
"Lo dari mana aja."
Daniel dan Ellio menyambangi kantor dan ruangan Richard siang itu. Karena Richard datang di waktu matahari nyaris tepat di atas kepala.
"Gue nabrak temen kuliahnya Lea."
"Hah?"
"Siapa?"
"Dimana?"
"Terus orangnya gimana?"
"Nggak kenapa-kenapa kan?"
Daniel dan Ellio memberondong Richard dengan pertanyaan yang tanpa jeda.
"Satu-satu, Bambang." ujar Richard sewot.
Ellio dan Daniel tertawa.
"Bapak mertua lo Dan, kalau sewot nggak ketulungan." ledek Ellio.
"Dia nggak apa-apa, tapi tadi gue antar ke rumah sakit, gue anterin pulang ke kosannya dia juga."
"Lagian kenapa bisa nabrak sih?" tanya Daniel heran.
"Gue ngantuk, Dan. Semalem tuh gue ngerjain kerjaan sampe jam 3. Lo kan tau perusahaan gue sibuknya kayak apa belakangan ini. Tapi lo berdua masih aja gangguin gue di sini."
"Ya salah sendiri, kenapa kantor kita dibuat connecting. Kan itu idenya elu." ujar Daniel lagi.
"Yoi, saling mengganggu itu udah jadi ritual harian disini." timpal Ellio.
"Yang lo tabrak cewek apa cowok sih?" tanya Daniel lagi.
"Cewek, yang namanya Cindy. Tau kan?"
Daniel dan Ellio mencoba mengingat-ingat.
"Oh iya-iya, yang kayak orang Korea itu ya." ujar Ellio.
"Iya, gue tuh nabrak dia."
"Lain kali kalau nggak sanggup nyetir sendiri, ya lo minta antar supir lo lah. Kan punya supir." tukas Daniel.
"Dia lagi minta jatah cuti, kasian juga selama tiga tahun belakangan ini dia nggak pernah ngambil cuti panjang. Hari raya aja dia masih nyupirin gue kadang. Ini anaknya tuh mau nikah, masa iya nggak gue kasih libur."
"Oh anaknya mau nikah?" tanya Daniel.
"Iya makanya gue tadi pagi nyetir sendiri."
"Kalau nggak, lain kali lo telpon gue aja. Biar gue yang jemput." ujar Daniel lagi.
"Bener, bro. Daniel kan matanya kayak supir bus antarkota, terjaga mulu saban hari." timpal Ellio.
__ADS_1
"Iya, ntar gue minta jemput sama lo deh. Kalau gue ngantuk berat lagi pas mau kerja." jawab Richard.
"Tapi tuh cewek beneran udah nggak apa-apa?" tanya Ellio.
"Udah nggak dan udah gue urus juga semuanya."
"Bagus deh kalau gitu." lanjut Ellio lagi.
***
"Le, kamu capek nggak ngurus tempat tinggal kita?"
Daniel bertanya sore itu, ketika ia melihat Lea yang baru selesai masak.
"Capek apanya mas?"
"Mungkin kamu butuh asisten rumah tangga."
"Nggak mau, nggak bebas. Aku nggak mau ada orang lain, risih."
Lea memberikan jawaban, yang membuat Daniel menatapnya sambil tertawa kecil.
"Sama sih." ujar Daniel kemudian.
"Tapi kalau emang kamu membutuhkan ya nggak apa-apa, kan masih banyak ruangan kosong yang bisa dijadikan kamar."
"Hmm." Lea tampak berfikir.
"Nggak mau mas, risih. Nggak bisa mesra-mesra an di sembarang tempat."
Daniel mendekat lalu mencium bibir istrinya itu.
"Tetap aja ruang gerak jadi terbatas. Kita juga jadi banyak nggak enakannya, kalau ada orang lain yang tinggal sama kita."
Daniel menghela nafas dan masih menatap Lea.
"Lagian apa susahnya sih tinggal disini, yang nyapu robot vacum cleaner. Pakaian mas yang mahal-mahal, mas laundry. Sisanya mas cuci sendiri, paling baju aku. Itupun mesin yang nyuci, langsung kering pula. Setrikaan uap, tinggal di sapukan ke seluruh baju. Paling masak sama nyuci piring, itupun nggak sering. Seringan pesan makanan online. Terus, ya nggak ada lagi. Aku nggak harus menembus hutan buat nyari kayu bakar untuk masak. Nggak harus berburu dulu nyari ikan, hewan liar, dinosaurus."
