Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Soal Perempuan Itu


__ADS_3

"Le."


Tiba-tiba Daniel menelpon Lea, saat dirinya tengah menonton drama Korea bersama Adisty dan juga Ariana.


"Kenapa mas?" tanya Lea seraya agak sedikit menjauh dari kedua temannya. Ia takut suaranya membuyarkan konsentrasi mereka dalam menonton.


"Tolong ambilkan kunci mobil di atas, yang Bentley. Ada di dalam laci meja nomor dua. Om Ellio nunggu di bawah, dia mau pake mobil itu."


"Oh om Ellio dibawah?" tanya Lea.


"Iya, lagi makan batagor. Samperin aja."


Lea tertawa kecil.


"Ok deh." jawabnya kemudian.


"Makasih ya Le."


"Iya mas."


Daniel menyudahi telpon tersebut, Lea bergegas menuju ke lantai atas dan langsung membuka laci yang dimaksud. Lea mengambil kunci mobil tersebut, namum kemudian ia dikejutkan dengan sebuah foto yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Foto itu adalah foto seorang wanita bersama anak kecil berusia kira-kira 3 tahun. Foto itu tampaknya diambil cukup lama, karena sudah agak bergaris dimakan waktu.


Lea memperhatikan foto tersebut baik-baik. Dan bertapa terkejutnya ia, ketika menyadari siapa wanita yang ada di foto itu.


"Ini kan, perempuan yang sering ketemu aku sama mas Daniel." gumamnya kemudian.


"Ini?"


Lea memperhatikan anak kecil yang ada di pangkuan sang wanita.


"Mas Daniel?"


Seketika pikiran Lea pun tertuju pada suatu. kesimpulan.


"Ibunya mas Daniel?"


Lea menutup mulutnya dengan tangan. Namun tiba-tiba ia teringat jika harus memberikan kunci mobil pada Ellio. Maka segera saja ia kembali meletakkan foto tersebut ke tempat semula. Ia mengambil kunci mobil lalu turun ke bawah.


Sesampainya di bawah, ia lebih terkejut lagi. Lantaran melihat perempuan terduga ibu Daniel tersebut tengah berbicara dengan Ellio. Meski tak lama setelah itu ia berlalu, meninggalkan Ellio dalam kebekuan yang mendalam.


"Om Ellio."


Lea mendekat, Ellio langsung merubah sikapnya yang diam menjadi biasa saja.


"Eh Lea." ujarnya kemudian.


Lea menyerahkan kunci mobil yang diminta, kepada sahabat suaminya tersebut. Terlihat jelas jika Ellio masih terlihat tegang, pasca bertemu dengan wanita itu tadi.


"Om, itu...?"


Lea menunjuk wanita yang sudah menjauh tersebut. Ellio heran, melihat Lea yang seolah mengetahui.

__ADS_1


"Itu ibunya mas Daniel kan?"


Ellio benar-benar terkejut.


"Kamu tau?" tanya nya kemudian.


Lea mengangguk.


"Tadi aku ketemu fotonya di atas. Beberapa hari belakangan ini aku juga sering liat dia ada di sekitaran mas Daniel. Tapi mas Daniel nggak ngeh."


Ellio menghela nafas.


"Tadi juga dia ke dekat om secara tiba-tiba dan nangis. Dia nanyain apa om ini Ellio atau bukan. Om ingat mukanya dia, om juga kaget tadi."


"Apa dia mau menemui mas Daniel?" tanya Lea lagi.


"Kalau itu sih pasti, cuma kayaknya dia nggak berani. Karena sudah pasti Daniel bakalan marah dan menolak dia."


"Loh, kenapa?" tanya Lea heran.


"Ya kamu bayangin aja, Le. Dari umur 14 tahun Daniel itu ditinggal sama dia. Sampe Daniel seumur sekarang dia nggak pernah sekalipun datang. Atau menanyakan Daniel ke mantan suaminya lewat telpon. Daniel itu tumbuh dalam asuhan orang tua Richard dan orang tua om. Orang tuanya nggak ada yang bener."


"Tapi mungkin aja mas Dan mau maafin, om. Aku aja yang ditinggal ayah sejak kecil, mau koq maafin dan menerima ayah."


