
"Ayah bilang aja kalau ayah tuh udah sama kak Dian."
Lea akhirnya menjadi tempat curhat bagi Richard, apalagi setelah mengetahui jika orang tuanya serius akan menjodohkannya dalam waktu dekat ini.
Orang tuanya juga sudah berkoordinasi dengan orang tua Ellio. Dan orang tua Ellio pun setuju-setuju saja, jika Ellio juga dicarikan jodohnya.
"Ayah takut malah jadi masalah lagi, Lea. Pasalnya Dian itu cuma setahun lebih tua dari kamu. Yang ada, ayah bakal di semprot lagi sama nenek kamu yang cerewet itu."
Lea tertawa, ingat saat neneknya tersebut memarahi sang ayah.
"Koq kamu malah ketawa sih?" tanya Richard.
Saat itu sambungan telpon sedang jernih. Sehingga tawa Lea yang hanya cengengesan tersebut, dapat terdengar dengan jelas oleh telinga Richard.
"Ya abisnya lucu liat oma kalau ngoceh."
"Iya, lucu di kamu ngenes di ayah." Richard kembali berujar.
"Hahaha." Lagi-lagi Lea tertawa.
"Ntar deh yah, aku bantu ngomong ke oma soal kak Dian."
"Tolong ya, Le. Barangkali kalau kamu yang ngomong, nenek kamu yang batu itu bisa sedikit meleleh."
"Iya, tapi ayah beneran sayang kan sama kak Dian?"
"Iya sayang dong, masa nggak."
"Kalau sayang, kenapa masih kemana-mana?"
Richard agak diam sejenak.
"Ya, kan cuma mampir bentar." ujarnya membela diri.
"Ayah mah gitu, nggak takut apa kalau aku di gituin sama mas Dan."
"Daniel kalau gitu sama kamu, ayah patahin tulang belakangnya."
Lea menahan tawa.
"Dia nggak boleh nyakitin kamu sedikitpun."
"Ya kalau nggak mau anaknya di sakiti, ayah contohkan dong. Jadi laki-laki baik, supaya karma yang di dapat juga baik."
"Emang ayah jahat?. Nggak kan?" tanya Richard.
"Ya nggak jahat sih. Tapi kalau soal hati, ayah masih suka lari-lari."
Kali ini Richard tertawa.
"Ayah bakal mulai perbaiki itu koq." ujarnya kemudian.
"Janji ya yah."
"Iya ayah janji."
"Aku sih nggak masalah ayah mau sama siapa aja, yang penting setia. Jangan dua, tiga, apalagi lima. Satu aja udah, cukup."
Richard masih tertawa.
"Richard suruh satu pasangan doang, gonjang-ganjing bumi dijamin."
__ADS_1
Daniel yang sejak tadi mendengar percakapan tersebut dari jarak cukup dekat akhirnya nyeletuk.
"Eh bangsat." ujar Richard sambil masih tertawa, Lea lalu mengaktifkan loud speaker di handphone.
"Sat, lo lagi ngapain Sat?. Lo denger gue tadi ngomong apa aja sama anak gue?"
"Nggak yah, kan tadi nggak di loud speaker." ujar Lea.
"Gue tau dan bisa menyimpulkan, walau gue nggak denger." ujar Daniel.
"Makanya si Dian tuh dinikahi kalau emang serius. Perjuangkan dong...!"
"Hilih, biji."
"Biji apa?"
"Bunga matahari." ujar Richard.
Lea tertawa karena omongan mereka sejatinya mengarah ke biji yang lain.
"Udah mau punya cucu lo, masih aja nggak tobat." ujar Daniel lagi.
"Heh Karjono, mentang-mentang udah punya bini."
"Oh iya dong, punya bini menjauhkan gue dari dosa." seloroh Daniel.
"Bangsat." ujar Richard lagi.
Mereka pun lanjut bersenda gurau.
***
"Ini buat kamu Lea."
"Oma, Lea nggak usah dikasih hadiah juga nggak apa-apa. Ini simpan aja buat oma."
Lea mengembalikan perhiasan itu, namun neneknya menolak dan menyerahkannya kembali pada Lea.
