Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Firasat


__ADS_3

"Lo dimana?"


Richard bertanya pada Daniel di telpon.


"Di jalan gue." jawab Daniel sambil terus mengemudi.


"Pulang!" ujar Richard kemudian.


"Kenapa bro, Darriel ngamuk?" tanya Daniel.


Lea kini memperhatikan suaminya itu.


"Iya dia nangis dan udah di handle. Tapi perasaan gue nggak enak ke kalian berdua. Ini nggak ada hubungannya dengan Darriel. Pikiran gue lagi kemana-mana banget soal kalian." Richard kembali berujar di seberang sana."


"Kita baik-baik aja koq."


Daniel mencoba meyakinkan sang mertua. Ia tak tau mengapa Richard mendadak bersikap seperti itu.


"Pokoknya pulang!" ujar Richard lagi.


"Iya, iya. Ini udah di jalan koq."


"Udah deket kan?"


"Iya lumayan, lo tenang aja. Kurang tidur kali lo, makanya jadi over thinking."


"Iya kali ya." ujar Richard.


Tak lama ia pun menyudahi telpon tersebut, sementara Daniel melanjutkan perjalanan.


"Ayah kenapa mas?" tanya Lea penasaran.


"Nggak tau, lagi over thinking kayaknya. Kebanyakan minum alkohol kali." jawab pria itu sambil tertawa.


Lea diam. Tak hanya Richard saja, sedari tadi ia juga merasa over thinking. Ia memiliki firasat seakan ada bahaya yang tengah mengincar dirinya dan juga Daniel.


Namun perempuan itu berharap cepat sampai di rumah dan tak terjadi apa-apa pada mereka berdua.


***


Di yacht milik Marvin.


"Ah, hmmh, ssshh, aaaah."


Clarissa terhentak-hentak keatas, karena dorongan Marvin di bagian sensitif tubuhnya begitu bertenaga.


Perempuan itu merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa di sekujur tubuh. Terutama di dalam rahimnya yang saat ini terasa penuh sesak oleh senjata tumpul nan besar milik Marvin.


Sambil memompa, jari jemari Marvin mengusap-usap dan meremas bagian-bagian yang ia sukai. Membuat Clarissa makin berteriak-teriak keenakan.


Melihat hal tersebut Marvin makin menekan-nekankan miliknya ke dalam.

__ADS_1


"Clarissa sayang, ssshhh."


"Kamu terima ini sayang, hmmh."


"Iyaaah, lebih dalam sayang."


Sementara mereka bermain, jauh di kediaman orang tua Marvin. Seorang perempuan cantik datang dan membuat semua orang terkejut.


"Helen."


Ibu Marvin berujar dengan penuh antusias, sedang ayah Marvin juga tak kalah hangat menyambut kedatangan perempuan itu.


"Kapan kamu pulang?" tanya ibu Marvin kemudian.


"Udah dua hari tante, tapi memang baru sempat kesini hari ini." jawab Helen.


"Kami senang kamu kesini. Kamu sudah kasih tau Marvin?" tanya ibu Marvin lagi.


"Belum tante, mau kasih surprise." ujar Helen.


"Marvin pasti senang sahabat baiknya kembali." Ayah Marvin berkata sambil tersenyum.


Helen pun balas tersenyum pada pria itu. Mereka kemudian lanjut berbincang dan saling menanyakan kabar. Helen sendiri adalah anak dari sahabat baik ayah Marvin. Mereka rencananya akan menjodohkan Marvin dengan gadis itu.


Sebab mereka telah saling mengenal sejak kecil. Meski Marvin selalu menolak apabila di jodohkan. Namun kedua orang tuanya sangat menyukai Helen.


Ia merupakan perempuan cantik, dari keluarga baik-baik serta bermartabat dan berpendidikan tinggi. Maka apabila menikah dengan Marvin, Helen akan lebih menaikkan derajat keluarga mereka.


***


Lea tiba dirumah dan langsung mencari ayahnya. Richard secara serta merta langsung memeluk anaknya itu. Ia terlihat cemas sekali pada Lea.


"Lo kenapa sih, bro?" tanya Daniel heran. Sebab tak biasanya Richard bersikap demikian.


"Nggak tau." jawab Richard seakan tak mengerti dirinya kenapa.


"Gue cemas banget sama kalian berdua." lanjutnya kemudian.


"Lo minta resepkan obat gih, sama dokter. Kebanyakan pikiran itu lo pasti."


Daniel mengambil air minum lalu memberikannya pada Richard.


