Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mari Bicara


__ADS_3

Richard berlarian ke atas dan langsung membuka pintu kamar, tempat dimana Lea berada. Pria itu kemudian menghambur ke arah Lea dengan penuh kepanikan.


"Lea, Lea."


Richard mencoba membangunkan dan merasakan betapa dinginnya tubuh anak itu.


"Lea."


Richard mengangkat tubuh Lea dan membaringkannya ke atas tempat tidur. Tak lama ia pun berteriak, sehingga beberapa maid berkumpul untuk membantunya.


Sementara di luar, Ellio masih berusaha untuk membujuk Daniel. Agar temannya itu mau pulang.


"Gimana gue bisa pulang coba, sementara gue nggak tau gimana keadaan Lea di dalam."


"Dan, mau lo nunggu 100 tahun pun. Kalau Richard masih emosi, dia nggak akan bukain pintu buat lo dan nggak akan kasih lo akses buat ketemu sama Lea. Lo kayak nggak paham aja dia gimana, harus ada yang ngalah dulu salah satu. Kalau dua-duanya sama-sama keras kayak gini, nggak akan ada jalan keluarnya."


"Gue butuh tau keadaan Lea."


"Dia akan baik-baik aja, Richard nggak mungkin nggak ngurusin dia. Dia itu bapaknya."


Daniel menghela nafas, jujur ia begitu sedih dengan kejadian ini. Ia cemas memikirkan keadaan Lea dan juga bayi mereka.


***


"Lea, kamu nggak apa-apa kan?" Richard bertanya pada Lea, ketika akhirnya perempuan itu siuman.


"Ayah, mas Dan dimana?" tanya nya kemudian.


"Dia sudah pulang." jawab Richard dengan nada dingin.


"Aku mau pulang, ayah. Aku mau ketemu sama mas Dan."


"Lea, kamu nggak inget dia udah kasar sama kamu?"


"Itu juga salah aku, ayah. Aku udah mempermalukan mas Dan di depan banyak orang."


"Tapi dia juga nggak pantas memperlakukan kamu seperti itu."

__ADS_1


Kali ini Lea diam, sepertinya Richard memang sulit untuk di bujuk.


"Please, kamu disini sama ayah. Kamu akan aman, ayah nggak akan biarin satu orang pun menyakiti kamu."


"Tapi ayah, aku pengen pulang. Aku mau ketemu mas Dan."


Richard kemudian memeluk anaknya itu dengan erat Ia tetap teguh pada pendiriannya, yakni tak ingin melihat Lea kembali terluka.


***


"Dan, lo makan dulu."


Ellio membujuk Daniel yang kini tengah meminum segelas air putih. Baru saja mereka tiba di kediaman Daniel, dan sahabatnya itu tiba-tiba muntah. Wajahnya berubah pucat, membuat Ellio terlihat sangat khawatir dan memaksa Daniel untuk makan.


"Gue kepikiran Lea. Dia nggak ngangkat telpon dan nggak bales chat gue juga."


Daniel berujar dengan pandangan yang ia jatuhkan ke suatu sudut. Sementara makanan yang tadi dibeli Ellio, mulai dingin dihadapannya.


Daniel mengira Lea pasti dipengaruhi Richard. Ia tidak mengetahui jika handphone Lea kini sudah berada di tangan sang ayah. Richard menyembunyikan perangkat itu dan tak memberikannya pada Lea.


"Gue yang akan tanya sama Richard." ujar Ellio lalu mengambil handphone.


"Ok, abis ini kita harus ketemu. Karena gue butuh bicara sama lo." ujar Ellio. Ia kemudian menyudahi telpon tersebut dan berbicara pada Daniel.


"Lea udah sadar dan dia nggak apa-apa, saat ini sedang dalam pengawasan dokter pribadinya Richard."


Daniel sedikit bisa bernafas, meski belum begitu lega. Ia sudah sangat khawatir, apalagi saat ini Lea tengah hamil.


"Sekarang urusan gue sama lo, lo harus makan." ujar Ellio.


Daniel masih bungkam, bahkan ia nyaris tak bergerak sama sekali. Hanya nafasnya saja yang menandakan jika ia masih hidup.


