Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mall (Bonus Part)


__ADS_3

"Kamu tadi bilangnya ada urusan sama klien, kenapa bohong dan malah kesini?"


Susi mulai berani berteriak di muka Hanif. Sebab merasa jika dirinya paling di sukai oleh pria itu. Hanif sendiri bagai runtuh harga dirinya di hadapan sang istri tua, yang melihat dirinya di bentak-bentak seperti itu.


Tapi mau bagaimana lagi, saat ini pun Hanif memang masih tergila-gila dan bodoh oleh cintanya terhadap Susi. Sementara Nadya diam saja, dengan hati yang begitu gembira.


"Pembohong tau nggak kamu." ucap Susi lagi.


"Aku bisa jelasin semua ini koq." tukas Hanif.


"Jelasin apa lagi mas?. Udah jelas kamu bohongin aku demi pergi ke tempat ini."


"Ya, dia juga istri aku." Hanif membela diri.


"Oh gitu, ya udah kamu disini aja. Biar nanti aku dibelai oleh laki-laki lain."


"Hati-hati kamu ya kalau ngomong."


Suara Hanif mendadak meninggi. Membuat seisi ruangan itu kaget, termasuk Susi sendiri.


"Kamu koq bentak aku sih?"


Susi mengeluarkan senjata basinya yakni menangis. Sehingga Hanif pun lalu menurunkan volume suara dan berusaha merayu istri ketiganya itu.


"Aku minta maaf ya." ujar Hanif dengan suara yang lembut penuh maksud.


Susi makin menjadi-jadi tangisnya karena ingin cari perhatian. Tak lama kemudian Hanif memutuskan untuk pulang. Bahkan saking memperhatikan Susi, ia sampai lupa meminta maaf atau berpamitan pada Nadya.


Padahal dirinya sudah membuat keributan di rumah istri tuanya itu. Namun Nadya tak masalah, baginya yang terpenting saat ini adalah Hanif telah pergi.


"Yes."


Wanita itu bersorak-sorai kegirangan. Namun kemudian ia mendadak diam demi menyadari Putri yang tengah memperhatikannya.


Lalu Putri pun tersenyum. Tak lama kemudian mereka berdua meloncat-loncat kegirangan sambil tertawa-tawa.


"Akhirnya dia pergi." ujar keduanya serentak.


"Kita ke mall aja yuk!" ajak Nadya pada asisten rumah tangganya itu.


"Sekalian kita jemput Arkana dulu." lanjutnya lagi.


"Oke." jawab Putri antusias.


***

__ADS_1


Sementara di jalan Susi terus saja ngambek dan enggan berbaikan dengan sang suami. Karena ia merasa telah dibohongi oleh laki-laki tersebut.


"Sayang, udah dong!" pinta Hanif.


"Kasihan anak kita kalau kamu ngamuk kayak gini."


Ia menyinggung bayi yang kini ada di perut Susi. Tetapi Susi masih saja asam raut wajahnya.


"Ayolah sayang, jangan kayak gitu." ucap Hanif lagi.


"Kamu bohong sama aku mas, bilangnya mau ketemu klien lah, inilah, itulah. Tapi taunya ke rumah perempuan itu. Aku nggak suka kamu kesana."


"Ya tapi kan dia juga istri aku. Bukannya kamu udah janji untuk menerima dia dan menganggap dia seperti saudara kamu sendiri. Ingat kan janji kamu sebelum aku nikahin dulu."


"Apa harus dengan cara berbohong seperti ini?. Hah?" jawab Susi dengan suara yang tinggi.


"Kalau aku jujur, apa kamu akan kasih?"


"Ya udah deh aku turun disini aja. Buka pintunya!"


Susi memaksa dan memberontak. Hanif terpaksa menghentikan mobil, sebab takut terjadi apa-apa.


"Ya udah aku minta maaf." ujarnya


Ia menahan tubuh Susi. Dimana-mana pelakor selalu bertingkah melebihi istri sah. Dan selalu saja minta dinomorsatukan, padahal ia sendiri adalah pencuri suami orang.


