Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Dimana Lea


__ADS_3

"Nina."


Iqbal berlarian ke arah Nina, disusul kedua temannya yakni Rama dan juga Dani. Selang beberapa detik, Adisty dan Ariana juga ikutan mendekat.


"Lea kemana sih?" tanya Iqbal kemudian.


"Udah beberapa hari dia nggak masuk." lanjutnya lagi.


"Gue juga nggak tau. Pasca dia ketemu sama bokap kandungnya, chat gue nggak pernah dibales lagi. Telpon gue juga nggak diangkat, gue DM ke Instagram nya dia nggak di read." jawab Nina.


"Tunggu, maksud lo bokap kandung gimana?" tanya Iqbal tak mengerti. Nina pun lalu menjelaskan.


"Jadi selama ini, bokapnya Lea itu nggak jelas ada dimana dan nggak tau siapa orangnya?" tanya Iqbal, usai dirinya mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Nina.


"Iya, dan tempo hari itu bokapnya baru ketemu. Mereka janjian di suatu tempat, terus Lea nggak ada kabar lagi sejak saat itu.".


"Barengan sama pas suaminya nyariin dia nggak sih?" tanya Iqbal.


"Suaminya nanyain ke elo?" Niba balik bertanya.


"Iya, gue terpaksa bilang kalau Lea di rumah lo."


"Dia juga ketemu gue sih di depan gerbang. Dari gue lah dia tau, kalau hari itu Lea nemuin bapaknya." ujar Nina.


"Mungkin suaminya tau Lea dimana sekarang." timpal Adisty.


***


Beberapa saat sebelum Iqbal menemui Nina, tepatnya di kantor Richard.


"Richard."


"Richard."


Daniel berjalan cepat dan menyusul langkah sahabatnya itu. Sementara Richard seakan menuli, ia terus saja melangkah seperti tak mengenal Daniel sama sekali.


"Richard, kita harus bicara."


Daniel mencegat langkah Richard, dengan mendahului temannya itu. Kemudian ia berdiri di hadapan Richard dengan tatapan yang begitu tajam.


"Lea akan tetap tinggal sama gue." ujar Richard dengan nada tegas, namun dengan volume suara yang tidak begitu besar. Ia tak ingin mengundang perhatian sekitar.


"Lo nggak bisa ngelakuin hal ini ke gue, gue bisa laporkan lo ke polisi. Karena lo sudah menyekap istri sah gue."


"Dan gue juga bisa melaporkan lo atas tuduhan penyekapan anak di bawah umur. Lo lupa, saat lo bawa Lea ke rumah lo. Dia bahkan masih berusia 16 tahun."


Daniel menarik sedikit sudut bibirnya, sambil terus menatap Richard.


"Bagaimana dengan sugar baby yang lo miliki?. Apakah dia lo ambil saat sudah berusia 20 tahun?"


"Silahkan kalau lo mau melaporkan soal itu, sugar baby gue nggak mungkin akan berpihak sama lo. Dia nggak akan ngaku di depan pihak yang berwajib, karena selama ini dia terbantu dengan uang yang gue kasih."


"Dan Lea pun nggak mungkin nggak memihak gue, karena gue suaminya."


Kali ini gantian Richard yang menarik sudut bibirnya.

__ADS_1


"Kita liat aja nanti, apa yang bisa gue perbuat untuk menyadarkan dia."


Richard kemudian berlalu dan masuk ke dalam mobil. Sesaat kemudian supirnya menekan pedal gas, hingga mobil tersebut melaju meninggalkan Daniel.


***


Pada saat yang sama dengan saat Daniel berbicara pada Richard. Seorang maid masuk ke kamar Lea dan mengantarkan makanan untuk perempuan itu.


"Mbak, ambilkan tas saya di bawah dong mbak. Di atas sofa ruang tamu." ujar Lea memohon.


Richard mengunci pintu kamar anak itu dan melarang siapapun membuka kamar tersebut, kecuali saat jam makan. Lea sejatinya bisa saja memukul maid yang kini ada dihadapannya lalu kabur.


Namun Richard mengatakan padanya, jika ia mencoba melarikan diri. Maka maid yang bertugas untuknya hari itu, akan dipecat tanpa diberi uang sama sekali. Lea yang masih muda itu pun takut serta tak tega. Andai ada orang yang harus kehilangan pekerjaan lantaran ulahnya.


"Tas mbak Lea sudah ada di kamar pak Richard, mbak. Pak Richard itu selalu mengunci pintu kamarnya kalau dia pergi. Kecuali pas lagi ada mbak Dian." ujar maid tersebut menjelaskan.


"Saya boleh nggak pinjam handphone mbak?"


Maid tersebut diam karena bingung, ia sudah dipesankan oleh Richard untuk tidak memberikan perangkat apapun pada Lea. Ia benar-benar ingin menjauhkan puterinya itu dari Daniel.


"Tapi mbak, kalau saya ketahuan maid lain dan dilaporkan ke pak Richard gimana?. Saya masih mau kerja, untuk bantu orang tua saya."


"Saya cuma mau mengabari suami saya mbak, saya nggak akan macam-macam."


Lea berusaha meyakinkan, namun maid tersebut masih tampak ragu-ragu.