"Dan, kalau lo nggak makan, lo bisa sakit. Kalau lo sakit, lo nggak akan bisa berhadapan dengan Richard. Kalau lo pengen Lea balik, setidaknya lo mesti kuat. Karena yang lo hadapi sekarang adalah Richard. Orang yang sama kuatnya dan sama egoisnya dengan lo."


Daniel menghela nafas, benar apa yang dikatakan Ellio. Ia harus tetap kuat untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Maka dengan perlahan, ia pun mulai makan. Meski masih terasa sangat sulit untuk menelan.


***

__ADS_1


"Richard, jangan terlalu menekan atau membuat dia stress. Usia kehamilan dia itu masih rentan."


Dokter Joe, dokter pribadi Richard berujar pada pria itu. Usai ia melakukan pemeriksaan terhadap Lea. Lea kini tengah berbaring dan beristirahat di tempat tidur.


"Berapa usia kandungannya?" tanya Richard.


"Sekitar 3 bulan."


"Apa masih bisa di ambil?" Richard membuat dokter Joe terdiam. Pria yang sudah bertahun-tahun mengurus kesehatannya itu pun, kini menarik nafas.


"Pikirkan baik-baik, anak itu tidak salah apa-apa. Jangan hanya karena emosi lo yang sesaat terhadap Daniel, lo jadi menghilangkan nyawa yang tidak bersalah."


"Tapi Joe, Lea terlalu muda untuk jadi seorang istri dan seorang ibu. Masa depannya masih panjang, dia berhak bahagia. Bukan menikah dengan laki-laki yang bahkan seusia bapaknya."


Lagi-lagi dokter Joe menghela nafas.


"Lo udah berapa lama nggak ke dokter Dave?" tanya dokter Joe pada Richard. Pria itu terdiam, dokter Dave adalah psikiater yang sering didatangi baik Richard, Daniel, maupun Ellio.


"Udah lama." jawab Richard kemudian.


"Sepertinya lo butuh kesana. Dari tadi gue ngomong sama lo, ada yang nggak beres sama lo. Gue bukan mau sok mendiagnosa. Gue tau ini bukan ranah gue, tapi lo lagi syok berat. Lo kaget karena ternyata anak lo, adalah istri dari teman lo sendiri. Dan lo habis ngeliat anak lo disakiti, makanya lo emosi kayak gini. Ini saran gue sebagai sahabat, bukan sebagai dokter pribadi lo. Lo harus konsultasi ke dokter Dave. Jangan sampai lo menyesal, lantaran emosi lo yang sesaat ini."


Richard diam dan membuang tatapannya ke suatu sudut.


"Lagipula misalkan anak itu di aborsi, lo maksa Lea bercerai dari Daniel. Lea belum tentu akan bahagia. Bisa jadi lo malah membuat dia depresi dan kehilangan dirinya sendiri."


Richard makin diam dan tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Bukankah selama ini, lo berharap Daniel sembuh. Dari ketergantungan dia terhadap mantan kekasihnya, Grace. Kenapa sekarang setelah semuanya berhasil, lo malah mau merusak semua itu."


"Karena dia anak gue, Joe. Hati orang tua mana yang nggak marah, ngeliat anaknya di kasari dan disakiti. Oleh orang yang bahkan, sudah gue anggap sebagai saudara gue sendiri."


"Coba lo kaji lebih jauh lagi, seberapa banyak sih Daniel udah nyakitin Lea. Lo ajak Lea bicara dari hati ke hati. Tanya gimana perasaan dia terhadap Daniel, gimana cara Daniel memperlakukan dia selama ini. Berapa kali Daniel pernah marah terhadap dia. Lo bisa tanyakan itu semua, dan itu bisa jadi bahan pertimbangan buat lo."


Richard menghela nafas, agaknya ucapan dokter Joe telah mampu memasuki hatinya yang sekeras batu.


"Lo mulailah ajak Lea bicara malam ini. Tapi ingat jangan hanya mau di dengarkan, lo juga harus mendengarkan. Jangan jadi orang tua yang berkomunikasi satu arah, karena itu hanya akan memenangkan posisi lo dan membuat anak lo kian tertekan."

__ADS_1


Richard mengangguk, dari kejauhan ia dapat melihat Lea yang kini sudah tertidur lelap.


__ADS_2