Ia terpaksa berkata seperti itu demi mendamaikan hati sang pujaan hati.


"Pokoknya kamu janji sama aku mas."


"Iya, janji." ucap Hanif lagi.


Susi lalu mereda ketegangan di tubuhnya dan tak lagi hendak keluar dari mobil. Selang beberapa saat mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Sedang Nadya dan Putri kini bertolak dari rumah. Putri kaget pada Nadya yang menolak di antar supir dan memilih menyetir mobil sendiri.


"Sejak kapan bu, ibu bisa nyetir mobil sendiri?" tanya Putri masih dengan wajah tak percaya. Saat ini bahkan Nadya menyetir dengan ngebut.


"Udah lama, Put. Dulu sebenarnya walau banyak dilarang orang tua untuk kesana-kemari, saya selalu pergi kalau ada kesempatan. Saya punya beberapa teman yang mengajari saya menyetir, naik motor, dan lain sebagainya." ucap Nadya.


Putri jadi kian takjub.


"Jadi ibu itu nggak sepenuhnya anak rumahan dong?" tanya Putri antusias.


Nadya tersenyum.

__ADS_1


"Nggak, Put. Cuma saya memang lebih banyak takut untuk melawan orang tua dan suami. Karena walaupun saya punya teman tongkrongan, tetap agama dan keluarga adalah prioritas utama saya. Saya selalu di doktrin bahwa perempuan hanya boleh menurut pada suami dan tidak boleh membantah. Saya juga melihat contohnya pada ibu saya." jawab wanita itu.


"Makanya ibu selalu nurut sama pak ikan patin, eh pak Hanif maksud saya."


"Kamu bilang apa barusan?" tanya Nadya sambil menahan senyum.


"Mmm, bukan apa-apa koq bu." jawab Putri.


"Bilang apa, ayo!" Nadya mendesak.


"I, ikan patin bu." ujar Putri takut-takut.


Tanpa di duga Nadya kini terpingkal-pingkal.


"Koq sama dengan pikiran saya selama ini ya, Put." ujar Nadya lagi.


Putri kaget mendengar semua itu.


"Saya juga mikir kalau muka mas Hanif mirip ikan patin. Untung Arkana mirip saya ya, nggak ada mirip bapaknya."


Jujur baru kali ini seumur-umur bekerja, Putri mendengar Nadya meroasting seseorang. Apalagi yang di roasting itu adalah suaminya sendiri.


"Kalau mau ketawa, ketawa aja Put!. Jangan ditahan!" ujar Nadya.


"Saya udah muak jadi istri yang baik tapi nggak pernah dihargai." lanjutnya lagi.


Putri menahan tawa, namun detik berikutnya semua pecah begitu saja. Ia terpingkal-pingkal mengingat wajah Hanif. Nadya pun jadi ikut-ikutan tertawa. Mereka berdua lalu meroasting Hanif dan Susi habis-habisan.


Tak lama mereka tiba di muka sekolah Arkana. Arkana kaget melihat sang ibu menyetir sendiri. Ia terkagum-kagum pada kenyataan tersebut.


Sementara di lain pihak, Richard tengah merasa bosan di rumahnya. Ia menghubungi Lea dan juga Daniel, karena bermaksud ingin melihat sang cucu Darriel.


Namun saat ini Lea dan Daniel serta Darriel tengah tertidur akibat kekenyangan. Darriel sendiri berada di tengah-tengah ayah dan ibunya dengan posisi yang melintang.


"Lita."


Richard memanggil sang asisten rumah tangga.


"Iya pak." ucap Lita.


"Ajak Siti sama Rini, temenin saya ke mall." ujarnya kemudian.


"Bapak mau ke mall?" tanya Lita memastikan.


"Iya, saya lagi bosan soalnya. Ayo!" ajaknya lagi.

__ADS_1


"Oke." jawab Lita antusias.


Ia pun memanggil dua asisten rumah tangga lainnya yang diperintahkan Richard, dan tak lama setelah itu mereka bertolak meninggalkan rumah.


__ADS_2