"Kamu itu beda kasusnya, Lea. Ibu kamu nggak begitu kenal Richard dan begitu juga sebaliknya. Tau-tau ketemu, tau-tau begituan, tau-tau hamil. Abis itu sama-sama nggak tau apa yang terjadi. Kalau ibunya Daniel, menikah secara sadar, punya anak secara sadar juga. Habis itu anaknya di tinggalin. Daniel itu sakit selama satu bulan, saat ibunya pergi. Udah dibawa ke dokter mana-mana, tapi nggak sembuh-sembuh. Sampai akhirnya dia dibawa ke rumah Richard dan di rawat sama maminya Richard. Baru dia bisa balik normal lagi."


Lea menghela nafas, ia tidak tau jika masalahnya seperti itu.


Ellio diam dan tampak berfikir.


"Kayaknya jangan dulu deh, Le. Takut dia syok atau apa."


Lea mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ok deh kalau gitu." ujarnya kemudian.


"Ya udah om jalan dulu ya." tukas Ellio.


"Iya om, hati-hati."


"Makasih ya Le."


"Sama-sama om."


Ellio lalu bergegas mendekati mobil Daniel yang ia pinjam. Sementara Lea kini kembali ke atas.


"Lo dari mana, Le?"


Adisty bertanya pada Lea, ketika Lea telah berada di atas.


"Dari nganterin kunci mobil buat om Ellio."


"Ada om Ellio?" tanya Adisty lagi.

__ADS_1


"Cie yang masih punya hati terhadap om Ellio." Ariana menggoda Adisty, hingga wajah Adisty pun bersemu merah.


Lea tersenyum menatap Adisty.


"Apaan sih lo berdua?" ujar Adisty kemudian.


"Kan gue udah sama Rama." lanjutnya lagi.


"Tapi masih sering kepikiran kan?"


Lea menggoda temannya itu. Adisty makin senyum-senyum sendiri.


"Ih apaan sih?" ujarnya lagi.


Lea dan Ariana sama-sama tertawa. Diketahui jika Adisty dan Ellio sempat dekat beberapa waktu yang lalu, meski tak sampai jadian. Adisty lebih memilih Rama yang seumuran dengannya dan Ellio menghargai keputusan itu. Meski Ellio tadinya berharap bisa jadian dengan teman dari istri sahabatnya tersebut.


***


Daniel tampak berbicara pada Nicholas atau yang biasa ia panggil dengan sebutan, Nic. Mobil mereka berhenti sejenak di sebuah rest area. Lantaran mereka hendak menuju ke suatu tempat.


"Papa senang akhirnya kamu kembali kesini. Papa pikir kamu akan betah di luar negri dan memilih hidup disana."


Nic tersenyum dan menghela nafas.


"Sebenarnya Nic lebih suka di luar negri, pa. Tapi kadang kangen aja mau balik kesini. Nic kangen mama, ayah Tyo. Kangen sama papa, papa Richard dan papa Ellio. Terus, pacar Nic juga kerja disini."


"Papa Richard nawarin kamu kerja di kantornya dia. Udah lulus kan kamu?"


"Udah." jawab Nic kemudian.


"Coba aja kerja dulu disitu. Kalau di kantor papa semua slot penuh. Tapi papa bisa usahakan kalau kamu mau."


"Nic mau jadi pengusaha kayak papa. Nic mau jadi yang punya, bukan yang kerja sama orang."


"Tapi kan Richard juga orang tua kamu."


"Tetap aja nggak enak, masa memanfaatkan privilege."


Kali ini Daniel tertawa.


"Papa tuh bangga banget loh, akhirnya kamu udah sebesar ini, udah sampai ke titik ini."


"Nic cuma mau bilang, terima kasih banyak atas semuanya. Kalian udah biayain hidup Nic selama ini."


Nic agak sedikit tertunduk ketika membicarakan hal tersebut. Ia benar-benar merasa berhutang budi pada Daniel, Richard dan juga Ellio.


"Nic nggak tau gimana harus membalasnya ke kalian."


Kali ini Daniel menghela nafas.


"Hiduplah dengan baik, itulah cara kamu membalas apa yang sudah orang tua kamu lakukan."


Nic terdiam, Daniel kemudian mengusap kepala anak itu dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2