Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
1 Month


__ADS_3

"Selamat satu bulan sayang."


Lea dan Daniel tersenyum di muka box bayi Darriel, ketika bayi itu baru terbangun di pagi hari yang cerah. Ada beberapa balon dekorasi dengan dominasi warna biru yang bertuliskan angka 1 bulan.


Hari ini tepat sebulan lalu Darriel di lahirkan oleh Lea. Bayi itu kini melihat kedua orang tuanya lalu beralih fokus kepada balon-balon yang ada di sekitar.


Mungkin ia aneh melihat balon-balon tersebut. Apalagi ada yang terbang dan menempel pada langit-langit kamar.


"Semoga kamu sehat selalu, makin pinter dan jangan cengeng ya sayang." Lea mengungkapkan harapannya terhadap sang anak.


Darriel hanya menguap lesu karena masih mengantuk.


"Semoga Darriel jadi anak yang baik, jadi diri sendiri, tumbuh jadi anak yang pemberani dan nggak nakal." Daniel berbicara sambil membelai kepala Darriel. Tak lama anak itu kembali menguap dan mengusap-usap matanya dengan tangan.


"Masih ngantuk banget kayaknya mas." ujar Lea mengamati.


"Iya ngantuk banget, kayak abis lembur sampe subuh di kantor."


"Hahahaha."


Keduanya kini sama-sama tertawa.


"Hai Darriel."


Richard masuk bersama Ellio.


"Happy one month." ujar keduanya di waktu yang nyaris bersamaan.


"Bawa apa lagi yah, om?"


Lea melihat kado besar yang ada di tangan Richard dan Ellio.


"Hadiah buat peringatan satu bulan kelahiran Darriel." jawab Ellio santai.


Lea dan Daniel terdiam, antara ingin nyengir namun lelah dan trauma pada kado. Sebab yang dari teman kampus Lea saja masih menumpuk. Belum lagi hadiah saat Darriel baru lahir, masih ada beberapa yang disimpan oleh Lea di penthouse.


"Nih, om Ellio beliin mobil-mobilan." ujar Ellio meletakkan hadiah tersebut di dekat Darriel.


"Papa Rich beliin kamu juga." ujar Richard tak mau kalah.


Daniel menarik nafas dan menahan tawa.


"Yah, om. Ini mobil-mobilan yang bisa dinaikin kan?" Lea memperhatikan semuanya sambil mengira-ngira.


"Iya."

__ADS_1


Dengan percaya diri kedua pria bertampang handsome sugar Daddy itu menjawab, lalu membuka kertas kado yang membungkus di kotak hadiah.


Dari sana terlihatlah dua jenis mobil-mobilan yang bisa di naiki oleh anak kecil. Ellio memberikan mobil-mobil mini Cooper, sedang Richard memberikan Range Rover.


"Nih bagus kan?" ujar Richard diikuti senyum Ellio.


Lea menepuk dahinya dengan tangan.


"Ini anak sebulan yah, om. Apa kabar kalau ulang tahun pertama nanti?"


"Nanti ayah belikan hadiah lain." ucap Richard.


"Iya benar." timpal Ellio.


Lea benar-benar ingin mengirim ayah dan om nya itu ke bulan. Agar Darriel tak tenggelam dalam hadiah yang sudah dan akan mereka berikan lagi nantinya.


***


"Kamu kenapa Le?"


Daniel bertanya pada Lea ketika telah lewat tengah hari. Saat itu Lea sedang menyusui Darriel sambil memandangi anaknya itu.


"Dia beruntung banget, mas. Lahir ditengah-tengah keluarga yang hangat dengan keadaan ekonomi sangat baik. Ini anugerah loh buat dia. Sementara diluar sana ada anak yang bahkan dari lahir udah dibuang sama orang tuanya. Ada yang lahir dalam keluarga nggak punya."


Daniel tersenyum lalu duduk di hadapan istri dan anaknya itu.


"Iya mas." jawab Lea sambil menatap Daniel, lalu kembali melihat Darriel sambil tersenyum tipis.


"Terima kasih ya Tuhan, hari ini Darriel dapat hadiah lagi. Semoga papa Rich dan om El selalu sehat, semakin sukses. Ya nak ya, kita doain ya. Doain papa juga, semoga papa Darriel selalu lancar usahanya, sehat terus badannya, sayang terus sama mama dan Darriel ya."