"Lo kalau cemas itu pasti lupa minum kan?"


Daniel seakan sudah tau tabiat temannya tersebut. Meski cemas yang dialami Richard selama ini tak separah hari ini.


Richard kemudian meraih air minum yang diberikan Daniel, lalu ia pun mereguknya sampai habis.


"Aku ke kamar dulu yah." ujar Lea.


Richard mengangguk, Lea lalu berlarian ke lantai atas untuk mengecek Darriel. Sedang kini Richard duduk di salah satu kursi meja makan, dengan Daniel berada persis di hadapannya.

__ADS_1


"Tadi tuh Darriel nangis kenceng banget, dan tiba-tiba gue inget kalian." ujar Richard.


"Mana belakangan ini kita lagi diserang dan sekarang punya musuh si Marvin."


Daniel menghela nafas. Saking senangnya ia melihat Lea bahagia, ia sampai lupa jika keadaan mereka semua saat ini tengah genting. Ada banyak orang yang ingin mencelakakan mereka.


"Sorry, gue minta maaf. Lain kali gue nggak ngajak Lea ketempat yang jauh lagi." ujar Daniel.


"Untuk jaga-jaga, sementara waktu ini jangan terlalu sering pergi berdua." ujar Richard.


"Pergilah sendiri-sendiri dengan diantar oleh supir. Jadi kalau misalkan ada apa-apa, nggak dua-duanya langsung kena sekaligus." lanjut pria itu.


Daniel mengangguk, seharusnya memang seperti itu. Sebab kita tidak tau bahaya apa yang akan mengintai didepan. Kalaupun harus kejadian, minimal Darriel masih punya satu orang tua yang selamat.


***


"Le, sebaiknya jangan terlalu sering kuliah tatap muka di kampus. Lebih baik online kalau masih bisa online. Dan kalaupun ke kampus, jangan terlalu jauh dari jangkauan teman-teman kamu."


Richard menasehati Lea panjang lebar, setelah. kemarin ia merasakan firasat yang aneh mengenai anaknya itu.


"Kenapa emangnya yah?" tanya Lea tak mengerti.


"Keluarga kita kan lagi dalam bahaya. Kamu pasti paham masalah om Rey dan Arsen. Sekarang masalah baru ada lagi." jawab Richard.


"Maslah baru?" Lea mengerutkan kening.


Richard menjelaskan soal Marvin dan Lea kali ini merasakan ketakutan.


"Terus nanti gimana, yah?" tanya perempuan itu cemas.


"Pokoknya kamu ikuti semua arahan dari ayah. Kalau ayah bilang jangan, jangan. Kalau ayah bilang iya, baru boleh. Kita harus bener-bener waspada." ujar Richard.


Lea paham dan mengangguk. Jujur hal ini sangat-sangat membuatnya ketakutan. Ia langsung menghubungkan hal tersebut ke peristiwa tadi. Disaat tiba-tiba ia merasakan sebuah firasatnya yang tak biasa.


Mungkin saja hal itu ada hubungannya dengan orang yang ingin membuat mereka celaka. Namun alam keburu memberi firasat dan tanda pada Lea. Hingga ia pun tergerak hatinya untuk meminta pulang pada Daniel.


"Darriel juga jangan sering-sering kamu ajak ke luar, kalau nggak penting. Bawa aja ke sekitar jalan rumah, toh halaman kita luas dan matahari masuk." Richard kembali berujar.


"Iya yah." jawab Lea kemudian.


***


Kembali ke yacht Marvin.


Clarissa terhempas lemas untuk yang kedua kali, setelah dua kali pula Marvin menyemburkan ****** ***** ke dalam rahimnya.


Pembuahan kali ini benar-benar terasa berbeda. Sepertinya dalam waktu dekat Clarissa akan mengandung anak dari Marvin.


Sementara di kediaman pria itu.


"Pa, bicarakanlah perjodohan Marvin dengan orang tua Helena. Mama sudah tidak sabar ingin melihat wajah anak Marvin."

__ADS_1


Ibu Marvin berujar ketika Helena tengah berjalan-jalan di sekitar halaman rumah sambil memetik buah. Di sekitar pekarangan rumah dan jauh satu hektare ke belakang memang sengaja ditumbuhi banyak bunga, dan buah. Sebab rumah Marvin konsepnya seperti villa.


"Iya ma, nanti papa bicarakan dengan orang tua dari Helena. Hal yang terpenting itu adalah, Marvin pulang dulu." jawab pria itu kemudian.


__ADS_2