
(Peringatan : Untuk yang tengah berpuasa, di sarankan membaca nanti sore saja).
"Mas, anter ke penthouse dulu mas. Ada beberapa buku yang mesti aku ambil disana."
Lea berujar pada Daniel, ketika ia sudah berada di dalam mobil. Daniel menjemputnya ke kampus, setelah kantor bubar dan kini mereka berada di jalan pulang.
"Ya udah, sekalian aku juga ada mau ambil beberapa baju." ucap Daniel.
"Ini lama-lama kita beneran pindah ke rumah Richard nih." selorohnya lagi sambil tertawa.
"Tapi kalau kamu udah nggak betah, bilang mas. Aku nurut aja apa maunya kamu."
"Iya, Le. Sebelum nikah juga aku lebih banyak di rumah Richard koq, ketimbang di tempatku sendiri."
"Oh ya?"
"Tanya aja sama Richard, kita ngumpulnya selalu dimana."
Lea yang tertawa kali ini.
"Udah kayak biji ya mas berdua-duaan."
"Biji apaan nih?" goda Daniel.
Lea makin tertawa-tawa. Daniel memutar arah menuju ke penthouse. Sesampainya di sana Lea segera mengambil barang-barang yang ia butuhkan, begitupula dengan Daniel. Lalu mereka duduk sejenak di sofa sambil menikmati segelas teh hangat.
"Mas."
"Hmm?"
Lea menolehkan kepala dan mencium bibir Daniel. Sejak tinggal bersama sebelum menikah, Lea memang sudah sering nyosor duluan pada suaminya tersebut.
Maka Daniel pun tak heran. Ia kini balas mencium bibir Lea. Dengan tangan kekarnya yang berurat itu memegang wajah dan leher sang istri.
"Hmmh."
Lea bersuara dan tampak sangat menikmati, ketika ciuman sang suami terasa semakin panas.
Daniel membuka kancing kemeja Lea, dan terlihatlah dua gundukan kembar disana. Daniel memandangnya tanpa berkedip. Ia memainkan area tersebut hingga membuat Lea terus melenguh, serta menyodorkan benda tersebut kepada sang suami.
Daniel kembali mencium Lea, dengan bagian dada wanita itu yang membusung ke arahnya serta di remas olehnya.
Tangan Lea menyentuh junior Daniel yang sudah menegang sejak tadi. Dibukanya resleting sang suami dan dikeluarkannya benda tersebut.
Tampak tegang, kencang, serta panjang dan berurat. Sementara tangan Daniel beralih ke bagian perut Lea dan mengusap-usapnya dengan lembut. Lalu turun sejenak jari-jemari pria itu untuk mengusap bagian bawah.
Naik lagi ke perut, kembali ke dada, turun ke perut dan ke area bagian bawah lagi. Lea tanpa sadar menggoyang-goyangkan pinggulnya dan mengangkat-angkat bagian tersebut.
Daniel melucuti helai demi helai yang menutupi tubuh istrinya itu. Sambil terus mencium bibir Lea, ia memainkan jari tengahnya di bawah sana.
"Ssshh, maaas."
Lea semakin menggoyang-goyangkan pinggulnya. Daniel sangat menyukai pemandangan tersebut.
__ADS_1
Di rebahkannya Lea di sofa lalu ia buka kedua kaki perempuan itu lebar-lebar. Daniel melepaskan jas dan kemeja yang ia pakai, terakhir celana panjang yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Tampak sesuatu mencuat dan begitu tegang di bawah sana. Ia kembali mencium bibir Lea, Sambil mendorong miliknya secara perlahan.
"Ssshh."
"Aaaah."
Keduanya mengerang nikmat. Daniel menatap mata Lea kemudian bergerak maju mundur.
"Mas, hmmh."
"Ssshh."
"Aaaah."
Daniel menggerakkannya dengan tempo sedang. Tubuh Lea terlihat naik turun di sofa tersebut. Berhubung hanya mereka berdua yang ada disana. Maka segala desah, erangan, bahkan racauan terdengar di segala penjuru.
Daniel sudah begitu lama menahan hasrat. Sedang Lea harus bersabar apabila melihat tubuh sexy sang suami, yang kadang terpampang nyata dihadapannya.
Daniel kemudian duduk di sofa. Lea pindah berada di atas sambil menatap sang suami. Mata Daniel tak terlepas dari sang istri ketika miliknya kembali masuk dan tertancap begitu dalam.
"Lea, sayang. Aku, ssshhh, aaah."