"Mbak tolong, mbak. Suami saya itu nggak salah apa-apa, ayah aja yang terlalu egois. Tolong saya, mbak."


Melihat anak majikannya sampai memohon seperti itu, sang maid pun akhirnya luluh.


"Tunggu disini mbak, saya ambilkan dulu. Kami disini kerja nggak boleh bawa handphone. Handphonenya ada di kamar saya, di ruang belakang."


Maid tersebut lalu keluar dari kamar Lea, ia melangkah buru-buru namun tetap waspada. Ia kemudian menyelinap ke kamarnya yang berada jauh dibelakang. Maid tersebut menyelipkan handphone dalam saku celana pendek, yang ada dibalik seragamnya.


Ia menonaktifkan segala notifikasi terlebih dahulu, agar tak ketahuan. Karena maid yang bekerja di rumah tersebut, ada yang sangat patuh serta loyal kepada Richard. Maka dari itu ia harus ekstra hati-hati, jika tidak ingin diberhentikan.


Maid itu kembali tiba di kamar Lea. Ia mengunci pintu, kemudian segera menghampiri anak majikannya tersebut dan memberikan apa yang diminta.


"Mbak Lea, ini handphonenya."


"Pulsanya saya pake nggak apa-apa ya. Nanti saya suruh suami saya beliin lagi dan kirim ke nomor ini."


"Iya mbak, pake aja." ujar maid tersebut.


Lea pun buru-buru menekan nomor Daniel, kebetulan ia hafal. Ia menelpon bertepatan dengan saat dimana Daniel baru saja selesai berbicara dengan Richard. Kala itu Daniel benar-benar kesal, namun tak bisa berbuat apa-apa.


Sebuah panggilan masuk, Daniel memperhatikan layar handphone dan mengabaikan saja panggilan itu. Karena ia tidak mengenali nomornya.


"Mas, angkat."


Lea mulai cemas, karena Daniel terus mereject panggilannya. Sampai kemudian Daniel kesal, karena terus-terusan di telpon. Pria itu lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, ini siapa dan ada perlu apa?" tanya nya dengan nada gusar bercampur marah.


"Mas, ini Lea."

__ADS_1


Daniel sontak terkejut.


"Lea?."


"Iya mas, ini aku."


"Kamu dimana sekarang, kamu baik-baik aja kan?. Richard nggak jahat kan sama kamu, dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?"


"Mas tenang dulu." ucap Lea sambil menyeka air matanya. Namun ia berusaha untuk tidak terdengar jika ia menangis.


"Aku baik-baik aja." lanjutnya kemudian.


Daniel pun menarik nafas yang penuh emosional. Tanpa sadar ia menangis, bahkan isaknya terdengar oleh Lea.


"Mas, mas Daniel nangis?"


"Lea, aku takut banget kamu kenapa-kenapa. Bayi kita gimana?"


"Mas udah tau aku hamil?" tanya Lea makin menangis, namun ada sedikit senyum di bibirnya.


"Iya, maafin aku Lea. Aku udah jahat banget sama kamu. Aku kasar, aku udah nyakitin kamu. Aku...."


"Mas, udalah. Aku juga salah koq, maafin aku juga ya."


Daniel mengangguk seraya menyeka air matanya.


"Iya sayang, aku janji nggak akan gitu lagi sama kamu."


"Iya mas, aku percaya itu koq."


"Aku akan cari cara supaya Richard mau mengembalikan kamu ke aku. Aku sebenarnya bisa aja main kasar, Richard nggak akan menang melawan aku. Tapi dia saudara aku, aku tumbuh sama dia, orang tuanya sayang sama aku."


"Aku berharap nggak ada keributan lagi mas, aku bingung mau memihak siapa. Satu suami, satunya lagi orang tuaku."


"Iya aku janji, aku akan meminta kamu dengan cara baik-baik. Aku akan meyakinkan Richard, kalau aku sangat mencintai dan menyayangi kamu."


Kali ini Lea tak bisa lagi membendung tangisnya. Ia membiarkan saja suaminya itu mendengar Isak tangis yang keluar dari hatinya. Daniel berusaha tegar meski tak begitu mampu.


"Kamu jangan takut, aku nggak akan tinggal diam." ujar Daniel lagi.


Tiba-tiba ada suara mengetuk pintu kamar Lea.


"Mas udah dulu, ada yang ngetok pintu kamar. Aku pinjem handphone maid disini, karena handphone aku disita ayah. Kalau ketahuan ayah, maid ini bisa dipecat."


"Ok, yang penting aku udah tau kalau kamu baik-baik aja."


"Mas nanti beliin pulsa buat nomor ini, karena aku pake pulsanya dia."


"Ok, kamu baik-baik dan jangan stress ya. Jaga anak kita."


"Iya mas."


"I Miss you, Lea."


"Me too."

__ADS_1


Lea pun menyudahi telpon tersebut dan menyerahkannya pada maid. Maid itu kemudian menonaktifkan handphone dan menyimpannya kembali di saku celana pendek, yang ada di balik seragamnya.


Ia beralih ke arah pintu, kemudian membukanya. Ternyata maid lain yang membawa dokter Joe, mereka pun bertugas secara bergantian. Meski terasa begitu sesak, amun hati Lea kini lega. Karena ia telah bicara kepada Daniel.


__ADS_2