
"Nin."
Lea mendekat ke arah Nina kemudian mereka cipika-cipiki. Tak lama Vita pun datang dan mereka melakukan hal serupa.
"Delil."
Nina mendekat ke arah stroller yang berisi bayi Darriel, kemudian mengambil dan menggendong anak itu.
Darriel menatap Nina dengan wajah bingung.
"Ini aunty Nina, inget nggak?" tanya Nina.
Darriel masih terlihat bingung wajahnya. Ia terus memperhatikan teman dari ibunya itu, hingga kemudian.
"Eheee."
Ia tertawa geli.
"Lama ya loading nya." ucap Nina.
Vita tertawa, begitu pula dengan Lea. Mereka duduk pada meja yang telah di reservasi. Kemudian seorang pelayan kafe mendekat lalu menyodorkan tiga buku menu pada mereka. Mereka kemudian memesan minuman dan makanan ringan.
"Baik, ditunggu sebentar." ucap pelayan itu seraya menjauh meninggalkan meja.
"Ikut siapa kamu?"
Lea bertanya pada Darriel, yang saat ini tengah berada dalam pangkuan Nina sambil mengenyot jari.
"Heee."
Ia tertawa.
"Dia mah ketawa aja, udah." ujar Vita.
"Mau digendong genderuwo sama kuntilanak juga ketawa nih anak." seloroh Nina.
"Heheee."
Darriel makin tertawa.
"Jadi gimana lo berdua?" tanya Lea pada Vita dan Nina.
Kedua teman Lea itu pun tersenyum.
"Ya, kita mau nikah." ucap Vita.
Lea jadi ikut senang mendengar kata-kata tersebut.
"Gue senang dan bersyukur banget atas semua ini." ujar Lea.
"Kita juga nggak nyangka koq, Le." tukas Nina.
"Bisa-bisanya orang kayak gue dan Vita ketemu cowok yang bener gitu loh." lanjutnya lagi.
"Iya, padahal kan kita tadinya simpanan om-om." timpal Vita.
Lea menghela nafas dalam-dalam dan menjawab.
"Semua kembali ke dalam diri kita masing-masing." ujarnya.
"Kalau emang niat dan pengen ketemu yang baik, ya pasti bakal di temukan sama yang baik juga." imbuhnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Vita dan Nina tersenyum.
"Heheee."
Darriel tertawa. Membuat perhatian ketiga perempuan itu kini tertuju pada dirinya.
"Gemes deh Aunty sama kamu." ucap Nina.
"Hokhoaaa."
Darriel membalas seakan-akan ia mengerti ucapan dari teman ibunya tersebut. Lea, Vita, dan Nina lanjut membicarakan masalah kuliah. Kemudian beralih topik ke rencana pesta pernikahan keduanya.
Meski terbilang jaraknya cukup jauh. Namun seperti yang Lea bilang, berkhayal dan bersenang-senang saja dulu. Karena semua itu gratis.
***
Susi tanpa sengaja menemukan struk pembelian makeup dan skincare di saku jas Hanif. Ketika ia membuka lemari dan tumben-tumbenan ingin membereskannya.
Susi menilik tanggal dari pembelian tersebut dan itu belum lama ini. Tepat sehari sebelum Hanif berangkat keluar kota.
Hati Susi berdetak, sebab di tanggal dan hari tersebut tak ada skincare ataupun makeup yang diberikan Hanif padanya.
Lagipula jika hendak membelikan hal tersebut, Hanif pasti mengajak Susi. Karena ia tak begitu hafal skincare dan makeup yang dipakai oleh istri ketiganya tersebut.
Susi memperhatikan jenis dan merk serta harga tertera. Skincare dan makeup itu bukan yang biasa ia pakai. Tetapi total belanjaannya memang cukup mahal, yakni sekitar lima juta.
"Apa Hanif membelikan Nadya atau Yayah?" pikir Susi.
Tapi ia juga ingat jika saat ini Hanif tengah bermasalah dengan kedua istrinya tersebut. Bahkan diambang perceraian.
"Apa mereka sudah berbaikan?"
"Apa ini cara Hanif untuk berdamai dengan salah satu dari mereka?"
Susi pusing dan runyam sendiri dibuatnya. Ia benar-benar tak tau siapa yang sudah diservis oleh Hanif bagaikan putri seperti ini. Ia ingin sekali bertanya pada orangnya langsung.