Lea bergerak naik turun di atas suaminya tersebut. Sesekali mereka berciuman diantara rasa cinta yang seperti meluap-luap.
Setelah puas dengan posisi seperti itu, Daniel membuat Lea membelakanginya. Dan ia kembali menghantam perempuan muda itu dari arah belakang.
"Sayang kamu terima ini, nikmatin sayaaang."
Daniel kian mempercepat gerakan, sementara Lea terus menyebut nama suaminya itu.
"Mas Dan, maaas."
"Maaas."
Permainan itu berlangsung lama. Sebab keduanya sama-sama telah menahan berhari-hari. Hingga pada suatu titik, Daniel mengembalikan posisi Lea ke bawah.
"Aku mau masukin adeknya Darriel dalam-dalam sayang." ujarnya di sela-sela nafas yang tersengal.
"Iya mas." ucap Lea.
"Maka Daniel pun kembali memasukkan miliknya ketika Lea sudah terlentang pasrah. Lalu ia kembali memulai gerakan. Awalnya lambat, sedang, lalu cepat.
"Sayang kamu siapkan?"
"Iya mas."
Daniel mencium bibir Lea, melepaskannya lalu mereka sama-sama mengerang dan berteriak kencang. Ketika akhirnya mereka mencapai puncak.
Tubuh keduanya bergetar hebat, seperti tiga kali lebih kencang dari biasanya. Kemudian terasa ada sesuatu yang hangat mengalir dengan sangat deras di bawah sana.
Daniel terus menghentak-hentakkan miliknya ke dalam, sampai ia benar-benar merasa puas. Setelah itu ia ambruk dan memeluk tubuh Lea.
__ADS_1
"Aku kangen banget sama kamu sayang."
Daniel berbisik di telinga Lea. Dengan pinggulnya yang masih terus bergerak. Sebab ia belum mengeluarkan miliknya sampai saat ini.
"Aku juga kangen mas, setiap kali kamu mau kerja dan pake jas itu. Rasanya pengen aku lepasin saat itu juga."
Kali ini Daniel tertawa.
"Tapi kamu keliatan kayak biasa aja kalau ngeliat aku setiap hari."
"Ya kan aku malu mas, kalau jujur banget. Kadang aku ngeliat kamu duduk sambil nonton TV aja tuh, rasanya kedut-kedut semua."
Lagi dan lagi Daniel tertawa.
"Sama aku aja bolehnya kayak gitu ya. Sama cowok lain jangan."
"Ih orang aku sukanya sama mas."
"Beneran?" tanya Daniel serta tersenyum.
Lea pun ikut tersenyum.
"Kalau tergila-gila sama aku ada syaratnya." ucap Daniel.
"Apa?"
"Kamu harus hamil setiap tahun. Aku mau punya anak banyak kayak keluarga Atta Petir."
Lea tertawa kali ini, diikuti Daniel.
"Lumayan kan, si Darriel kita suruh bikin YouTube gerebek rumah tetangga. Nanti adek-adeknya ada yang gerebek pasar, gerebek rumah upin-ipin, gerebek kuburan, gerebek panti pijat."
"Hahahaha." Lea makin tertawa.
"Satu anak punya 17 juta subscriber kalikan sebelas anak. Beh, nggak usah kerja lagi kita, Le. Jadi orang tua yang minta-minta aja sama anaknya."
Lea tak henti-hentinya tertawa.
"Nggak kebayang aku mas, Darriel pake ikat kepala terus bawa-bawa kamera dan gerebek rumah orang."
"Eh tapi Darriel ganteng loh. Pasti banyak yang jadi pengikut dia nanti."
Lea menarik nafas dan terus saja tertawa, meski kini tawanya tak lagi bersuara keras seperti tadi.
"Kalau good looking emang gampang disini mas. Seolah satu permasalahan hidup tuh udah kelar." jawab Lea.
"Tapi kita harus didik dia jadi good looking yang baik. Jangan good looking doang tapi kelakukan minus." ujar Daniel lagi.
"Tapi kan kelakuan minus tetap termaafkan kalau good looking." ucap Lea.
"Iya sih, tapi aku mau anakku jadi anak baik. Nakal nggak apa-apa, asal jangan punya hati yang busuk terhadap orang lain. Karena yang paling bahaya itu terlihat kalem tapi busuk."
Lea tersenyum lalu melingkarkan tangan di leher suaminya itu. Sesaat kemudian mereka pun berciuman.
__ADS_1