Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kebahagiaan Dalam Sebuah Percakapan


__ADS_3

Dua hari kemudian. Daniel tampak tengah membacakan sebuah buku cerita, di dekat perut istrinya yang membuncit. Sedang Lea bersandar pada bantal sambil tersenyum memperhatikan Daniel.


"Mas kamu tuh vibes nya kayak suami-suami CEO di novel online tau."


Lea berujar pada Daniel, membuat Daniel seketika menghentikan aktivitasnya dan tertawa.


"Yang biasanya suka melecehkan tokoh perempuan, abis itu bucin kan?" tanya Daniel kemudian.


Kali ini Lea yang tertawa.


"Koq kamu tau sih?" Lea balik bertanya.


"Lah kadang kan kamu baca novel online di iPad aku, ya aku baca lah histori kamu. Ceritanya bertema pelecehan semua. Rata-rata CEO nya melecehkan dulu si tokoh utama, terus udah hamil baru dinikahin. Biasanya arogan dulu, lama-lama bucin. Kayak seolah-olah semua CEO itu nggak terdidik dan nggak diajarin sama orang tuanya."


"Hahaha." Kali ini Lea terbahak.


"Loh iya kan?. Jalan ceritanya pasti monoton gitu." ujar Daniel lagi.


"Iya-iya bener banget." ujar Lea.


"Tapi aku suka aja bacanya, karena iseng." lanjut Lea lagi.


"Yang kalau dialog tuh kaku banget." Daniel kembali berujar.


"Tuan, dengar dulu penjelasan ku tuan. Terus si CEO arogannya berlalu, pergi dengan helikopter dari belakang rumah."


Lea terpingkal-pingkal mendengar ucapan suaminya itu.


"Ih kamu mah, namanya juga dunia halu mas."


"Itu fiksi, Lea. Kalau halu itu, halusinasi. Berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Fiksi itu dunia karangan." Daniel menjelaskan.


"Oh iya yah." jawab Lea sambil masih tertawa.


"Kamu mau aku jadi kayak CEO-CEO di novel online gitu?. Kalau mau, aku akan ganti jadi bahasa baku mulai hari ini."


"Ih apaan sih?"


"Plaaak."


Lea memukul lengan Daniel.


"Gadis bodoh, kenapa kau memukulku?. Kau tau harga piyama di tubuhku ini berapa?" Daniel kembali mempraktekkan dialog ala novel online.


"Berapa memangnya tuan?" Lea berkata masih dengan tawanya yang tak tertahan. Ia menanggapi Daniel sebagai lawan bicara dalam dialog.


"Piyama ku ini, harganya bisa membeli harga dirimu."


"Sombong sekali anda, berapa memangnya harga piyama itu. Paling juga seratus ribu."


"Salah, ini 45 ribu. Gratis ongkir pula." Daniel berujar sambil terbahak-bahak. Begitu pula dengan Lea.


"Seriusan mas, ini cuma 45 ribu?" tanya Lea kemudian.


"Serius, orang aku belinya di online marketplace. Beli 2 gratis 1. Dua lainnya aku kasih Richard sama Ellio. Cuma beda warna aja."


Lea benar-benar tak menyangka.

__ADS_1


"Kirain baju mas mahal semua." ujarnya lagi.


"Nggak lah, nggak semuanya." jawab Daniel.


"Kalau kayak kemeja, jas, sepatu, jam tangan. Aku emang beli yang sekalian mahal. Karena kan itu untuk kepentingan kerja, ketemu klien dan lain-lain. Kalau penampilan kita nggak meyakinkan, bisa-bisa kita di remehkan sama orang. Sisanya buat dirumah, aku nggak gitu mahal-mahal banget pakaiannya. Kaos aja aku banyak koq yang cuma harga 70 ribuan."


"Oh ya?"


"Iya yang sering aku pake, yang polos warna item atau putih itu. Kamu pikir itu berapa, cuma 70 ribu. Tapi aku selalu usahakan pilih yang bahannya cukup bagus, walaupun murah. Biar nggak bau ketek."


"Emang ada baju yang bikin bau ketek?" tanya Lea heran.


"Ada, ada beberapa bahan yang kalau dipake itu keringat kita langsung berlebih. Padahal sama-sama kaos. Itu parah sih, keringet aku banjir kemana-mana."