"Oma ini sudah tua, nggak perlu perhiasan-perhiasan seperti ini lagi. Ini kamu simpan, siapa tau suatu saat kamu butuh. Bisa kamu pakai atau kamu jual. Ini harganya lumayan, kalau ada apa-apa masih bisa menolong."
"Tapi oma."
"Sudah ambil saja. Opa mu juga setuju kalau ini dikasih ke kamu."
Lea pun mau tidak mau akhirnya menerima perhiasan tersebut.
"Makasih ya oma." ujarnya kemudian.
"Sama-sama."
"Oh ya, kata Richard anakmu laki-laki. Benar?"
"Iya oma, udah di USG."
Ibu Richard tersenyum.
"Kami semuanya senang." ujarnya kemudian.
"Oh ya, Oma mau masak dulu buat makan malam kita semua. Nanti ajak ayahmu juga kesini."
"Lea bantuin ya oma."
__ADS_1
"Lea bisa masak memangnya?"
"Bisa dong." jawab Lea.
"Ayo, kalau begitu. Tapi kalau kamu capek, bilang ya. Kan ada pembantu yang bisa bantuin oma."
"Iya oma."
Lea dan neneknya beranjak ke dapur, dalam beberapa saat mereka sudah terlihat masak bersama di tempat tersebut.
***
"Nggak, aku nggak akan pulang. Aku sudah bertekad untuk bercerai, kecuali kamu mau menceraikan Imelda."
Nina berkata pada suaminya yang kini berada di kediaman Vita. Sejatinya dari sejak pertama Nina pergi, pria itu sudah tau Nina pergi kemana. Namun ia membiarkan saja dulu, guna meredam emosi yang ada di dalam diri Nina.
"Kamu nggak kasihan sama anak itu, Nina?. Kalau dia lahir tanpa ayah gimana?"
"Ayahnya ada, kan kamu ayahnya."
"Iya tapi kan kalau bercerai beda lagi."
"Beda apanya?. Beda karena kita nggak serumah dan aku udah nggak bisa kamu tidurin lagi?"
Nina membuat suaminya tersebut terdiam.
"Itu nggak ada hubungannya sama ini anak, mas. Mau kita masih menikah atau bercerai, kamu tetap ayahnya dia. Nggak akan berubah."
"Ya paling tidak, dia punya orang tua yang utuh."
"Dia lebih baik punya orang tua yang bercerai, daripada di asuh oleh ibu yang makan hati setiap hari karena jadi madu. Dia butuh ibu yang bahagia. Percuma dia tumbuh dengan ayah dan ibu tapi ayah ibunya selalu memasang bahagia palsu. Kita sama aja mengajarkan anak untuk berpura-pura. Lambat laun dia akan mengerti kalau ibunya perebut laki orang, dan ayahnya seorang pengkhianat pernikahan. Jadi lebih baik kita pisah dari sekarang."
"Tapi Nin, aku nggak mau menceraikan kamu."
"Kalau begitu ceraikan Imelda."
"Aku nggak bisa."
"Laki-laki bajingan tau nggak kamu. Bilang aja biar kamu bisa punya koleksi buat di tidurin bergantian. Muak banget aku liat laki-laki kayak kamu, mas."
"Nin."
"Pergi dari sini...!"
"Dengerin aku dulu."
"Dari tadi juga aku udah dengerin, mas. Sekarang aku minta kamu pergi, jangan bikin aku tambah stres. Atau ini akan berpengaruh ke anak kamu yang ada di dalam."
Suami Nina berhenti berbicara, ia juga sudah bingung bagaimana cara meluluhkan hati Nina. Ia tidak seperti perempuan kedua pada umumnya, yang mau-mau saja bertahan demi uang.
Suami Nina tidak mengetahui jika saat ini Nina pun memiliki aset dan hartanya sendiri. Ia pikir karena Nina berasal dari keluarga kurang mampu, maka uang yang ia miliki bisa membuat Nina luluh.
"Sebaiknya mas pulang dulu, biar Nina reda dulu mas."
Vita menimpali perdebatan tersebut, setelah tadi ia hanya diam dan memilih tak mau ikut campur.
"Ok." Suami Nina akhirnya mengalah.
"Titip Nina, Vit." lanjutnya kemudian.
"Iya mas." jawab Vita.
__ADS_1
Tak lama pria itupun melangkah, dan menghilang di balik pintu.