Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Daftar Kuliah


__ADS_3

Lea mendaftar ke kampus tempat dimana Vita dan Nina berkuliah. Ia sejatinnya ingin mendaftar di beberapa tempat, namun Vita dan Nina memohon agar mereka bisa bersama-sama.


Lea pun akhirnya menuruti keinginan kedua temannya itu, tapi hari ini baik Vita maupun Nina sedang tak bisa menemaninya. Nina tengah diajak sang suami untuk berlibur selama tiga atau empat hari kedepan, sedang Vita mengatakan ia begitu lelah. Akibat digempur oleh sugar daddy nya semalam suntuk dan ia tak bisa menolak.


Sebab sugar daddy nya itu baru saja membelikan Vita sebuah mobil mewah. Sebagai sugar baby, Vita tentunya tak bisa melakukan apa-apa kecuali menyiapkan rahim serta melebarkan kedua kaki. Meskipun lama kelamaan harga dirinya kian terusik, ia merasa laki-laki jika sudah berduit bisa seenaknya saja bertindak pada wanita.


Karena mereka berdua tengah berhalangan, jadilah Lea mendaftar sendiri hari ini. Lea pergi ke kampus tersebut dan sesampainya di sana ia agak sedikit kebingungan, sebab ia tak menemukan dimana letak bagian informasi.


"Kak."


Lea menyapa seseorang, orang tersebut kaget dan menoleh. Sejenak Lea terdiam, menatap makhluk yang begitu tampan tersebut.


"Iya." ujar si pemuda tampan itu padanya.


"Ruang informasi dimana ya kak, saya mau daftar soalnya."


"Kamu calon maba? tanya pemuda itu padanya.


"I, iya kak." jawab Lea seraya tersenyum.


"Ayo aku anterin." ujar si pemuda kemudian.


Lea entah mengapa jadi salah tingkah dan senyum-senyum sendiri, meski ia ingat jika dirinya kini adalah istri orang. Pemuda tampan itu melangkah, sedang Lea mengekor di belakangnya.


"Arsenio." ujar si pemuda tampan itu memperkenalkan diri. Ia memperlambat langkahnya, supaya bisa berbarengan dengan Lea


"Saya Lea, kak." jawab Lea kemudian.


"Oh, Lea. Tadi datang sendirian?"


"Iya kak, sendiri." jawab Lea.


Mereka lalu banyak berbicara mengenai fakultas dan jurusan yang ditempuh oleh Arsenio, maupun yang akan dipilih oleh Lea nanti.


"Nih, ruangannya." ujar Arsenio ketika mereka telah sampai ke bagian informasi. Pantas saja Lea sulit menemukannya, ternyata berada di gedung sebelah.


"Makasih ya, kak." ujar Lea.


"Ok sama-sama." Arsenio menjawab, lalu meninggalkan tempat itu.


***


Menit berikutnya.


"Gubrak."


Tiga orang pemuda tengil tiba di dekat Lea dengan tergesa-gesa, Lea menoleh dan mereka kemudian terdiam menatap Lea.


"Cakep, bro." ujar salah seorang dari mereka kepada yang lainnya. Mereka lalu cengar-cengir.

__ADS_1


"Eh mau tanya dong, ini bener ruang informasi." tanya salah seorang dari mereka.


"Iya bener koq." ujar Lea seraya tersenyum.


"Oh my god, dia senyum." Ketiga pemuda itu berujar di waktu yang nyaris bersamaan.


"Oh ya, gue Iqbal."


"Gue Rama."


"Gue Dani."


Mereka bertiga memperkenalkan diri, seketika pun Lea tertawa.


"Iqbal, Rama, Dani?. Kayak nama artis." selorohnya kemudian.


"Hehehe." Mereka kembali nyengir.


"Boleh tau nggak namanya." tanya Iqbal penuh harap.


"Oh, gue Lea." jawab Lea kemudian.


"Lo mama apa maba?" Rama ikut-ikutan bertanya.


"Gue maba, lo semua?"


"Sama dong, kita juga maba." celetuk Dani.


Dua orang perempuan yang tampaknya juga adalah calon mahasiswi baru, mendekat ke arah mereka.


"Ye, ganggu aja lo berdua." Iqbal sewot, kedua gadis itu nyengir pada Lea.


"Adisty."