Tapi ia takut nanti Hanif menjadi lebih hati-hati lagi, terhadap tindakannya. Nanti Susi malah tak bisa memergoki Hanif, seandainya Hanif memang benar telah selingkuh dari dirinya.
Susi mengambil dan menyimpan struk belanja tersebut. Ia lalu membongkar lemari Hanif dan hendak menemukan kalau-kalau ada bukti lain.
Sementara di kediamannya Shela semakin menguasai Hanif. Saat ini dengan tidak tahu malu ia duduk di pangkuan pria itu. Kebetulan Hanif memang sedang tidak bekerja.
"Mas, aku pengen punya anak." ujar Shela dengan nada manja.
"Kan lagi aku bikin sekarang. Sebentar lagi juga kamu hamil, aku kan benihnya hebat. Bisa cepat bikin orang melendung." ujar Hanif dengan nada bangga.
Shela tersenyum, lalu ia mencium bibir suami orang tersebut. Salah satu jurus andalan semua pelakor, yakni nyosor duluan. Semua dilakukan demi uang dan segala bentuk kemewahan.
Seperti biasa, Hanif yang memang ganjen itu tak tahan. Akhirnya Shela kembali di garap dan ia kembali menanamkan benihnya yang banyak.
***
"Hokhoaaa."
Darriel bersuara di dalam stroller. Saat ini dan teman ibunya tengah berbelanja pakaian. Lea merasa pakaiannya itu-itu saja, dan ketika pergi kemanapun selalu yang ia dahulukan adalah Darriel.
"Kenapa?. Delil mau baju juga?" tanya Lea.
"Heheee." Darriel tertawa.
Jelas ia tak mengerti pertanyaan ibunya. Tapi ucapan Lea tersebut mungkin memberi kelucuan tersendiri di benaknya. Sehingga ia terkesan mengerti dan menanggapi ucapan sang ibu.
__ADS_1
"Delil udah beli baju melulu, gantian mama dong. Masa mamanya Delil busuk." ujar Lea.
"Heheee."
Lagi-lagi Darriel tertawa.
"Kenapa Le?" tanya Vita dan Nina seraya mendekat.
"Nih si bocil." ujar Lea.
"Dari tadi hokhoa, hokhoa mulu. Kayak nggak boleh banget emaknya sibuk nyari baju."
"Maunya di gendong terus kamu ya Delil?" tanya Vita.
"Heheee."
"Mau aunty gendong?"
Nina mengulurkan tangan dan Darriel pun antusias, lalu turut mengulurkan tangannya untuk di sambut.
Nina menyerahkan baju pilihannya pada Vita, kemudian menggendong anak itu. Seketika Darriel melirik ke arah Lea, kemudian tertawa.
"Seneng itu, digendong siapa kamu?" tanya Lea.
"Ma."
"Lah?"
Lea, Vita, dan Nina kaget. Pasalnya Darriel seperti mengatakan "mama." barusan.
"Apa nak, coba ngomomg lagi!" Pinta Lea.
"Heheee."
"Ayo ngomong sekali lagi!, mama." ujar Lea mengajari.
"Heheee."
"Mama."
Vita juga mencoba menstimulasi anak itu untuk mengatakan hal serupa.
"Heheee."
"Kebetulan doang kali." ujar Lea.
"Iya, anak umur segini biasanya belum ngerti banget." ucap Nina.
Mereka pun lanjut berbelanja, sedang Darriel yang berada dalam gendongan Nina sibuk tertawa sana-sini pada banyak orang.
Setiap ada yang melintas, pasti ia mengatakan "Hokhoa." Atau tertawa kencang. Sehingga perhatian orang tertuju padanya.
Wajahnya yang tampan dan lucu membuat semua orang jatuh cinta. Mereka biasanya langsung seperti meleleh apabila melihat anak itu.
"Siapa namanya?" tanya salah satu pengunjung store.
"Namanya Darriel, tante."
Nina menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang masuk. Sampai kemudian Darriel bosan sendiri lalu menangis. Lea memompa ASI di toilet mall dan memberikannya pada anak itu. Usai meminum ASI, matanya mulai meredup dan tak lama kemudian ia pun tertidur.
"Akhirnya tidur juga." ucap Lea seraya memperhatikan anaknya itu.
__ADS_1
Kemudian ia, Vita, dan Nina lanjut belanja.