Darriel berhenti mengenyot dan menatap sang ibu.


"Dia lucu banget kalau lagi kayak gini mas."


Lea memperlihatkan wajah Darriel pada Daniel dan Daniel pun menyetujui pernyataan tersebut. Tiba-tiba Darriel tertawa lalu kembali meminum susu.


"Dih, ketawa mas. Baru kali ini loh aku ngeliat."


"Sama." ucap Daniel tak kalah kagetnya.


"Selama sebulan jadi bayi perasaan dia judes banget." seloroh Lea lagi.


Daniel menganggukkan kepala sambil tertawa-tawa.


"Udah mulai bisa mengekspresikan tawa kali sekarang." ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Iya kali ya mas?" Lea menatap Darriel lalu kembali menatap sang suami.


"Umur berapa sih biasanya bayi bisa kita ajak bercanda itu?" tanya Lea.


"Hmm, kayaknya tiga bulan atau lebih deh." jawab Daniel.


"Mungkin tadi dia cuma pengen ketawa aja. Bukan ngerti apa yang kita omongin." lanjut pria itu kemudian.


"Iya sih, tapi manis banget jadinya."


Lea mencium kening Darriel yang belum terlelap itu. Coba dek sekali lagi senyumnya." pinta Lea.


Namun Darriel kembali memberi lirikan seperti hari-hari sebelumnya. Lea dan Daniel pun hanya bisa pasrah sambil kembali tertawa-tawa.


Mereka menyukai momen seperti ini. Hampir semua proses menyusui yang dilakukan oleh Lea, di dampingi oleh Daniel. Jika ia tak bisa hadir di dekat Lea karena harus bekerja. Biasanya ia akan bertanya melalui pesan singkat di WhatsApp. Soal sudah atau belum Darriel diberi ASI pada hari itu.


Jika Lea menjawab sudah ataupun belum. Daniel selalu menyemangati sang istri dengan kata-kata yang manis.


Minimal ia berterima kasih pada perempuan muda itu, karena sudah mau sabar merawat Darriel. Memang memberi kasih sayang, dan ASI merupakan kewajiban seorang ibu terhadap anaknya.


Tetapi membesarkan hati istri dengan pujian mampu membuat istri merasa jika pengorbanannya di hargai. Jika ia merasa di hargai, maka akan tercipta suasana hati yang bahagia.


Jika seseorang bahagia, maka ia akan mudah untuk membagi kebahagiaan dan perhatiannya terhadap orang lain. Termasuk pada anaknya sendiri.


Daniel sangat-sangat mendukung istrinya. Dan lagipula pujian dalam rumah tangga itu mudah serta gratis, asal mau saja melakukannya. Tak perlu tabu untuk saling memuji satu sama lain. Toh tak ada orang lain yang mendengar.


Saling mendukung dengan pasangan harusnya memanglah di terapkan dalam sebuah pernikahan. Sebab pernikahan itu kompleks, bukan sekedar menikah dan berhubungan. Yang perempuan hamil serta melahirkan. Sedang yang laki-laki fokus mencari nafkah semata.


Rumah tangga adalah tempat dimana kita harusnya menjadi teman, partner dalam segala hal. Bukan tempat untuk mendahulukan ego masing-masing dan meminta dianggap paling besar dalam hal pengorbanan dan waktu..


"Akhirnya tidur juga."


Lea beranjak lalu membawa bayi Darriel ke dalam box, setelah bayi itu kenyang dan terlelap.


"Kamu kalau capek, tidur aja Le."


"Masih ada tugas kampus mas. Ntar aja tidurnya, mau ngerjain itu dulu."


"Mau aku temenin?"


"Nggak usah, mas. Kalau ada yang mau di kerjakan ya kerjakan aja. Atau makan gitu, tidur. Kan nggak ngantor juga hari ini."


"Aku mau ngerokok dulu deh di bawah, abis itu makan. Kamu jangan lupa makan." ucap Daniel kemudian.


"Itu mah nggak usah diingetin, mas. Makan adalah daftar utama dalam otak aku."

__ADS_1


"Hahaha."


Daniel mencium kening Lea, lalu ia turun ke bawah dan merokok di luar sambil bermain game online..


__ADS_2