"Oh ada ya yang model gitu."


"Ada." jawab Daniel lagi.


Lea diam sejenak sambil tersenyum.


"Ih aku pikir tuh baju mas harga belasan juta semua." ujar perempuan itu.


"Ngapain, Le. Kalau yang murah aja banyak yang bagus." ujar Daniel kemudian.


"Ya kali aja kayak di novel online itu, CEO punya barangnya mahal semua."


"Kebanyakan terbawa suasana sih kamu?"


Daniel memukul kepala istrinya itu dengan bantal, tetapi tidak kuat. Lea pun kembali tertawa-tawa.


"Nih baby CEO." ujar Daniel sambil mencium perut Lea.


"Emang terpaksa, bukannya doyan ya?" goda Daniel pada istrinya itu.


Lagi-lagi Lea tertawa dan memukul lengan sang suaminya itu. Daniel pun jadi ikut tertawa lalu memeluk Lea.


"Makasih ya Le, aku senang kamu ada di hidup aku. Jangan tinggalin aku, walaupun aku udah tua."


Kata-kata tersebut terdengar begitu jujur di telinga Lea.


"Aku sayang sama kamu mas, saat ini nggak ada alasan aku untuk ninggalin kamu." jawab Lea.


"Dan alasan itu jangan sampai di ada-adakan." ujar Daniel kemudian.


Lea tersenyum dan makin memeluk erat suaminya tersebut. Begitupun sebaliknya.


***


"Tumben dad, nelpon."


Dian berujar pada Richard di telpon.


"Gimana sih kamu?. Katanya butuh perhatian, giliran diperhatiin ngomongnya begini. Ya udah kalau nggak mau di telpon.


"Koq daddy malah jadi marah?"


Suara Dian terdengar manja di seberang sana.

__ADS_1


"Ya abisnya kamu, salah semua. Aku udah niat berubah, kamu masih aja kayak gitu."


"Iya-iya maaf, sensitif banget sih." ujar Dian lagi.


Richard menghela nafas, kali ini ia yang ngambek pada Dian.


"Maaf dad." Dian mencoba merayu Richard.


Richard diam.


"Daddy."


"Iya, aku maafin. Aku tuh kangen sama kamu, makanya nelpon." ujar Richard.


"Sama dad, aku juga kangen." jawab Dian.


"Dalam waktu dekat, aku mungkin akan kesana."


"Beneran, dad?" tanya Dian.


"Iya, cari waktu yang tepat dulu ya."


"Iya, asik." Dian sepertinya begitu bahagia.


"Titip makanan dari sana ya dad, udah kangen banget pengen makanan-makanan dari sana." ujar Dian.


"Apa, mau rendang?"


"Rendang pastinya sih. Sama kering kentang, orek tempe.


Richard tertawa.


"Iya ntar dibawain ya."


"Tapi yang enak ya dad."


"Iya, nanti aku suruh Ellio yang masak."


"Itu mah bencana, dad." ujar Dian sambil tertawa.


Sebab ia sudah pernah mencoba masakan Ellio di awal-awal perkenalannya dengan Richard. Richard pun kian tertawa mendengar semua itu.


"Ellio emang masakannya bikin malapetaka." tukasnya kemudian.


Keduanya terbahak-bahak, suasana yang tegang di awal pun kini seperti mencair. Richard kemudian menanyakan banyak hal pada Dian dan begitupula sebaliknya.


Hubungan mereka yang sempat renggang selama beberapa hari belakangan ini, sepertinya telah kembali erat.


Sementara di lain pihak, gugatan cerai ibu Lea atas suaminya telah dikabulkan pengadilan. Ibu Lea merasa begitu bahagia, meski suaminya kini mengusirnya dari rumah. Sebab rumah itu atas nama suaminya.


Ibu Lea tak masalah, toh lebih baik tinggal mengontrak tapi hati tenang. Daripada tinggal di rumah, tetapi dengan suami yang suka menyiksa batin dan menghabiskan uang untuk berfoya-foya serta judi.


Ibu Lea kini merasa ia lebih fresh, dan lebih bisa berfikir positif mengenai masa depan anak-anaknya nanti.


***


READ NOW...!

__ADS_1



__ADS_2