Daniel tertawa kali ini.
"Ya aku sebagai suami, menawarkan aja. Kamu nggak usah segan-segan kalau butuh sesuatu. Sebisa mungkin aku penuhi."
"Iya mas, makasih. Tapi saat ini aku emang belum perlu bantuan. Kayak masak aja, aku tuh seneng masak. Aku enjoy, aku suka ngerjainnya. Jadi aku nggak beban."
Daniel menghela nafas dan menganggukkan kepala. Dibelainya pipi istrinya itu dengan lembut.
"Senyaman kamu aja. Pokoknya kalau butuh apa-apa, jangan ragu buat ngomong dan diskusi sama aku."
"Iya mas, aku bener-bener masih enjoy menghandle semuanya sendiri. Punya anak nanti pun, aku belum tentu mau anakku di urus orang lain. Kuliah sekarang kan bisa online, bisa sambil ngurus anak juga."
"Kemarin-kemarin kamu masih khawatir kalau kamu akan repot sendirian, sekarang kamu berubah pikirannya." Daniel mencoba menggoda Lea.
Maka wanita itu pun tersenyum.
"Belakangan aku banyak mikir, mas. Aku kan nggak di urus ibuku dengan baik, aku nggak mau anakku ngerasain hal yang sama. Aku mau anakku dekat sama aku."
__ADS_1
Daniel tersenyum lalu mencium kening istrinya itu.
"Kayak yang tadi aku bilang, senyaman kamu aja. Kalau emang butuh bantuan, butuh asisten, ngomong ke aku. Aku nggak mau di hujat orang, katanya kaya-raya tapi nggak punya pembantu dan nggak punya bodyguard untuk istri."
"Itu mah tolak ukurnya orang kita aja mas, kebanyakan baca novel online yang terlalu halu." ujar Lea.
Daniel lagi-lagi tertawa.
"Iya kan di negara kita, simbol kekayaan itu cuma tiga. Punya mobil, punya pembantu, sama punya bodyguard. Kalau orang kaya nggak punya tiga hal itu, pasti dibilang aneh."
"Padahal mereka yang aneh." timpal Lea.
"Mereka beranggapan setiap orang kaya itu, wajib mutlak punya tiga hal itu." lanjutnya lagi.
"Makanya aku tawarkan kamu asisten, biar kita nggak dianggap aneh."
"Bodo amat lah mas, yang terpenting itu adalah nyaman menjalani hidup."
"Kamu nyaman sama aku?" tanya Daniel dengan nada serius.
"Sejauh ini, iya." jawab Lea dengan nada yang juga serius. Ia dan Daniel kini saling menatap dalam diam.
"Tapi nggak tau besok."
Keduanya sama-sama tak kuasa menahan tawa, akibat melihat wajah masing-masing yang sok serius.
"Kita kenapa sih, padahal momennya udah pas loh untuk serius." ujar Lea.
"Nggak tau, muka kamu bikin aku mau ketawa."
"Muka mas juga, ganteng-ganteng tapi lawak. Dulu aja sok cool banget. Pas udah kenal lama, eh taunya ancur juga."
Daniel masih tertawa, namun ia menempelkan keningnya di kening Lea.
"Kalau soal ini, aku beneran serius." ujarnya seraya mengelus perut Lea.
"Iyalah serius, udah melendung gini. Masa di bilang main-main." seloroh Lea.
"Iya, aku selalu serius soal ini. Karena serius enak."
"Mas, ih."
Sebuah pukulan mendarat di tangan Daniel. Pria itu kembali tertawa, sementara Lea tak kuasa menahan senyum dengan pipi yang memerah. Tak lama kemudian, terdengar sebuah suara.
"Mas laper ya?" tanya Lea. Ia baru saja mendengar suara yang berasal dari perut suaminya itu.
"Banget." jawab Daniel lalu tersenyum.
"Aku siang tadi nggak makan, karena nggak sempat.
"Tuh kan kamu, nanti sakit aja. Ya udah yuk, makan."
Lea kemudian mengajak suaminya itu untuk makan.
"Jas nya lepas dulu, mas."
__ADS_1
"Oh iya."
Daniel segera melepas jasnya tersebut dan meletakkannya di sofa. Sesaat kemudian mereka pun makan bersama.