuk ke arah toko kue yang ada di kawasan penthouse.


"Oh, bareng aja yuk...!" ajak Daniel. Ia berujar tanpa melihat ubun-ubun Lea yang sudah berasap.


"Emang nggak apa-apa pak?" tanya Marsha dengan nada penuh kegembiraan. Membuat Lea makin ingin meledak.


"Nggak apa-apa, ayo...!"


"Mas."


Lea akhirnya bersuara, membuat Daniel dan Marsha menoleh. Sejatinya Daniel yang menyuruh Marsha untuk datang, ia sengaja ingin memancing kecemburuan Lea. Agar perempuan itu berhenti marah dan berbaikan dengannya. Marsha sendiri tau dengan rencana bosnya itu, ia datang dan siap membantu.


"Kenapa Le, bukannya kamu udah ditunggu taksi online?" tanya Daniel.


"Ta, taksi onlinenya ngebatalin pesanan. Aku bareng mas aja." ujar Lea.


Tampak jelas ia merasa cemburu, namun tetap sok gengsi dan jual mahal.


"Ok, bareng aja." ujar Daniel kemudian.


Daniel masuk ke mobil di ikuti Lea, sementara Marsha duduk di belakang. Di sepanjang perjalanan Daniel dan Marsha terus terlibat obrolan. Kadang keduanya tampak tertawa-tawa. Sedang Lea sendiri gengsi untuk ikut bersuara, ia sangat ingin menempelkan plester di mulut keduanya.


"Aaakh."


Lea mendapat cara untuk mengalihkan perhatian Daniel, yakni berpura-pura sakit perut.


"Kamu kenapa?" tanya Daniel khawatir.


"Sakit." jawab Lea sambil meringis.


Daniel lalu mengelus perut istrinya itu, dengan satu tangan tetap memegang kemudi. Lea tak tau jika Daniel telah mengetahui siasatnya. Bahkan Daniel tadi sempat melirik Marsha dari kaca, dan Marsha pun tersenyum. Keduanya paham jika Lea hanya cari perhatian.


"Jangan berhenti mas, ini bayi kamu rusuh kalau nggak di elus sama bapaknya. Ini bukan aku loh yang minta."

__ADS_1


Daniel terus mengelus perut Lea, sambil menahan senyum. Setidaknya kali ini rencananya berhasil.


__ADS_2