Salah satu dari mereka memperkenalkan nama, ia juga mengulurkan tangan pada Lea dan disambut dengan hangat.


"Yang ini pasti Zara." ujar Lea sok tau.


"Oh bukan, gue Ariana nggak pake Grande." ujar teman Adisty memperkenalkan diri.


"Oh gue pikir, ini Iqbal, Rama, Dani. Dan Lo berdua Adisty sama Zara, biar kompakan kayak entertainment." seloroh Lea.


"Ah nggak koq, gue beneran Ariana, tapi nasib gue Ariani alias lokal."


Mereka semua pun akhirnya tertawa.


***


"Apa?"

__ADS_1


"Daniel nikah sama Lea?"


Clarissa seperti dihantam batu besar, ketika mendengar berita tersebut dari kakaknya. Tengah malam suntuk ia menerima telpon dan harus menerima kenyataan pahit. Padahal ia baru saja mengalami hal buruk, yakni dipermalukan oleh istri dari sugar daddy nya dan sugar daddy nya itu kini nyaris tanpa kabar.


Ia juga telah di usir dari apartemen tempat dimana selama ini ia disembunyikan. Sebab usut punya usut, ternyata properti itu milik istri sah sang sugar daddy.


"Lo terlalu plin-plan sih waktu itu buat keputusan, coba lo sama Daniel. Dia single, kaya-raya, belum lagi kalau dapat warisan juga dari bapaknya. Nggak dapat aja dia udah kaya, apalagi dapat. Jadi nyonya besar lo."


Clarissa terdiam mendengar ocehan sang kakak, hatinya kini terbakar panas.


"Brengsek si Lea, bisa-bisanya dia nyolong keberuntungan yang harusnya gue miliki."


Ia menggerutu penuh dendam, rasanya ingin segera ia menenggelamkan perempuan itu.


Sang kakak kemudian kembali berbicara panjang lebar, membuat Clarissa semakin dikuasai kabut hitam.


***


"What, mereka merried?"


Tak jauh berbeda dengan Clarissa, Sharon kini juga mengalami syok berat. Ketika mendapati kabar dari orang kepercayaannya, yang selama ini sering memata-matai Lea. Bahwasannya Lea telah dinikahi oleh Daniel.


"Brengsek tuh cewek, koq malah dinikahin sih?. Gimana bisa coba, kan udah gue laporin ke orang tuanya tempo hari. Gimana sih orang tuanya, kayaknya kemaren marah banget. Ini koq malah dikasih izin buat nikah."


"Hai, Shar."


Maya muncul dirumahnya secara tiba-tiba bersama Tasya. Mereka yang tadinya bersemangat mendadak down, ketika melihat Sharon yang begitu gusar.


"Lo kenapa, Shar?" tanya Tasya heran.


Sharon menghela nafas kesal, lalu menyilangkan tangan di dada.


"Tuh si miskin rakyat jelata itu, malah dinikahin sama om-omnya."


"Maksud lo, Lea?" tanya Maya tak percaya, Tasya sendiri sampai terperangah mendengar hal tersebut.


"Iya siapa lagi." Sharon memperjelas, Maya dan Tasya kini saling menatap satu sama lain.


"Koq bisa?" tanya Maya heran, ia menatap lekat-lekat ke wajah Sharon.


"Ya mana gue tau, padahal lo liat sendiri kan tempo hari. Emak bapaknya dia marahnya kayak apa, katanya mereka bakalan menuntut om-omnya si Lea itu. Gue udah seneng banget, si Lea bakalan kehilangan sumber keuangannya. Eh malah dinikahi, kan brengsek."


Lagi-lagi Maya dan Tasya saling bersitatap.


"Gue nggak rela tuh perempuan hidup enak, awas aja. Gue akan cari cara buat menghancurkan dia lagi, pokoknya dia nggak boleh bahagia."


Maya dan Tasya menghela nafas.


"Tenang aja, Shar. Ada gue sama Tasya yang akan bantuin lo."

__ADS_1


"Iya, pokoknya jangan biarkan si Lea hidupnya enak ataupun tenang." timpal Tasya kemudian.


Sharon melemparkan tatapan ke suatu sudut, dengan kemarahan yang belum juga mereda. Ia telah terserang penyakit hati akut, yang mungkin akan sangat sulit untuk disembuhkan.


__ADS_2